
Berita cepat tersebar ke telinga Herman bahwa Anna menghilang. Ia menggunakan telepon luar negeri dan menelepon Arsya. Telepon segera tersambung.
"Kakek!" Arsya berkata dengan suara rendah.
"Dimana cucu menantuku?" tanya Herman tanpa basa basi.
"Dia..."
"Diam! Aku tau dia telah meninggalkanmu kan? Arsya! Kau mengingkari janji padaku. Jangan sampai kau menceraikannya. Tapi, apa yang kau lakukan. Kau menarik Linda masuk ke dalam dan membiarkan cucuku keluar. Apa apaan ini!" Herman emosi sampai nafasnya terengah.
"Kakek, aku bisa jelaskan." ujar Arsya segera.
"Tidak perlu. Seharusnya kau tau apa maksudku. Kakek sudah lama hidup. Kakek tau apa yang harus aku lakukan tapi kau terlalu keras kepala. Jangan panggil kakek lagi di kemudian hari. Kau harus segera menemukannya." Ucap Herman kemudian menutup telepon.
Arsya menghembuskan nafas berat. Ini merupakan hal yang berat dalam hidupnya. Ia harus segera mencari bukti bukti yang kuat untuk membawa Linda ke jalur hukum. Lalu menarik Anna kembali pulang.
Ia segera memerintahkan Jo untuk segera bertindak dalam mencari insiden lima tahun yang lalu. Tetapi menurut Rendi, orang orang itu telah di bunuh habis tanpa sisa. Tapi ada kemungkinan salah satu di balik insiden ini ada yang masih hidup.
Jo segera pergi meninggalkan kota. Mencari jejak yang tertinggal saat insiden tersebut.
Meskipun pabrik tua itu telah hangus terbakar. Tetapi Jo berharap masih bisa menemukan bukti.
Di perusahaan
Arsya duduk bersandar seraya melihat ponsel Anna. Ia menggulir ponsel ke atas ke bawah. Di aplikasi itu ia menemukan sebuah IG. Ia membukanya. Ia melihat ada banyak pesan yang terlampir di sana. Ia membukanya dan membelalakkan mata saat pesan itu dari Elan.
Ternyata dugaannya selama ini benar. Anna sedang dekat dengan Elan. Jadi ia merasa malas bertemu dengan Elan.
Terdengar suara ketukan di pintu. "Masuk." Sahut Arsya dari dalam ruangan.
Terlihat Merlin membuka pintu ingin melapor tapi dia di dorong kuat oleh orang di belakangnya hingga Merlin hampir terjungkal. Linda tampak tersenyum sambil membawa rantang di tangannya.
"Aku udah bilang kan Sya kalau kau harus memecat pegawaimu ini. Dia sudah menghalangi jalanku masuk kesini." Ujar Linda.
Merlin menundukkan wajahnya, ia juga merasa kesal karena wanita ini di rasa cukup kasar dalam bertindak. Arsya mengulurkan tangan membuat gestur tangan. "Maaf presdir."
Setelah berkata Merlin undur diri. Arsya memandang ke arah Linda yang mengenakan pakaian ketat dan janin di perutnya terlihat menonjol. Sangat seksi.
__ADS_1
"Kenapa kau datang kemari?" Tanya Arsya seraya beranjak dari duduknya. Linda tersenyum dan duduk di sofa. Arsya bergerak ke sofa dan duduk di sampingnya.
"Kata Ricky, kau sering melewatkan makan. Jadi aku berinisiatif memasakkan pangsit rebus kesukaanmu." Ujar Linda seraya tangannya membuka tutup rantang.
"Lain kali, kau tak perlu repot seperti ini. Kau sedang hamil. Kau harus menjaga janinmu. Kesehatanmu lebih penting." Ujar menasehati.
"Hem, hanya sekali saja. Lagi pula, aku merasa senang memasakkan papa dari bayiku ini." Ujar Linda tersenyum.
Arsya tampak tak senang tapi ia hanya tersenyum tipis. "Makanlah." Ujar Linda.
Arsya memakan makanan yang di sediakan Linda hingga tandas. Meletakkan sumpit di atas mangkuk dan meminum air putih.
"Kau cepatlah pulang. Hari ini aku akan pulang lebih awal." Ujar Arsya.
Linda menyunggingkan senyuman lebar. "Baguslah. Selama ini kau terlalu banyak bekerja. Bahkan kau melupakan kami yang menunggumu di rumah. Sepertinya hari ini aku mendengar hal baik."
"Hem." sahut Arsya dengan berdehem.
Selesai merapikan rantang, Linda mengecup pipi Arsya. Kemudian ia keluar dari ruangan Arsya. Di luar ruangan CEO. Linda melirik Merlin di meja kerjanya. Ia berjalan kesana lalu meletakkan rantang ke atas meja dengan keras.
"Tuk." membuat Merlin yang bekerja segera mendongak. Saat tau bahwa itu Linda, ia sedikit kesal. "Nona Linda." Seru merlin.
Merlin melirik ke arah tangan Linda yang mengelus perutnya. "Maaf Nona Linda. Saya hanya..."
"Sudahlah!" Sela Linda. "Jangan lakukan lagi. Kalau tidak aku yang akan memecatmu." Ujar Linda kemudian pergi dari sana sambil membawa rantang itu kembali.
Merlin merasakan kegetiran yang mendalam. Saat Linda sudah masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup. Merlin menggerutu kesal. Tepat saat itu Danni datang.
"Hei, kenapa kau sekesal itu?" Tanya Danni.
Merlin segera kembali bekerja. "Itu gegara mak lampir. Aku sangat kesal sekali."
"Siapa?" Tanya Danni tampak bingung.
"Tentu saja nona Linda. Dia habis menabrakku, lalu melabrakku dengan ingin memecatku. Padahal dulu selama bersama nona Anna. Tak begini." Ujar Merlin kesal.
"Hahaha jadi karena itu."
__ADS_1
"Eheemmmm." tiba tiba terdengar suara deheman dari arah pintu. Presdir Arsya sedang berdiri di ambang pintu akan bergerak keluar. Tapi Merlin menyebutkan nama Anna. Membuat dirinya teringat sosok Anna.
Merlin dan Danni sama sama terkesiap. Danni segera berlari mendekat, sementara Merlin menunduk hormat kepada Presdir.
"Presdir."
"Danni, kau atur rapat malam ini sama Direktur Soni di bar."
"Di Bar?" Danni membelalakkan matanya terkejut. Tak biasanya presdir mereka melakukan meeting di bar. Ini pertama kalinya.
"Kenapa? Tidak mau?" Ujar Arsya dengan dingin.
"Bukan. Tapi sudah lama presdir tidak pernah kesana. Kenapa tiba tiba." Ujar Danni.
"Ganti suasana." jawab Arsya kemudian masuk lagi ke dalam. Sepertinya ia tak berminat lagi keluar ruangan. Danni melirik Merlin. Merlin mengendikkan bahunya acuh dan lanjut kerja.
Saat malam Arsya dan Danni tiba di sebuah Bar Kahiyang. Direktur Soni sudah memesan ruangan khusus VIP. Saat Arsya masuk sudah di sambut Direktur Soni. Asisten Direktur Soni sudah memesankan beberapa anggur termahal yang disediakan di sana.
Direktur Soni dan Arsya saling duduk berhadapan. Punggung Arsya ia sandarkan pada sandaran sofa. Sementara Direktur soni menyuruh asistennya untuk menikmati beberapa kenikm!tan yang tersedia di bar itu.
Empat wanita segera masuk dengan mengenakan pakaian seksi. Kedua wanita duduk di samping kanan dan kiri Direktur Soni.
"Presdir Arsya, aku banyak mendengar kabar jika istrimu pergi darimu. Jadi, kau pasti sudah lama merindukannya bukan? Seraya berbincang bisnis kau juga bisa menikmati kenikamatan ini. Hahahaha...." Direktur Soni tertawa ringan.
Dalam hati Arsya mencibir. Tetapi Ia hanya tersenyum tipis. Danni segera menuangkan anggur ke dalam gelas. Arsya mengambilnya dan menggoyangkan gelas anggurnya.
"Direktur Soni memang benar." Sahut Arsya tersenyum dingin lalu meneguk Anggur dengan ringan.
Direktur Soni melirik kedua wanita yang duduk bersebalahan dengannya agar berganti duduk menemani Arsya. Arsya melirik kedua wanita itu dengan dingin. Danni segera berdiri dan mencekal lengan kedua gadis itu untuk menyingkir menyamping.
Kedua gadis itu meronta dan ingin melepaskan cekalan tangan Danni.
"Presdir Arsya, kedua gadis ini aku pilih yang terbaik. Apa yang kau takutkan?" Direktur Soni menjelaskan, ia kembali menegak gelas anggurnya.
"Benar, direktur Soni yang terbaik." Sahut Arsya melirik ke arah Danni. Danni mengangguk dan melepaskan kedua gadis itu.
Gadis itu sempringah dan segera duduk di samping kanan dan kiri Arsya dengan senang hati.
__ADS_1
"Bagus sekali. Kau anak muda harus menikmati masa mudamu." Ujar Direktur Soni senang.
"Baiklah, kita mulai saja bisnis kita." Balas Arsya dengan wajah tenang. Tapi hatinya sangat muram.