
Sepanjang malam mereka tidur di dalam ruangan yang sama. Sementara di sofa panjang itu Arsya tidak bisa tidur. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Ia kembali duduk, memandang Anna yang kini tengah terlelap dalam tidurnya.
Ia berdiri dan pelan pelan mendekati Anna. Di tatapnya wajah yang selama sepuluh hari itu tak pernah ia lihat. Ia merasa rindu. Tapi ia tak berani, di dalam hatinya terus dilanda rasa salah yang teramat dalam.
Andai waktu dapat di reka ulang, mungkin ia tak akan lengah. Dalam diam ia mengepalkan tangannya. 'Mungkin Anita telah membuat persiapan sehingga mengecohnya untuk sibuk berada di perusahaan."
Di dalam hati ia mengumpat.
Malam telah berganti subuh. Arsya tidak tidur semalaman. Namun ia harus di pacu oleh waktu untuk tetap bekerja. Dia mandi dan Danni telah menyiapkan set pakaian untuknya.
Tepat jam 6 pagi, Arsya telah rapi. Dia melihat ke arah ranjang dimana Anna masih terlelap dalam tidurnya. Ia tak berani membangunkannya selain membelai kepalanya dan mencium keningnya sekilas.
Kemudian memberikan pengawal perintah untuk mengetatkan penjagaan. Anita masih bebas di luar, tentu saja suasana masih rawan. Dia juga mengatur seorang perawat dan dokter jaga di dalam ruangan. Tidak memperbolehkan siapapun masuk.
Terkecuali Wiryo dan Dewi. Arsya sudah memberitahukan keadaan Anna kepada mereka berdua dan juga memberitahukan jika kini dia telah berada di rumah sakit untuk dirawat.
Sudah hampir enam tahun tujuh tahun tidak berjumpa. Ada rasa kerinduan sebagai orang tua terhadap anaknya. Ketika Arsya telah pergi bekerja Wiryo dan Dewi datang.
Mereka menghiburnya dan saling mengobrol. Anna merasa waktu telah membuatnya melupakan kedua orang ini yang telah merawatnya selama ini.
Setelah menghabiskan setengah hari menjaganya, Wiryo dan Dewi pamit pergi. Anna sudah waktunya minum obat. Seorang perawat langsung menyiapkan obat. Anna meminumnya dan setelah itu ia tidur hingga sore hari.
Ketika malam hari Arsya kembali datang ke rumah sakit. Saat masuk ke dalam ruangan ia menemukan Anna masih tertidur. Dia duduk di sofa. Wajahnya terlihat sangat lelah.
Anna terbangun karena sedang bermimpi buruk.
Di alam bawah sadarnya, dia sedang dikejar seseorang. Orang itu sangat mengerikan. Wajahnya terlihat sudah rusak. Bahkan matanya melotot hampir jatuh. Tangannya terulur kedepan ingin mencekiknya.
Dia terus berlari dan berlari. Tapi saat pelarian itu dia tersandung ranting pada kakinya hingga terjatuh dan berdarah. Dia melihat kebelakang. Orang itu terus mengejar.
Dia ingin berlari lagi tapi tak bisa, tiba tiba ranting itu berubah menjadi tangan buntung dan menangkapnya. Di sampingnya adalah tebing yang curam. Dia ingin meminta bantuan tapi tak ada orang di sana.
Orang yang berwajah buruk itu semakin mendekat. Ia sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar. Keringat dingin membanjiri keningnya.
"Pergi! Pergi!"
Arsya baru saja memejamkan matanya. Mendengar Anna yang menjerit, ia segera membuka matanya dan berlari ke tempat Anna.
__ADS_1
"Anna!"
"Pergi! Pergi!" Anna menjerit histeris dan ketakutan.
Arsya mencoba memeluknya. Merasa sakit melihat Anna yang seperti ini. "Anna! Tenanglah. Ini Aku Arsya!" Arsya menteskan air matanya sambil memeluknya dengan erat.
Di bawah alam sadar Anna seolah sedang hujan badai. Ia terhempas oleh badai itu. Dan jatuh ke dalam tebing yang curam. Namun dia tidak jatuh ke tanah melainkan ia ditangkap oleh sebuah tangan besar yang memeluknya.
Ia pun tersadar, sebuah tangan yang besar itu adalah tangan Arsya.
"Arsya!" Anna langsung mendengungkan namanya. Bersandar pada dada bidang Arsya yang kokoh. Ia merasakan rasa aman pada tubuhnya.
Arsya melirik sekilas ke arah bawah lalu terus memeluknya. "Apa kau mimpi buruk?" tanya Arsya setelah tubuh yang bergetar itu telah kembali normal.
"Ya." Anna menjawab dengan suara serak. "Aku sangat takut." lanjutnya.
"Jangan takut! Aku akan terus berada disisimu." Arsya membalasnya. Sepertinya Anna sudah merasa tenang. Ia pun melepas pelukannya. Sedikit membungkuk dan mengusap belakang lehernya. "Apa kau lapar?" Tanya Arsya lagi.
Anna menggelengkan kepalanya. "Geser ke sana, aku akan tidur disini bersamamu."
Anna cemberut. "Ranjang ini kecil. Nanti anakku tergencet." Matanya berkaca kaca sambil menundukkan kepalanya ingin menangis.
"Anak kita sudah disurga. Jadi tidak apa apa jika tidur bersama. Dia sudah bahagia di alamnya yang berbeda."
Mendengar penjelasan Arsya. Anna tercengang.
Mungkinkah,,,,!
Arsya kembali menatap manik matanya. Bulu matanya yang lentik itu bergetar. Ia dapat melihat sisi rapuh Anna dengan posisi yang seperti ini.
"Tapi tak apa apa, kita bisa mencobanya lagi." Arsya segera menenangkannya tapi perkataan itu terasa aneh di telinga Anna. Belum sempat Anna membalasnya tapi sebuah ciuman mendarat di bibirnya.
Bibirnya terasa basah, sedetik kemudian Arsya melepaskannya dan bersiap naik ke atas ranjang. "Mari kita tidur."
Anna merebah di sampingnya dengan Arsya yang memiringkan tubuhnya sambil memeluknya. Di atas ranjang kecil itu kedua manusia saling berpelukan. Malam yang panjang itu kembali menemani mereka dalam kegelapan malam yang bercahayakan bulan.
Sementara Anita duduk di bar sambil mengangkat gelasnya. Dia minum sendirian tanpa ada seorangpun yang berani mengganggunya. Kelima pengawal di tempatkan di depan pintu menjaganya dengan ketat.
__ADS_1
"Dasar bodoh." Anita bergumam tak jelas di sepanjang malam.
Setelah berada di rumah sakit selama seminggu, Anna di perbolehkan pulang. Namun Arsya menyarankan untuk pergi ke tempat Dewi selama pemulihan. Jadi Anna akan lebih aman bersama kedua orang tuanya dari pada harus tinggal di villa bersama puluhan pengawal.
Dia juga memiliki teman untuk mengobrol. Juga menyalurkan rasa rindunya kepada mereka berdua.
Saat ini Anna dan Dewi sedang duduk bersama di ruang tengah. Anna merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Tangan Dewi mengelus kepalanya yang tengah bermanja.
"Dulu selama kau tidak berada di rumah, Arsya selalu datang di jam malam hanya demi melihat kamu disini." Dewi bercerita masa lalu ketika Anna tak berada di rumah.
"Dia selalu pergi ke kamar kamu, bahkan dia selalu bermalam di sana."
"Apa yang dilakukan Arsya di kamar aku?" Tanya Anna.
"Entahlah. Mama tidak tau. Dan dia selalu melakukannya selama hampir enam tahun ini. Meskipun dia pergi ke luar negeri untuk berbisnis. Dia selalu meminta ijin kepada mama dan papa.…
"Waktu itu mama dan papa juga merasa bingung dengan sikapnya yang aneh. Tapi papa menyarankan untuk tetap menganggapnya sebagai menantu keluarga kita.…
"Setiap malam itu, papa dan mama melihat dia duduk di tepian ranjang sambil melihat foto album kamu. Wajahnya terlihat sembab. Tapi mama tak berani menegurnya. Lalu pulang setelah hampir subuh."
"Maafkan aku ma. Jika saat itu aku bersikap impulsif."
Dewi tersenyum.
"Kau bisa mengambil hikmahnya setelah ini. Arsya akan sangat sayang kepadamu. Dia selalu memberikan keuntungan kepada perusahaan papamu demi membalas jasa papa."
Anna mengerutkan kening. "Jasa?"
"Jasa karena merawat seorang perempuan cantik bernama Anna."
"Ih mama." Pipi Anna merona. Dewi pun tersenyum.
Ia melirik jam sudah hampir sore. "Anna. Ayo kita ke dapur. Sudah saatnya papa pulang. Kita harus menyiapkan makan malam."
"Mm."
Anna bangkit dari pangkuan sang mama. Dewi langsung bergegas ke dapur bersamaan Anna melangkah di dapur. Sampai didapur ia ingin membantu tapi Dewi tidak memperbolehkannya. Ia hanya duduk sambil melihat punggung yang bergerak.
__ADS_1
Dewi memasak dengan cekatan dibantu oleh bik Sumi. Sambil menyaksikan mereka yang mengolah makanan di depan kompor, Anna tersenyum hangat. Lalu tiba tiba di benaknya dia teringat akan Anzel ketika masih hidup.