Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 28


__ADS_3

Eli melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Setelah beberapa lama ia pun kembali ke aula. Nampak Arsya masih berdiri tegap menunggunya. Eli segera menghampirinya.


"Tuan Arsya, maaf telah menunggu lama."


"Hmph."


Eli melirik ke gelas yang di minum Arsya mulai habis. Ia tersenyum smirk. Lalu kembali memanggil pelayan. Pelayan kembali datang dan membawakan anggur lagi.


"Tuan Arsya. Minumlah lagi." ujar Eli dengan lembut.


Arsya mengangguk dan mengambil segelas anggur. Semakin lama matanya semakin buram. Ia seolah tak kuat lagi minum segelas anggur. Tubuhnya seakan ingin limbung.


"Tuan Arsya. Apakah tidak apa apa?" tanya Eli mencekal lengan Arsya. Lalu mengambil gelas di tangannya kepada pelayan. Pelayan itu segera berlalu.


"Tidak apa apa." Arsya melambaikan tangan kepada Eli untuk tidak membantunya. Tetapi seolah tubuhnya mengatakan berbeda. Ia tak tahan menahan kepalanya yang semakin pusing.


"Anda sepertinya sangat mabuk. Bagaimana jika pergi istirahat. Di hotel ini memberikan kamar khusus tamu jika ingin menginap atau beristirahat."


"Iya, mungkin saya terlalu mabuk." ujar Arsya linglung tanpa mendengar jelas ucapan Eli. Eli segera membawanya keluar aula dan masuk ke dalam lift.


Eli memapah tubuh Arsya ke lantai 30. Saat sampai di lantai 30. Ternyata Eli mendapat telepon dari Ayahnya agar segera ke aula menemuinya. Eli merasa kesal dan mengeluarkan sebuah kunci kamar yang salah.


"Tuan Arsya ini kunci kamarnya. Anda pergilah istirahat. Saya harus segera kembali ke aula."


"Hmph." dengan mata rabun Arsya menangkap kunci kamar. Eli tidak menyebutkan di kamar berapa dan langsung pergi. Dengan menahan kepalanya yang sakit ia mencari sendiri dengan rabaan pada dinding. Setelah beberapa lama ia mendapati pintu kamar. Ia meraba raba sambil meletakkan kunci pas dan pintu terdengar terbuka.


Ia tak memikirkan hal apapun selain pergi dan tidur di kamar. Tepat saat itu di dalam kamar lampunya mati. Ia meraba raba mencari saklar lampu. Ia menggunakan intuisinya yang tajam untuk menggapai saklar.


Tepat saat ini Anna juga baru keluar dari dalam kamar mandi. Tetapi saat keluar ia terkejut kala menemukan ada seseorang di dalam sana. Ia merasa kesal ternyata ini sebuah jebakan.


Arsya akhirnya menemukan saklar dan menyalakan lampu. Ia menyipitkan matanya, dan dengan kepalanya yang terasa pusing malah menemukan seorang gadis tengah berdiri dengan pakaian seksi.


Dengan otaknya yang tidak waras. ia berjalan ke sana. Anna masih terdiam di tempatnya karena terkejut jika pria itu adalah Arsya.


"Sial. Untung pria itu adalah Arsya sendiri jika bukan. Aku pasti akan membuat perhitungan pada wanita itu." batin Anna kesal.


"Arsya, kenapa kau ada disini!" sebuah suara yang familiar dan tajam. Arsya segera tersadar. Tetapi reaksi tubuhnya semakin memanas. Ia seolah tak bisa terkendali.


"Anna." dengan suara pelan dan tertahan Arsya menggumam. Ia segera membuka matanya dengan lebar lebar. Ia juga terkejut kala wanita itu adalah Anna.


Ia menelan ludahnya susah payah saat melihat Anna mengenakan pakaian seksi. Tubuhnya semakin panas dan tak terkendali. "Na tolong aku." Ujar Arsya penuh permohonan.


Anna menyipitkan matanya tanpa mau bergerak. Ia melihat Arsya yang sedang menahan sakit di kepalanya. Dia juga melihat Arsya yang melepaskan dasinya dari lehernya kemudian melepas jasnya yang masih melekat pada tubuhnya.


"Arsya, kau jangan keterlaluan. Kita sudah bercerai." Ujar Anna kesal sambil memperingatkan. Tetapi Arsya tak mendengarnya. Ia benar benar kegerahan.


"Na, AC tolong jangan di matikan. Panas!" ujar Arsya membuka satu persatu pada kancing kemejanya.


"Um." Anna tertegun lalu mencari remot Ac lantas mendinginkannya hampir membeku. "Ini, apakah masih panas?" tanya Anna.


"Masih, tolong dinginkan lagi!" ujar Arsya dengan suara semakin serak dan seolah menahan sesuatu.


"Apa. Kau gila. Ini sudah minus. Aku bisa mati kedinginan." Ujar Anna enggan dan marah.


"Aku benar benar merasa panas." ujar Arsya setelah semua kancing kemejanya sudah terlepas semua.


Anna membeku kala melihat dada bidang Arsya terekspos nyata di depannya. Pikirannya melayang kemana mana. Tanpa sadar, Arsya sudah berada di depannya. "Na." Arsya berbisik pelan.

__ADS_1


Anna tersadar dari pikiran nakalnya. Lalu matanya terbelak kala pria itu sudah dekat di hadapannya. Mata pria itu terlihat memerah. Anna mendongakkan kepalanya sehingga mereka saling bersitatap.


Arsya sudah tidak tahan segera meraup bibir ranum itu dengan ganas. Awalnya Anna hanya diam tetapi semakin lama ciuman itu semakin memanas. Semakin lama pikiran Anna menjadi gila. Ia merasakan ada sensasi masuk ke dalam jantungnya.


Ia merasakan ciuman itu menjadi sebuah obsesi. Dan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Arsya semakin liar dengan sikap Anna yang juga membalas ciumannya. Pikirannya semakin terbang berkelana.


Tubuh Arsya semakin panas dan tak terkendali. Arsya mendorong tubuh Anna jatuh ke atas ranjang. Anna semakin deg degan. Tetapi sikap Arsya yang seperti ini membuat dirinya menggila.


Tubuh Arsya tampak menikmati ciuman itu. Mereka saling berpagut satu sama lain. Kini ciuman itu berpindah dari bibir menuju ke leher jenjang Anna. Anna sangat menikmati ciuman itu. Sampai akal sehatnya semakin tidak waras.


Kala Arsya berpindah ke dada Anna. Anna menarik kesadarannya untuk kembali. Lalu mendorong Arsya dengan panik.


"Arsya!" ujar Anna dengan suara serak.


Arsya menghentikan kegiatannya. Tetapi pandangannya penuh permohonan. Ia terlihat sangat kasihan dan mengenaskan.


"Please!" ujarnya pelan.


Anna merasa kasihan dengan tatapan pria itu penuh dengan keresahan. Dengan berlinang air mata Anna membiarkan kegiatan itu berlanjut. Arsya kembali memagut bibirnya, dengan satu tangannya merobek pakaian yang dikenakan Anna.


Anna tak sadar jika pakaiannya telah terbuka. Hanya meninggalkan bra berwarna merah dan cd berwarna yang sama. Ia hanya merasakan sensasi aneh di dalam dadanya. Ia juga merasakan perasaan yang menggebu.


Tangan Arsya lanjut membuka pakaiannya sendiri hingga tertinggal boxernya saja yang menutupi bagian pentingnya. Anna mendesis pelan kala ciuman itu pindah ke bagian dada. Arsya menarik bra berwarna merah itu hingga terbuka.


Sangat terlihat jelas dua gunung kembar itu terpampang nyata. Arsya tersenyum kecil sebelum melanjutkan aksinya. Melihat Anna yang sudah kepalang basah. Arsya memagut put***ng Anna yang berwarna merah muda.


"Ach...." terdengar ******* yang memabukkan keluar dari bibir mungil Anna.


Arsya semakin bersemangat dan terus menghisap kedua put*ng itu bergantian. Membuat Anna merancau tak jelas. Perasaan Arsya semakin bergelora. Ia terus menikmati tubuh Anna sehingga ia merasa sesat. Pada akhirnya ia bisa melepas pakaian terakhir yang dikenakan Anna.


Ia sedikit mendongak menatap wajah cantik Anna yang memerah. Terlihat sangat jelas jika saat ini Anna merasa sangat malu.


Ia sudah sangat tak tahan, dengan gelora panas yang menjalari tubuhnya pertahanan Anna di terobos masuk oleh benda pusaka milik Arsya.


"Ach...." Anna berlinang air mata karena seakan pertahanan yang ia jaga di terobos paksa.


"Maafkan aku Anna." Ucapnya tertahan. Setelah merasa benda pusaka milik Arsya sudah sepenuhnya masuk ke dalam sarangnya. Ia memompa tubuhnya naik turun.


Anna meringis menahan rasa sakit yang tertahan di bawah sana. Tetapi merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya. Ia sangat menikmati permainan Arsya yang lembut.


"Ssshhhh....."Arsya terus memompa hingga nafasnya menggebu. Melihat Anna yang kesakitan ia pun merasa tak tega. Tapi tubuhnya tak bisa mengelak dan terus bergejolak.


"Sebentar lagi." Ujar Arsya dengan suara serak. Anna mengikuti permainan Arsya hingga pria itu mengeluarkan sebuah cairan hangat di dalam tubuh Anna.


Arsya merasa sangat lelah. Tetapi sebelum ia berpindah tempat, ia sempat membuka matanya. Menatap wajah cantik di hadapannya itu penuh senyuman. Ia mengusap air mata Anna yang mengalir dipipinya dengan ibu jarinya.


"Terima kasih. I Love You." Ujar Arsya sebelum akhirnya ia limbung ke samping.


Reaksi obat ini perlahan mulai menghilang. Tubuh Arsya sudah mulai lelah dan perlahan tertidur. Begitu juga Anna merasakan ngantuk yang mendera.


Dalam satu selimut yang sama, mereka sama sama tertidur dalam lingkup kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan.


Di dalam aula hotel. Eli sudah menyelesaikan masalahnya. Satu persatu tamu juga sudah mulai pulang. Ia sudah merasa lelah juga sangat mengantuk.


Ia melihat jam di tangannya sudah jam 1 dini hari. Ia pergi ke kamar hotel yang sebelumnya sudah ia pesan. Meskipun ia harus merelakan kamar itu digunakan Arsya saat ini. Ia dengan tersenyum pergi ke kamar itu.


Sampai di lantai 30, ia mencari nomer kamar yang sudah ia pesan. Dia teringat kala Ellena mengatakan nomot kamar 2088. Eli segera ke sana. Saat membuka pintu kamar ia tidak curiga apapun selain ia berjalan pelan agar Arsya tak tau akan kehadirannya.

__ADS_1


Ia membiarkan lampu tetap padam. Tak berapa lama sebuah tangan kekar melingkar di lehernya. Eli tersenyum simpul.


"Rupanya tuan Arsya belum tidur?" Ujar Eli bergumam pelan.


Tetapi pria itu tidak menjawab melainkan tersenyum. Dia adalah pria sewaan yang dikirim Ellena untuk menjebak Noni. Tanpa di duga, Ellena juga memberikan kunci kamar yang salah.


"Aku akan memuaskanmu." Ujarnya pelan. Pikirannya melayang saat ia memberikan anggur kepada Arsya yang sebelumnya ia beri obat perangsang. Pasti pria itu merasakan reaksi obat tersebut sekarang. Tanpa pikir panjang Eli membawanya masuk ke dalam kamar.


Pria itu sudah tidak tahan dan langsung menyergapnya. Dua manusia tidak saling mengenal itu saling berpagut bagaikam tanaman rambat yang menjalar. Eli sangat menikmati permainan pria ini. Ia juga merasa kemenangan berada di tangannya.


Saat subuh, mereka berdua selesai melakukan adegan panas itu. Tubuhnya terasa remuk. Eli merasa sangat lelah jadi ia segera terlelap dan tanpa berpikir panjang. Sementara pria sewaan itu segera pergi setelah melaksanakan adegan panas itu.


Di luar Ellena berdiri gelisah. Saat pria itu sudah keluar. Ellena tersenyum tipis dan menyambut kedatangan pria itu.


"Bagaimana?" tanya Ellena dengan antusias.


"Sudah beres."


"Bagus! Ini uangnya. Setelah itu kau pergi keluar negeri."


Terlihat pria itu membuka amplop yang berisi uang dan menghitungnya. "Oke. Sudah pas." sahutnya lalu tersenyum simpul.


"Pergilah!" Ujar Ellena. Pria itu segera pergi dari sana. Sementara Ellena juga langsung masuk ke dalam kamar miliknyaPipi Anna semakin merona kala mendengar Arsya menyebut kata manis yang pertama kali keluar dari bibirnya. Sejak pertama menikah bahkan belum sama sekali pria itu menyatakan kalimat ini. Mungkin karena terhalang adanya surat kontrak sehingga kalimat itu sangat sulit diucapkan. Meskipun ia harus mengorbankan kesuciannya ini untuk Arsya tetapi ia sudah seperti melayang ke atas awan.


Tubuh Arsya langsung limbung ke samping. Reaksi obat ini perlahan mulai menghilang. Tubuh Arsya sudah mulai lelah dan perlahan tertidur. Begitu juga Anna merasakan ngantuk yang mendera.


Dalam satu selimut yang sama, mereka sama sama tertidur dalam lingkup kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan.


Di dalam aula hotel. Eli sudah menyelesaikan masalahnya. Satu persatu tamu juga sudah mulai pulang. Ia sudah merasa lelah juga sangat mengantuk.


Ia melihat jam di tangannya sudah jam 1 dini hari. Ia pergi ke kamar hotel yang sebelumnya sudah ia pesan. Meskipun ia harus merelakan kamar itu digunakan Arsya saat ini. Ia dengan tersenyum pergi ke kamar itu.


Sampai di lantai 30, ia mencari nomer kamar yang sudah ia pesan. Dia teringat kala Ellena mengatakan nomot kamar 2088. Eli segera ke sana. Saat membuka pintu kamar ia tidak curiga apapun selain ia berjalan pelan agar Arsya tak tau akan kehadirannya.


Ia membiarkan lampu tetap padam. Tak berapa lama sebuah tangan kekar melingkar di lehernya. Eli tersenyum simpul.


"Rupanya tuan Arsya belum tidur?" Ujar Eli bergumam pelan.


Tetapi pria itu tidak menjawab melainkan tersenyum. Dia adalah pria sewaan yang dikirim Ellena untuk menjebak Noni. Tanpa di duga, Ellena juga memberikan kunci kamar yang salah.


"Aku akan memuaskanmu." Ujarnya pelan. Pikirannya melayang saat ia memberikan anggur kepada Arsya yang sebelumnya ia beri obat perangsang. Pasti pria itu merasakan reaksi obat tersebut sekarang. Tanpa pikir panjang Eli membawanya masuk ke dalam kamar.


Pria itu sudah tidak tahan dan langsung menyergapnya. Dua manusia tidak saling mengenal itu saling berpagut bagaikam tanaman rambat yang menjalar. Eli sangat menikmati permainan pria ini. Ia juga merasa kemenangan berada di tangannya.


Saat subuh, mereka berdua selesai melakukan adegan panas itu. Tubuhnya terasa remuk. Eli merasa sangat lelah jadi ia segera terlelap dan tanpa berpikir panjang. Sementara pria sewaan itu segera pergi setelah melaksanakan adegan panas itu.


Di luar Ellena berdiri gelisah. Saat pria itu sudah keluar. Ellena tersenyum tipis dan menyambut kedatangan pria itu.


"Bagaimana?" tanya Ellena dengan antusias.


"Sudah beres."


"Bagus! Ini uangnya. Setelah itu kau pergi dan jangan menampakkan diri sebelum aku memanggilmu lagi."


Terlihat pria itu membuka amplop yang berisi uang dan menghitungnya. "Oke. Sudah pas." sahutnya lalu tersenyum simpul.


"Pergilah!" Ujar Ellena. Pria itu segera pergi dari sana. Sementara Ellena juga langsung masuk ke dalam kamar miliknya sendiri.

__ADS_1


Di saat bersamaan baik Eli maupun Arsya sama sama menikmati kebahagiaan mereka dalam lingkup yang berbeda.


__ADS_2