
"Anna! Kau sangat hebat tadi." Pekik Leya begitu sampai diparkiran kafe.
"Hem. Kau baru tau." Ucap Anna terdengar sombong di telinga Leya.
"Sial. Kenapa kau begitu mempesona sekarang." Ujar Leya dengan mencibir.
"Haha...." Anna tertawa.
"Benar benar istri bos. Auranya sungguh keluar." Puji Leya.
"Terima kasih." Ujar Anna tersenyum manis.
Tepat saat ini Anna mendapatkan sebuah pesan. Anna mengerutkan kening saat membuka pesan itu. Melihat ekspresi wajah Anna. Leya penasaran, apa isi dari pesan itu. Jadi ia berdiri di samping Anna dan melihat isi pesan itu.
Ternyata itu sebuah foto juga sebuah ancaman untuk menjauhi Arsya dan di sertai untuk menandatangani surat cerai.
"Ini...." Leya membelalakkan mata.
"Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan." Ujar Anna seraya menyimpan ponsel miliknya.
"Anna. Ini jangan dibiarin! Kau harus membuat wanita gatal itu merasakan akibatnya telah merebut milikmu." Geram Leya tak terima.
"Leya. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini." Anna menundukkan kepala. "Kau tau. Aku menikah dengannya hanya untuk membantu usaha papa karena sudah merawatku selama ini. Jika ini sudah jalan takdirku. Maka aku akan bersedia berpisah dengannya."
Leya segera mendongakkan wajah Anna dengan jari telunjuk menyentuh dagu Anna hingga wajahnya menatap dirinya.
"Dengarkan aku Anna. Tidak ada yang tidak mungkin. Kau harus memperjuangkan segala perasaanmu. Setiap kau membicarakannya matamu berbinar terang. Tapi kau tertahan karena rasa egoismu sendiri. Kau harus memperjuangkan perasaanmu. Jangan percaya dengan takdir."
"Leya. Sepertinya tidak bisa. Kau lihat sendiri kan. Dia lebih bahagia dengannya sementara denganku lebih sering cekcok. Itu artinya aku dan dia tak berjodoh." ujar Anna.
"Apa! Jadi kau sering bertengkar dengannya." tanya Leya. "Ku pikir kau baik baik saja. Saat dirumah sakit...."
"Itu hanyalah drama agar kakek tidak memarahinya." sela Anna.
"Sial! Aku akan memberikan perhitungan dengannya." gumam Leya.
"Jangan Leya! Dia adalah orang yang berkuasa, aku takut nanti akan berimbas pada usaha ayahmu seperti Indri."
__ADS_1
"Indri!" Leya tercengang dengan ucapan Anna.
Anna menarik tangan Leya memasuki mobil. Mobil melesat menjauh. Karena tadi Anna melihat sosok Kesya dan Dea juga keluar dari kafe jadi buru buru meninggalkan area itu.
"Tadi ada Kesya. Aku takut jika mendengar obrolan kita." Ujar Anna saat mobil sudah berkendara di jalanan.
"Sial. Aku baru ingat." Leya mengumpat kesal hampir melupakan ada sosok Kesya tadi. "Apa maksudnya dengan Indri?" Leya segera melayangkan pertanyaan yang membuatnya penasaran soal masalah Indri yang hilang dan usaha ayahnya menjadi bangkrut.
"Indri. Saat ulang tahun malam itu, dia mengatur sebuah rencana sampai kepalaku terasa pusing."
"Ah ya, aku ingat. Kau waktu itu...eh kukira kau sangat mabuk karena minum alkohol." Leya menolehkan kepala ke samping. Anna menggeleng pelan.
"Bukan! Aku hanya minum jus orange. Tetapi di dalam sana di masukkan sebuah obat sehingga aku merasa pusing. Dan ternyata dia menyusun sebuah rencana. Untungnya Arsya tau terlebih dulu. Dan menggagalkan rencananya."
"Rencana?" tanya Leya.
"Dia memerintahkan bawahannya untuk memperkosaku."
"Astaga! Kejam sekali." Leya terkejut saat mendengar cerita Anna. Benar benar dia selama ini tak tau tentang peristiwa itu.
"Saat Arsya tau, dan menyelidikinya. Perusahaan Wiliam segera diakuisisi oleh Adiyaksa group. Mereka meninggalkan banyak hutang dan kedua orang tuanya kabur keluar negeri." lanjut Anna.
"Karena dia curiga jika papaku bekerja sama dengan Arsya. Dan mengingat ada banyak jasa yang di lakukan papa jadi ia membalas dendam padaku."
"Seperti itu." Leya akhirnya mengerti kenapa Indri ingin sekali membunuh Anna. Ternyata itu persekongkolan sebuah bisnis dan karena dia tidak memiliki kekuatan maka hanya bisa ia balaskan kepada Anna.
"Lalu, bagaimana kau menangani wanita licik ini?" kini Leya mengalihkan topik membahas Linda Bramantyo.
"Hanya berjalan sesuai takdir, biarkan saja." balas Anna singkat.
"Haist. Aku benar benar terpuruk." ujar Leya.
"Sudahlah. Selama masih bisa menikmati harta Adiyaksa kita tidak perlu membahas hal sedih. Lebih baik kita bersenang senang sebelum takdir menamparku."
"Huft." Leya menghembuskan nafas panjang.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan kediaman Leya. "Kau tak mau mampir?" Tanya Leya sebelum keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Kapan kapan saja. Aku merasa lelah. Apalagi bajuku sangat kotor." ujar Anna melirik bajunya yang tadi disiram Kesya.
"Aih, aku lupa. Baiklah. Kau kembalilah! Jangan sampai flu menyerangmu. Mandilah air hangat." Ujar Leya memberi wejangan.
"Siap bos."
"Bye!" Leya turun dari mobil setelah pengawal membukakan pintu. Ia berdiri di pinggir jalan kemudian melambaikan tangan hingga mobil melesat pergi. Barulah ia masuk ke dalam kamar.
*
Ardan sudah menyelidiki soal hilangnya Indri saat ini. Ternyata ada hubungannya dengan pengusaha muda yang memiliki komplotan di ruang bawah.
Dia benar benar ingin membalas dendam karena wanitanya telah menghilang sejak kejadian di rumah sakit itu. Dia harus memikirkan kartu As yang dapat menyerang balik serangan Arsya.
"Kita harus menyusun sebuah rencana." ujar Ardan kepada kelima anak buahnya.
"Apa itu boss." Sahut Ivan.
Ke empat anak buah Ardan mengangguk bersama dan menatap Ardan. "Mencari seseorang yang berguna sebagai sandra." Celetuk Ardan.
"Sandra! Wah kita punya santapan besar dong boss." Ujar Rehan.
"Ya, karena yang kita sandra bukan orang sembarangan. Jika bisa menangkapnya. Kalian akan mendapatkan uang yang besar dari pada preman di pasaran." Ucap Ardan. "Tapi..."
"Tapi apa boss." sela Firman saat ucapan Ardan terhenti.
"Mereka bos mafia yang berbahaya. Makanya kita harus bertindak hati hati."
"Bos Mafia? Lebih baik kita jangan deh boss." ucap Ivan.
Ardan menatap Ivan dengan dingin. Ivan menciut karena tatapan Ardan begitu menusuk. "Maaf Boss." Ivan menundukkan kepala tak berani. Begitu juga yang lainnya menundukkan kepala dengan banyak pertimbangan di dalam pikirannya masing masing.
"Karena dia. Wanitaku menghilang. Dan sekarang entah di mana. Gigi di balas gigi. Kita harus membunuhnya agar tak berkuasa lagi. Dan kita tidak tertandingi." Ardan berkata seraya membayangkan jika benar ia mampu menghabisi komplotan mafia itu maka ia tak akan terkalahkan. Karena mereka juga cukup kejam untuk membunuh.
"Kita harus menyelidiki orang terdekatnya dulu." Ucap Ardan. "Ivan kau harus mencari jejak kehidupan Arsya dari perusahaan yang ia pimpin dan ikuti dia sampai di rumahnya.
"Baik boss." ucap Ivan tak bisa menolak perintahnya.
__ADS_1
Sementara mereka membagi tugas. Ardan memikirkan Indri sekarang berada di mana. Ini sudah beberapa minggu gadis itu tidak ketemu. Ia benar benar merasa rindu sekarang.