Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, seperti biasa Anna akan terbangun dipagi hari. Ia teringat dengan perkataan Arsya semalam bahwa ia akan membawanya pergi menemui ayah dan ibunya. Semangatnya meningkat menjadi berribu ribu kali lipat.


Saat mandi ia bersenandung kecil. Tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan senangnya. Setelah selesai bersiap. Ia segera ke ruang makan dan melakukan rutinitas pagi seperti biasanya.


"Aku lihat, kau tampak bahagia." Arsya melipat koran paginya, ricky segera mengambil koran dan menyimpannya.


Tadi, saat melihat Anna menuruni tangga terdengar nyanyian lagu yang keluar dari mulut Anna. Meski tidak merdu sesuai penyanyi aslinya tetapi itu terlihat jelas bahwa Anna sedang dalam mood yang bagus.


"Hehe, aku nanti ada ulangan, aku yakin akan bisa mengerjakan seratus persen." ucap Anna. Awalnya ia ingin mengatakan bahwa ia senang karena akan bertemu ayah dan ibunya tetapi mengingat tempramen buruk pria itu, ia mengubah alasannya.


"semoga saja berhasil." balas Arsya.


Anna tersenyum lebar. Setelah menghabiskan sarapan bersama. Mobil phanthom dan mobil Limosin beriringan keluar halaman Villa.


Disisi lain, Indri masih menyelidiki hubungan mereka berdua. Jika sudah begitu jelas, maka akan mengeksposnya ke publik. Dengan begini, nama baik Anna akan tercoreng dengan adanya hubungan ini. Terlebih lagi ia juga tau hubungan presdir Arsya ini dengan Linda Bramantyo.


Jika Anna adalah orang ketiga dalam hubungan ini, ia pasti mendapat julukan seorang pelakor, hidupnya pasti akan mendapatkan guncangan besar setelah ini. Lagipula hubungan perusahaan mereka pasti akan segera dihentikan. Setelah itu, Anna akan kembali ke asalnya dan Indri akan merasa puas.


Sejak kebangkrutan perusahaan ayahnya, ayah dan ibu Indri pergi keluar negeri. Sementara dirinya dibekali dengan uang hasil penjualan perhiasan ibunya dan dititipkan ke tempat bibinya.


Tetapi bibinya malah membuat dirinya harus bekerja siang dan malam dengan mengurus rumahnya. Sementara anak perempuan bibinya semena mena kepadanya dan selalu memerintahnya. Saat bibinya kebingungan mencari uang, ia justru di bawa ke rumah bordil dan dijadikan penghasil uang.


Untungnya ia bertemu Ardan dan ia kabur bersamanya. Dengan begini ia merasa bisa menghirup udara bebas. Tetapi tempramen pria itu sangat buruk. Jika tidak dilayani, ia akan dipukul atau diperk**a. Jika ia kabur. Maka Ardan akan mampu menemukannya. Jadi ia sama saja keluar dari kandang buaya masuk ke dalam kandang singa.


Tetapi pria itu tidak selalu berada dirumah dan baiknya ia akan selalu memberinya uang untuk makan dan sekedar membeli pakaian. Dalam sekejap ia menggertakkan giginya. Satu persatu ia akan balas dendam. Barulah ia bisa bernafas lega dan menyusul kedua orang tuanya keluar negeri.


Di sekolah


Pagi ini diadakan ulangan semester. Anna tersenyum lebar tatkala membaca satu persatu soal yang ia kerjakan. Baginya ini sangat mudah, sehingga ia merasa tenang.


Leya mengerutkan keningnya, saat menoleh ke samping sahabatnya itu tidak seberisik biasanya. Ia akan merasa gelisah jika soal itu terasa sulit. Apakah soalnya sangat mudah? Batinnya bertanya tanya.


Dia membaca sekali lagi setiap pertanyaan. Ia rasa soal tersebut cukup sulit untuk dikerjakan. Ia mengedarkan pandangan ke teman yang lainnya. Ia tebak jika pertanyaan itu memang sulit, karena ekspresi mereka seakan prustasi menghadapi pertanyaan itu.


Kringggggg


Terdengar suara bel tanda selesai. "Ayo semua, kumpulkan lembar jawaban dan lembar soal ke depan kelas." perintah guru yang mengawasi ulangan di kelas.


Banyak dari sekian murid mendesah, kemudian mereka segera menyimpan peralatan tulisnya ke dalam. Setelah itu beranjak satu persatu maju ke depan kelas. Mengumpulkan lembar jawaban dan lembar soal di meja guru.


Saat di luar kelas Leya segera menghampiri Anna. Ia terheran karena sikap Anna yang begitu santai dalam mengerjakan soal ulangan.

__ADS_1


"Na!" Bisik Leya dan mendekatinya.


"Hem!" jawab Anna seraya menyandarkan tas ke bahu kirinya. Leya menoleh sebentar tatkala bahunya disenggol teman yang lain saat sedang lewat. Setelah itu kembali menatap Anna.


"Kamu santai sekali aku lihat. Tidak seperti biasanya sangat berisik." ujar Leya.


Kemudian berjalan ke koridor bermaksud pergi ke kantin.


"Karena aku rasa soalnya sangat mudah." jawab Anna dengan enteng.


"Ha!" Leya terkejut dengan jawaban Anna.


"Sudahlah ayo kita makan, aku lapar pengen makan bakso yang pedas." Anna menggandeng lengan Leya dan menyeretnya hingga masuk kantin. Kebetulan kantin agak sepi jadi mereka langsung memesan tanpa mengantre.


Setelah menghabiskan semangkok bakso pedas, kedua sahabat itu pulang. Kesya dan Dea memperhatikan keduanya dari jauh merasa tidak senang.


"Dasar penjilat. Mereka berdua tidak tau malu." cibir kesya dengan marah.


"benar juga, mereka berdua begitu pintar menarik perhatian pria pria kaya." Dea ikut menambahkan.


Setelah itu, mereka berdua juga ikut keluar dari kantin.


Seperti biasa para pengawal akan berjaga dan menjemputnya diluar gerbang. Indri yang selalu membuntuti pergerakan Anna sangat kesulitan ditambah lagi ada pengawalan yang ketat. Sehingga usahanya akan selalu berakhir sia sia.


Saat diperjalanan, Anna melewati toko buku yang biasa ia kunjungi, hari ini sedikit ramai. Jadi menyuruh pak Jaki untuk berhenti. Ia juga menginfokan kepada pengawal untuk segera berhenti.


Anna menoleh kesana kemari ternyata banyak orang yang datang bukan sekedar mencari buku. Selain ada seseorang yang di sana bersandar dan membaca buku.


Elan!


Anna bergegas melewati kerumunan dan masuk. Dia bisa melihat jelas Elan yang sedang berdiri.


"Hai!" sapa Anna saat sudah berhadapan dengan Elan.


Elan mengernyitkan keningnya, sejak dia datang tak ada seorang pun yang berani menyapanya. Tetapi tiba tiba seseorang muncul dan menyapanya dengan narsis.


Anna tersenyum dan melambaikan tangan. Saat wajah cantik itu terlihat dipandangannya, Elan tidak bisa tidak tersenyum. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan wanita pujaannya.


"Kamu!" Elan tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Ia menatap Anna dengan seksama dan tersenyum.


Ia melihat sekitar dan penuh dengan orang orang yang menatapnya. Terdengar orang orang bisik bisik dibelakangnya. Elan segera menarik lengan Anna untuk duduk di bangku yang tersedia.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini? Kamu sedang mencari buku novel lagi?" tanya Elan penuh dengan rasa penasarannya.


Anna menggeleng pelan. "Awalnya aku penasaran jikalau ada buku terbitan baru dan toko ini penuh sesak orang. Jadi aku ingin melihat, tapi saat masuk aku gak menyangka, mereka malah sedang melihatmu. Bukan untuk membeli buku."


"Hahahaha....." Mendengar curhatan Anna. Elan merasa sangat lucu. Dia apakah setampan itu sampai diperhatikan banyak orang. Tapi memang dia terlalu tampan sih, juga seorang penulis buku terhebat di dunia. Tetapi bukankah dia low profil. Dia menutupi biografinya dengan apik. Selain itu dia merasa dirinya hanya orang biasa dan selalu dikenal sahabatnya sebagai orang yang selalu bermain wanita.


Tetapi semenjak mengenal Anna. Julukan yang tersemat di dalam dirinya berubah ingin menjadi pria yang setia pada satu wanita. Ia sudah banyak menolak tawaran untuk bermalam dengannya. Ia berharap gadis didepannya ini akan menerima dirinya.


"Apanya yang lucu?" Tanya Anna dengan mengerutkan keningnya heran.


"Tentu saja ada. Secara tidak sengaja itu menyebutkan aku ini adalah tampan." Ucap Elan masih dengan tawanya.


Anna memutar bola matanya malas.


"Narsis sekali, sama dengan pertemuan pertama waktu didanau itu." Cibir Anna dengan pelan.


"Sudahlah!" Elan meredakan tawanya. "Aku hanya bercanda. Oiya, kamu kesini apa mau beli sesuatu?" tanya Elan.


"Tidak, aku hanya melihat saja." Anna ingin beranjak dari kursinya.


Elan segera merogoh buku di dalam tas bahunya. Dan menyerahkan sebuah buku novel terbaru kepada Anna.


"Ini hadiah buat kamu." Ucap Elan menghentikan gerakannya. Anna menaikkan alisnya.


"Ini novel belum rilis, tapi karena kamu sudah membuatku senang maka buku ini hadiah untukmu." ucap Elan.


"Belum rilis, tapi kamu sudah mempunyai-nya. Jangan jangan kamu.....!"


"Sudahlah! Jangan dipikirkan lagi. Ini hadiah dari sahabatku, aku berikan ini untukmu." Elan segera menyela.


"Oh..." Anna tidak curiga lagi dan segera menerimanya. "Katakan pada sahabatmu. Bahwa aku berterima kasih sekali." lanjut Anna.


"Tentu saja. Sekalian ini novel yang dulu aku tunjukkan padamu tempo hari." Elan sekali lagi mengulurkan tangan dan memberikan buku novel satu lagi kepada Anna.


"Wah...."


"Jangan katakan terima kasih lagi, nanti kupingku akan kapalan." Elan tersenyum dan segera menyela ucapan Anna.


"Okelah...Aku pulang dulu. Bye!"


"Bye." Elan melambaikan tangan sekilas.

__ADS_1


Bahu kecil nan ramping itu berjalan memunggungi. Tersemat senyum kecil di wajah Elan. Kemudian menyalakan layar telepon dan menatap wajah cantik nan damai itu ke dalam wallpaper ponselnya. Ya wajah itu adalah wajah Anna yang ia Screen shoot di dalam sosmed-nya.


__ADS_2