Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 3


__ADS_3

Sementara di sebuah hotel. Arsya duduk termenung dengan menatap gedung gedung tinggi di depan sana. Sepertinya perasaan yang ia tutupi dulu. Kini kembali muncul dalam ingatannya.


Sejak enam tahun yang lalu Anna tanpa pernah muncul dihadapannya.


Menyesal!


Satu kata itu telah tersemat di dalam hatinya. Tetapi pria itu tetap berhati dingin. Tak ingin siapapun tau jika ia terus merindukan wanitanya. Hanya saja, dia tetap memendam perasaannya sendiri.


Dia tidak pernah mencari keberadaan wanitanya. Dan dia hanya berharap jika ada kesempatan kedua dia tak akan pernah melepaskannya. Dia terlalu pasrah pada takdir. Suatu kali pasti akan bertemu. Hanya itu yang terus tersimpan di dalam hati kecilnya.


Berharap dia kembali dan muncul dihadapannya.


"Tuan. Saya sudah memesan tiket untuk kembali. Mungkin, sebelas jam dari sekarang kita akan berangkat." Ujar Danni memberitaukan.


"Hem, sepertinya direktur Roni sekarang sudah lebih baik. Dia sudah melakukan pengaturan terhadap konstruksi itu dengan secara rinci." sahut Arsya.


"Anda benar. Saya kira, direktur Roni akan mengacau seperti dulu."


"Hem, soal gadis yang di maksud Direktur Roni apakah kau sudah menyelidikinya?" tanya Arsya.


Danni terkejut hingga terbelalak tapi itu hanya sesaat, sikapnya kembali ke sikap datar seperti semula.


"Soal itu, anda tak perlu mencemaskannya. Yang di maksud direktur Roni hanya bercanda. Anda jangan mengambil perkataannya." Danni berkata bermaksud menjelaskannya.


"Kau cepat selidiki." Tanpa sadar membuat Arsya emosi karena perintahnya dibantah.


"Baik. Dilaksanakan. Maaf presdir." Ujar Danni lalu berbalik pergi sambil menundukkan kepalanya.


Malam berlalu begitu cepat, di dalam kegelisahannya Arsya berharap gadis pekebun mawar itu adalah Anna. Hanya saja dia tidak berani mengungkapnya dan dia juga merasa malu jika harus menemuinya.


Danni menyiapkan segala keperluan Arsya saat bangun di pagi hari lalu membawanya pergi sarapan ke restoran terdekat. Sambil melakukan sarapan Arsya mendengarkan jadwal untuk hari ini.


"setelah pengecekan ulang di lahan konstruksi itu, di jam 10 siang ada pertemuan dengan klien. Setelah itu kita kembali pada jam 2 sore hari."


"Hem, kita pergi ke lahan konstruksi." setelah menyelesaikan sarapannya Arsya segera memerintahkan.


"Baik! Mengenai data pemilik kebun itu. Dia seorang noni. seorang gadis yang baru lulus dan melakukan riset penelitian bunga mawar. Untuk selengkapnya tidak terlalu dijabarkan. Dia hanya seorang gadis sederhana." Ujar Danni.


Arsya mengerutkan kening tapi tak lama kemudian ia mengendurkannya lagi. gadis ini terlalu tertutup dan sepertinya sangat misterius.

__ADS_1


Mobil melaju ke sebuah rekonstruksi. Saat mobil tengah berhenti, ia dapat melihat direktur Roni sedang berbincang dengan noni. Noni itu menata bunga mawar di meja kerjanya yang nampak terlihat dari luar karena dindingnya terbuat dari kaca. Dan nampak noni itu hanya terlihat punggungnya. Ia tak nampak jelas bagaimana wajahnya.


Arsya tak terlalu perduli. Lanjut turun saat danni membuka kan pintu. Noni itu setelah menata bunga ia segera pergi dengan mengayuh sepedanya kembali menuju kebun.


"Selamat pagi presdir Arsya!" Direktur Roni tersenyum lebar menyapa presdir Arsya.


"Hem." Arsya menyahut dengan berdehem dan mengangguk.


"Tadi itu noni yang bekerja di kebun mawar. Aku memintanya memberikan bunga mawar agar mejaku tidak terlalu kosong. Sepertinya bunga mawar ini mempunyai daya pikat sendiri. Aku jadi lebih bersemangat." ujar direktur Roni menjelaskan.


Arsya melirik bunga mawar itu sekilas. Lalu segera duduk di kursi yang dipersiapkan direktur Roni. Ia membuka dokumen sekilas untuk mengecek terakhir kalinya dan menjelaskan perihal bahan bangunan yang harus dipersiapkan.


Bahan yang digunakan selain berkualitas juga seharusnya dikerjakan tepat waktu. Direktur Roni mengangguk pasti. Ia juga sudah mempersiapkan bahannya dan Arsya sudah mengeceknya.


Tak lama setelahnya, Arsya melihat jam di tangan kanannya. Sepertinya baru jam 9. Masih ada waktu satu jam untuk melakukan persiapan meeting dengan klien. Direktur Roni segera bercerita mengenai noni barusan.


"Presdir Arsya. Pemilik kebun mawar ini juga mempunyai rumah penelitian di antara kebun itu. Dia membuat banyak parfum mawar. Aku sangat tertarik dengan kerjaannya. Jika saja aku tak bekerja sebagai kontruksi tanah dan bisa berbisnis aku pasti akan bekerja sama dalam pengembangannya." ujar direktur Roni.


"Setiap kali anda selalu bercerita tentang noni itu. Aku jadi penasaran." ujar Arsya membuat direktur Roni tersenyum lebar dan menggaruk belakang lehernya.


"Haha, saya hanya ingin menyenangkan hati presdir. Selama ini aku lihat presdir terlalu tertutup soal wanita. Jika berkenan aku akan senang jika presdir akan mendapatkan jodoh disini. Ya meskipun presdir nanti menolak gadis itu setelah melihatnya. Setidaknya aku berusaha."


Danni tak habis pikir dengan direktur Roni. Ia selalu bersikap seperti ini jika ia mengenal seorang gadis. Dan Presdir Arsya begitu pasrah dengan sikap direktur Roni.


Roni berjalan didepan memimpin jalan. Sementara Arsya dan Dani terus berjalan di belakang sambil menikmati pemandangan bunga mawar.


Bunga mawar ini terawat sangat baik. Bahkan bunga itu terlihat sangat cantik. Arsya menjadi penasaran, bagaimana gadis itu merawat bunga seluas ini dengan dia seorang diri.


Tiba tiba direktur Roni menghilang entah kemana. Arsya dan Danni masih berada dikebun dan tidak memperdulikan. Ia melihat para pekerja itu yang merawat bunga mawar.


"Tuan, apakah anda baru pertama kali datang kemari?" salah satu pekerja pria datang bertanya.


"Iya, saya sedang ada kerjaan di lahan konstruksi itu. Dan saya melihat kebun mawar ini saya merasa tertarik." jawab Arsya.


"Haha benar. Berati anda orang yang tepat." Arsya menaikkan alisnya sebelah. "Maksud saya. Banyak di antaranya pembeli pembeli yang datang kemari dan Menjalin kerja sama dengan kami. Mereka merasa puas. Selain itu di kebun kami juga mempunyai penelitian hasil kebun mawar ini. Kami sedang mengembangkan parfum yang terbuat asli dari ekstrak mawar. Dan yang terbaru kami sedang mengembangkan teh mawar."


"Berati kau sungguh hebat." ujar Arsya memuji.


"Bukan. Itu adalah noni yang mengerjakannya. Saya hanya bertugas memperkenalkan jika saja anda tertarik." ujar pria itu malu.

__ADS_1


"Tidak apa apa." ujar Arsya lalu melirik bunga mawar itu kembali.


"Bunga mawar ini ditanami langsung oleh noni kami. Dan bibitnya juga bibit yang berkualitas. Aku heran dengan semangatnya padahal dia masih muda." ujar pria itu.


Arsya menerawang jauh ke dalam bunga bunga mawar itu. Memang bunga mawar ini sangat bagus. Dan pekerja pun sangat teliti dalam hal perawatan.


Danni menelisik jam di tangannya. Lima belas menit lagi seharusnya sudah berada di restoran karena akan melakukan meeting lanjutan jadi danni bergegas mengingatkan.


"Presdir. Lima belas menit lagi kita harus melakukan meeting. Dan kita harus segera jalan sekarang." ujar danni


Arsya melirik pegawai itu sebentar dan lanjut berkata. "sepertinya pertemuan kita sampai disini. Lain waktu jika ada kesempatan aku akan berkunjung kemari lagi." ujar Arsya.


"tentu tuan. Rumah kami selalu terbuka." ujar pria itu menunduj hormat.


Danni mencari keberadaan direktur Roni yang entah kemana. Danni dalam hati hanya mencibir. Saat berbalik pergi direktur Roni baru menyadari jika presdir Arsya sudah tidak ada di sana. Padahal ia hanya membantu menguji coba rasa teh yang dibuat oleh noni.


Karena terlalu menikmati ia menjadi lupa jika tadi ia bersama presdir Arsya.


"Noni, sepertinya aku harus pergi. Besok kita lanjut lagi. Semua teh yang kau buat sangat enak." puji Direktur Roni.


"Oh, baiklah jika seperti itu. Sibuklah dahulu. Aku juga akan melanjutkan ujianku." jawab anna.


"Baiklah. Sampai jumpa." Direktur Roni berpamitan.


Setelah keluar dari rumah penelitian. Direktur Roni kembali ke lahan konstruksi. Danni yang melihat direktur Roni yang berlari tergesa segera menegurnya.


"Dari mana saja kau?" ujar Danni.


"Maaf asisten Danni. Tadi aku habis dari rumah penelitian di kebun mawar itu. Noni sedang membuat teh mawar dan aku yang mencicipinya. Karena terlalu keenakan, aku malah lupa jika masih ada presdir di sana." Ujar Direktur Roni merasa bersalah.


"Jangan ulangi lagi. Lagi pula di sana bukan pengerjaan kita. Kau harus fokus pada konstruksi ini. Jika konstruksi ini gagal. Kau yang harus menanggung akibatnya." Direktut merasa ketakutan lalu melihat ekspresi wajah Arsya.


"Danni siapkan mobil." Perintah Arsya setelah mendengar penjelasan Direktur Roni.


"Presdir, anda jangan marah. Aku..."


"Jangan bahas lagi." sela Arsya. Direktur melirik Danni lalu menatapnya dengan sedih. Arsya berjalan mendekat lalu menepuk bahu direktur Roni. "Aku mengerti maksudmu. Tapi ada hati yang harus aku jaga. Mungkin sekarang belum. Tapi aku yakin dia pasti kembali." ujar Arsya kemudian berlalu.


Direktur Roni menatap sendu punggung yang lebar itu berjalan menjauh. Padahal ia hanya berbaik hati. Tapi sepertinya presdir Arsya tak menyukai usahanya.

__ADS_1


__ADS_2