Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 66


__ADS_3

Hari pernikahan sudah semakin dekat tetapi hati Arsya merasa Anna tidak benar benar mencintainya. Dia di ambang dilema yang sangat dalam. Arsya pergi ke sebuah bar di pinggiran kota, melewati malam yang panjang dengan meminum minuman beralkohol. Semakin jauh ia melangkah seakan dirinya terjebak di dalam keputus asaan.


"Tuan. Anda jangan menyiksa diri anda seperti ini." ujar salah satu pengawal memberikan nasehat.


"Anna, setiap aku mendekat dia seakan marah. Aku ini seolah sebuah kotoran." Arsya memberikan tatapan yang kosong. Dia meneguk wiskeynya perlahan.


Terdengar helaan panjang dari bibir Arsya.


"Tuan, anda salah. Sebenarnya nyonya sangat perduli dengan anda." pengawal itu kembali bersuara.


"Cih, perduli? Dia tidak perduli padaku sama sekali. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri." kesal Arsya.


"Tuan."


Arsya memelototinya dengan tajam membuat pengawal itu tak berani lagi bersuara. Arsya memerintahkan untuk mengirim beberapa botol weskey lagi.


Semalaman penuh pria itu menikmati minuman itu sendirian seolah dia menyalurkan rasa sakitnya pada minuman itu.


Pengawal yang berjaga di sana merasa iba. Akhirnya memutuskan untuk menelepon nyonya Anna agar menjemput Sang tuan.


"Dimana?" tanya Anna dengan alis berkerut. Mendengar Arsya mabuk mabukan ia bergegas pergi tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Sudah selarut itu Arsya belum kembali membuat dirinya khawatir.


Di bar, Anna menolehkan kepala melihat sekeliling bar itu yang justru semakin ramai dan sesak. Ia hampir saja limbung karena di sana banyak sekali pengunjung yang semakin bersemangat menggoyangkan badan mereka.


Untung saja di sana pengawal bergegas mengawalnya masuk.


*


"Nyonya, sepertinya tuan Arsya ada di bar sedang mabuk. Aku menemukan nyonya Anna sedang menjemputnya." disisi lain di dalam bar itu Anita mengutus bawahannya lagi untuk memata matai Arsya.


Anita tersenyum miring. "Hm, kau awasi terus. Jangan sampai lengah."


"Baik nyonya."


*


"Nyonya disini." pengawal itu menemukan ruangan yang digunakan Arsya.


"Buka." perintah Anna.


Pengawal itu bergegas membukanya.


Di dalam ruangan dengan luas 4 kali lima meter itu hanya ada Arsya seorang. Kini dia sudah limbung bersandar pada sofa tapi tangannya terus memasukkan minuman beralkohol itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Hah, habis. Tuangkan lagi minuman kepadaku." teriaknya dengan suara tinggi. Pengawal yang ada di sana hendak memerintahkan lagi tapi di cegah oleh Anna.


"Keluarlah." gumam Anna kepada seluruh pengawal yang mengawal. Mereka pun bergegas keluar dan berjaga di depan pintu.


Pintu tertutup rapat.


"Heh, aku bilang ambilkan lagi. Kalian tidak dengar hah." bentak Arsya. Pria itu sudah hampir memejamkan mata karena kewarasannya sudah tidak stabil. Dia bahkan membuang botol ke lantai karena isinya sudah kosong.


Pyar


Anna melihat sisi lantai yang berserakan kaca bekas minuman.


"Heh, di mana minumanku. Kenapa kalian lama sekali." Arsya masih terus meronta dan mencari botol lainya tapi semua botol itu sudah habis. Sehingga satu persatu ia banting ke lantai.


"Arsya. Kamu sudah terlalu mabuk. Ayo pulang." Anna berseru tidak tahan dengan Arsya yang terus meronta.


"Pulang. Pulang kemana. Aku tidak memiliki rumah." pekik Arsya. Bahkan pria itu tidak mau di pegang oleh Anna. Dia menepis tangan Anna. Sehingga Anna sangat kewalahan dengan sikap Arsya.


"Arsya. Itu rumahmu juga. Kamu memangnya mau tinggal di mana jika tidak dirumahku." kata Anna tetapi setiap ucapannya tidak di dengar oleh Arsya. Pria itu sudah tidak mampu merespon lagi. Ia telah bersandar di sofa tanpa beekutik.


Tampak Anna menghela dengan nafas panjang. "Bicara sama orang mabuk sama dengan bicara sama orang mati." gumam Anna kesal.


"Sudahlah, ayo pulang." Kata Anna.


Ia dengan bersusah payah membopong tubuh jangkung Arsya dengan tubuhnya yang pendek.


Saat sampai di pintu untungnya pengawal segera sigap. Mereka langsung membawa Arsya keluar dari bar.


"Jika kau bukan calon suamiku, sudah aku buang kau dijalanan huh." geram Anna saat Arsya sudah berada di dalam mobil. Anna pun segera duduk di samping pria itu.


"Jalan!" perintah Anna kepada sang sopir. Mobil melaju meninggalkan pekarangan Bar.


Sampai di rumah, Anna menidurkan Arsya di kasur big size nya. Ia membuka sepatunya juga membuka gasper pada celananya.


Dia satu persatu membuka kancing kemeja Arsya.


Plug.


Anna menaikkan pandangannya kala tangan besar itu memegang tangannya yang ramping.


Ternyata dalam keadaan mabuk pun ia memiliki intuisi yang sangat bagus. Seolah dia selalu wasapada pada musuh.


"Aku akan mengganti pakaianmu. Pakaianmu kotor." ucap Anna.

__ADS_1


Mendengar kalimat panjang itu seketika tangan Arsya mengendur.


Anna mengambil air hangat dari dalam kamar mandi. Mengusap tubuh kekar itu dengan telaten.


Hoek


Arsya memuntahkan isi perutnya membuat baju Anna kotor. Anna mendesis pelan. Ia menidurkan Arsya dengan pelan lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi gadis itu mencari pakaian ganti untuk Arsya. Ia mengganti pakaian Arsya dengan kaos oblong berwarna putih.


Setelah semua beres, Anna merebahkan tubuhnya di sofa.


*


Saat pagi menjelang, Anna terbangun dan menyiapkan sarapan. Juga menyiapkan sup anti pengar setelah mabuk.


"Anna. Kenapa kamu disini?" tanya Arsya yang baru saja bangun. Pria itu mengernyit ketika melihat ada di dalam rumah yang sama.


"Ini rumahku mana mungkin aku tidak disini. Kau yang datang kemari." pungkas Anna membuat Arsya semakin terheran.


Arsya mengingat semalam ia mabuk di bar. Padahal ia memerintahkan untuk membawanya ke hotel. Tapi justru menemukan ia tinggal di rumah Anna. Arsya mengedarkan pandangan.


"Dasar tak berguna!" Arsya mendesis marah.


Ia masih menggunakan kaos oblong hendak keluar. "Makanlah, aku sudah menyiapkan sup anti pengar untukmu." seketika langkah Arsya terhenti.


"Tidak perlu." Sahut Arsya tidak perduli.


Arsya melangkah keluar dan di sambut dengan pengawal yang menunjukkan wajah heran. "siapa di antara kalian yang mengantarkanku kesini?" tanya Arsya.


Seketika wajah pengawal berubah. Arsya menatap satu persatu dari mereka tidak kunjung menjawab. "Pergi dan hukum diri kalian sendiri." perintah Arsya.


"Tunggu!" terdengar teriakan dari belakang punggung Arsya. Arsya memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana tanpa mau membalikkan tubuhnya.


Anna bergegas menghampiri Arsya yang terdiam.


Plak


Anna menampar Arsya. Semua pengawal tercengang melihatnya. Anna merasa geram. Sementara Arsya tidak sedikitpun merasakan sakit pada tamparan yang diberikan Anna.


"Kau memang lelaki berengsek yang pernah aku temui." ucap Anna dengan perasaan kesal. Setelah mengatakan hal itu, gadis itu segera berlalu.


Arsya tetap acuh tak acuh dan berlalu. Ia memilih tetap keluar dari rumah Anna dan mencari penginapan lain.


Anna hanya melihat mobil berlalu dengan cepat. Ia menundukkan kepala dan terasa hatinya sangat pilu.

__ADS_1


Hikss hikss hiksss


Dan akhirnya ia tak tahan, ia pun menangis sesenggukan. Tidak tau kenapa tiba tiba sikap pria itu berubah.


__ADS_2