
Tak membutuhkan waktu yang lama terdengar gedoran di pintu. Anna menoleh sementara Arsya menyunggingkan senyuman. Arsya segera bangkit dan keluar dari kamar. Saat membuka pintu, set dipan serta ranjang king size langsung di antar ke sana.
"Presdir. Pesanan anda sudah siap!" Ujar Danni.
"Langsung bawa masuk. Tapi ranjang kecil yang di dalam itu buang dulu." Perintah Arsya.
Anna langsung membelalakkan mata. Anna langsung berjalan menghampiri Arsya.
"Sya, apa apaan kau ini Sya. Ini rumahku. Kau seenaknya saja mengatur rumah ini." Lirih Anna dengan geram.
"Sudahlah, jangan banyak membantah. Aku sudah tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu lagi. Lagi pula ini sudah malam. Jika tidak segera di atur, kita tidak akan bisa tidur semalaman." Ujar Arsya penuh penekanan. Ia langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan ke sofa. Dia duduk dan langsung melipat satu kakinya bertumpu pada kaki lainnya.
Sementara Danni hanya menjalankan perintah dari Arsya. Mengeluarkan ranjang kecil lalu di buang. Sementara itu ranjang yang baru saja datang langsung di tata di dalam kamar. Kamar kecil itu jadi terasa sempit.
Anna hanya mampu menghela nafas. Setelah semuanya di tata begitu rapi, pegawai pengantar ranjang dan kasur pamit pergi begitu juga Danni langsung menunduk hormat dan ikut meninggalkan tempat Anna.
"Mulai sekarang, aku akan tinggal disini. Mau kau marah, atau tidak suka. Aku akan tetap tinggal." Ujarnya lalu melenggang dari sofa dan masuk ke dalam kamar.
Anna hanya mampu terperangah dengan sikap Arsya yang semena mena. Setelah menutup pintu dan menguncinya. Ia pun menyusul masuk ke dalam kamar.
Arsya begitu santainya berselonjor di atas ranjang dengan kaki bertumpu. Sementara punggungnya ia sandarkan di sandaran papan ranjang. Saat melihat Anna masuk, Arsya melambaikan tangannya lalu menepuk sisi di sebelahnya agar Anna segera naik dan duduk disisinya.
Dengan wajah di tekuk. Anna berjalan ke sana dan naik ke atas ranjang yang berada disisinya. Ia segera menata dua guling dan bantal yang tinggi. Arsya menaikkan alisnya sebelah, heran dengan kelakuan Anna.
Setelah selesai, Anna langsung memperingatkan. "Jangan coba coba melewati batas." Ujarnya dengan menunjuk Arsya.
Arsya mengendikkan bahu acuh. Sementara Anna bersiap tidur. Tak membutuhkan waktu yang lama Anna sudah pulas dari tidurnya. Apalagi ia terlalu lelah. Arsya menyunggingkan senyuman. Melihat wajah Anna yang damai melalui atas bantal.
Arsya mengganti lampu kamar menjadi lampu tidur. Setelah itu ia turun dari ranjang dan keluar kamar. Tak lupa ia menutup pintu dan berjalan ke arah sofa. Di sana tergeletak laptop yang amburadul.
Ia segera duduk di sana sambil melihat kerusakan pada laptop. Dan setelah menemukan kerusakannya, ia segera menelepon Danni.
Meskipun mata masih mengantuk, Danni tetap bersiap kapanpun. Hari sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tetapi karena perintah sang bos, Danni meluncur keluar membelikan onderdil laptop. Tak berapa lama Danni kembali dengan onderdil yang dibutuhkan Arsya berbagai merk.
Setelah kepergian Danni, Arsya mengotak atik laptop itu dan memperbaikinya. Setelah beberapa jam, akhirnya laptop sudah kembali seperti semula. Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul lima.
__ADS_1
Arsya masuk ke dalam kamar dan menemukan semua bantal dan guling tercecer di mana mana. Arsya hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu ikut berbaring di samping.
Tanpa sadar, Anna menggeliat dan menimpakan tangannya di dada Arsya ketika Arsya baru saja memejamkan mata. Arsya sempat terkejut dan kembali membuka matanya lalu menoleh sekilas. Tetapi saat ingin melihat wajah damai itu Matanya sudah sangat mengantuk. Jadi ia terdiam dan lanjut tidur dengan tenang.
Anna begitu nyaman tidur dengan guling hidup di sampingnya. Kemudian menindihnya dengan satu kakinya ke atas bagian penting Arsya. Membuat Arsya menjadi kelabakan dan kembali membuka matanya.
Satu menit dua menit. Arsya masih resah, tapi karena lelah ia pun tertidur dengan nyenyak. Satu jam pun berlalu.
Dugh!
Bruk
Arsya terguling ke lantai dan mengaduh. Tetapi Anna tidak sadar jika dirinya telah menendang Arsya hingga terguling di lantai. Anna menggeliat dan membuka matanya. Matanya menyipit lalu melihat jam melalui ponselnya. Kemudian ia menoleh ke kanan dan kiri lalu melihat Arsya yang terduduk di lantai. Ia pun tak bisa menahan tawanya.
"Kau, kenapa di lantai? Apa masih kurang besar kasur king size mu ini. Hahahaha....."
Arsya segera berdiri dari lantai. "Puas. Tertawanya? Sana bangun! Aku masih ngantuk." Arsya kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Eh, Enak saja! Lihat! Ini sudah jam enam pagi. Saatnya bangun." Ujar Anna sembari memperlihatkan jam pada layar ponselnya.
"Bangun!" Ujarnya lalu menarik tangan Arsya sampai pria itu terduduk. "Kau harus biasakan hidup sehat. Harus bangun pagi lalu olahraga." Anna kembali menarik lengannya untuk mengikutinya keluar dari kamar.
"Ya Ampun, Na. Aku benar benar sangat mengantuk." Gumam Arsya pelan seraya melangkah keluar mengikuti Anna yang masuk ke dapur.
"Eh, kenapa kau malah ke dapur. Sana mandi. Lalu olahraga. Kata Pak Roni siang ini kau akan terbang ke korea kan?" Ujar Anna mengingatkan.
"Astaga! Kenapa sejak semalam kau membuatku menderita." Batinnya ingin menangis. Arsya hanya mampu pergi ke kamar mandi lalu mandi. Tak berapa lama keluar dengan sudah mengganti pakaiannya.
"Sarapannya sudah siap!" Ujar Anna sembari meletakkan roti sandwich dan dua gelas susu.
"Aku tidak suka susu. Buatkan aku kopi." tawarnya.
"Gak mau. Ini rumahku. Kau harus mematuhi segala aturanku selama kau masih mau tinggal disini. Kalau tidak? Segera kembali sana ke negaramu." Ujarnya dengan nada mengancam.
"Astaga." Arsya hanya mampu meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Resiko bisa bersama istri tapi membuatnya sangat menderita.
__ADS_1
Keduanya langsung menikmati sarapan dan menghabiskannya. Tiba saatnya untuk minum. Arsya bergidik kala memegang gelas yang terisi susu putih yang penuh itu.
"Minum! Gak akan ada racunnya kok." Ujarnya sembari tersenyum lalu ia sendiri meminum susunya hingga setengah gelas.
"Kau sengaja ya? Membuatku menderita agar aku pindah dari sini?" Ujarnya geram.
"Em." Anna mengendikkan bahu. Dan lanjut minum.
Arsya menahan nafasnya lalu mengambil gelas susu. Ia mendekatkan gelas aroma susu itu ke mulutnya tapi perutnya terasa mual. Ia melihat Anna yang masih tersenyum melihatnya. Akhirnya ia menutup hidungnya dengan tangan kirinya dan meminum susu itu hingga tandas.
Duk
Arsya dengan terengah engah meletakkan gelas itu ke atas meja dengan keras. Anna tersenyum puas.
"Anak pintar." pujinya. Lalu ia membereskan semua piring kotor ke dalam wastafel dan mencucinya.
Sementara Arsya, keringat dingin mulai bercucuran membanjiri dahinya, Perutnya terasa mual. Ia sudah mulai tak tahan, Jadi ia lekas buru buru masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan susu yang ia teguk itu ke dalam kloset.
"Hoek!"
Anna yang masih mencuci piring mendengar Arsya muntah muntah langsung tersenyum puas.
"Siapa suruh kau mau tinggal disini. Haha." girangnya dalam hati.
Saat selesai mencuci piring, Anna mengelap tangannya. Bersamaan Arsya juga keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah merah padam. Anna merubah wajahnya, berpura pura panik. Lalu menghampiri Arsya.
"Sya! Kau kenapa?" tanya Anna.
"Enggak apa apa." Sahut Arsya memasang wajah tersenyum yang dipaksakan. Wajahnya terlihat sangat lucu. Tetapi Anna hanya menahan tawanya.
"Oh. Baguslah. Aku akan berangkat ke ladang sebentar lagi." Ujar Anna lalu masuk ke dalam kamar dan mandi di kamar mandi dalam.
Di kamar mandi. Ia tak bisa membayangkan betapa lucunya tadi wajah Arsya saat di paksa meminum susu. "Haha, sungguh ampuh caraku ini. Kenapa gak kepikiran dari dulu ya." gumamnya pelan.
Setelah beberapa saat, Anna keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Lalu melihat Arsya yang ternyata malah sudah nyenyak di atas ranjang. Anna menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Ya Ampun dasar k*bo. Malah tidur sih." geramnya. Tetapi melihat jam sudah pukul setengah delapan akhirnya ia segera pergi ke ladang.