
Selesai melakukan pertemuan dewan direksi. Arsya kembali duduk di ruangannya.
Tak berapa lama Danni mengetuk pintu dan setelah Arsya mempersilahkan masuk, Danni masuk dengan tergesa.
"Presdir. Gawat. Nona Eli mengumumkan kehamilannya dan presdir orang pertama yang mendapat tuduhan." Ujar Danni.
Arsya terkejut mendengar berita ini. Dan sesungguhnya dia tidak benar benar menjalin hubungan dengan Eli. Dia hanya bekerja sama dengan Eli mengenai suatu hal. Dia hanya berpura pura menjalin hubungan di depan Anna untuk melihat respon gadis itu.
Tapi tak di sangka, Eli malah memanfaatkan waktu untuk menjebaknya. Kali ini ia harus melakukan jumpa pers mengenai hal ini.
"Lakukan jumpa pers mengenai hal ini. Undang semua wartawan termasuk dalam dan luar negeri." Perintah Arsya dengan tegas.
"Baik." Danni segera keluar dari ruangan Arsya dan menjalankan tugasnya.
Berita heboh ini membuat para direktur ketar ketir. Mereka segera melapor terkait berita yang menyebar dengan cepat kepada Arsya. Arsya segera merespon dan menepis tuduhan itu. Dia segera menenangkan para direktur. Bagaimanapun dia sudah beristri. Jadi ia tak mungkin melakukan hal itu.
"Presdir. Apa yang terjadi? Apakah berita itu benar?" tanya salah satu direktur.
"Tidak. Sudah jelas jika berita ini hanya menjatuhkan nama besarku. Bagaimana mungkin aku melakukan hubungan di luar jika aku masih mempunyai istri."
Para direktur itu terbelak lalu menggaruk pelipisnya. "Bukankah istri anda kabur. Dan anda dinyatakan menjadi seorang duda?"
"Siapa yang bilang. Aku tak pernah mengatakan jika aku telah bercerai. Istriku pergi bersekolah keluar negeri bukan kabur. Dan sekarang dia sedang merintis usaha di Amsterdam. Apakah pantas menyebutku sebagai seorang duda."
"Eh." Direktur itu terkejut mendengar ucapan Arsya.
"Tapi waktu itu, berita itu?" Direktur itu keheranan tentang berita kebenaran yang beredar.
"Kau percaya padaku atau kalian percaya pada internet yang tidak jelas memberitakan sebuah berita?"
"Eh. Tentu saja percaya pada presdir. Tapi saat itu presdir tak menampik berita yang beredar luas."
"Meskipun begitu, semua berita yang beredar tetap tidak ada di pencarian utama. Mereka selalu berasumsi sendiri. Dan aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal itu karena semua yang beredar adalah wartawan yang dibayar Linda. Demi sebuah pertemanan aku tidak melakukan hal apapun tapi dia membayar mahal atas perbuatannya."
Direktur itu pada akhirnya mengerti. Dia mengangguk. "Presdir lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya direktur itu.
"Meluruskan berita yang beredar. Dan aku sudah memegang kendali semua berita itu."
"Ach."
"Yang pasti kalian harus berjaga mengamati wartawan yang mencurigakan. Sementara aku akan melakukan jumpa pers."
"Baik."
"Pergilah, atur ruang pertemuan. Besok jam 10 pagi kita lakukan jumpa pers."
"Ya presdir."
Direktur itu segera pergi dan mengatur ruangan. Sementara itu Arsya melakukan persiapan untuk menghadapi pihak lawan. Untung saja, saat malam itu Arsya segera memerintahkan Rendi untuk pergi menyelidiki. Dan dia sudah menyimpan salinan cctv pada malam panas di hotel waktu itu.
Dia tidak terkejut kala malam itu dia melakukannya dengan Anna istrinya. Namun sementara itu, dia malah terkejut kala Eli melakukan hal itu dengan pria lain. Tapi selama dia tidak menyerang maka Arsya akan tetap diam.
Di Amsterdam Villa kediaman Eli.
__ADS_1
"Ayah, aku tidak menyukai Edward tapi aku menyukai pria lain." Tiba tiba Eli berkata dihadapan Ayahnya saat berada di dalam ruang kerja.
Ayah Eli mendongak dari berkas menuju Eli yang tengah duduk dihadapannya dengan elegan.
"Apa maksdumu?" tanya ayah Eli. Dahinya berkerut.
Eli menemukan sebuah majalah yang tercetak jelas wajah Arsya sebagai pemuda pengusaha sukses. Lalu ia menyodorkannya kepada sang ayah.
"Aku menyukai pria yang berada di dalam majalah itu. Namanya Arsya!" dia sempat ragu kala mengucapkan nama pria itu.
Sudut mulut ayah Eli berkedut, lalu meletakkan foto itu di atas meja.
"Eli, jika kau ingin bermain main. Boleh saja kau melakukannya di luar."
"Ayah, aku serius!" Ujar Eli.
Ayah Eli mengha nafas. Lalu melihat dengan seksama foto yang ada di sampul majalah itu. Dia membaca sekilas tulisan yang berada di awal sampul. Tertulis kiat kiat jika ingin segera sukses. Dan semuanya tertulis secara rinci di dalam majalah itu.
"Keluarga Edward telah mendukung keluarga kita. Kita tak bisa mengalihkan dan membatalkan sebuah perjanjian yang sudah lama kita buat." Ujar Ayah Eli.
"Tapi Ayah, Edward bukanlah pria yang aku pilih melainkan dia pria kasar yang selalu membuatku tidak nyaman." sahut Eli.
"Karena kau belum terbiasa. Nanti setelah terbiasa kau akan merasa nyaman dengan sendirinya." Ayah Eli kembali menunduk dan mengecek beberapa laporan.
"Ayah."
"Diamlah. Aku sedang bekerja. Jika kau terus bicara maka aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku. Lebih baik kau jalani hubunganmu dengan Edward. Sebentar lagi keluarga Edward akan datang dan membicarakan hari pernikahan kalian."
Eli mengatupkan bibirnya lalu pergi dengan perasaan rumit. Bagaimana dia mengatakan jika saat ini dia sedang hamil. Dia tidak tau bagaimana cara mengatakannya. Sementara Edward sendiri hanya bisa mengancam dirinya dan membuatnya merasa tak nyaman dengan sikapnya yang kasar. Tetapi ayah Eli tidak mau mengerti. Dia hanya senang membahas keuntungan yang dia perolah jika anaknya bisa menikah di keluarga edward.
Berita masuk ke telinga keluarga edward. Tentu saja mereka murka dengan keluarga Eli yang membuat skandal dengan hamil anak pria lain.
Terutama ibu edward tidak menyetujui jika hubungan ini berlanjut.
"Alex. Apakah hubungan ini akan tetap dilanjutkan. Lihatlah berita ini. Wanita yang ingin kau nikahkan dengan putramu malah mengandung dengan pria lain." Ibu edward memberikan i-pad miliknya kepada Suaminya.
Suaminya menerima i-pad itu dan mendengarkan berita yang tengah beredar di masyarakat luas.
"Apa ini?" Ujar ayah edward lalu melempar i-pad itu dengan kesal ke atas meja.
"Itu adalah berita tadi pagi dan aku baru saja mendengarnya." sahut istrinya lalu mengambil i-pad di atas meja dan mematikan video itu.
"Jika berita itu benar. Maka lebih baik kita putuskan hubungan ini."
Saat berdiskusi sebuah pintu terdorong dari luar. "Ayah, aku tidak setuju. Bagaimanapun aku sudah menyukai Eli." Edward menyela ucapan sang ayah.
Kedua pasangan suami istri itu segera menoleh ke arah pintu. Apapun berita itu, aku akan tetap menikahi Eli." Edward berkata dengan kekeuh.
Ibu edward membuka video yang kedua. Lalu memberikan i-pad miliknya kepada edward. "dengarkan baik baik berita itu." Ujar ibu Edward dengan tegas.
Edward menerima i-pad ibunya dan mendengarkan berita itu dengan seksama. Berita itu memuat jika Eli bermalam di sebuah hotel bersama pria. Dan pria itu adalah seorang pengusaha ternama dan tersukses di negaranya. Dia bermarga Adiyaksa. Pemuda dengan kiat kiat sukses untuk meraih impiannya. Dan memang seluruh pemuda maupun pemudi sangat termotivasi dengan motifasinya.
"Tetapi pria ini sudah beristri." Edward berkata dengan tegas.
__ADS_1
Ibu Edward mengerutkan keningnya. "Aku mendengar desas desus yang beredar luas. Dia sudah menikah sejak enam tahun lalu." Ujar Edward.
"Lalu semua berita itu?" tanya Ayah Edward.
"Aku baru menyelidikinya." sahut Edward.
"Edward. Sebelum berita ini memanas dan membuat masalah terhadap keluarga kita lebih baik kita putuskan hubungan ini." Ibu Edward segera menyela.
"Ibu. Sudah kukatakan bahwa aku menyukainya."
"Tapi aku tidak suka. Dengan adanya berita ini nama keluarga kita akan ikut terseret di dalamnya."
"Benar apa yang dikatakan ibumu Edward. Lebih baik kita putuskan saja. Masih banyak wanita di luar yang lebih cantik dari Eli." Ayah Edward membenarkan perkataan istrinya.
"Tapi...."
"Begini saja diskusi kita hari ini. Ayah harus pergi ke keluarga kerajaan untuk menghadiri rapat." Ayah Edward memotong perkataan Edward dan pergi.
Ibu Edward meminum teh terakhirnya dan melirik Edward sekilas. Sebelum keluar, ibu Edward menepuk bahu putranya.
Kembali ke tanah air.
Semua persiapan jumpa pers telah disiapkan. Namun ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Saat terbangun perut Arsya kembali mual. Dia mengeluarkan isi perutnya ke dalam wastafel. Dia merasa lemas.
Dia duduk di sofa dan meminum air putih. Setelah itu ia kembali menelepon Anna.
"Ach Arsya. Kau tau ini sudah larut dan kau masih saja meneleponku. Aku sudah sangat mengantuk." Ujar Anna dengan khas suara serak dan terlihat lelah.
"Aku tau. Tapi aku benar benar ingin memastikan jika kau hamil atau tidak. Selama disini aku merasa tersiksa."
"Apa yang membuatmu tersiksa. Bukankah kau sudah biasa bekerja di perusahaan?" Ujar Anna.
"Bukan itu. Setiap pagi aku harus muntah muntah dan aku merasa lemas setelah itu. Anna coba kau cek ke dokter." ujar Arsya dengan suara lemah.
"Sebentar!" Anna segera terduduk di atas ranjang dan membuka kalender di atas meja. Dia menghitung hari haid terakhir. Dan dia menyadari jika dia benar benar telat dua minggu. Matanya terbelak lalu melempar kalender itu ke atas ranjang dengan sembarang.
Karena lama terdiam, Arsya merasa khawatir. Jadi dia segera memanggilnya. "Anna. Biacaralah! Apa yang terjadi?" Tanya Arsya.
Mendengar suara Arsya yang mengoceh ia segera mematikan teleponnya.
"Anna!" Pekik Arsya tapi ternyata sambungan sudah di matikan. Arsya meletakkan ponsel ke atas meja dengan pasrah. Sementara gadis itu termenung dan mencari tespeck yang di tinggalkan Arsya sebelumnya.
Ia menemukan sepuluh tespeck dengan merek berbeda di dalam laci. Ia mengeluarkannya satu persatu dan menatapnya dengan bimbang.
Jika benar dia hamil. Lalu bagaimana dia selanjutnya? Anna masih saja ragu. Tapi dia menyadari jika dirinya memang berbeda dari biasanya.
Pada akhirnya dia membawa sepuluh tespeck itu masuk ke dalam kamar mandi. Dia menatap tespeck itu dengan ragu. Pada akhirnya ia melakukan pengecekan melalui urine.
Setelah beberapa saat tespeck pertama bergaris dua. Dia masih belum percaya mungkin ada yang salah pada tespeck itu Dan dia melakukan hal yang sama pada tespeck kedua. Dan tetap saja hasilnya sama.
Di tespeck ketiga, dia akhirnya menyerah karena hasilnya tetap sama dan dia berjongkok di bawah wastafel sambil menggigit jarinya.
Setelah beberapa saat, ia keluar dan mengambil ponsel. Dia ragu untuk menelepon. Dan pada akhirnya ia memantapkan hatinya untuk memberitaukan hal ini kepada Arsya.
__ADS_1
"Halo."