Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Setelah menghubungi dokter Angga, Arsya bergegas pergi ke tempat Adrian yang diutus sebagai kuasa hukumnya. Ia menjelaskan bahwa ia ingin mengubah surat perceraianya.


"Selamat siang presdir Arsya. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Adrian pengacara sekaligus kuasa hukumnya.


"Sudah ku bilang jangan terlalu formal." Arsya menegurnya.


"Hahaha, baiklah. Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Atau ada sesuatu yang lain?" Tanya Adrian mengulangi pertanyaannya.


"Aku ingin mengubah surat perjanjian pranikah dulu." Adrian yang sedang meminum kopinya terbatuk sehingga kopi yang ada di dalam mulutnya harus kembali keluar dan muncrat ke atas meja.


Arsya yang melihat pemandangan itu merasa jijik, dengan satu tangannya mengibas ngibaskan jas-nya seolah terkena muncratan itu. Padahal tidak terkena.


Adrean segera meletakkan cangkir kopi dan segera meminta maaf.


"Maaf--maaf...! Aku sungguh terkejut." Adrian segera mengulurkan tisu dan meminta maaf.


Arsya menarik selembar tisu dan mengusap usap pada bagian dadanya. Setelah merasa sudah cukup bersih ia membuang tisu itu ke dalam tong sampah.


Sementara Adrian mempersiapkan peralatan yang ia butuhkan untuk mencatat.


"Apa akan di mulai dari sekarang?" Tanya Adrian.


"Ya." jawab Arsya.


Adrian segera mencatat poin poin penting yang harus ia catat. Pertama peralihan separuh aset telah ditetapkan atas nama Anna sebagai hak waris.


Kedua ia mengubah kontrak pernikahan satu tahun menjadi tidak tertulis. Lalu menambahkan, jika suatu saat salah satu di antara keduanya berselingkuh maka peralihan hak waris tidak sah. Dan sepenuhnya akan tetap milik Arsya Widodo Adiyaksa Ceo Adiyaksa Group sebagai pemiliknya dan dia wajib menandatangani surat cerai.


"Sudah!" Kata Arsya.


Adrian selesai mencatat. "Oke. Lihatlah dulu, jika masih ada kesalahan aku akan memperbaikinya."


Adrian memberikan hasil coretannya kepada Arsya. Arsya meneliti kembali coretan itu dengan seksama. Ia kembali menimbang nimbang kalimat yang terakhir. Ia mengerutkan keningnya dengan tidak senang.


"Apa ada yang salah?" Tanya Adrian ketika melihat raut wajah Arsya yang terlihat kaku.


"Apakah kalimat ini terlalu transparan?" Arsya menunjuk kalimat terakhir yang paling bawah.


Penandatangan surat cerai?


Adrian mengerutkan keningnya. Memang ada kejanggalan dalam perkataan itu. "Aku rasa...(tunggu!) apakah kau benar akan menceraikannya?" tanya Adrian memastikan hati sahabatnya itu.


"Awalnya aku tidak berpikir demikian. Tetapi aku hanya takut jika suatu saat dia berselingkuh lalu meninggalkanku." jawab Arsya.

__ADS_1


Adrian mulai mengerti maksud dari kata terakhir itu. Ia mengangguk seraya mengelus dagunya dengan jari telunjuknya.


"Aku rasa ini tidak terlalu transparan kok." Ujar Adrian. Arsya menimbang kembali perkataan terakhir itu memang tidak terlalu menonjol. Hanya saja, hatinya terasa berat jika hal itu terjadi.


"Baiklah, kau yang atur." Jawab Arsya yang mulai menenangkan hatinya sendiri. Seolah kekhawatiran itu takut benar terjadi.


"Oke. Mungkin ini akan selesai dalam dua hari. Nanti aku akan kirimkan ke tempatmu." ujar Adrian.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Jawab Arsya seraya mengancingkan kancing jasnya.


"Apakah tidak makan dulu sekalian disini? Kita sudah lama tidak bertemu." Adrian mengatakannya setelah merapikan dokumen itu.


Arsya menaikkan alisnya sebelah dan menilik jam dipergelangan tangannya. Memang sudah saatnya jam makan siang.


"Baiklah." Arsya kembali duduk di sofa.


Adrian tersenyum lebar lalu menelpon asistennya untuk mempersiapkan makan siang. Sejauh ini hanya obrolan ringan yang mereka bicarakan. Dan setelah beberapa lama, akhirnya Adrian merasa penasaran dengan hubungan mereka berdua. Jadi ia lekas bertanya.


"Jadi selama ini kau dan Anna tidak saling mencintai, tapi kalian masih saja menikah?" tanya Adrian.


"Ya, itu karena kakek." Arsya menjeda kalimatnya dan meminum kopi yang tersedia kemudian ia melanjutkan kalimatnya kembali.


"Pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan. Karena aku tidak ingin tempatnya digantikan oleh orang lain. Tetapi, saat aku melihat pandangannya, aku merasa dia sama seperti mendiang. Bedanya dia lebih keras kepala. Dan mendiang sangat penurut.


"Jadi karena itu kau mengikatnya disisimu?" Adrian tak sabar dan segera menyelanya.


"Juga bukan karena kasihan, aku....sepertinya memang sedang menyukainya."


Adrian tersenyum. "Tapi kau tidak ingin mengakuinya dan malah membuat surat perjanjian seperti ini. Sungguh konyol!" Adrian menggelengkan kepalanya dengan ringan. Dan melipat tangannya di dada.


Arsya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mau bagaimana lagi, aku bukanlah pria yang romantis. Aku hanya mampu melindunginya secara diam diam. Hanya saja dia selalu salah paham padaku."


"Dasar bodoh!" Adrian merasa sahabatnya ini memang bodoh dalam hal cinta. Arsya merasa tak berdaya. Jadi ia hanya pasrah pada keadaan.


Sesaat kemudian asisten Adrian sudah menyiapkan makan siang, keduanya sangat menikmati makan siang dengan saling mengobrol. Pada akhirnya mereka berpisah setelah acara itu selesai.


Mobil roll royce limosin meninggalkan pelataran Adrian firma hukum. Ia kembali menuju ke perusahaan. Tanpa sengaja, saat menoleh ia dapat melihat Anna sedang berjalan ditepian trotoar bersama seorang lelaki.


Dibandingkan dia bersamanya, Tak pernah sedikitpun tersemat senyuman hangat kepada dirinya. Ini membuat hati Arsya kacau. Di dalam pikirannya, ia mengubah isi perjanjian itu memang sudah benar.


Ia mengalihkan pandangannya, tetapi jemari tangannya mengepal kuat disisinya. Sudah berapa banyak pria yang ia rayu untuk bersamanya. Sepertinya terasa sia sia ia melindungi dirinya.


Tetapi gadis itu tetap keras kepala. Dan pergi secara diam diam bersama pria lain. Kali ini ia mencoba untuk rileks dan tenang bersamaan menunggu surat perjanjian itu selesai di kerjakan.

__ADS_1


Arsya memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah. Tepat di saat ini teleponnya berdering. Tertera di depan layar tertulis nama Linda. Dengan acuh tak acuh ia mengangkat teleponnya.


*


"Kamu kenapa ada disini?" Tanya Elan pada Anna saat berada di sebuah danau.


"Aku ingin menenangkan diri seraya membaca buku yang kau berikan?" Kata Anna dengan senyuman dan memperlihatkan buku yang sedang ia bawa.


"Baguslah, buku ini memang sangat cocok untukmu." jawab Elan.


"Kita sudah satu jam disini. Maukah kamu ke kedai seberang, di sana menjajakan makanan soto babat." Elan menunjuk warung yang berada diseberang jalan.


Anna memperhatikan warung itu. Bersamaan dengan bunyi yang keluar dari dalam perutnya. Kruuukkkk....


"Apakah itu keluar dari perutmu?" Elan mencari sumber suara itu berasal.


"Maaf," Anna merasa malu kepada Elan.


"Haahahaa.. Sudahlah, ayo kita ke sana." Ajak Elan lalu menggandeng tangan Anna. Mereka berdua berjalan di tepi trotoar bertepatan dengan mobil Limosin beriringan melewati. Tetapi posisi Anna saling memunggungi jadi ia tak terlalu memperhatikan jalanan.


Kedua manusia itu masuk ke dalam kedai, dan memesan soto babat yang disukai Elan, mereka berdua duduk berhadapan sambil menunggu pesanan datang, mereka saling mengobrol tentang buku buku yang sudah ia baca.


"Pantas saja kau terlalu banyak tau banyak judul buku novel ternyata kau pecinta novel." Elan menganggukkan kepala dengan ringan.


"iya, awalnya hanya iseng saja. Tetapi lama lama aku merasa sangat terhibur, apalagi papa dan mamaku selalu pergi keluar kota jadi untuk mengisi kesepianku aku sering membaca buku novel." tutur Anna.


"Kalau aku sih, cuma hobi mengumpulkan novel sih. Jadi sering keluar negeri."


"Ugh, kau jadi pengembara dong...."


"Hahaha...kau dapat frase kata dari mana. Masa dibilang pengembara sih tapi sejujurnya emang iya sih." sahut Elan.


"Duh pasti kau tau banyak soal luar negeri." Anna menjadi antusias.


"Ya begitu lah....tapi kemanapun aku pergi jauh tetap juga aku kembali ke asal negaraku." Elan berkata seolah masih terasa rindu akan negaranya sendiri.


"iya bagus lah, kau harus tau nenek moyang kita juga lah. Seberapa besar perjuangan mereka untuk mempertahankan bangsa ini."


"Hahaha,,,,kok malah ngomongin kemana mana. Ayo makan aku sangat lapar."


"Hahaha....."


Saat pesanan mereka datang, mereka segera memakan makanan mereka sambil terus bercanda dan tertawa. Seolah rasa sakit yang ditorehkan Arsya telah menghilang. Ia hanya ingin menjadi gadis yang sederhana.

__ADS_1


__ADS_2