
Kebetulan seorang dokter dan suster perawat datang, mereka membantu Arsya naik ke atas ranjang.
"Dok, Dimana Anzel?" Tanya Arsya seraya menarik narik baju lengan suster perawat itu. Arsya mulai tak tenang dan selalu mempertanyakan keberadaan teman wanitanya.
"Tenang tuan." Ucap dokter itu menenangkan. Arsya tak bisa diam, ia emosi dan gelisah tetapi dokter itu mengatakan untuk tenang, Arsya semakin marah dan memberontak.
Dokter itu akhirnya menyuntikkan obat penenang. Perlahan kesadaran Arsya semakin menghilang. Ia pun tertidur pulas. Herman tak kuasa melihat kejadian ini. Jadi demi menenangkan Arsya diam diam melakukan sebuah tindakan.
Hari berlalu dengan cepat, Pelan pelan akhirnya Arsya bisa melewati lima tahun ini dengan baik.
"Jika kamu berbuat nekat seperti ini lagi, Aku akan membuangmu Arsya!" Teriak Herman yang membuyarkan lamunannya.
Herman segera beranjak dari duduknya, Ferdi membantunya memapah Herman memasuki kamar pribadinya.
Arsya memandang Bahu lebar yang sedikit membungkuk itu dengan tatapan rumit. Entahlah, dia tidak tau apa yang terjadi dibelakangnya.
Keesokan harinya, Anna bangun dengan senyuman yang indah. Ia segera bangun dan mandi.
Seorang pelayan mengetuk pintu, Anna segera membukanya. Pelayan itu memberikan sebuah kotak yang berisikan sebuah baju. Anna segera memakainya dan keluar kamar.
DiVilla kediaman Adiyaksa ini para pelayan sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya sama seperti di villa yang ia tinggali. Anna menuju ruang tengah. Di sana tidak ada orang selain pelayan. Kemudian ia pergi ke belakang.
Di sana ada Arsya yang tengah duduk di sebrang taman. Ia duduk di kursi panjang dan sedang memandang lurus.
"Arsya!" Pekik Anna. Ia mengayunkan kakinya mendekati Arsya. Arsya tidak bergerak sama sekali. Tatapan matanya tetap lurus ke arah depan.
"Nyenyak?" Tanya Arsya tanpa melihat.
"Emh." Anna mengangguk dan tersenyum cerah. Tatapannya tertuju pada mentari yang mulai muncul dengan warna kemerahan. "Ternyata disini bisa melihat matahari muncul ya, pantas saja kamu betah disini." Ucap Anna.
"Ayo kita masuk," Tiba tiba Arsya beranjak dari duduknya.
"Enggak mau, aku mau melihat matahari muncul. Disini bagus, tidak seperti di rumah kanan dan kiri pegunungan." Anna mencibir.
Arsya kembali duduk di tempatnya. Anna segera menoleh dan menyadari pria itu tidak baik baik saja. Ia mengulurkan tangan kanannya menyentuh keningnya. Tapi ditahan Arsya.
"Apa yang kamu lakukan!" Ucap Arsya.
"Hehe, aku cuma mau meriksa badan kamu. Takutnya kamu demam karena kakek memukulmu." Ucap Anna dengan tersenyum.
__ADS_1
Anna manarik tangannya yang dicekal Arsya. "Jika kamu tidak melakukannya kenapa kakek menuduhmu seperti itu. kenapa kamu gak jujur saja pada kakek."
Setelah mengucapkan itu, Arsya menoleh menatap Anna. Anna merasa ucapannya salah, ia jadi salah tingkah. "Ma-Maaf!" Ucap Anna.
"Terkadang seseorang itu menganalisa hanya melalui apa yang mereka lihat. Apa kamu percaya padaku?" Tanya Arsya, ia menarik pandangannya ke depan dan menghela nafas.
"Iya juga sih, menurut pandangan memang sekilas mirip kamu. Tapi kamu orang yang datar mana mungkin bisa tersenyum."
Arsya menoleh, Anna yang melihat tatapan Arsya sedingin kulkas, ia menelan air liurnya susah payah. "Aku salah bicara." Ucap Anna.
Arsya kembali menatap ke depan. "Aku tidak tau jelas apa motif dia menyebarkan berita ini. Aku sudah menanganinya. Tapi berita itu selalu menjadi berita terhangat. Dia berani membayar media untuk menayangkan berita itu secara terus menerus. Sementara diriku tidak harus menangani media ini setiap hari."
"Disisi lain, itu bukan wilayahku. Sangat sulit menghapusnya."
"Hem." Anna mengerti, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Orang seperti dia walau diingatkan terus juga tak membuat dirinya sadar. Dia memang terlalu picik menggunakan situasi sebagai umpan."
Arsya merasa gadis ini cukup pintar menganalisa sesuatu hal. "Kamu benar." Ucap Arsya. Anna tersenyum.
"Eh lihat, bunga itu sedang mekar." Anna menunjuk pada bunga lili di kebun bunga.
Ia segera berlari menghampirinya. Arsya melihat pergerakan Anna yang berlari seperti anak kecil. Rambut panjangnya mengayun bersebrangan dengan gerak tubuhnya.
Rok yang ia kenakan berayun kesana kemari. Ia berjongkok dan membelai bunga lili dengan hati-hati. tiba tiba ia teringat pada Anzel yang menyukai bunga lili.
"Aku janji akan bahagia meski tidak ada kak Anzel lagi." Setelah mengatakannya ia membungkuk dan menciumnya.
Setelah puas, ia kembali berdiri dan menghampiri Arsya yang masih menunggunya.
"Ayo masuk, kakek sudah menunggu kita sarapan." Ajak Arsya.
"Oke."
Keduanya masuk ke dalam dan menuju ruang meja makan, di sana semua hidangan tertata rapi. Duduk Herman berada di ujung meja layaknya seorang pemimpin. Arsya menyusulnya duduk di sebelah kanannya begitu Anna yang juga duduk di samping Arsya.
"Kakek, jangan makan roti saja. Makanlah nasi dan sayur sayuran untuk menambah stamina kakek." Anna mengambil piring Herman lalu mengisi piring itu dengan sedikit nasi dan lauk sayur mayur.
"Kakek tidak suka sayuran!" Sela Arsya.
"Uh."
__ADS_1
"Tidak apa apa. Tidak apa apa." Herman tersenyum.
Anna sedikit terkejut saat Arsya menghentikannya. Tetapi Herman yang bilang begitu Anna merasa lega meski ada sedikit canggung. Anna meletakkan sayur Herman di depannya dengan hati-hati.
"Kamu memang perhatian dengan kakek. Sudah lama kakek tidak makan sayur sejak nenek sudah tiada." Anna tertegun sesaat.
"Maaf kek." Anna menundukkan kepalanya merasa bersalah karena ulahnya kakek mengenang jasad nenek yang telah tiada.
"Tidak perlu minta maaf. Oh ya setelah ini kita sama sama pergi ke makam nenek sekaligus ke makam Ayah mertuamu. Sudah lama kakek tidak menjenguk mereka."
"Baik kakek." Ucap Anna kembali tersenyum cerah.
Ketiga manusia itu menghabiskan sarapan mereka masing masing. Setelah itu bersiap pergi ke pemakaman yang berada di kota Baha.
Sepuluh mobil beriringan menuju ke kota Baha. Butuh waktu tiga jam untuk sampai di kota Baha. Ini pertama kalinya Anna pergi ke sana. Kebetulan pemakaman ini ada di atas gunung. Untuk sampai di sana harus melewati anak tangga yang cukup tinggi.
"Awas hati-hati." Arsya memegang lengan Anna tatkala menaiki anak tangga.
Herman menaiki tangga dengan kakinya yang renta. Sampai di atas, hanya ada beberapa pemakaman. Termasuk nenek dan ayah mertuanya.
Di makam itu langsung terlihat foto mendiang ayah dan neneknya yang sejajar. Anna tertegun beberapa saat. Ayah mertuanya sangat tampan. Rupa dan wajahnya sama persis dengan Arsya.
Herman berhenti di salah satu pemakaman, ia memandang foto yang tergeletak di atas makam itu dengan linangan air mata.
"Diana, Aku datang. Sudah lama aku tidak mengunjungimu. maafkan aku ini yang sudah susah berjalan. lain kali aku akan sering mengunjungimu. Diana. Kali ini aku kesini tak sendiri. Aku membawa cucuku dan cucu menantuku." Herman mengusap wajahnya yang penuh air mata, bibirnya melengkung ke atas.
"Akhirnya, cita citaku sudah terwujud. kelak aku akan menyusulmu dengan tenang."
Anna dan Arsya mendengarkan ocehan kakeknya dengan terharu. "kakek." Arsya mengelus pundaknya lembut.
Herman menoleh sekilas. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, ia menaburkan bunga di atas makam.
"Lihatlah Beny. Ini anak menantu yang kau inginkan. Aku sudah memenuhi janjiku. Kelak kau jangan risau di sana." Ucap Herman yang beralih pada makam di sebelahnya.
Anna menyunggingkan senyuman, melihat papan nama. Disertai foto yang selalu terlihat tegas dan berwibawa. Ia menjadi teringat ayah dan ibunya yang sudah lama meninggal. Anna meneteskan air matanya.
Anna mengusap air matanya yang menetes. Lalu tersenyum dan mengusap foto itu dengan kasih.
Hari sudah sore. Sudah saatnya pulang. Sebelum memasuki mobil Anna berpamitan terlebih dahulu. Sepuluh mobil beriringan kembali ke kota Benalu.
__ADS_1
Saat sudah sampai kota, iringan mobil terbagi menjadi dua. Arsya dikawal empat mobil kembali ke kediamannya. Saat sampai di Villa hari sudah malam. Anna merasa capek dan pegal.
Sebelum melaksanakan mandi, Anna sudah tertidur di atas ranjang. Sementara Arsya berdecak kesal. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berganti pakaian ia pergi ke ruang kerjanya yang berada di lantai satu.