
Arsya berada di korea selama dua hari. Selama berada di sana, ia mendapatkan informasi jika sarang burung walet sangat baik untuk ibu hamil jadi ia membelinya secara khusus.
Siang hari ia sudah kembali ke Amsterdam. Dengan ketrampilannya dalam memasak Arsya meminta bantuan kepada Hanis. Hanis memberi taunya cara memasak sarang burung walet. Setelah hampir satu jam berada di dapur, akhirnya bubur sarang walet telah matang.
Dengan hati gembira dan senang. Ia membawa bubur sarang walet itu ke ladang. Tepat sampai di sana waktunya makan siang.
"Anna!" lirihnya seraya membuka pintu.
Anna yang berada di sana yang awalnya merasa senang menjadi cemberut. Pasalnya selama dua hari ini ia merasa aman dan damai tanpa ada gangguan dari Arsya.
"Oh, sudah pulang?"Ujarnya dengan bibir terlipat.
"Hei, kenapa aku kembali kau malah cemberut?" Tanya Arsya langsung duduk di sofa dan meletakkan sebuah rantang di atas meja.
"Tidak kok, ini aku ketawa." Anna langsung melebarkan bibirnya.
"Ih, jelek. Gak usah ketawa lagi. Ini aku buatkan bubur sarang walet. Ini aku pesan secara khusus dari korea." Ujar Arsya sembari menggeser rantang kehadapan Anna.
Anna menjadi curiga. "Gak akan ada racunnya." Ujarnya memberi jawaban saat ia di tatap penuh kecurigaan.
"Bukan! Kau pasti memiliki motif lain." Ujarnya menyelidik.
Arsya langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil berkata dengan santai. "Kata ilmuan di sana, sarang burung walet ini sangat bagus untuk ibu hamil."
"Arsya! Kenapa kau selalu bilang hamil...hamil...hamil...aku tidak hamil. Lagi pula kita hanya melakukannya satu kali. Tidak akan mungkin itu langsung terbuahi dan cepat hamil." Ujar kesal Anna sambil menatap Arsya dengan tajam.
"Kalau begitu kita lakukan lagi biar kau segera hamil. Aku sudah tidak sabar bisa di panggil 'papa'." Ujar Arsya dengan bibir tersungging manis dan membayangkan jika dirinya dipanggil papa oleh anaknya sendiri.
"Ih, lama lama kau sangat menyebalkan. Kalau begitu makan sendiri bubur itu. Aku tidak akan mau." Ujar Anna kesal lalu pergi meninggalkan Arsya seorang diri.
"Yach, Na. Buburnya makan dulu. Jangan pergi!" Teriak Arsya.
"Ih, bodo amat. Si Arsya lama lama nyebelin." Ujarnya sembari berjalan menuju ladang yang penuh bunga mawar yang cantik itu.
Di hari berikutnya, Arsya masih belum menyerah. Ia tetap memasakkan bubur sarang walet itu kepada Anna. Tetapi Anna tetap pada pendiriannya. Ia tetep kekeh tidak mau memakan karena Arsya selalu bilang dia hamil.
Tepat saat itu sebuah mobil klasik datang berbondong bondong. Anna tercengang juga para karyawan yang belum pernah melihat selama bekerja di sana juga ikut tercengang.
__ADS_1
"Siapa mereka?" tanya Laila yang juga melihat sebuah mobil klasik yang sudah lumayan punah itu di era seperti ini.
"Aku tidak tau. Tapi jika dilihat dari mobilnya dia adalah orang kaya. Mobil sepertinya sudah hampir tidak ada. Dan hanya orang orang tertentu yang mempunyai mobil seperti itu." Sahut Elmo.
Kebetulan Arsya keluar membawa semangkok sop sarang walet dari rumah penelitian. Saat berjalan hingga di samping Anna. Arsya menyodorkan sop sarang burung walet itu dihadapan Anna.
"Na. Sopnya. Ayolah di makan." Ujarnya.
"Sya. Kau kenal sama mereka?" Anna menaikkan tangannya untuk menghentikan gerakan Arsya. Arsya langsung menoleh dan melihat ke arah pandangan Anna.
Ia dapat melihat sebuah mobil kuno klasik terhenti tepat di depan pintu ladang mawar. Beberapa detik kemudian banyak pria berpakaian hitam keluar dari dalam mobil yang berada di depan dan di belakang mobil itu lalu berkerumun menuju mobil yang terlihat mewah sendiri.
Seketika gerakan pria itu langsung memberi jalan dengan membuat dua barisan di kanan dan kiri. Lalu menunduk hormat.
Seorang pria dengan perut buncit keluar. Terlihat sepatu mengkilap turun dari mobil. Laila, Lili, Elmo dan pegawai yang lainnya yang melihat peristiwa ini langsung tertawa. Tetapi mereka tertawa dalam diam dan terus memperhatikan gerakan pria itu.
Arsya dari kejauhan langsung mengenali. Lalu menangkap tangan Anna untuk menerima semangkok sop sarang burung walet itu di tangannya.
"Itu adalah tuan Axcel. Aku secara khusus mengundangnya. Kelak kau akan dengan mudah melakukan kerja sama." ujar Arsya pelan sebelum pergi menemui tuan Axcel.
Arsya berjalan tergesa ke sana lalu menyambut kedatangan tuan Axcel dengan rendah hati. Tuan Axcel langsung tersenyum dan sangat kagum dengan ladang bunga mawar ini sangat indah. Ia tak menyangka bahwa ladang seluas ini bisa ditanami bunga mawar seorang diri.
Arsya menjelaskan bahwa ladang ini ditanam oleh seorang perempuan. Lalu ia membawanya kepada Anna yang masih berdiri membeku dengan semangkok sop sarang burung walet di tangannya.
"Tuan, ini adalah perempuan yang saya maksud. Namanya Noni. Anda bisa memanggilnya dengan Noni." Kata Arsya sambil memperkenalkan.
"Halo Noni!" Sapa tuan Axcel tersenyum semakin lebar.
Arsya menepuk bahu Anna. Barulah ia tersadar dari pikirannya. "Hah."
"Dia adalah tuan Axcel. Cepat! Segera sambut dengan baik. Kalau tidak. Dia tidak mudah ditangani." bisik Arsya di telinga kiri Anna lalu membawa sop mangkok itu.
"Eh, iya. Tuan Axcel. Salam kenal dari saya."
"Hahaha. Ternyata benar menurut desas desus yang saya dengar jika penanam bunga mawar di ladang seluas ini orangnya sangat cantik." Tuan Axcel langsung tertawa melihat Anna yang ternyata sesuai dengan dugaannya.
"Terima kasih tuan Axcel." sahut Anna.
__ADS_1
"Tuan Axcel. Mari berkeliling. Saya akan memperkenalkan ladang bunga mawar ini secara terperinci." Ujar Arsya. Karena ia melihat kilatan mesum dari tatapan tuan Axcel. Arsya langsung menyerahkan sop sarang walet itu kepada Anna lagi.
"Segera makan sop ini. Atau kerja sama dengan tuan Axcel batal. Dan rencanamu akan gagal total." bisik Arsya mengancam.
Anna langsung membulatkan mata. "Ugh, sial." pekiknya dalam hati. Arsya tersenyum menyeringai dan lanjut mengejar tuan Axcel yang melangkah lebih dulu.
Sedangkan Anna dengan hati dongkol masuk ke dalam rumah penelitian. Ia meletakkan semangkok sop sarang burung walet itu di atas meja dengan kasar. Lalu ia mengambil sendok dan kembali duduk di kursi.
"Sial. Si Arsya bisa aja menggunakan cara buat mengancamku. Ugh!" keluhnya lalu ia segera melahap sop burung walet itu yang hampir mendingin.
Saat suapan pertama, matanya langsung berbinar. Sop sarang burung walet ini sangat enak. Sesuap demi suap, ia sangat menikmati. hingga sop buatan Arsya ini tandas tak tersisa tanpa sadar. Ia akhir akhir ini juga sangat banyak makan. Entah kenapa dirinya memiliki nafsu makan yang meningkat.
Tetapi ia merasa sangat bodo amat. Tidak memikirkan hal lainnya dan terus makan.
Bersamaan dengan itu, Arsya kembali dengan senyuman lebar. "Eh, mana tuan Axcel?" Tanya Anna ketika Arsya datang sendiri.
"Berharap banget ketemu sama Axcel." Nada suara Arsya memperlihatkan rasa ketidaksukaannya kepada Axcel.
"Ya kan kalian berada di ladang. Apa salahnya bertanya sih." jawab Anna yang tak mengerti kenapa Arsya malah jutek.
"Sudah pergi." sahut Arsya singkat lalu mencari semangkuk sop sarang walet yang ia buat tadi.
"Oh, kok cepet banget perginya?"
"Ya biarkan saja. Yang penting kerja samanya berhasil. Mulai senin ini produksi botol akan segera dikirim. Jadi kau bisa memulai mengekstrak parfum keduamu itu lagi."
"Hah, secepat itu." Anna terkaget begitu mendengar persetujuan tuan Axcel untuk bekerja sama dengannya langsung di setujui.
"Emh. Danni semalam sudah mendapatkan buku buku bisnis yang aku minta. Jadi kau bisa mempelajarinya." Ujar Arsya. Lalu ia pergi ke wastafel untuk mencuci tangan.
"Sop sarang walet yang aku buat untukmu. Apakah kau buanga atau kau makan?" Tanya Arsya.
"Ya aku makanlah. Ngomong-ngomong! Kau bisa memasak sekarang?" tanya Anna.
Arsya sudah selesai mencuci tangan lalu mengelap tangannya dengan tisu. Kemudian ia kembali menuju kursi.
"Tentu saja. Apapun demi kamu." Ujar Arsya yang membuat pipi Anna memerah semerah tomat.
__ADS_1