Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 21


__ADS_3

Saat malam, Anna sudah mengenakan gaun pemberian Arsya. Malam ini seharusnya Arsya pergi kencan dengan Eli tapi mengapa harus membawanya. Apakah dia sengaja mengajaknya untuk dijadikan kambing congek di antara mereka.


Sampai disini Anna merasa sakit kepala karena Arsya selalu berbuat seenaknya. Tak berapa lama sebuah mobil bmw terhenti di depan rumahnya. Anna masih tetap diam di dalam rumahnya mencoba mengacuhkan pria itu. Tapi. Tetap tak bisa, Arsya sudah menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Arsya, ini kan kencan butamu dengan nona Eli, bisa tidak jika kau tak menganggap aku sebagai kambing congek diantara kalian. Aku tidak mau pergi denganmu." Ujar Anna di dalam gendongan Arsya. Arsya tersenyum tipis. Lalu melepaskannya saat sudah berada di dalam mobil.


"Aku tidak menganggap kau kambing congek seperti yang kau bilang. Ini hanyalah makan malam biasa. Aku mengajakmu karena aku takut kau akan kesepian di rumah. Sekalian saja kita jalan jalan untuk menikmati malam yang belum pernah kita lalui tempo dulu." Ujar Arsya selesai mengaitkan seatbealt di tubuh Anna.


Lalu ia menutup pintu dan berjalan memutari mobil. Arsya kemudian membuka dan menutup pintu mobil di jok kemudi samping Anna.


"Sya, kita ini sudah cerai. Dan kau adalah mantan suamiku. Buat apa mengenang masa lalu. Dan lagi pula aku tak akan kesepian meski sendirian disini. Aku sudah terbiasa sendirian." Ujar Anna.


Mesin mobil menyala dan Arsya melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Anna.


"Aku tak perduli kau menganggap aku mantan suami atau bukan. Yang ada di dalam benakku adalah kau masih istriku." Ujar Arsya dengan mata fokus di jalanan.


Anna tertegun kemudian ia menolehkan kepala ke arah Arsya. "Sya, kau itu sudah mempunyai anak dengan Linda. Dan aku ingat betul bahwa kau yang mengirim surat cerai itu kepadaku. Aku telah menandatanganinya." Ujar Anna lalu ia kembali menatap jalanan di depan.


"Aku tak pernah mengirim surat cerai itu kepadamu. Dan aku juga tak memiliki anak dengan Linda. Semua itu palsu. Dan surat cerai yang kau tanda tangani itu tidak pernah masuk ke ruangan sidang."


"Lalu siapa yang mengirimkannya?" Tanya Anna.


"Itu pasti ulah Linda." tebak Arsya. Ia mengernyitkan alisnya sebelah dan lanjut berkata." Demi mendapatkan gelar sebagai nyonya muda di keluarga Adiyaksa dia rela melakukan hal apapun bahkan dia berani menjebakku. Asal kau tau Aku tak pernah menidurinya. Dan itu hanyalah akal akalan Linda yang terobsesi kepadaku."


Anna termenung dengan ucapan Arsya. Tapi ia tak semudah mempercayai ucapan Arsya. Pasalnya pria itu juga terlalu lembut kepada Linda sehingga wanita itu berani melakukan hal itu.


"Itu dikarenakan kau selalu memberinya kesempatan. Maka dia berani melakukan hal itu." Ujar Anna berpikir secara logis.


Arsya melirik Anna melalui sudut matanya kemudian fokus dengan jalan di depannya.

__ADS_1


"Benar. Aku memang selalu lemah terhadap wanita. Bagiku wanita adalah manusia yang lemah yang harus di lindungi. Mungkin dari sana Linda memanfaatkanku." Sahut Arsya dengan perasaan sedih.


Tak berapa lama mobil terhenti tepat di depan pintu restoran merah hati. Arsya menarik tuas rem kendali. Lalu menoleh ke arah Anna yang duduk di sampingnya.


"Sampai hari ini tiba. Aku bahkan tidak mempercayai jika suatu saat akan bertemu denganmu disini. Maka dari itu. Demi menebus segala kesalahanku aku tak akan lagi meninggalkanmu." Ujar Arsya lalu mematikan mesin mobil. Ia juga keluar terlebih dahulu dan melemparkan kunci mobil kepada petugas valet.


Sementara pintu samping Anna telah terbuka oleh penjaga pintu di depan restoran. Arsya menyambutnya dengan menggamit tangan Anna.


Langkah Arsya dengan perlahan masuk ke dalam restoran setelah panjaga itu membukakan pintu utama. Sosoknya yang gagah dan rupawan membuat semua orang tertegun. Ketampanananya tidak bisa diragukan lagi, apalagi tercetak jelas pada rupa pria itu yang memancarkan aura penuh wibawa dan arogan.


Nona Eli telah sampai terlebih dulu dan duduk di tempat yang sudah ia reservasi sebelumnya. Melihat ada sosok yang ia tunggu telah datang, Eli pun menyunggingkan senyuman seraya melambaikan tangannya memberi peringatan jika dirinya berada di tempat duduk yang agak berada di tengah ruangan.


Arsya balas melambaikan tangan dengan senyuman di wajahnya. Ia terus menggandeng tangan Anna agar wanita itu tidak pergi darinya.


"Halo, nona Eli. Maaf sedikit terlambat. Aku juga membawa saudaraku karena takut sendirian." Ujar Arsya sebelum duduk di bangkunya.


Eli tersenyum ramah tapi mengandung rasa ketidak senangannya terhadap kehadiran Anna. Tapi ia tutupi dengan wajahnya yang berseri seri dengan alami. Kemudian ia melirik Anna yang masih berada pada genggaman tangan Arsya.


"Terima kasih." sahut Arsya lalu menggeser sebuah kursi di sampingnya agar Anna bisa duduk. Sementara dirinya menggeser kursi di sebelahnya lagi yang berhadapan langsung dengan Eli.


"Anda sudah memesan makanan. Kalau begitu kita langsung pesan saja."


"Baiklah." Eli pun melambaikan tangan kepada pelayan. Dan pelayan itu langsung bergerak ke arahnya. Memberikan tiga buku menu kepada setiap tamu.


Seusai memesan mereka kembali ke suasana tenang. Kemudian Eli memulai percakapannya.


"Tuan Arsya sungguh tak sesibuk yang aku kira." Ujar Eli lalu melirik Anna. "Kalau Noni sendiri sibuk apa?"


Anna tertegun sesaat lalu dia menaikkan pandangannya. "Saya hanyalah pekebun ladang mawar. Tidak sibuk apapun. Mungkin Nona Eli lah yang selalu sibuk. Apalagi nona memiliki sebuah perusahaan yang nantinya akan diwariskan kepada anda." Sahut Anna sambil tersenyum.

__ADS_1


"Haha, anda terlalu memujiku. Aku tak sehebat dirimu yang mampu merawat ladang. Aku bahkan tidak mampu mewarisi sebuah perusahaan." Eli tersenyum dan berkata dengan rendah hati.


Tak berapa lama hidangan yang mereka pesan telah sampai. Mereka menghidangkannya penuh di atas meja yang luas itu.


"Karena aku yang mengundang kalian datang. Ini semua aku yang traktir." Ujar Eli sebelum memulai makan.


"Terima kasih nona Eli." Sahut Anna.


"Memang aku tak salah memilih pasangan. Nona Eli selalu rendah hati dalam hal apapun." Arsya menyunggingkan senyuman.


Eli menanggapinya dengan senyuman. Kemudian mereka memulai memakan hidangan.


"Tuan Arsya, anda adalah presdir di perusahaan ternama tapi anda malah memilih hidup di sini?" tanya Eli penasaran dengan Arsya yang malah hidup disini dan tidak mengurusi perusahaannya. Sebagian besar seorang presdir akan sibuk dengan kerjaannya.


"Karena ada satu hal yang aku urus di sini. Jadi aku akan tinggal disini beberapa lama." Sahut Arsya enteng tetapi sudut matanya melirik Anna.


Anna tak perduli. Jadi ia terus makan dengan nyaman.


"Oh, ternyata seperti itu." Eli mengangguk paham. "Baguslah setidaknya kita tidak berjauhan selama menjalani hubungan."


"Iya. Jika aku cepat kembali. Maka kita tidak bisa bertemu lagi."


Eli menyunggingkan senyuman.


Potongan demi potongan daging telah selesai mereka makan. Eli kembali melambaikan tangan kepada pelayan. Pelayan pun mengerti langsung segera datang ke arahnya dengan membawa sebotol anggur berkualitas.


Sebotol anggur telah tertata di atas meja. Pelayan itu segera menuangkan satu persatu di gelas mereka masing masing.


"Ini adalah anggur berkualitas tinggi. Presdir Arsya cobalah."

__ADS_1


"Terima kasih." sahut Arsya lalu mengambil gelas anggur dan cheer bersamaan dengan Eli begitupun Anna mengangkat gelasnya.


__ADS_2