
"Ka...Kamu diundang?" Tanya Anna menatap Arsya yang bersikap tenang. Matanya terlihat berbinar cerah.
"Tidak, tetapi di dalam perjanjian pranikah. Kamu pasangan aku yang harus pergi bersama, bukankah begitu." Arsya menjadi canggung menjawab pertanyaan Anna. Alih alih menjawab ia malah terlihat gengsi akan sikap jujurnya.
Anna menahan tawa. Ia tidak mengharapkan ini terjadi. Jadi ia mengangguk saja.
"Baiklah!" Anna berbalik dan memberi sebuah kartu membayar bill pada gaun yang ia beli. Harga satu gaun itu bisa mencapai tiga ratus lima puluh juta.
"tringg" Anna terkejut dengan nominal harga yang terjadi di dalam ponselnya sebuah transaksi. Ia hampir memelototkan matanya karena uang tabungannya harus berkurang hanya demi sebuah gaun.
"Tringg" Kembali terdengar sebuah notif pesan masuk. Anna membukanya Dan ia kembali dikejutkan dengan notif pesan itu adalah nominal transferan uang sebanyak lima ratus juta. Anna memandang pria di depannya dengan tidak percaya.
"Apakah ini kamu yang memberinya?" Anna menunjukkan layar ponsel yang berisi transferan uang yang berhasil.
"Sudah enam bulan, kamu....maksud aku kita tidak pernah pergi belanja. Jadi aku berinisiatif memberimu uang belanja lebih."
"Oh..." Anna tertawa seraya mengangguk anggukan kepala. merasa sangat senang karena uang tabungannya tidak jadi terkuras hanya karena sebuah gaun.
Tak lama seorang pelayan datang memberikan paperbag berwarna putih sesuai dengan merek pakaiannya yang mereka jual. Pelayan itu membungkuk hormat sangat berterima kasih karena sudah membelanjakan toko mereka.
Anna membawa gaun itu ditangan kanannya. Ia mengikuti langkah Arsya yang entah akan kemana. Anna berada di belakangnya. Sehingga langkah Arsya terhenti dan Anna tidak menyadarinya. Dahinya terbentur punggungnya yang atletis.
"Aduh!" Pekik Anna berjalan mundur. Ia mengusap usap dahinya yang sakit.
Arsya menaikkan alisnya lalu berbalik dan menemukan Anna mengusap dahinya.
"Kamu..." Anna menunjuk dada Arsya ingin memarahinya, tapi pandangannya teralihkan saat di atas toko itu tertera sebuah nama 'Salon Antika'
"Eh ngapain kesini?" Tanya Anna seraya memicingkan matanya ke atas karena tubuh Arsya yang terlalu tinggi.
"Bukankah pergi ke pesta. kamu harus berdandan." Arsya segera menarik tangan Anna memasuki salon itu.
"Eh, tapi ini hanya acara ulang tahun tidak harus merias diri kan." Ucap Anna seraya melangkah menyesuaikan langkah Arsya yang menariknya masuk.
Arsya mendudukkan Anna didepan sebuah cermin besar. "Diam dan duduk!" Perintah Arsya.
Kemudian Arsya pergi menuju sofa untuk menunggu Anna dirias oleh perias handal.
Anna mencebikkan bibirnya kesal dan tangannya bersedekap di dada. Pelayan segera datang membawa alat make-up mereka dan memulai mengeluarkan senjata terbaru.
"Eh, jangan sentuh!" Anna mengulurkan tangannya. Pelayan itu tangannya terhenti sejenak diudara. Pelayan itu menatap Arsya yang tengah duduk dengan santainya disofa. Setelah Arsya menganggukkan kepala. Pelayan itu baru berani memaksanya.
"Nona jangan bergerak." Pelayan wanita memarahi Anna meski berkali kali Anna menolak.
"Uh geli. hahaha...." Anna menepis tangan Pelayan berkali kali dan mengucapkan geli.
__ADS_1
Arsya dari kejauhan menggeleng gelengkan kepala. Tetapi tangannya tetap membalikkan majalah dihadapannya.
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam akhirnya perias itu selesai dan mengangkat tangannya.
"Selesai."
"Uh, Akhirnya." Anna bernafas lega. Tersenyum.
"Lihatlah." Pelayan itu menyingkir dan memperlihatkan dirinya melalui pantulan kaca. Anna tercengang.
Benarkah itu aku! Batin Anna tersenyum semakin lebar. Dia hampir tidak percaya jika itu dirinya.
"Aku secantik ini?" Gumamnya pelan. Tetapi pelayan wanita itu mendengarnya.
"Ya." Pelayan itu menjawab seraya mengangguk dan tersenyum lebar. Dia berhasil mengubah gadis didepannya lebih cantik dari artis terkenal.
"Ugh." Anna tertegun.
Para pelayan merapikan senjatanya ke dalam koper kecil. Dan membereskan alat make-up. Anna tidak bisa tidak tersenyum. Ia berbalik dan segera menghampiri Arsya.
Arsya tertegun sesaat, melihat penampilan Anna yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia tidak bisa tidak memujinya. Tetapi ia terlalu gengsi dan memujinya di dalam hati. Wajahnya tetap tenang setenang air yang dalam.
Arsya membuka domoetnya dan menyerahkan sebuah kartu kepada pelayan wanita. Pelayan wanita itu menerimanya dan melakukan transaksi di belakang.
"Kamu tunggu diluar." Perintah Arsya.
Anna berjalan keluar, Arsya segera melihat pelayan yang datang kemari menyerahkan kartu kepada Arsya.
"Pelayananmu sangat bagus. Aku akan membayar mahal untuk ini." Ucap Arsya yang merupakan bentuk rasa terima kasihnya. Setelah menyimpan kartunya kembali ke dalam dompet. Pelayan itu tak berhentinya mengucapkan terima kasih berkali kali.
Arsya membalikkam badan dan keluar dari salon itu, Ia segera menghampiri Anna yang menunggunya.
"Ayo kita pergi." Ucap Arsya.
Di dalam mall itu, orang yang berlalu lalang tidak bisa tidak memuji kecantikan dan ketampanan dua pasangan muda itu. Kedua pasangan itu sangat serasi. Anna tidak bisa tidak menyembunyikan senyumannya.
"Jangan banyak tersenyum. Kecantikanmu khusus untukku." Bisik Arsya.
"Ugh." Anna tertegun dengan ucapan Arsya.
Anna melangkah dengan hati hati karena ia memakai sepatu hak tinggi.
Sesampainya di mobil, Pengawal yang berjaga diluar segera membukakan pintu. Anna masuk terlebih dahulu diikuti Arsya di sampingnya.
"Hotel Bintang Lima."
__ADS_1
"Baik." Pak Jaki menjawab.
Mesin mobil dihidupkan, Para pengawal sudah berjajar rapi didepan mulai menggerakkan mobil mereka perlahan, Di belakang mobil yang dihuni tiga orang itu mulai merangkak. kemudian disusul dua mobil lainnya dibelakangnya.
Mobil berjalan beriringan di jalan raya. Mobil Roll Royce Phantom itu berjalan perlahan mengikuti iring iringan mobil didepan. Hingga sampailah di sebuah hotel bintang lima, pesta ulang tahun diadakan.
Para tamu yang diundang beriringan masuk ke dalam, tetapi melihat ada iring iringan mobil mewah. Tatapan mereka teralihkan dengan mobil mewah ini. Mereka tidak bisa tidak mengaguminya. Saat mobil Mewah Roll Royce Phantom terhenti tepat di depan pintu lobi para pengawal cepat membukakan pintu.
Nampak sebuah kaki putih yang ramping turun dari dalam mobil. Semua orang yang melihatnya sangat terpukau hanya dengan melihat kakinya saja. Kemudian keluar Diiringi tubuh Anna yang seksi, mata mereka hampir tak percaya. Dia terlihat semakin cantik. Bahkan dari para lelaki mulut mereka menganga hampir meneteskan air liurnya.
Anna tersenyum bangga, bukan ini yang ingin diperlihatkannya tetapi ia ingin menunjukkan jika dirinya tidak mudah ditindas seperti dulu. Dibelakangnya, Arsya turun dari dalam mobil. Ini berita menggemparkan.
Mata mereka semakin tak percaya, Anna bisa satu mobil dengan pengusaha papan atas seperti Arsya Adiyaksa. Mata mereka hampir melotot.
Arsya sudah mengganti pakaiannya. Mengenakan jas berwarna putih senada dengan gaun yang dikenakan Anna.
Terdengar bisik bisik para tamu yang hadir memperbincangkan kedua pasangan baru ini. Anna tidak terlepas dari tatapan Arsya. Lalu memandang tajam ke arah para pria yang mengaguminya. Para lelaki terkejut saat mendapati tatapan tajam dari Arsya. Mereka segera membalikkan badan dan pergi dari sana.
"Kamu jangan jauh dariku." Bisik Arsya.
"(.....)
Segera Arsya membawanya masuk. Di hotel ini, Aula berada di lantai lima. Di dalam Lift, hanya ada mereka berdua dan lima diantaranya adalah pengawal. Anna menahan nafas. karena ini pertama kalinya datang ke acara ulang tahun tidak sendiri.
Merasa tegang. Jika nanti semua mata pasti akan mencibirnya. Anna berdiri gelisah, kedua jemarinya saling bertautan dan terasa dingin.
Malihat raut wajah Anna yang tidak seceria tadi. Arsya mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Ugh." Anna menoleh mendongak.
Tatapan Arsya semakin dalam dan tajam, tetapi mengandung sebuah kelembutan. "A....Aku sangat gugup." Anna kembali menundukkan kepalanya. Memang ia tidak bisa menutupi kegugupannya jika nanti di antara teman temannya akan mencibirnya hanya kedatangan seorang Arsya.
Arsya menggenggam tangannya. Tangan yang lebar itu menyalurkan rasa hangat disekujur tubuh Anna. Ini membuat Anna teringat pada Anzel yang selalu memberinya ketenangan setiap kali ia diperlakukan tidak baik dari orang disekitarnya.
Anna membelalakkan mata. Lalu segera menoleh. Arsya tidak bereaksi apa apa selain menggenggam erat tangannya yang terasa dingin.
Tring
Pintu lift terbuka. Pengawal itu keluar terlebih dulu. baru Arsya dan Anna.
"Tunggu!" Langkah Arsya terhenti ketika Anna juga berhenti, ia menaikkan alisnya sebelah.
"Aku akan masuk terlebih dulu. Aku tidak enak menjadi pusat perhatian. Bukan aku. tapi kamu pusat perhatiannya." Wajah Arsya kembali datar. Tidak mengatakan apa apa selain membiarkan Anna masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Pintu ball room itu terbuka. Anna mengawasi pergerakan Arsya yang nantinya akan membuat pusat perhatian lebih. jadi lebih baik ia pergi sendiri terlebih ia juga tidak mau hubungannya dengan Arsya terbongkar karena kehadirannya yang tiba tiba.
Baru akan sampai di depan pintu Anna kembali menoleh kebelakang, tetapi Arsya dan para pengawalnya sudah tidak di sana. Ia merasa lega dan kembali melanjutkan langkahnya.