
Keduanya langsung berputar di tengah arena dansa. Tangan kanannya ia letakkan dipinggang gadis itu sementara tangan kirinya menggenggam tangan dengan erat. Sangat luwes dan lancar saat bergerak.
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu menarik kakinya ke depan.
"Arsya." sahut pria itu dengan suara rendah tapi tatapan matanya tertuju pada Anna yang masih tertatih dalam berdansa.
"Kenalkan namaku Elisabeth. Panggil saja Eli." Ujar Eli memperkenalkan namanya.
"Nama yang indah." sahut Arsya memuji. Gadis itu tersenyum dan pipinya tampak merona.
Arsya melirik gadis di depannya. Dan terus lanjut berdansa. Saat lampu berkedip tandanya mereka harus berputar. Arsya menarik Eli mendekat dan menempel di dadanya. Kemudian melakukan gerakan saling menjauh dan berputar. Di saat itu Arsya menggunakan kesempatannya untuk menarik Anna di dekapannya.
Saat lampu kembali bersinar. Anna mendongakkan kepala. Senyum mengejek tersemat di bibir Arsya. Anna terbelalak saat yang menjadi pasangannya adalah Arsya.
Tangan Arsya menarik pinggang Anna dengan erat, sementara tangan kanan Anna berada di atas pundak Arsya. Keduanya melakukan dansa dengan gerakan ke kanan dan kekiri. Tapi pandangan mereka terpaku satu sama lain.
"Apa kabar? Anna ku sayang." Arsya berkata dengan suara rendah tepat di telinga kiri Anna. Dan menekankan kata sayang. Sudut bibir Arsya melengkung ke atas.
Anna semakin membelalakkan mata tatkala kata sayang yang membuat ia terkaget.
"Apakah kau tak rindu denganku?" Arsya masih melanjutkan kata katanya. Apalagi saat melihat reaksi Anna yang tampak terkejut dan kupingnya tampak memerah.
"Huh, enam tahun. Ternyata waktu yang lama ya. Tak di sangka akan bertemu dengan cara seperti ini. Tampaknya kau tak pernah merindukanku." Arsya tersenyum getir dan menundukkan pandangannya. Anna hanya mengepalkan tangannya dengan erat pada genggaman tangan Arsya.
"Kau sudah memiliki tunangan sekarang, lagi pula dia pasti sudah melahirkan anakmu. Mana mungkin aku merindukan orang yang sudah beristri." Ujar Anna membalas perkataan Arsya dan lanjut berdansa.
"Jadi karena alasan itu kau tak mau kembali padaku. Bagaimana jika aku masih sendiri. Apakah kau akan tetap tidak kembali."
__ADS_1
Anna kembali menaikkan pandangannya. "Sendiri?" Anna tak percaya. Tidak mungkin! Waktu itu jelas jelas Linda sedang hamil anaknya bahkan berani memindahkan dirinya ke kamar tamu. Anna mengerutkan kening.
"Bukankah Linda istrimu?" Tanya Anna, matanya yang lebar menyipit. Arsya tersenyum miring.
"Dia bukan istriku." Arsya memberi pernyataan. "Justru istriku adalah orang yang berada di depanku."
"Bukankah pernikahan kita berakhir seiring dengan surat kontrak berakhir. Kenapa kau memberikan pernyataan yang tak masuk akal." sangkal Anna.
"Kontrak apa?" Arsya berpura pura bodoh dan lupa. "Bukankah pernyataanku ini benar. Apa yang tidak masuk akal." Arsya menaikkan sudut bibirnya.
Anna merasa kesal karena pria di depannya ini pandai berkata dan memutar balikkan fakta. "Huh, terserah." Jawab Anna.
Alunan musik terhenti. Kini para tamu menatap ke depan dan mendengarkan MC di depan sana. MC mengatakan untuk saatnya pesta baberqiu. Kemudian beralih ke halaman belakang. Di sana tertata meja dan kursi. Setiap meja memiliki 8 kursi yang mengelilingi.
Asap mengepul dari samping, Acara baberqiu ini adalah acara perjamuan sekaligus acara penutupan. Tak ingin lepas dari genggaman Anna. Arsya menarik tangan Anna hingga masuk ke dalam dekapannya. Ia merangkul pinggang ramping itu dan membawanya ke halaman belakang.
"Kau mencari siapa?" tanya Danni saat melihat direktur Roni celingukan.
"Tadi..."
"Semua orang sudah masuk. Lebih baik masuk bersamaku direktur Roni." sela Danni cepat. Danni segera menarik tangan direktur Roni dan merangkulnya masuk ke dalam halaman belakang.
Direktur Roni kalah tenaga oleh asisten Danni dan terpaksa masuk ke halaman belakang. Di sana semua tamu sudah duduk sesuai urutan.
Asap mengepul di mana mana. Pandangan Anna tidak fokus dan seringkali menoleh mencari keberadaan direktur Roni. Arsya melirik ke arah Anna yang duduk di sampingnya. "Minumlah, kau pasti haus." Arsya memberikan segelas jus ke hadapan Anna.
Anna terpaksa minum. Lagi pula ia juga merasa haus dan lelah telah berdansa begitu lama. Tetapi ia masih merasa cemas sudah meninggalkan Direktur Roni begitu saja.
__ADS_1
"Kau mencari direktur Roni? Tenang saja. Dia sudah besar, tentu saja dia bisa menjaga dirinya sendiri." Arsya berkata dengan santai lalu menarik piring yang berisi panggangan daging sapi. Ia mengambil pisau dan garpu lalu memotongnya kecil kecil.
Anna kembali menarik pandangannya dan melihat ke depan. Lalu melihat menu di hadapannya. Semuanya terbuat oleh daging sapi yang di panggang. Terlihat daging itu masih mengeluarkan asap. Sepertinya baru saja di ambil dari atas panggangan.
"Ayo makan, kau terlihat seperti kurang gizi?" sepiring daging panggang yang telah dipotong kecil kecil itu ia berikan ke hadapan Anna. Anna melotot dengan sempurna ke arah Arsya yang sedang mengatainya. Sementara Arsya tetap berwajah datar. Bagai malaikat tanpa dosa.
"Lama tak bertemu, sekalinya ketemu membuat kesal orang. Menyebalkan sekali." batin Anna. Ia menusukkan daging itu dengan kuat, seolah itu adalah Arsya dan ia menumpahkan rasa kesalnya pada daging. Kemudian mengunyahnya dengan kesal.
Dalam hati Arsya tersenyum puas. Kemudian ia kembali mengambil panggangan daging di hadapannya untuk dirinya sendiri. Dengan santai Arsya memotong daging lalu ia masukkan ke dalam mulutnya.
Sementara direktur Roni menoleh ke sana kemari mencari tempat duduk Anna. Danni yang mengetahui hal itu langsung menekan kepalanya di bawah ketiaknya.
"Direktur Roni, sepertinya anda di sini sudah lama ya. ayo cheers sebagai tanda keberhasilanmu." Danni menaikkan gelasnya dan mendentingkan ke gelas direktur Roni. Danni segera menengguknya. Sementara direktur Roni hanya pasrah.
Malam pesta peresmian berakhir dengan menyalakan kembang api. Semua para tamu terkejut dengan suara di balik kebun. Lalu menatap langit yang penuh suka cita. Semua merasa terharu. Arsya berdiri di samping Anna sambil menyaksikan kembang api di langit.
Setelah kembang api berakhir. Semua para tamu satu persatu kembali pulang. Anna juga ingin segera pulang karena hari sudah larut di tambah lagi ia sudah mulai mengantuk. "Aku akan mengantarkanmu!" Ujar Arsya menarik tangan Anna sehingga Anna yang sudah berjalan satu langkah harus terhenti. Tangannya saling terulur seperti rantai.
"Tidak perlu, kau urusi saja dirimu sendiri. Aku masih ada pak Roni." Ujar Anna melepas genggaman tangan Arsya.
Lalu berjalan pergi hingga ke depan. Saat mengeluarkan telepon. Sebuah mobil terhenti di depannya. Ia menoleh saat pintu kaca di buka.
"Aku bilang, aku akan mengantarkanmu." Ujar Arsya lalu membukakan pintu mobil untuk Anna.
Anna mengedipkan matanya kemudian melihat mobil yang melintas. Di sana Ada direktur Roni sudah berkendara di dalam mobil. Terlihat kepalanya menyembul keluar dan berteriak agar mobil terhenti tapi Danni orang yang tak berperasaan itu malah terus melajukan mobil.
Anna tercengang lalu menyipitkan mata menatap Arsya. Arsya tersenyum miring masih dengan posisinya.
__ADS_1
"Kau...Huh..." Anna menghembuskan nafas kesal. Arsya mengendikkan bahu. Lalu memberinya kode dengan dagunya agar segera masuk.