
Sampai di ruangannya Arsya memerintahkan kepada Rendi untuk mengerahkan pengawal yang tersisa.
Sesaat kemudian Anita masuk ke dalam ruangan Arsya. Ia tersenyum sambil memindai wajah Arsya yang memerah.
"Akhirnya keponakanku menyerah dan memberikanku posisi."
"Anita! Jangan berbasa basi lagi. Segala kemauanmu sudah aku turuti, sekarang lepaskan Anna. Kau sekap dimana istriku?" Bentak Arsya dengan marah.
"Ck! Ck! Ck! Lihatlah dirimu Arsya? Kenapa kau begitu pemarah? Sewaktu aku datang dan ingin berkenalan dengan istrimu kau menolaknya, dan akhirnya aku menemukannya dengan caraku. Meskipun....sekarang aku sudah mendapatkan posisi tetapi aku masih belum aman. Jadi kau harus menemukannya dengan caramu."
"Sialan! Anita semua kejahatanmu ini tidak akan aku sia siakan lagi. Kelak aku tidak akan memaafkanmu lagi. Selagi aku masih menganggapmu bibi ku, segera lepaskan istriku." Arsya mendesis kesal dan berteriak di wajah Anita.
Anita tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak semudah itu Arsya." setelah itu Anita pergi keluar dari ruangan Arsya dan menuju ruangannya yang baru.
Arsya mengetatkan rahangnya. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya. Permainan Anita sungguh rapi sehingga ia tidak sadar jika di antaranya ada penyusup sehari sebelum dia kembali dari Amsterdam.
Sebenarnya Anita tau jika saat itu dia satu pesawat dengan Arsya. Hanya saja dia berpura pura tidak tau keberangkatannya. Dan rencana Anita sangat mulus sehingga Arsya benar benar lengah.
Sehari telah berlalu, Sekumpulan pengawal Arsya telah dikerahkan untuk melakukan pencarian. Mereka juga bekerja sama dengan pihak kepolisian. Namun belum ada hasil sama sekali. Arsya duduk di ruang kerjanya, tidak bisa berpikir sama sekali.
Selama ini Anita selalu berada di luar negeri jadi ia belum tau kemana wanita itu sering pergi. Saat memikirkannya Danni masuk.
"Tuan, ini hasil yang saya dapat selama nyonya Anita berada disini." Danni menyerahkan sebuah dokumen kepada Arsya.
Arsya langsung mengambilnya dan melihatnya. Anita selain pergi ke mall juga pergi ke bar.
"Kita mulai penyelidikan di bar."
"Baik."
Arsya beranjak dari duduknya sambil mengenakan jas, dia berjalan keluar diikuti Danni.
Bar yang biasa di datangi Anita berada di pusat kota. Arsya masuk ke dalam bar itu, suasananya cukup ramai. Bau alkohol menyengat ke udara, membuat perut Arsya terasa mual. Semenjak Anna hamil Arsya tak bisa mencium bau yang menyengat.
Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, menutup hidungnya dan berjalan masuk.
Anita memiliki ruangan khusus di bar itu. Arin selalu berjaga diluar dan beberapa pengawal lainnya. Namun sebelum kedatangan mereka Arsya sudah memesan ruangan di sampingnya.
__ADS_1
Bos pemilik Bar tau jika Arsya adalah orang terhormat jadi segera melayaninya.
"Tuan, ini adalah anggur berkualitas yang kami miliki." Bos pemilik Bar itu memberikan sebotol anggur terbaik ke hadapan Arsya lalu menuangkannya ke dalam gelas berkaki.
Arsya melirik sekilas gelas yang terisi anggur itu hingga penuh. Matanya berkedip. Aura dingin menyapu matanya. Bos pemilik bar itu merasa di belakang lehernya terasa dingin. Dia tidak berani lagi mendongakkan kepalanya.
"Jika tidak ada kepentingan lain, saya pamit bos." Si Bos pemilik Bar merasa ketakutan jadi ia ingin segera pergi.
"Tunggu!" Danni segera menghentikannya lalu memberikan sebuah cek kepada si pemilik Bar itu. Si pemilik bar itu terkejut sekaligus senang.
Danni berbisik pelan di telinga kiri pemilik bar itu dan menjawabnya dengan mengangguk lebih dalam. Setelah itu si pemilik bar langsung bergegas keluar.
Di luar Arin merasa heran saat pemilik bar itu keluar dari ruangan sebelah. Ia segera mencegatnya dan bertanya.
"Siapa yang berada di dalam ruangan itu?" Arin curiga kepada orang yang memesan ruangan sebelah karena si pemilik bar itu sendiri yang melayaninya. Jika bukan bos besar mana mungkin ia akan turun tangan melayaninya.
"Dia adalah bos besar yang tidak boleh di ganggu." jawab pemilik bar itu.
Arin melirik pintu yang tertutup rapat itu. Lalu memandang pemilik bar itu dengan menyipitkan matanya. Pemilik bar itu bergidik ngeri. Wanita di depannya ini sangat mengerikan meski dia terlihat sangat cantik dan berwibawa.
"Apa anda ada sesuatu?" si pemilik bar itu memberanikan dirinya untuk bertanya karena telah menghentikannya di saat jam kerja.
"Pergilah." Arin menggelengkan kepalanya dan memerintahkan si pemilik bar itu pergi.
"Nyonya!" Arin menundukkan kepalanya.
Anita menghentikan gerakannya menyipitkan matanya memandang Arin di hadapannya yang berjarak dengan meja.
"Katakan!" Anita tidak ingin berbasa basi.
"Sepertinya di samping itu adalah tuan muda Arsya."
Kuping Anita berdengung, dia sudah menghabiskan alkohol beberapa gelas. Saat mendengar nama Arsya, ia melemparkan gelas itu ke lantai hingga pecah. Semua pria yang berada disisinya tertegun sesaat.
"Keponakanku yang bodoh itu, kenapa dia malah berada disini? Apa dia tidak perduli lagi dengan wanita sialan itu. Hahahaha....."
Anita kepalanya terasa pusing, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mencoba duduk dengan tegak. Lalu dengan pancaran matanya yang dingin, ia melirik kedua pria di sampingnya.
"Dasar tak berguna. Kalian pergilah!" Anita mendorong dengan kedua tangannya kearah si pria yang sudah tak waras itu hingga terhuyung ke lantai. Arin segera memerintahkan kepada pengawal untuk membawa kedua pria itu keluar.
__ADS_1
Ruangan menjadi sepi.
"Apa yang dilakukan keponakanku yang bodoh itu di sana. Apa dia tidak tau. Jika saat ini istrinya mengalami depresi berat. Haha ternyata dia sedang mengandung bayinya. Dan aku membuatnya sekarat."
Arsya dibalik jendela ruangan Anita merasa geram. Tanpa sadar mengepalkan tangannya ingin sekali meninjunya. Untuk sesaat ia ingin pergi masuk dan memukul wanita yang tak tau diri itu. Namun Danni segera bertindak untuk menahan nya.
"Besok kita ke sana. Bagaimana istrinya itu bisa bertahan hidup. Aku akan memutar video bahwa Arsya si bodoh itu telah memiliki istri yang lain dan tidak memperdulikannya."
Setelah itu Anita dan Arin keluar dari ruangan itu. Arsya tidak tahan lagi. Danni mencoba untuk menenangkan tuannya dan kembali masuk ke dalam ruangan semula. Anita tubuhnya sedikit linglung tapi ia masih penasaran apa yang dilakukan oleh keponakannya itu di sana. Jadi ia pergi ke ruangan sebelah.
Danni segera membuka pintu dan tampak Anita berdiri dengan senyum menawan di bibirnya.
"Bibi! Apa yang kau lakukan di sana. Kemarilah." Arsya mengulurkan tangannya dan melambaikannya agar si Anita mendekat. Di tangan kanannya menggenggam segelas anggur dan meminumnya dengan elegan penuh kewibawaan.
"Ternyata benar, jika yang datang adalah keponakanku." Anita berjalan masuk dan menyeringai.
Danni segera melirik kedatangan mereka berdua dan hendak menuangkan segelas anggur tapi dicegah oleh Arin. Arin mengambil botol berisi anggur itu dan menuangkannya di gelas Anita.
"Bibi. Kebetulan anda kemari bagaimana jika kita berdua minum bersama. Sudah lama kita berdua tidak pernah berkumpul seperti dulu saat ayah dan ibu masih berada di rumah besar."
"Hehe, kau benar juga. Dulu kakak yang selalu melindungiku. Sekarang sudah tiada. Dia adalah krediturku selama sisa hidupnya. Tak di sangka telah mati dengan sia sia. Tapi tak apa apa sekarang masih ada kau. Aku tak perlu khawatir kekurangan uang lagi."
"Yang Bibi katakan adalah kebenaran."
Arsya mengangkat gelasnya dan bersulang. Anita sangat menikmati malam ini. Lagi pula dia juga merayakan dirinya sendiri telah menjadi bagian adiyaksa group.
Selama Arsya mampu menyenangkan hati Anita, Arsya mendapatkan kesempatan di mana anak buahnya akan lengah.
"Bibi, aku ucapkan selamat kepadamu sekali lagi telah bergabung di perusahaan. Bagaimanapun kau di masa lalu, aku akan menutupinya dan mempromosikan dirimu dengan baik."
"Haha, ternyata di balik sikapmu yang angkuh masih ada rasa kemanusiaan denganku. Ternyata kau tidak begitu bodoh." Anita merasa senang.
Arsya menuangkan anggur ke dalam gelasnya lagi dan lagi. Saat ini Danni dan Arin berada di luar ruangan tidak berani mengganggu mereka.
Di saat itu Rendi dan pengawal lainnya telah menemukan titik lokasi penyekapan Anna.
Malam semakin larut Anita sudah terkapar di atas sofa sementara Arsya langsung bangkit merasa sudah bosan harus bersama wanita tua itu.
"Kau urus nyonya dengan benar." Arsya keluar dan berdiri di ambang pintu sambil memperingatkan kepada Arin.
__ADS_1
Arin terbelak lalu melihat masuk melalui celah di atas bahu Arsya. Seaat kemudian ia kembali menundukkan kepalanya karena pandangan Arsya sangat tajam.
"Baik."