
Wajah Eli berubah murung. Albert benar benar tidak menyukai Arsya entah karena apa. Tetapi Eli sangat menyukainya.
Anita sudah bersiap akan kembali. Dia tersenyum mengembang kala dia akan menaiki pesawat. Terdengar deringan telepon yang mengusik. Dia segera melihat nama yang tertera di layar telepon.
"Halo Ayah." Senyumnya semakin mengembang dan suaranya terdengar lebih ceria.
"Anita, ayah sudah mendengar jika kau berhasil mendapatkan kerja sama dengan tuan Albert. Ayah akan memberikan kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalam perusahaan dan mendapatkan posisi sebagai dewan direksi." Ujar Herman dari balik telepon.
"Benarkah." Anita hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Herman.
"Ya, Ayah sudah mempersiapkannya."
"Terima kasih ayah."
Telepon di tutup. Di belakang Arin langsung memujinya. "Selamat nyonya. Tuan besar telah memberikan anda sebuah kesempatan."
Anita mengulurkan tangannya dan memberikan ponselnya kepadanya.
"Haha, ini baru langkah awal. Jangan terlalu memuji. Sekarang ini Arsya si keponakan bodoh itu tidak menyadari jika istrinya hilang, dan gambar yang kita curi telah memberikan kita kepercayaan dari ayah. Kelak, kita harus lebih bekerja keras lagi. Sebelum perusahaan itu jatuh ke tanganku. Maka harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Arsya."
Arin tersenyum mendengarkan perkataan majikannya. Anita dan rombongannya memasuki pesawat. Arin di belakang selalu mengikutinya.
Arsya akhir akhir ini sangat sibuk karena harus mengurusi perusahaan yang telah merugi hampir triliunan. Dia benar benar merasa kesal dengan tindakan Anita ini. Seharusnya wanita tua itu mendapatkan gambar sendiri bukannya mencuri miliknya.
Saat ini, tuan besar telah memerintahkan untuk melakukan pertemuan dengan dewan direksi. Para direktur merasa terkejut dengan adanya berita ini. Apalagi membahas Anita yang akan masuk dalam jajaran dewan direksi. 15 tahun yang lalu wanita itu membuat perusahaan hampir bangkrut. Tapi kenapa malah memasukkannya ke dalam jajaran dewan. Mereka sangat bingung tetapi tidak bisa melawan tuan besar.
Arsya merasa sakit kepala mendengar keputusan kakeknya. Dia pun memberitaukan kerugian yang ditanggung perusahaan yang merenggut hampir triliunan.
"Kakek kenapa kau memutuskan secara sepihak mengenai hal ini?" Tanya Arsya.
"Anita sudah membuktikan kerja kerasnya dan berhasil maka aku memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam perusahaan, apalagi yang kau ragukan, dia juga adalah bibimu." Balas Herman.
Arsya menghela nafas. "Kek, Bibi bukan berhasil dengan kinerjanya, melainkan telah mencuri gambar milikku dan sekarang pihak West korp yang telah bekerja sama denganku harus dibatalkan."
"Jangan mencari alasan untuk memojokkan bibimu. Dia sudah belerja keras untuk memajukan perusahaan juga. Lebih baik kau terima keputusanku ini. Dan lagi, aku dengar kau telah menghamili Anna dan juga nona Eli secara bersamaan. Apa maksudmu dengan bertingkah seperti itu?"
Arsya menaikkan alisnya. "Aku memang melakukannya kepada Anna karena aku merasa Anna masih istriku. Tetapi dengan nona Eli, aku benar benar tidak melakukannya."
__ADS_1
"Omong kosong, bibimu bercerita padaku bahwa nona Eli sedang mengandung anakmu. Tidak puaskah kamu dengan menantu yang sudah aku pilihkan. Dulu kau melakukannya bersama Linda bahkan kau berkolusi di dalamnya untuk menentangku."
"Kek..."
"Sudahlah, kakek tidak perlu penjelasanmu. Selangkah saja kau bergerak, kau tak akan jauh dari pengawasanku. Sekarang kau harus menangani kerugian perusahaan itu. Dan hanya bibimu yang kini telah mendapatkan keuntungan besar."
Setelah itu sambungan telepon diputus. Arsya menghela nafas berat. Kenapa sekarang berbanding terbalik dengan Anita yang telah mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari kakek.
Malam semakin pekat dan besok adalah hari minggu. Seminggu penuh dia tidak pernah menemani Anna. Jadi berinisiatif membelikan buket bunga mawar yang besar untuk permintaan maaf kepada Anna.
Sampai berada di Villa. Arsya melihat Anna di balik gundukan selimut yang tebal. Sementara Danni meletakkan buket bunga mawar itu berada di pojokan ruangan. Awalnya Arsya ingin membangunkan Anna untuk ia berikan kejutan. Tetapi mendengar dengkuran halus dari balik selimut, ia pun mengurungkan niatnya.
Arsya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan berendam air hangat. Ia merasa lelah ditambah lagi dengan masalah masalah yang tak terduga di dalam perusahaan. Selesai berganti pakaian, ia langsung tertidur di samping.
Anita baru saja kembali dari Amsterdam lalu pergi ke sebuah rumah yang berada di pesisir selatan.
"Nyonya!" Anak buahnya menundukkan hormat.
Anita tersenyum tipis. "Bagaimana keadaan istri keponakanku sekarang?"
"Dia sedang tertidur, sejak datang dia selalu berteriak histeris. Dan selalu menolak untuk makan."
Anak buah Anita menerimanya dan menyimpannya ke dalam saku jas hitamnya. Anita berlalu pergi bersama Arin di belakangnya.
"Nyonya, bukankah obat itu akan sangat berbahaya pada janin. Kenapa anda memberikannya kepada nona Anna." Arin bergegas bertanya karena merasa khawatir jika gadis itu akan keguguran jika memakan obat itu.
"Cih, apa perduliku. Asalkan bisa secepat mungkin menggulingkan posisi Arsya aku akan menggunakan cara apapun." Balas Anita dengan acuh.
Saat di pagi hari, Arsya merasakan kehangatan bisa berpelukan bersama Anna. Ia terus memeluknya dengan erat. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Ranjang di sampingnya terasa bergerak gerak. Ia pun merasa tak nyaman dan akhirnya membuka matanya. Ia tertegun karena ada wanita lain berada di dalam kamarnya.
Ia terduduk dan menatap gadis itu dengan amarah yang meluap. "Siapa kamu?" tanya Arsya dengan nada kasar.
Gadis itu malah tersenyum ringan. Ia berdiri membelakangi cahaya dengan pakaian seksy. Tangannya bersedekap di dada menampakkan tonjolan pada dadanya yang besar dan rendah.
"Tuan Arsya, kenapa kau bertanya seperti itu. Bukankah aku adalah istrimu. Apa kau lupa?"
"Sialan." Arsya mendesis kasar dan bangkit berdiri. Gadis itu mundur selangkah.
__ADS_1
"Dimana Anna ha?" Matanya menampakan cahaya merah seperti darah, menatapnya dengan dingin.
"Ugh." Gadis itu tak gentar. Dia malah tertawa penuh kemenangan. "Jika kau bertanya, tentu saja aku tidak tau. Aku hanya menggantikan peran sebagai istrimu, merawatmu dan memberimu kehangatan setiap malam." Balasnya.
"Siapa yang memberimu perintah? Di mana istriku jangan berbelit. Jika tidak mau mengatakannya, aku tidak akan segan membunuhmu." Ucap Arsya dengan sengit.
"Oh, tenanglah tuan Arsya. Hahaha......Jika kau berani membunuhku maka kau tidak akan menemukan istrimu. Lebih baik kau mengikuti peran bersamaku."
"Wanita sialan." Pungkas Arsya. Ia dengan cepat menghantam wanita itu, tetapi wanita itu juga tak kalah cepat dengan langkah Arsya. Ia berbalik menyamping sehingga Arsya meninju kekosongan. Tubuhnya terjerembab ke lantai dan menghantam sisi meja. Kepalanya berdarah.
Wanita itu kemudian berjongkok dihadapan Arsya dengan tatapan yang menyilaukan, ia tersenyum miring sambil berkata.
"Kasihan sekali. Tuan Arsya, sudah aku bilang kepadamu, asalkan kau bisa bekerja sama denganku maka, kau juga akan menemukan istrimu." Ujarnya dengan tenang. Tangan kanannya terulur dan menepuk pipi kanannya.
Tangan Arsya segera menangkap tangan wanita itu dengan cepat sehingga wanita itu tidak mempunyai waktu untuk menyingkir. Matanya membola karena terkejut. Dengan cepat Arsya membalikkan gadis itu hingga terjerembab ke lantai dengan melintir tangannya ke belakang. Arsya melangkahi tubuh gadis itu dengan tubuhnya yang kekar.
"Cepat katakan, siapa yang memberikan perintah kepadamu?" Arsya kembali bertanya kedua kalinya.
Gadis itu meringis kesakitan. Dia takenjawab perkataan Arsya justru Tangan kirinya yang menganggur tanpa sepengetahuan Arsya mengeluarkan sebuah pisau kecil berbalik dengan cepat dan menggores tangan Arsya yang mencekalnya.
Arsya melihat tangannya yang berdarah.
"Hahaha...meskipun kau bertanya sebanyak yang kau mau, aku juga tidak akan menjawabnya." Setelah itu, ia pergi melompat melalui jendela di sampingnya dan masuk ke dalam hutan.
Arsya berlari ke arah jendela dan melihat wanita itu dengan cerdik menghilang di balik hutan. Ia melihat lengannya yang berdarah tepat ketika Ricky membuka pintu mendorong troley makanan.
"Tuan Arsya, apa yang terjadi?" Tanya Ricky meninggalkam troley makanan di samping meja. Lalu menghampiri Arsya yang tangannya sedang terluka.
"Tidak apa apa," Sahutnya, kemudian ia mengambil gelas yang sudah terasa anggur dan menenggaknya. Ia duduk di sofa panjang lalu bertanya tentang kejadian selama seminggu ini.
"Ricky, sejak aku kembali dari Amsterdam, apa yang terjadi di villa ini?" Tanya Arsya mengulik kejadian seminggu yang lalu.
"Tidak ada apa apa tuan, hanya saja, aku memang merasa aneh saat nona Anna tidak pernah keluar dari kamar. Kami selalu mengantarkan makanan ke dalam kamar. Dan saat itu dia selalu berada di dalam kamar mandi. Aku bertanya kepadanya jika sedang sakit harus pergi ke rumah sakit. Tetapi dia menolak dan menagatakan itu efek kehamilannya. Dan saat itu kami percaya jika dia merasa kelelahan karena kehamilanya." Ucap Ricky panjang lebar menjelaskan.
Arsya mengangguk. Sekarang kau boleh pergi."
"Ugh." Ricky pun pergi keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Arsya bersandar pada sandaran sofa, menatap lurus pada foto pernikahannya dan terus menyelidiki. "Mungkin ini ada kaitannya dengan Anita tentang saham itu."