Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 56


__ADS_3

Anita memiliki cara ampuh dalam hal melakukan kejahatan juga menaklukkan seseorang. Meskipun dalam pekerjaan kenyataannya dia tidak bisa melakukan apa apa. Namun dalam bidang merayu seseorang dia ahlinya. Anita, wanita itu si perayu handal.


Dan selama bertahun tahun itu. Dia sangat pandai menjalankan bisnis dengan merayu para rekannya sehingga mereka terkecoh dalam hal kerja sama. Namun kerja nyata itu tidak pernah berproses. Dan uang uang yang mengalir itu telah masuk ke dalam kantong.


Anita menggunakan uang itu untuk berbelanja barang mewah. Lalu menghabiskannya dengan pergi ke bar. Saat mereka mereka ingin menagih uangnya. Wanita itu pandai bersilat lidah juga mampu menghilang dari kejaran mereka.


Banyak di antara pebisnis kehilangan uangnya. Bahkan Anita mampu menghadapi pebisnis gelap. Semua sudah Anita lalui. Dengan kecantikannya juga bermulut manis Akan sangat mudah baginya untuk menarik para bisnisman ikut bergabung.


Saat ini Anita menemukan bahwa Albert memiliki bisnis gelap. Tentu saja Anita akan sangat mudah menawarkan bisnis ini. Albert sedang mengincar sebuah perakitan senjata ilegal. Juga membutuhkan pemasok bahan. Anita tersenyum cerah.


Anita memiliki kenalan dalam hal pemasok bahan bahan ini. Dia juga mengenal seseorang yang pandai dalam perakitan senjata. Mereka tinggal di bawah bukit demi menghindari intaian para polisi. Jadi harus melakukannya secara diam diam. Juga mengirimkan bahan secara diam diam. Bagaimanapun mereka sangat lancar dalam melakukan bisnis.


Dua hari kedepan Anita akan melakukan perjalanan bisnis juga akan melakukan negosiasi bersama tuan Albert.



Arsya duduk di ruangannya menatap satu persatu kata yang tersusun rapi pada sederet dokumen yang ia baca. Dia hampir mengeluarkan segala kekayaannya demi menutupi kerugian kerugian pada perusahaan yang muncul untuk memutus kerja sama dengan mendadak.


Perusahaan perusahaan itu menuntut atas gambar yang mereka desain adalah gambar yang menjiplak. Tentu saja, semua itu berawal dari perbuatan Anita. Dan perusahaannya hampir tidak mulai mempercayakan kerja kerasnya lagi.


Arsya menutup dokumen itu dan memijit pangkal hidungnya sambil memejamkan mata.


Anita! Wanita iblis itu pandai membuatnya sangat tertekan bahkan luar negeri juga hampir tidak mau mengambil arsitek dari perusahaannya.


"Tuan. Kerugian kita sudah triliunan. Jika seperti ini terus. Bagian pemasaran akan terputus. Dan kita tidak memiliki pemasaran lagi." Danni melaporkan terkait kerugian yang melonjak terus menerus.


"Ini...cepat atau lambat pemegang saham akan menekan kita. Dan mereka akan berpaling ke perusahaan lain. Bagaimana ini?" Danni berkata dengan panik.


"Ini semua karena wanita itu. Dia membuat pasar saham kita anjlok hanya karena gambar yang pernah ia curi. Sekarang perusahaan manapun tidak mau lagi bekerja sama dengan kita. Takut gambar kita adalah jiplakan."


"Lalu bagaimana kita menghadapi krisis ini presdir. Cepat atau lambat perusahaan ini akan bangkrut."


"Kita tanda tangan kontrak langsung dengan perusahaan Bendi."


"Hah." Danni tercengang. "Ini...perusahaan Bendi adalah perusahaan kecil. Mana mungkin mampu mengatasi kerugian kita. Semua karyawan bahkan mulai mengundurkan diri dan takut jika gaji mereka tidak dibayarkan."


"Jika perusahaan besar mengundurkan diri. Kita hanya mampu menjalankan rencana kedua. Target kita adalah perusahaan kelas menengah ke bawah. Dan di antara perusahaan perusahaan kecil itu juga tidak memiliki resiko yang cukup besar. Jadi kita bisa mengembalikan kerugian ini secara pelan pelan."


Danni pun mengangguk mengenai pemahaman yang dijelaskan oleh Arsya. Dia tanpa sadar merasa senang. Dia pun pergi dan menjalankan tugasnya.


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa siang berganti malam. Arsya masih duduk termenung di kursi eksekutifnya. Melalui jendela kaca di balik punggungnya ia dapat melihat deretan gedung tinggi dihadapannya.


Tiba tiba rasa bersalah itu muncul di dalam hatinya. Jika keadaannya seperti ini terus. Dia tidak akan lagi memegang kendali perusahaan ini. Dia akan menjadi miskin dan perusahaan ini pasti akan berubah nama. Sampai pada saat itu, Dia akan menghilangkan harapan Kakeknya.


Setelah beberapa lama memikirkan hal ini, Arsya bangkit dari tempat duduknya. Mengenakan mantel dan keluar dari ruangan. Bergegas pulang ke tempat Wiryo.


Sesampainya di rumah bergaya prancis itu, Arsya masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar Anna. Kali ini dia melihat dengan jelas wajah Anna lalu menciumnya. Baru setelah itu, ia pergi ke kamar mandi dan mandi.


Setelah berganti pakaian. Dia merebah di samping Anna dan tertidur.


__ADS_1


Anita telah pergi ke Amsterdam. Dia beralasan pergi untuk menangani beberapa masalah. Dia juga sudah merencanakan sesuatu selama dia meninggalkan kota.


Ketika di pagi hari.


Pemegang saham berkumpul di depan pintu ruangan. Merlin tertegun dengan kedatangan mereka yang tiba tiba ketika dirinya baru datang.


"Pak direktur. Kenapa anda semua sudah datang sepagi ini." Tanya Merlin.


"Kami menuntut atas kerugian ini. Kami tidak bisa lagi bertahan jika seperti ini terus. Kita harus berdiskusi mengenai hal ini. Jadi kami sepakat datang kemari menemui presdir sesegera mungkin."


"Ugh..." Merlin tercengang beberapa saat. Setelah itu ia kembali ke akal sehatnya dan segera merespon. "saya akan sampaikan kedatangan anda. Mohon tunggu sebentar." Merlin buru buru masuk ke dalam ruangannya lalu memencet telepon dan menelepon Danni.


Di sebrang Danni masih menunggu di luar.


Sementara Arsya sedang didalam melakukan sarapan pagi.


"Merlin, ada apa?" Tanya Danni.


"Asisten Danni. Para pemegang saham berkumpul di luar. Mereka menuntut kerugian yang terus menurun. Mereka menunggu presdir datang."


"Tunggu sebentar, saya akan segera memberitaukan hal ini kepada presdir."


"Baik. Saya akan mengatasi para pemegang saham ini."


"Oke."


Segera Danni melangkah ke dalam. Dia menyapa kepada pemilik rumah. Kemudian menghampiri Arsya dan berbisik pelan. Alisnya yang dalam segera menyatu. Sambil mendengarkan Danni memberikan informasi. Gerakan Arsya dalam menyuap makanan tidak terhenti dan terus menikmati sarapannya dengan santai sampai selesai sarapan.


Setelah makanannya tandas. Arsya mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya lalu berpesan kepada Anna untuk tetap berada di dalam rumah. Anna pun hanya bisa patuh.


"Ya, saya juga akan pergi. Ayo kita pergi bersama." Ucap Wiryo.


Sebelum pergi Wiryo mencium kening istrinya. Sementara Arsya langsung berlalu diikuti Danni di belakang. Gerakannya begitu cepat. Mengenakan mantel dan mendengarkan acara pagi hari ini.


Tak berapa lama langkah Wiryo mengikuti hingga ke bagian pintu depan. Sebelum masuk ke dalam mobil Arsya membalikkan tubuhnya lalu memandang Anna yang masih berada di depan pintu. Lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan.


Sementara Wiryo sudah melajukan mobil mewahnya.


Terdengar bunyi dari ponsel Anna tanda pesan masuk. Anna pun mengeluarkan ponselnya dan terlihat menunduk mengecek beberapa pesan yang dikirim Arsya.


Setelah melihat Anna yang sudah membaca pesannya, Arsya pun masuk ke dalam mobil dan pergi.


Anna mendongak ketika selesai membaca pesan. Ketiga mobil sudah beriringan pergi menjauh. Anna pun menyimpan ponselnya ke dalam saku dan kembali masuk.


"Ini adalah salah satu rencana Anita dengan menekan pemegang saham. Makanya pagi ini mereka berkumpul. Kita harus memikirkan taktik untuk bertahan pada posisi kita."


"Eh... Ternyata seperti itu." Danni pun mengangguk mengerti.


Sementara di perusahaan, Pemegang saham langsung di kumpulkan ke dalam aula rapat. Tak berapa lama Arsya telah datang. Dia memasuki aula dan duduk di kursi paling ujung.


"Ada apa kalian pagi pagi datang kemari?" Arsya bertanya dengan menekan mereka dengan suara dingin.

__ADS_1


Meskipun pada awalnya pemegang saham itu ingin menekan Arsya dengan suara lantangnya tetapi setelah mendengar ucapannya yang dingin. Mereka kembali menciut. Lalu membuka sebuah dokumen yang mereka siapkan.


"Mengenai hal kerugian perusahaan. Kami tidak bisa terus mempertahankan untuk terus berinvestasi. Presdir. Kami sudah bekerja keras selama bertahun tahun. Jika seperti ini perusahaan kami juga akan mengalami kemunduran dan malah bangkrut." Direktur Tejo hanya berani berkata seperti ini sambil memberikan sebuah dokumen.


Danni mengambilnya dan memberikan kepada Arsya. Arsya membacanya sekilas lalu menutup lagi. Menyentak dokumen itu ke depan dan melipat tangannya.


"Saya mengerti atas kekhawatiran kalian. Saya juga sudah berupaya untuk tetap menstabilkan perusahaan ini. Tapi jika kalian satu persatu mengundurkan diri maka perusahaan ini juga akan berganti nama. Apakah kalian melupakan jasa kakek kepada kalian yang sudah membuat hidup kalian makmur."


"Engh..."


Semua wajah para direktur kembali pucat. Mengenang masa lalu mereka yang bersama sama mambangun perusahaan ini menjadi besar bahkan mereka tidak pernah khawatir jika kekurangan uang. Apalagi dua tahun terakhir ini. Perusahaan ini menjadi semakin makmur.


"Dua tahun ini. Perusahaan ini sudah membawanya ke arah pasar dunia dan dua bulan terakhir juga kita sudah berhasil menembusnya. Hanya karena sebuah alasan yang tidak pasti tetapi mereka mengancam kita. Apakah kalian akan mundur begitu saja setelah bekerja keras."


"Yang anda katakan itu benar presdir. Begitu juga perkataan direktur Tejo. Jika kami tidak mundur sekarang bagaimana kami mampu mengelola perusahaan kami. Perusahaan kami hanyalah perusahaan kecil. Meskipun perusahaan anda bangkrut itu tidak akan berpengaruh apapun. Sementara perusahaan kami jika mengalami kebangkrutan maka perusahaan kami sudah tidak ada lagi." Balas Direktur Wendi.


Cukup masuk akal alasan yang di sampaikan oleh direktur Wendi. Arsya menghela nafas dan tetap bersikap tenang.


Kemudian memerintahkan kepada Danni untuk mengambilkan sebuah dokumen yang telah disiapkan sebelumnya.


Tak berapa lama Danni pun datang dengan membawa sebuah dokumen. Lalu di berikan kepada Arsya. Arsya menerimanya lalun melemparnya ke atas meja.


Semua yang berada di dalam aula tertegun. Dan semua mata langsung tertuju pada dokumen yang di lemparkan Arsya.


"Meskipun kita sudah tidak dipercaya dalam bekerja sama dengan perusahaan manapun. Tetapi kita masih memiliki dukungan dari pemerintah..."


"Ah...."Mendengar ini mereka kembali tercengang. Lalu buru buru menutup mulutnya lagi. Dan perasaan mereka berangsur angsur tenang dan sangat lega.


"Dan sebelum perusahaan ini stabil. Maka para pak direktur harus tetap berada pada posisi anda masing masing. Dan tetap memberi dukungan pada perusahaan. Saya akan mencari cara agar perusahaan kalian akan tetap aman."


"Begitu kami telah merasa lega." ucap Direktur Tejo pun merasa lega.


"Baik presdir. Kami merasa aman jika presdir sendiri yang memberi penjelasan. Dan juga telah mengurangi kekhawatiran kami sebagai pemegang saham. Kalau begitu kita akan kembali." Ucap direktur Hendro. Lalu membawa rekan lainnya pergi keluar.


Hanya tersisakan Danni dan Arsya di dalam ruangan itu. Danni bernafas lega setelah beberapa jam melakukan diskusi panjang ini.


"Presdir bagaimana anda tau jika hal ini terjadi? Maka menyiapkan dokumen ini kepada mereka."


"Sebenarnya aku juga tidak tau jika akan menghadapi hal ini dan dokumen ini baru di ambil dua hari lalu. Setelah mereka menekanku aku baru teringat dan ternyata ini menjadi senjata yang ampuh."


"Bagus sekali." Danni merasa senang.


"Di mana Anita. Kenapa tidak hadir dalam rapat tadi."


"Ugh....barusan saya tau jika semalam nyonya Anita pergi ke Amsterdam." Jawab Danni mengotak atik tabletnya.


"Sepertinya Anita menghindari ini. Karena dia yang pasti menekan pemegang saham sebelumnya." Arsya duduk bersandar.


"Eh..."


"Lebih baik kita mainkan trik yang kedua sebagai jaga jaga."

__ADS_1


"ugh...."


Kemudian Arsya memunculkan seringai pada wajahnya.


__ADS_2