Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 22


__ADS_3

Kemudian mereka menyesap anggurnya dengan elegan. Arsya menyunggingkan senyuman karena puas dengan rasa anggur ini.


"Nona Eli memang tau seleraku." Ujar Arsya setelah menikmati rasa anggur itu.


"Itu hanyalah bagian luarnya." sahut Eli.


"Oh ya, nona Eli memang pandai membuat kejutan." Arsya menyunggingkan senyumannya.


"Anggur ini tidak semua orang mampu mendapatkannya. Anggur ini diproduksi khusus untuk kerajaan. Dan ayahku lah yang memproduksi anggur ini." Eli menatap gelas dihadapannya lalu mengambilnya dan menggoyangkan gelas ditangannya sambil bercerita dengan terbuka.


"Kalau begitu, aku sangat beruntung bisa menikmati anggur berkualitas ini disini." sahut Arsya.


"Ya."


Selama mereka sedang asik berbincang. Anna tidak memperdulikan mereka. Ia selalu melirik ke arah Arsya sekilas. Hanya demi kesenengannya dia menjadi obat nyamuk di antara keduanya. Wajahnya cemberut dan sangat kesal.


Tanpa sadar ia terus menuangkan anggur digelasnya. Ia tidak memiliki pembicaraan. Ia juga sangat jengah karena mereka selalu ada saja yang dibicarakan. Dia terus meminum anggur itu tanpa dia sadar sudah berapa gelas yang telah ia minum. Dia mulai merasakan pusing yang mendera di kepalanya tapi ia tetap minum anggur itu hingga tandas.


Eli melirik Anna yang duduk di samping Arsya sudah terlihat sangat mabuk.


"Tuan Arsya, sepertinya teman wanitamu sudah terlalu mabuk." Ujar Eli sembari mengingatkan.


Arsya melirik dengan sudut matanya. Tapi ia tetap tak terganggu dengan obrolannya.


"Dia tak terbiasa minum anggur. Jadi akan mudah mabuk jika minum hanya sedikit."


"Oh." Eli mengangguk.


"Sepertinya sudah waktunya." Eli melihat jam di tangannya.

__ADS_1


Tak berapa lama sebuah kembang api meletup ke udara. Arsya menolehkan kepala ke luar melalui jendela kaca. Eli memandangnya dengan puas.


"Dan ini adalah intinya." Ucap Eli.


"Kejutan yang sempurna." Gumam Arsya.


"Tentu saja. Sebuah hubungan itu harus mampu menyenangkan pasangannya." Ujar Eli.


Arsya menaikkan alisnya sebelah. Sudut mulutnya turun kebawah. Kemudian ia kembali menarik sudut bibirnya ke atas sedang tersenyum. "Nona Eli, sudah malam. Maaf aku tak bisa mengantarkanmu. Karena aku harus mengantarkannya pulang."


"Oh, soal itu. Tuan Arsya tenang saja. Aku bersama sopirku." Eli sekilas melirik Anna yang sudah mabuk berat. Meski hatinya tidak senang tapi ia menahan emosinya dengan tersenyum ringan alami. Sehingga emosi itu tak terlihat oleh Arsya.


"Oh, baiklah."


Eli beranjak dari kursinya, menganggukkan kepala dan pergi keluar dengan elegan.


Sementara itu Arsya mengurusi Anna yang tengah mabuk. Satu tangannya ingin menuangkan anggur ke dalam gelasnya. Tapi ditahan oleh Arsya. Anna menjinjing kelopak matanya yang berat untuk menatap siapa orang yang tengah menahannya.


Tetapi Arsya tak membalas ucapannya. Ia hanya melakukan gerakan untuk membawa Anna keluar dari sana. Anna masih memberontak.


"Kau pria bajingan. Aku tak mau denganmu." Ujar Anna tangannya memukul mukul dada Arsya.


Para pengunjung yang lain masih menatap kelakuan Anna yang ajaib. Dia terus meronta dan mengeluarkan umpatan umpatan kasar. Karena tak tahan Arsya membekap mulutnya dan terus menyeretnya keluar. Ia merasa malu jika diperhatikan seperti itu.


Sahingga petugas valet membawakan mobilnya. Arsya langsung memasukkannya ke dalam jok samping dan memasangkan seatbealt pada tubuh Anna. Sementara Arsya memberi tip kepada petugas valet dan masuk ke dalam jok kemudi.


Ia melirik Anna yang masih mengeluarkan kata kata tak senangnya. Tapi Arsya hanya acuh. Awalnya pria itu ingin mengajak Anna berjalan keluar menikmati angin malam disini. Tapi acaranya rusak karena gadis itu malah mabuk. Tak berapa lama mobil Arsya sampai di pinggiran kota.


Arsya menghentikan mobilnya. Pikirannya melayang. Anna sudah tak berkutik lagi dan tertidur pulas. Arsya keluar dari dalam mobil dan bersandar dikap samping mobil. Ia. Mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya.

__ADS_1


Sambil menyesap rokoknya, ia memandang langit yang bertabur bintang. Ia juga dapat melihat cahaya lampu kota dari atas pegunungan. Seharusnya Anna juga dapat menikmati hal ini. Tapi sayangnya gadis itu malah mabuk.


Asap rokok mengepul menutupi wajah Arsya. Saat ini sebuah deringan telepon di ponsel. Arsya mengangkatnya.


"Hmph."


"Presdir Anita kembali." Ujar seorang pria di balik telepon. Kening Arsya berkerut tipis. Anita adalah adik ayahnya. Selama bertahun tahun dia hidup di luar negeri. Entah kenapa tiba tiba ia kembali.


Arsya kembali menutup teleponnya dan menyimpannya. Lalu ia menoleh ke belakang tempat Anna bersandar di jok samping dengan nyaman.


Mungkin kedatangannya kali ini ingin meminta saham yang pernah dijanjikan kakeknya. Sementara Brian sendiri sang adik sepupunya juga sudah mengelola perusahaannya sendiri.


Arsya mematikan puntung rokoknya dan masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya pergi dari sana. Tak berapa lama mobilnya telah sampai di rumah Anna. Ia segera membuka mobil samping dan membawa Anna masuk. Saat membaringkan tubuh Anna di atas ranjangnya tiba tiba tangan Anna terulur dan menarik leher Arsya layaknya guling.


Arsya sempat termangu dengan gerakan Anna. Tapi sedetik kemudian ia menikmati wajah cantik Anna yang tampak alami putih dan bersih. Ia menyunggingkan senyuman tipis menikmati setiap sudut wajah Anna yang tampak kemerahan. Mungkin dia terlalu banyak minum anggur tadi jadi wajahnya berubah merah.


Tapi ia harus segera kembali ke penginapan. Tangan Arsya ingin melepas tangan Anna yang berada dilehernya memeluknya dengan erat. Tapi Anna semakin mengeratkan pelukannya dengan nyaman. Arsya tak bisa berkutik selain ia merebahkan tubuhnya di samping Anna.


Lama pria itu masih belum terpejam karena posisinya yang membuat dirinya tak bisa bergerak. Tapi ia tahan sambil menikmati wajah Anna. Sampai pada akhirnya merasa mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.


Di esok paginya Anna merasakan pusing di kepalanya. Ia bergerak tapi sepertinya ranjangnya terasa sempit. Ia membuka matanya dengan perlahan. Ia terkejut kala menemukan wajah Arsya tepat didepan wajahnya, ia juga tak menduga dengan tak tau malunya tangannya melingkar di pinggang pria itu.


Ia membulatkan mata, jika pria itu tau saat ini dia sedang memeluknya pasti pria itu langsung melambung tinggi atas perilakunya. Anna menutup mulutnya dengan rapat. Pelan pelan ia menarik tangannya.


Tapi jika dipikir pikir. Wajah pria ini memang terlihat sangat tampan. Anna akui, Arsya adalah pria sempurna yang pernah ia kenal. Perlahan dia memandang rahangnya yang tegas, alis tebal dan bibir tipis semuanya membuat dia menyunggingkan senyuman tipis tanpa sadar.


Tapi sedetik kemudian ia menarik kesadarannya. Ia menepuk wajahnya pelan agar tidak lagi mengagumi pria itu. Tapi gerakannya terhenti kala sebuah tangan besar menahannya.


Arsya membuka kelopak matanya yang hitam pekat lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Jangan pukul lagi. Wajahmu nanti merah." Ujar Arsya.


__ADS_2