Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 67


__ADS_3

"Tuan, nyonya Anna yang membantu anda semalam. Tidakkah anda...."


"Diam!" bentak Arsya kesal. Ia menolehkan kepala dan memandang jendela luar.


Si sopir itu segera terdiam. Entah kenapa hatinya semakin runyam.


Hingga beberapa saat mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah penginapan hotel. Arsya meminta untuk mempersiapkan kamar presiden suit room untuk menjaga prifasinya. Suasana hatinya semakin memburuk.


Arsya berdiri memandang gedung dihadapannya yang menjulang tinggi itu dengan perasaan rumit.


"Tuan, bagian restoran sudah menyiapkan sarapan anda. Apakah akan sarapan sekarang?" seorang pengawal bertanya dengan hati hati.


"Hm, masuklah." perintah Arsya. Segera pengawal memerintahkan pelayan hotel bagian restoran untuk masuk.


Sementara pelayan sedang menata hidangan, Arsya pergi ke dalam kamar mandi. Ia melihat pakaian yang ia kenakan.


Lalu ia melepasnya dan membuangnya ke dalam keranjang. Terdengar suara shower yang menyala. Pengawal kembali berjaga di luar pintu.


Beberapa saat kemudian Arsya keluar dengan menggunakan badrob hotel, melihat ke arah meja yang sudah terhidang makanan. Ia berjalan ke sana dan duduk di sofa.


Drrttttt drrtttt drrttt


Tepat ketika duduk, Arsya mendapati telepon masuk.


"Halo."


"Tuan, kami dari pihak WO. Hotel yang anda rencanakan sudah mulai kami siapkan."


"Tidak perlu."


"Egh." untuk sesaat suara diujung telepon tertegun. "Tapi tuan...."


"Jika aku bilang tidak perlu ya tidak perlu! Apa kamu tuli ha." tepat setelah membentaknya Arsya menutup telepon.


Pihak WO yang sudah di pesan pun menampakkan wajah bingung. Dengan segera pihak WO segera menghubungi Danni.


"Lebih baik kalian siapkan saja. Mungkin pak direktur sedang ada masalah." jawaban Danni.


Akhirnya pihak WO merasa tenang, mereka pun mulai menyiapkan persiapan yang matang.


Arsya mulai menyantap makanan. Saat menghirup asap aroma makanan itu terasa makanan itu sangat menyengat. Tapi ia tak berpikir panjang. Lagian ini sedang di luar negeri, ia tak memiliki musuh. terlebih makanan ini sudah di periksa oleh anak buahnya.


Anna merasa akhir akhir ini dia tidak baik baik saja. Sejak Arsya meninggalkan rumahnya dirinya di landa kecemasan yang berlebihan. Tapi entah apa penyebabnya yang membuatnya seperti itu.

__ADS_1


"Noni, aku lihat anda selalu melamun. Kenapa?" tanya Laura.


Anna yang saat ini sedang melihat kebunnya menoleh kearah Laura dan mengulas senyum.


"Beberapa hari ini Arsya tidak pernah meneleponku. Kamu tau kenapa lelaki berbuat seperti itu?" tanya Anna dengan dahi berkerut.


"Em." Laura juga bingung. "Coba tanyakan saja pada Elmo. Dia lelaki mungkin dia bisa menjawabnya." saran Laura.


Anna mengangguk. "Baiklah, aku akan menanyakan hal ini pada Elmo." sahutnya.


Tak berapa lama Elmo datang terengah engah ke ruangan Anna.


"Noni, anda memanggilku?" tanya Elmo. Saat Elmo tau bahwa Noni sedang memanggilnya, ia luar biasa sangat senang. Terlebih ia ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya yang terdalam. Istrinya sangat bahagia ketika menerima hadiah yang ia berikan.


Anna menoleh, "Hm, duduklah." Kata Anna.


Elmo masuk dan duduk dihadapan Anna. Terlihat Anna begitu fokus mengekstrak bunga mawar dengan peralatan yang sederhana. Setelah beberapa saat menunggu Anna menatap Elmo.


"Elmo, sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki saat mau menikah. Aku akhir akhir ini merasa gelisah." Kata Anna.


Seketika Elmo tau kekhawatiran yang di rasakan oleh Anna.


"Oh, anda sudah mau menikah?" Kata Elmo dengan senyuman girang.


Anna mengangguk. Elmo terdiam sejenak kemudian menemukan sesuatu yang ganjal saat dulu ia akan menikah. "Begini Noni. Dulu saat aku akan menikah dengan Airin juga merasakan hal yang sama. Aku merasa takut jika tidak bisa membahagiakannya."


"Menurutmu, apakah Arsya orang yang seperti itu?" tanya Anna.


"Tentu saja Noni, tuan Arsya adalah seorang pengusaha. Sudah tentu sebagai seorang pengusaha memiliki banyak musuh."


"Oke aku mengerti." Kata Anna mengangguk pasti.


Setelah itu Elmo keluar.


Anna memikirkan satu hal yang membuat Arsya begitu marah kepadanya.


Kemungkinan terbesar adalah karena Arsya memiliki banyak musuh. Anna jadi teringat aksi pembunuhan tempo hari saat di bandara. Mungkin itu salah satunya Arsya memilih tinggal di penginapan. Dia tidak mau melibatkannya karena urusan pribadi.


Anna akan memberinya waktu sampai Arsya benar benar merasa tenang.


Sementara itu Arsya duduk termenung di sofa.


"Tuan, anda sudah beberapa hari terlihat murung. Haruskah saya memanggil nyonya untuk datang?" tanya pengawal yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak membutuhkannya." Ujar Arsya dengan tubuh sedikit lemas. Entah kenapa tubuhnya seolah tidak memiliki energi selama ini.


Ia bersandar di sofa, melihat makanan yang sudah tandas beberapa jam yang lalu tetapi pelayan restoran belum kunjung merapikan piring yang kotor.


Arsya melihat piring yang tersisa lalu mengerutkan kening.


"Rendi, akhir akhir ini makanan di restoran ini begitu menyengat, tubuhku terasa begitu lemas. coba kamu selidiki. Apa ada sesuatu di dalam makanan itu." ujar Arsya begitu teringat makanan yang menurutnya aneh.


"Baik tuan." Rendi segera turun untuk memeriksa makanan di restoran.


Dari dalam segala bentuk hidangan Rendi memeriksa dengan teliti. Makanan itu di masak oleh koki. Dari bahan dasar juga dipilih dari kualitas tinggi dalam kesegarannya termasuk daging.


Rendi tidak menemukan apapun yang aneh, dia juga memeriksa piring yang digunakan.


"Tuan, saya sudah memeriksa semuanya di dapur. Tidak ada yang aneh." lapor Rendi.


Arsya mengelus dagunya berpikir. "Coba kamu selidiki, Anita sekarang berada di mana?"


"Baik tuan."


Rendi dengan berbagai koneksinya langsung menemukan titik lokasi Anita. Wanita itu tengah duduk santai di sebuah taman di villa mewah yang ia huni.


"Tuan, nyonya Anita berada di villanya sendiri. Sepertinya nyonya Anita tidak melakukan hal apapun." kata Rendi.


"Tunggu!" ucap Arsya. Lelaki itu seolah aneh dengan Anita yang tidak melakukan apapun. "Ini sangat aneh." ujar Arsya mengerutkan dahi.


Rendi juga berpikir demikian. "Mungkinkah ini..." Rendi langsung mengerti.


"Sepertinya mata mata Anita tidak hanya satu. Rendi, di antara pelayan restoran itu."


"Baik, aku mengerti."


Rendi bergegas keluar dan mencari mata mata yang diutus Anita.


Mereka secara bertahap melakukan sesuatu hingga tidak menemukan celah. Rendi menggeram. Padahal semua sudah di awasi dengan ketat. Tetapi orang ini sungguh ahli.


Saat jam makan siang, makanan dari restoran bawah dikirim ke kamar Arsya. Arsya duduk sambil melihat koran hari ini.


Pelayan itu masuk dan meletakkan hidangan di atas meja seperti biasa. Ia terlihat ramah seperti biasanya. Arsya melihat punggung wanita itu dengan seksama. Ramping dan seksi.


Setelah pelayan itu pergi, Arsya memanggil Rendi untuk masuk. Saat pertama melihat hidangan itu Rendi mencium bau yang menyengat. Rendi menutupi hidungnya dengan lengannya.


"Tuan, ini...."

__ADS_1


"Ini makanan yang dikirim mereka setiap hari." kata Arsya.


Rendi menoleh ke arah pintu. Seolah melihat gadis pelayan yang mengirim makanan itu. Seketika ia mengeratkan rahangnya.


__ADS_2