
Arsya melihatnya dikejauhan bagaimana mereka mengejek Anna. Matanya yang hitam berubah tatapan dingin. Anna hanya bisa melirik papan nama pabrik tua itu sebelum akhirnya ia pergi dari sana.
Sebuah mobil melintas. Arsya menundukkan kepalanya guna bersembunyi dari lintasan mobil Anna. Anna mengendarai mobilnya dengan perasaan sedih. Jika seperti ini waktu yang digunakan dua bulan tidak akan cukup.
Sesampainya di rumah Anna memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Saat malam juga tidak bisa tertidur nyenyak memikirkan hal ini.
Dia kira, akan mudah menjalankan bisnis seperti bayangannya tapi ternyata semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Saat dipagi harinya, dia terbangun dan matanya menghitam seperti panda. Dia benar benar tidak tidur semalam. Semalam ia mengerjakan sebuah proposal mungkin dengan begini akan dapat di terima.
Tok tok
Sebuah gedoran di pintu membuat atensinya beralih ke arah pintu yang diketuk. Ia meletakkannya proposan di atas meja dengan sembarangan lalu membuka pintu.
"Arsya! Kau sepagi ini sudah kesini? Mau apa?" tanya Anna dengan ketus. Awalnya ingin menghindar karena masih malu dengan adegan kemarin. Tetapi karena Arsya tidak punya rasa malu, Anna menjadi kesal. Apalagi saat ini ia tidak memiliki mood sama sekali.
"Meminta sarapan. Aku lapar. Semalam aku belum makan." Ujar Arsya disertai dengan cengiran.
"Haist. Kenapa kau tak pergi ke restoran." Desis Anna. Lalu masuk ke dalam rumahnya. Arsya mengikuti dibelakang dan menutup pintu.
"Aku sudah bilang. Jika pergi ke resto akan membutuhkan waktu. Jadi akan mudah cepat lapar. Dan semalam aku sangat kelaparan karena rumahmu lampunya sudah padam." Sahut Arsya santai.
Anna melangkahkan kakinya masuk ke dapur lalu mengambilkan air minum ke dalam gelas.
"Ini. Aku lagi gak mood memasak." Ujar Anna sembari memberikan segelas air pada Arsya.
Anna kemudian mendudukkan bokongnya di hadapan Arsya.
"Mata kamu kenapa? Kau semalam tidak tidur?" tanya Arsya saat menemukan mata Anna menghitam.
"Aku gak bisa tidur." sahut Anna yang merasa malas.
"Nanti malam, ada acara pesta. Kebetulan aku di undang nona Eli." Ujar Arsya. "Nanti malam ikutlah denganku. Aku malas bertemu dengan nona Eli."
Anna membuka matanya lebar lebar. "Kenapa kau berkata demikian. Bukankah kau yang meminta dia menerima kau. Kenapa kau malah malas bertemu dengannya." Tanya Anna.
"Sudah mulai bosan." sahut Arsya santai.
Mata Anna membola. "Dasar buaya darat."
Arsya tersenyum tipis. "Akhirnya bisa membangkitkan emosimu lagi. Sekarang buatkan aku sarapan. Aku sangat lapar." Ujar Arsya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Anna bangkit dari duduknya dan menuju ke area kompor.
"Aku tidak ada bahan buat memasak. Aku akan membuat omelet."
"Baiklah." sahut Arsya.
Selama menunggu masakan matang. Arsya berjalan ke ruang tengah lebih tepatnya ruang tengah yang bisa dijadikan ruang tamu. Dia melihat sebuah dokumen. Dia pergi ke sana dan melihatnya. Ternyata itu adalah sebuah proposal yang akan diajukan di pabrik tua itu.
"Sya. Omeletnya sudah jadi." Anna membawakan dua piring omelet di dua tangannya. Saat menoleh dia tidak menemukan Arsya di sana. Jadi ia meletakkan dua piring itu di atas meja. Lalu keluar dari area ruang makan. Saat berada dipintu ternyata Arsya berada di ruang tengah.
"Sya." panggil Anna. Arsya menoleh masih dengan membawa dokumen di tangannya.
"Ini proposal apa?" tanya Arsya saat Anna berjalan mendekati Arsya.
"Itu..." Anna berubah sedih lalu menarik dokumen itu dari tangan Arsya.
"Kau ingin bekerja sama dengan sebuah perusahaan?" tanya Arsya penuh selidik.
Anna menundukkan kepalanya sembari menatap dokumen di tangannya.
"Baiklah, kau jangan khawatir. Masih ada aku disini. Aku akan membantumu." Arsya menyunggingkan senyuman. "Ayo kita sarapan." ajak Arsya.
"Sya, aku penasaran. Bagaimana kau bisa memimpin sebuah perusahaan besar itu. Sementara aku saja masih kewalahan menghadapi semua ini." Ujar Anna akhirnya mengatakan uneg uneg di dalam benaknya.
"Awalnya memang sulit. Dan semua itu butuh proses. Dulu aku juga di taraf seperti kau ini. Tapi semua karena tekad dan strategi." Ujar Arsya dengan jari telunjuk menunjuk pelipisnya.
Anna mengangguk dan menyuapkan omelet ke dalam mulutnya. "Jika masih ada aku kenapa kau seprustasi ini. Kau ikutlah denganku nanti malam."
"Arsya!" pekik Anna melototkan matanya.
Tetapi Arsya tak perduli, ia menyuapkan omelet ke dalam mulutnya.
"Kemarin kau menganggap aku tak ada. Kalian menikmati malam berdua saja. Apa kau akan memperlakukan aku seperti itu lagi. Aku tidak mau." Anna menggeram kesal. "Dulu kau bersama Linda dan aku harus menutup telingaku dengan berita yang beredar. Sekarang kau pergi dengan Eli lalu aku sebagai obat nyamuk di antara kalian."
"Kenapa kau suka sekali mengungkit Linda. Linda itu tak sepadan dengan kau. Sejak awal aku tak menyukai Linda. Dia yang selalu membuat skandal."
"Dan kau membiarkan." Sela Anna.
"Hmph, itu kesalahanku di masa lalu." sahut Arsya sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Dan lagi mengulangi nya." sela Anna lagi.
"Aku hanya ada sedikit kerja sama dengannya. Maka banyak melakukan pertemuan. Kau jangan salah paham. Aku tak akan menunda masa depan seseorang lagi."
"Ha." Anna mendongak menatap Arsya yang berkata begitu santai. "Apa aku tak salah dengar." Ungkap Anna.
Arsya menggeleng tipis. "Tidak. Masa depanku berada dihadapanku. Buat apa cari yang lain. Selain itu aku telah berjanji pada seseorang akan melindunginya sampai akhir." Ungkap Arsya.
"Siapa? Ach, aku tau. Pasti itu kakek. Kau tetap saja masih berakting di depan kakek. Sangat basi." Ucap Anna mencibir.
"Bukan." Sahut Arsya.
Anna kembali menatap Arsya menebak orang itu. "Papa dan mamaku?" tanya Anna.
"Bukan juga."
"Lalu siapa?" tanya Anna dengan penasaran.
"Rahasia." Arsya tersenyum tipis dan menyuapkan lagi sisa omelet ke dalam mulutnya.
"Ich, rahasia rahasiaan melulu. Terserah lah." Ungkap Anna acuh lalu membawa piring kotor ke dalam wastafel. Arsya menenggak minuman yang diberikan Anna hingga setengah lalu menyusul Anna dan membawa gelas itu ke dalam wastafel.
"Jika kau pulang, aku akan memberitaukannya." Ujar Arsya kemudian berlalu.
Anna mencebikkan bibirnya dan lanjut mencuci piring. Setelah selesai ia membilas tangannya dan keluar. Di ruangan tengah ia menemukan Arsya duduk di sofa sambil membaca dokumen lebih tepatnya proposal yang ia buat semalam.
"Tidak ada yang menarik." Ucap Anna sembari menarik paksa proposal itu dan menaruhnya di atas meja. Arsya menolehkan kepala saat Anna duduk cemberut di sampingnya.
"Proposalmu lumayan bagus. Hanya saja masih ada kekurangan." ujar Arsya mengomentari proposal Anna.
"Aku tau makanya tak ingin kau lihat."
Arsya tersenyum tipis lalu mengusap puncuk rambutnya pelan.
"Bagaimana kalau kita ke ladang. Ajari aku cara meracik parfum. Dan aku yang akan mengajari cara menarik investor."
"Ide bagus. Aku akan ganti pakaian."
"oke."
__ADS_1