Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 23


__ADS_3

Anna tertegun sesaat. Ia masih berada di tempat semula dengan tubuh berbaring di samping Arsya. Sementara Arsya memandang wajahnya dengan memiringkan tubuhnya. Tangannya masih terulur menahan lengannya.


Keduanya sama sama saling memandang. Sedetik kemudian Anna tersadar dengan cepat menepis tangannya dan mendudukkan tubuhnya. Wajahnya merona karena malu. Sementara Arsya menyunggingkan senyuman tipis. Lalu duduk di tepian ranjang. Suasana berubah canggung.


"Aku."


"Aku."


Keduanya berucap bersamaan. Membuat suasana menjadi semakin canggung.


"Kau mau bilang apa?" sehingga Arsya lebih cepat merespon karena tak ingin terlalu lama berada di suasana yang tak mengenakkan hatinya.


"Aku akan pergi ke kamar mandi." ucap Anna cepat.


"Aku akan keluar membuatkan sup penghilang pengar."


"Ya." Setelah itu Arsya segera berdiri dan keluar dari kamar. Sementara Anna masuk ke dalam kamar mandi sambil menahan debaran jantungnya yang semakin cepat.


Anna mengunci pintu kamar mandi dan menatap wajahnya di depan kaca wastafel. Wajahnya sudah memerah bak tomat matang. Ia juga merasa malu.


"Sial, ini gara gara aku terlalu minum banyak semalam." gumam Anna. Setelahnya ia membuka kran air. Terdengar air mengucur. Ia membasuh wajahnya yang memanas dengan air dingin.


Sementara Arsya membuat sup pereda mabuk dengan bantuan video melalui ponselnya. Entah bagaimana caranya tetapi melalui bantuan video. Akhirnya sup penghilang mabuk telah matang.


Bertepatan dengan Anna yang keluar kamar, Arsya juga menyajikan sup penghilang mabuk di atas meja. Keduanya sama sama saling bertemu di ruang makan.


"Makanlah, sup penghilang mabuk." Ujar Arsya.


Anna mengangguk dan duduk di sana. Arsya meletakkan mangkuk sup di depan Anna. Sementara dirinya hanya duduk sambil menikmati kopi yang telah ia seduh sendiri.


Anna mengambil sendok dan meminum sup pereda mabuk itu dalam diam.


"Semalam kau terlalu mabuk." Ujar Arsya memulai percakapannya.


"Ya." sahut Anna dengan singkat.

__ADS_1


Hening.


Sampai Anna menghabiskan supnya. Begitu juga Arsya yang menghabiskan secangkir kopinya. Arsya menimang sesaat yang ingin ia katakan tetapi pada akhirnya ia kembali mengatupkan bibirnya.


"Aku sudah selesai, aku akan pergi mandi dan pergi ke ladang." Ujar Anna memberanikam dirinya. Ia masih merasa malu terhadap Arsya.


Anna bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Arsya tak tau lagi, apa yang akan ia lakukan. Ia juga bangkit berdiri dan membawa bekas sup dan cangkir miliknya ke dalam wastafel dan mencucinya. Setelah itu ia kembali ke penginapan.


Semalam ia mendapat kabar bahwa Lidia kembali ke negara asal. Wanita itu telah bertahun tahun berada di luar negeri. Entah apa alasannya kenapa tiba tiba pulang. Arsya mengerutkan dahinya tipis. Hingga sesaat kemudian ia mendapatkan telepon dari Herman.


"Halo, kakek." Ujar Arsya. Dari sebrang terdengar helaan nafas panjang dari sang kakek.


"Arsya! Lidia kembali." Ujar sang kakek.


"Hmph, aku tau." Jawab Arsya datar.


"Mungkin kali ini kedatangannya ingin mengambil hak miliknya. Kakek sudah tua. Semua perusahaan aku serahkan pada kalian." Ujar sang kakek.


"Hmph. Kakek tenang saja."


"Ya."


Setelah itu telepon tertutup. Awalnya Arsya akan mengatakan kepada Anna bahwa dirinya akan kembali beberapa saat untuk menangani masalah ini. Lidia adalah orang yang sulit di tangani. Tapi Kakek maju terlebih dahulu mengenai hal ini. Sementara waktu Arsya bisa tenang. Tapi tetap ada yang dikhawatirkan.


Kesehatan kakek akhir akhir ini menurun. Jika terjadi perdebatan sedikit saja jantungnya akan kumat. Jika Lidia memberontak maka Herman akan mengalami kritis yang hebat. Dia baru saja kembali dari luar negeri melakukan pengobatan. Untuk saat ini kesehatannya sudah agak stabil.


Arsya memijat pelipisnya. Ada rasa kegelisahan di dalam benaknya. Wanita itu selalu suka menghamburkan uangnya. Mungkin wanita itu sekarang kehabisan uangnya jadi kembali meminta hak-nya.


Saat dising hari. Anna berada di rumah penelitiannya. Ia sudah mendapatkan beberapa liter aroma parfum yang sudah ia racik. Hanya saja dalam jumlah besar ini, ia tak akan mudah mendapatkan botol botol parfum itu. Setidaknya ia pergi ke pabrik dan melakukan kerja sama.


Ia teringat pada sebuah pabrik yang tak sengaja ia lewati. Kalau tidak salah itu adalah sebuah pabrik yang memproduksi botol. Ia segera mencari tau siapa pemilik pabrik itu. Setelah mendapatkannya kini ia tau orang yang ia cari seharusnya adalah tuan Axcel.


Anna bergegas mengganti pakaiannya dan pergi ke pabrik itu untuk sekedar melihat. Arsya yang berada di ladang segera menolehkan kepala saat sebuah mobil yang ia kenal melewatinya.


"Bukankah itu mobil Noni-mu?" Arsya bertanya pada Elmo yang tengah berdiri di sampingnya. Tatapannya pun sama pada sebuah mobil yang baru saja melintas.

__ADS_1


"Sepertinya." Elmo mengendikkan bahu ringan.


"Mau kemana dia?" tanya Arsya.


"Saya tidak tau. Noni tidak mengatakan apapun padaku." Sahut Elmo. Lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya memberi pupuk. Tampak Arsya langsung mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Rendi untuk melacak keberadaan Anna saat ini.


Saat dulu mobil Anna mogok, Rendi lah yang memasukkannya ke dalam bengkel, ia juga memberikan gps pada mobil Anna jika bepergian. Maka dari itu Rendi akan mudah untuk melacak keberadaannya.


"Tuan muda, sepertinya nona muda pergi ke arah sebuah pabrik yang berada di pinggiran kota." Ujar Rendi dari balik telepon.


"Baiklah, kau antarkan mobil ke ladang." Arsya tau tujuan Anna pasti pergi ke pabrik yang didirikan oleh tuan Axcel. Persis dengan dugaannya.


"Baik." Sahut Rendi.


Arsya pun pergi menyusul Anna yang melajukan mobilnya ke sebuah pabrik di pinggiran kota. Tak berapa lama mobilnya telah sampai di sana. Namun sebelum masuk ia dihadang oleh sekawanan satpam yang berjaga disana.


"Nona, mau apa kau kemari?" tanya salah satu satpam yang berjaga.


"Saya..." Anna melirik sekawanan satpam yang menghadangnya itu memperlihatkan ototnya yang kekar. Sehingga ucapannya menjadi gugup dan ragu. "Bisakah saya masuk? Saya ingin membeli botol dalam jumlah besar." Ujar Anna kemudian.


Satpam itu mengerutkan alis dalam seraya meneliti penampilan Anna yang biasa saja.


"Nona, disini bukan tempat bermain. Jika benar kau ingin membeli di pabrik ini harus ada prosedurnya." Ujar satpam itu seolah mengejek dari penampilan Anna.


"Saya bukan ingin bermain. Tapi saya beneran membutuhkan botol botol ini." Sahut Anna.


"Hahaha...Nona kecil. Saya tidak percaya. Gadis seusiamu mau membeli botol disini. Jangan kira kami percaya. Orang orang yang masuk kesini biasanya orang yang seperti anda. Tapi nyatanya malah mengekspos ke dalam berita. Atau mereka menyamar sebagai orang biasa tapi dia adalah warta berita." Sahut satpam yang lainnya.


Anna ternganga dengan ucapan salah satu satpam itu yang tengah mengejeknya. Apalagi menganggapnya sebagai anak kecil.


"Tapi pak, saya benar benar membutuhkan botol ini." Ujar Anna.


"Sudahlah nona. Kami tidak bisa mengizinkanmu masuk." tutur satpam itu lalu menutup gerbang dan pergi.


Jika seperti ini maka pekerjaannya akan tertunda dan waktu yang dibutuhkan pastinya tidak akan cukup untuk membuat parfum ini. Anna merunduk sedih. Ia menatap lekat pabrik itu dengan perasaannya yang kacau. Dia hampir putus asa karena hal ini.

__ADS_1


__ADS_2