
Anna sudah terlalu lama berada di ruang penelitian. Ia merenggangkan ototnya sebentar. Meletakkan peralatannya kemudian ia keluar. Ia berjalan jalan di kebun mawar seraya melihat para pekerja.
Saat ini mobil melintas, di dalamnya ada Arsya dan Danni. Arsya melihat kebun mawar yang luas itu. Tanpa sadar ia menangkap sosok gadis yang tengah berada di tengah tengah kebun. Dia terlihat tersenyum manis dan menyapa pekerja dengan ramah.
Tapi ia hanya melihat dari kejauhan tentu saja tak dapat melihat jelas wajah gadis itu. Perempuan itu berambut pendek dan mengenakan topi.
"Presdir. Tuan Xander sudah menunggu di sana."
Arsya menarik pandangannya saat danni melaporkan. "Hem, katakan untuk menunggu lima belas menit lagi." ujar Arsya lalu menatap ke depan.
"Baik."
Danni segera mengetik pesan kepada tuan Xander agar menunggunya.
*
"Noni, tadi ada pria ganteng kesini?" ujar Laila salah satu pekerja di kebun mawar.
"Haha bik Laila selalu begitu kalau ada pria ganteng. Bukankah yang datang kemari kebanyakan memang pria." Ujar Anna sembari tertawa. Matanya yang lebar menyipit.
"Hehe. Tapi yang ini beda Noni. Pria ini benar benar ganteng. Andai aku belum bersuami. Aku pasti sudah menggaetnya." Ujar Noni.
"Laila, ingat suami di rumah." peringat Elmo.
"Iya, Elmo. Itukan hanya bercanda. Kau selalu menganggap serius, lagi pula aku tuh cintanya sama suamiku." sahut Laila.
"Hehe..." Elmo meringis.
"Baiklah, kalau begitu lanjut kerja saja. Aku ada pertemuan dengan tuan Enderson. Doakan ya semua. Semoga mereka mau order sabun mawar terbaru yang aku buat." Ujar Anna.
"Wah, Noni hebat. Setelah menciptakan parfum sekarang membuat sabun. Besok apalagi?" Ujar Livia.
"Haha, tunggu kejutan lainnya. Asalkan kalian semangat. Aku juga akan banyak menciptakan kreasi baru." jawab Anna.
Kemudian ia berbalik pergi. Sementara hari sudah siang. Para pekerja pun beristirahat dan makan siang.
Tepat jam dua siang, Arsya menuju bandara karena dia sudah selesai menemui klien. Kali ini pekerajaan di Amsterdam merambah dengan pembuatan rumah. Arsya sebagai arsitek handal pun selalu mendapatkan job yang lebih besar.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju bandara kebetulan sangat macet. Anna dengan mobilnya tepat berada di samping mobil yang ditumpangi Arsya.
Anna membuka kaca mobilnya. Lalu melihat ke depan dengan lurus. Ia memakai kaca mata hitamnya. Arsya yang merasa jenuh di dalam mobil melihat keluar jendela.
Saat melihat mobil di sampingnya. Ia melihat seorang gadis berambut pendek sedang menyetir mobil. Pesona gadis itu membuat Arsya terbius.
Terlihat jemarinya yang ramping memegang setir. Rambut pendeknya berayun terkena terpaan angin. Tapi ia menarik kesadarannya untuk tidak memikirkan gadis lain. Jadi ia kembali menundukkan kepala dan menatap i-pad nya.
Dalam suatu pertemuan dengan mr Anderson. Semuanya lancar, mr Anderson bahkan meminta orderan lebih, dia juga akan menyeponsorkan hingga ke luar kota. Saat ini sabun ataupun parfum pembuatan Anna masih belum terlalu dikenal. Masih ada beberapa proses yang harus ia lalui.
Saat ini ada mr Anderson yang mau bekerja sama apalagi memberinya sponsor tentu saja Anna merasa senang. Sementara Mr Anderson sendiri merasa puas karena parfum dan sabun cair ciptaan Anna ini memiliki bau khas harum yang klasik.
Tentu saja bagi orang kaya, bau khas klasik seperti ini akan menenangkan. Apalagi setelah selesai bekerja dengan bau seperti ini tentu saja rasa lelah mereka akan segera pulih dengan mencium bau khas seperti ini.
"Terima kasih mr Anderson. Atas kerja samanya." Ujar Anna sembari menjabat tangan mr Anderson.
"Tentu saja Noni, bau klasik seperti ini sangat diburu masyarakat. Dan aku yakin semua pasti akan menyukainya." sahut Mr Anderson sembari membalas jabatan tangan Anna.
Setelah itu mereka melakukan makan siang dengan mengobrol biasa lalu berpisah dan kembali ke tempat kerja masing-masing.
Ternyata malah berasap. Dia tidak mengerti mobil. Anna mendesah pelan. Dia bingung harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk menghubungi Elmo saja. Tapi saat mengambil ponselnya malah mati.
"Duh sial. Mana malam lagi." desah Anna. Ia mencoba mengotak atik mobil tapi tetap tak bisa.
Direktur Roni kebetulan sedang di dalam rumah. Ia hidup sendiri di penginapan rasanya sepi. Setelah menyeduh kopi ia keluar untuk mencari kesegaran.
Tak di sangka saat keluar dia menemukan sebuah mobil terhenti tak jauh dari penginapannya. Direktur Roni mengerutkan kening sembari meletakkan cangkir kopi di meja di teras penginapan. Kemudian ia menghampiri mobil itu
"Bisa saya bantu?" Ujar direktur Roni.
Anna yang saat ini berdiri membelakangi terkejut saat ada suara di balik punggungnya. Ia segera menoleh kebelakang.
"Kamu?" Ucap Anna tak menyangka akan bertemu dengan direktur Roni disini.
"Loh, noni!" Ujar Direktur Roni juga tak menyangka. "kenapa kamu malam malam begini ada disini?" lanjut direktur Roni.
"Mobilku gak tau ada masalah. Tiba tiba terhenti." ujar Anna menjelaskan. Direktur Roni melirik mobil di belakang Anna lalu mendekatinya.
__ADS_1
Dia mencari penyebab mobil itu terhenti saat di cek ternyata air pada aki telah habis.
"Ah, ini karena air pada aki telah habis. Makanya mesin mobil berasap." Ujar Direktur Roni setelah mengecek.
"Oh, pantas saja. Padahal setiap bulan sudah di cek. Tapi aku tak tau soal air pada aki yang harus terus diisi."
"Haha. Memang tak semua bisa di mengerti oleh wanita. Tinggalkan saja mobilnya disini. Nanti aku akan memanggil tukang bengkel memperbaikinya besok. Ini sudah malam. Aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih. Anda terlalu lelah bekerja. Lebih baik aku pulang dengan taksi." Ujar Anna merasa sungkan. "Sampai jumpa." pamitnya.
Ia segera ke sebrang jalan dan menghentikan taksi. Belum juga Direktur Roni mengatakan sesuatu, tetapi Anna sudah meninggalkannya. Hanya terdengar hembusan angin melewati telinganya. "Haist." Direktur Roni menghebuskan nafas panjang.
Di keesokan paginya. Direktur Roni membawa mobil Anna ke bengkel. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya sudah selesai di perbaiki. Direktur Roni segera membawanya ke kebun mawar. Dengan begini ia bisa bertemu dengan Noni setiap hari.
Direktur Roni berjalan di tengah tengah kebun mawar sembari tangannya memutar mutar kunci di jari telunjuknya.
"Selamat pagi." Sapa Direktur Roni kepada pekerja di kebun mawar.
"Selamat pagi." sahut kedua pekerja yang berada di sana. Mereka sangat ramah kepada siapa saja yang masuk ke kebun mawar. Meskipun mereka tidak mempunyai keinginan untuk bekerja sama. Seringnya mereka meminta bunga dengan gratisan. Tapi tetap saja para pekerja selalu ramah.
"Apakah Noni sudah berangkat?" tanya direktur Roni.
Eva menoleh ke arah rumah penelitian. Tetapi pintunya masih tertutup. Eva pun segera menggelengkan kepala seraya berkata. "sepertinya belum, Noni pasti kesiangan. Karena jam segini belum datang. Biasanya dia masih pagi sudah berangkat."
Direktur Roni mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah pintu penelitian. Kemudian berbalik dan menatap kedua pekerja itu lagi. "Apa jangan jangan sedang sakit?" tanya Direktur Roni menebak nebak.
"Entahlah, kami tidak tau." sahut mereka berdua.
"Apakah kalian tau letak rumahnya?" tanya direktur Roni lagi.
Tetapi sebelum mereka berdua menjawab, Anna sudah berjalan masuk ke dalam kebun mawar. Eva segera menunjuk ke arah Anna. "Itu Noni."
Direktur Roni segera menoleh ke belakang, ternyata benar itu Noni. Jadi ia mengurungkan niatnya pergi ke rumah Noni. Padahal ia sangat berharap jika ia tau letak rumah Noni, ia ingin berkunjung ke rumahnya langsung.
Direktur Roni segera berpamitan kepada kedua pekerja itu dan berlari ke arah Anna yang bersiap membuka pintu rumah penelitian.
"Noni!"
__ADS_1