
Anna mencebik kesal saat tau bahwa itu perintah pak Jaki. "Maaf nona muda... Saya takut jika nona muda kabur seperti dulu."
Anna hanya melirik saja. Lalu terdiam dengan memandang keluar jendela untuk menghibur dirinya Pak Jaki merasa serba salah.
"Sudahlah!" Anna menghela nafas. Pak Jaki merasa lega meskipun dalam hati ia merutuki kesalahannya.
Mobil meluncur menuju Adiyaksa Group. Hari sudah sore. Ada beberapa karyawan yang berhamburan untuk pulang. Lagi pula ini adalah sabtu. Mungkin mereka bekerja setengah hari.
Anna bergegas keluar dari mobil setelah Pak Jaki membukakan pintu mobil. Tak lupa menenteng kresek hitam yang berisi martabak manis. Saat melalui lobi, ia menemukan dua wanita resepsionis sudah berganti orang.
Tapi dia tak menghiraukan. Orang yang berlalu lalang pun tidak menghiraukan keberadaannya. Ia berjalan menuju lift khusus CEO dan menekan tombol lantai 45. Lantai tertinggi khusus CEO.
Anna bersiul sembari menatap kresek hitam di tangannya, bagaimana reaksinya jika ia membawakan kejutan. Anna tersenyum membayangkan Arsya yang memakan martabak manis yang belum pernah ia makan.
Tepat pintu lift terbuka. Justru Ia tak menduga akan melihat sebuah adegan yang seharusnya tak ia lihat.
"Linda dan Arsya---berciuman!"
Danni yang mengetahui keberadaan Anna segera berseru. "Nona Muda!"
Arsya yang mendengar kata 'nona muda' segera mendongak. Tanpa sengaja kedua mata mereka saling bersitatap.
"Jadi seperti ini kalian di kantor?" Gumam Anna.
Arsya menatap dingin kepada pengawal yang berjaga. Para pengawal itu berdiri ketakutan dengan menundukkan kepala.
Anna membuang kantong plastik itu di tempat sampah lalu menekan tombol lantai satu.
Danni meringis, merasa serba salah dengan keadaan ini. Arsya hanya terdiam dan Linda di sampingnya tersenyum senang dengan keadaan ini Anna pasti akan meminta cerai dan ia akan mengemban sebagai nona muda Arsya Widodo Adiyaksa.
Sedangkan Arsya tak perlu repot untuk menjelaskan kepada kakeknya kelak. Anna tak habis pikir dengan kelakuan kedua pasangan itu, pantas saja ia memberi waktu sampai ia lulus dan memilih berpisah.
Anna mengepalkan tangannya erat, saat ia kabur, lelaki itu mencarinya bahkan sampai ke pelosok desa. Setelah kembali ia menyakitinya dengan membawa perempuan lain.
__ADS_1
Tanpa terasa, ia meneteskan air matanya. Pernikahannya semata hanya melindungi bisnis papa-nya. Mau berlari pun tidak bisa, jika diam ditempat ia merasa tersakiti.
Kehidupannya sungguh ironi. Ia menyeka air matanya dan berpura pura jika ia baik baik saja. Sampai di lantai satu ia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pelataran Adiyaksa group.
Kresek plastik hitam yang dibuang Anna telah di ambil Danni. Di dalamnya ada martabak coklat manis. Danni diam diam menyimpannya. Lalu melihat interaksi Linda dan Arsya yang berada di dalam ruangan kantor.
Danni merasa kasihan kepada nona mudanya, Dia sudah bersusah payah membawakan martabak ini kemari. Tetapi ia melihat Linda dan Arsya yang seperti ini. Pasti dia merasa kecewa.
Linda ini adalah perempuan yang berambisi besar. Dia sudah menyukai pria itu semenjak mereka bertemu sewaktu mereka SD. Linda selalu bersikap manis terhadap Arsya sejak kecil dengan berteman baik dengannya.
Sejak Arsya kehilangan jati dirinya, Linda datang dengan menjadi seorang teman. Tetapi Arsya tetap sedingin es. Tapi setiap kali Linda terluka ia selalu melindungi-nya diam diam. Sampai pada akhirnya, Linda pergi ke luar negeri beserta keluarganya dan menetap di sana.
Arsya tidak lagi memperdulikannya, hanya saja Linda masih meminta berkasih kabar jika ada waktu. Sampai pada akhirnya ia menemukan bahwa Arsya telah menikah.
Linda marah besar saat mengetahui berita ini, dia segera kembali dan akan berebut dengan istri sahnya. Dan disinilah Linda, pasti akan memenangkan hati Arsya.
Tadinya Linda hanya terpeleset, tetapi Arsya menahannya agar tidak terjatuh, karena lantainya licin tubuhnya menjadi tidak stabil. Mereka berdua terpelanting hingga terjatuh ke lantai dengan posisi Linda berada di bawah dan tanpa sengaja Mereka berciuman. Posisi ini sangat intim.
Dan kebetulan saat ini pintu lift terbuka menampilkan Anna yang menyaksikan keduanya. Anna sangat syok tak bisa berkata kata. Dalam hatinya justru memaki dirinya yang bodoh.
Tetapi kali ini tekadnya sudah mantap. Ia akan menabung sedikit demi sedikit untuk membiayai hidupnya kelak jika sudah berpisah dengan Arsya. Persetan dengan aset yang akan dibagikan setengahnya. Pasti itu hanya akal-akalan Arysa saja.
Tepat di saat ini telepon genggamnya berdering. Kali ini dari Dewi. Anna menyunggingkan senyuman dan segera mengangkat telepon.
"Mama!" Mendengar suara yang sangat ia rindukan Dewi tersenyum di balik telepon.
"ya...mama meneleponmu karena mama sangat rindu denganmu." ucap dewi lembut.
Anna mencoba menahan air matanya agar tidak mentes. "mama, bagaimana keadaanmu? terakhir papa bilang kalau mama sakit."
"mama baik baik saja, papamu merawat mama dengan baik. kamu jangan khawatir di Bone memiliki perawatan internasional. Mama segera pulih dengan cepat." ucap dewi.
"Syukurlah ma."
__ADS_1
"Anna, kamu jaga dirimu. Mama Arsya adalah orang baik. Bagitu juga Arsya adalah orang baik. Dia yang mengirimkan fasilitas kepada kami. Kamu jangan membuatnya kesal. mama tutup dulu ya. masih harus memasak buat papamu." Ucap Dewi lalu menutup telepon.
Anna mengusap setetes air di pipinya dan menyimpan kembali ponsel genggamnya. Pak Jaki yang melihat dari kaca spion depan merasa sangat kasihan. Tapi ia takut untuk bertanya. Dalam pikirnya mungkin nona mudanya merindukan kedua orang tuanya makanya ia terlalu sedih.
Pukul sembilan malam, Mobil phantom telah sampai di depan pintu utama Villa Arsya. Seperti biasa para pengawal akan menyambutnya. Ricky bergegas membuka pintu dan membantu membawa tas sekolahnya.
"Mama!" Anna menutupi kesedihannya dan berpura pura tersenyum. Ia berlari ke arah Hanis yang duduk di ruang tengah sembari membolak balik majalah di tangannya.
"Hei, menantu mama!"Anna duduk disebelah Hanis, kepalanya ia sandarkan di bahunya. Hanis dengan lembut mengelus rambut Anna yang tergerai.
"Kamu pasti lelah. Rani sudah memasakkan makanan yang katanya kesukaanmu. Semur daging." Ucap Hanis.
"Terima kasih, aku hanya rindu dengan mama." Ucap anna menyalurkan rasa rindunya dengan dewi. Hanis mengerti akan hal itu. Dulu ia juga pernah mengalami hal seperti ini saat pertama masuk ke keluarga Adiyaksa.
*
Sepanjang malam Anna tertidur pulas, dan saat dipagi hari ia sudah tak menemukan Arsya di sampingnya. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana training.
Hari ini adalah hari minggu, ia telah berjanji dengan Leya yang akan bertemu di taman. Anna sudah siap dengan snakersnya yang berwarna putih. Rambutnya yang panjang ia kuncir kuda memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.
Pelayan yang bersiap membersihkan kamarnya segera menunduk dan menyapanya. "Selamat pagi nona muda!"
"Pagi!" sapa Anna sopan. lalu bergegas menuruni tangga.
Hanis yang melihat Anna menuruni tangga langsung tersenyum. "Anna!"
"Mama! Selamat pagi!" Sapa Anna tersenyum riang dan menghampirinya.
"Mau kemana pagi pagi begini?" tanya Hanis saat ia melihat Anna yang sudah rapi.
"Ke taman ma, mau lari pagi." Ucap Anna.
"Oh, kebetulan Arsya juga sedang lari pagi. kamu bisa menyusulnya mumpung belum jauh." Balas Hanis.
__ADS_1
"Iya ma, kalau gitu aku segera pergi." Ucap Anna lalu menyalimi tangan Hanis.
Hanis mengangguk menatap punggung Anna yang kian menjauh.