Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 61


__ADS_3

Eli sudah melewati masa kritisnya setelah beberapa jam lalu melakukan operasi. Kini tubuhnya telah di pindahkan ke ruang perawatan.


Tuan Albert berjaga di luar. Setelah menghabiskan sebatang rokok. Ia bergegas masuk. Kebetulan Elisabeth telah mulai sadar. Ia membuka matanya dengan linglung.


Tuan Albert bergegas maju. Dan memencet tombol di atas kepala ranjang. Eli membuka matanya perlahan menemukan tuan Albert berdiri di samping.


"Papa!" Suaranya sangat parau.


Tuan Albert mengambilkan minum dan menyuapi minum. Setelah meletakkan gelas di meja samping. Tuan Albert langsung duduk di kursi. "Inilah yang tidak papa suka jika kau bersamanya." Gumam tuan Albert pelan. Namun masih bisa didengarkan oleh Eli.


Eli menatapnya bingung. "Istirahatlah. Sebentar lagi dokter datang." Setelah memberi nasehat Tuan Albert bergegas keluar.


Eli menatap punggung Albert dengan nanar. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang ayah.


Tak berapa lama para dokter segera datang dan memeriksa keadaan Eli yang sudah membaik. Untungnya janin di dalam kandungannya juga baik baik saja.


Sementara itu, Arsya baru saja selesai memberi keterangan dari kantor polisi setempat setelah itu baru pergi ke rumah sakit. Saat sampai di koridor, ia dapat melihat seorang pria paruh baya berdiri menatap keluar.


Terdengar langkah kaki yang berderap membentur lantai, Tuan Albert menolehkan kepala sekilas kemudian menyesap cerutu yang di apit di kedua jarinya.


Arsya bergegas kesana bersama ke empat pengawal. Namun langkahnya telah dihentikan oleh pengawal tuan Albert. Rendi dan dua pengawal lainnya bergegas maju menghalangi pengawal itu sambil menodongkan pistol. "Seharusnya kamu tak perlu menampakkan diri." Ucapan Albert terdengar tegas dan dingin.


"Tuan Albert. Semua ini memang salahku. Seharusnya aku tidak melibatkan nona Eli. Tetapi bagaimanapun aku dan nona Eli adalah rekan. Setidaknya sebelum aku kembali, aku harus membuat nona Eli sepenuhnya sehat."


"Cih rekan." Tuan Albert mencibir. Sudut bibirnya sedikit melengkung meremehkan. Beberapa detik kemudian wajahnya kembali muram. "Tidak perlu!" Tuan Albert berkata dengan tajam. "Kamu telah membuat masa depan putriku suram dengan bertindak seperti ini."


Arsya bergeming.


"Lebih baik kamu pergi atau para pengawalku bertarung sengit denganmu."

__ADS_1


Ke empat pengawal tuan Albert menarik pelatuk. Begitu juga ke empat pengawal Arsya melakukan hal yang sama. Selalu melindungi majikannya dengan segenap jiwa dan raganya. Tetapi Arsya malah menaikkan tangannya sebagai isyarat untuk tetap bersikap tenang.


"Tuan Albert. Anda bertindak seperti ini akan mengundang banyak nyawa yang tidak bersalah. Anda adalah pengusaha terkenal. Jika anda bermain sengit seperti ini. Apakah kerajaan tidak akan curiga pada anda?"


"Saat ini mungkin kerajaan tidak tau tindakan anda di balik usaha anda. Tapi lambat laun mereka akan tau. Gudang persenjataan anda telah di curigai. Dan anda juga telah mengincar agen persenjataan di negara kami. Tindakan ini bukankah tindakan yang ilegal?"


"Kamu....!" Tuan Albert tidak mampu berkata. Urat di dahinya menonjol sehingga terlihat berwarna hijau.


Arsya tersenyum dingin. "Anda berbuat seperti ini? Itu sama saja menekan putri anda." Arsya melirik ke arah pintu yang tertutup pada ruangan yang di tempati Eli. "Nona Eli sudah tertekan dengan tindakan ini. Lagi pula nona Eli sedang hamil. Jika anda seperti ini. Tidak baik bagi kesehatan nona Eli."


"Diamlah. Kamu mengoceh seperti beo yang tak berguna. Dia hamil karena dia terlalu berharap padamu. Tetapi kamu malah pergi dengan wanita lain. Bukankah kamu juga telah melukai putriku. Jadi aku berharap kamu tidak perlu menemui putriku lagi. Dan kamu jangan mengurusi tentang keluargaku."


Arsya menaikkan alisnya. Wajahnya tetap datar dan dingin. Ia melirik ke arah jendela ruang rawat. Eli masih berdiri di sana sambil mengintip perdebatan antara Arsya dan Albert.


Dia menangis dalam diam. Tuan Albert memang orang yang keras kepala. Sampai sekarang pun pria paruh baya itu tetap tidak mau menerima kedatangan Arsya di luar kehamilan Eli. Eli merasa sedih.


"Maaf tuan Albert. Apa maksud anda dengan pergi dengan wanita lain?"


"Tuan Albert bukankah aku sudah jelas menjelaskan terkait malam itu. Meskipun aku mabuk sekalipun aku masih jelas dengan rupa wajahnya. Malam itu aku melakukannya dengan istriku." Ungkap Arsya. Dia pun memerintahkan Rendi untuk membuka video rekaman yang ia dapatkan pada malam itu melalui rekaman cctv hotel yang ia dapatkan.


Rendi membukanya dan menyerahkan kepada salah satu pengawal tuan Albert. Dan pengawal itu pun memberikan rekaman video itu kepada tuan Albert.


Tuan Albert melihatnya dengan wajah yang semakin muram. Sungguh jelas perawakan laki laki di dalam video itu sangat berbeda. Dan Eli di dalam sana sangat bersemangat dan menggodanya.


Tuan Albert sangat marah tanpa sadar tangannya mengepal dengan erat. Lalu menolehkan kepala ke arah jendela yang terlihat olehnya ada bayangan Eli. "Tidak bisa di andalkan." Gumam tuan Albert dalam hati dan memandangnya tajam.


Eli yang melihat tatapan sang ayah segera mundur. Dia merasa takut oleh tatapan pria paruh baya itu hingga kakinya gemetar.


Tablet yang digenggam tuan Albert pun ia lempar ke arah pengawal. Dan memberikannya kepada Rendi. Sementara sang ayah bergegas masuk.

__ADS_1


Eli sangat ketakutan. Saat sang ayah memasuki ruangannya ia hanya mundur. Memandang tatapan sang ayah yang jijik tengah menatapnya.


"Papa."


"Diam!" Ungkap tuan Albert marah bahkan menampar wajah Eli. Eli terhuyung ke samping. Matanya berkaca kaca. Tangan kirinya memegangi pipinya yang terasa panas.


"Aku tidak memiliki putri penggoda sepertimu. Pantas saja lelaki yang kamu puja itu tidak mau mengakui karena yang memperkosamu itu adalah lelaki yang tidak berguna." Ucap tuan Albert dengan tegas.


Eli mendongakkan wajahnya terkejut. "Siapa pa?" tanya Eli.


"Dia adalah pria yang dibayar oleh temanmu yang tak berguna itu."


"Hah." Eli tertegun.


"Tidak mungkin!" Eli tak percaya.


Tuan Albert bergegas memanggil pengawal dan memberikan tablet kepada Eli. Sebelumnya tuan Albert telah memindahkan rekaman video itu ke dalam memori tablet yang ia miliki.


Dalam rekaman cctv itu terlihat sebelum kejadian, seorang wanita yang Eli kenal telah memasukkan seorang lelaki ke dalam kamar. Ia pun melihat dengan seksama nomor kamar yang ia sewa. Ia juga dapat melihat jelas. Bahwa Arsya malah memasuki kamar di sampingnya.


Air mata Eli luruh tak terbendung. Ternyata lelaki itu bukanlah Arsya. Pria yang ia sukai karena ketampanannya.


Tapi pria yang disewa oleh sahabatnya sendiri. Dan setelah melakukannya. Pria itu pergi dengan segepok uang yang dikantongi pria itu.


Eli menyesal karena sifat impulsifnya menjadikan dirinya terjebur ke dalam sumur yang sangat dalam. Bahkan dia sendiri tidak bisa menolongnya.


Tuan Albert merasa malu. Memiliki putri seperti ini. Maka dari itu keputusannya sejak awal adalah keputusan yang tepat. Dia tidak bisa lagi menyalahkan Arsya. Tetapi mengakui putrinya yang bodoh.


Tuan Albert keluar dengan perasaan marah. Lalu mengisyaratkan pengawal untuk mundur. Arsya melihat keluarga tuan Albert yang seperti ini membuat dirinya urung untuk melihat kondisi Eli. Tetapi ia merasa lega. Karena Eli pulih dengan cepat.

__ADS_1


Arsya pun mengisyaratkan kepada seluruh pengawal untuk meninggalkan rumah sakit. Semoga tuan Albert tidak salah paham lagi dengannya.


Dengan begitu Anita tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk melakukan rencananya. Semua salah paham ini telah terselesaikan.


__ADS_2