Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 63


__ADS_3

Malam itu, suasana di hotel sangat meriah. Banyak relasi bisnis yang datang. Mr, anderson merasa cemas. Dari sekian banyak tamu yang hadir, dia menantikan tamu yang sangat penting baginya. Waktu sudah menunjuk angka tujuh. Tapi tamu penting ini belum juga memperlihatkan dirinya.


Saat ini Anna dan Arsya sudah berada di loby. Arsya menggenggam jemari Anna dengan lembut. Membawa ke dekapannya untuk menyalurkan kehangatan dan mengurangi rasa gugupnya.


Anna merasa lega karena memiliki suami yang menurutnya sangat perhatian dengannya. Seulas senyum muncul di bibirnya.


Arsya begitu perhatian. Sampai langkahnya masuk ke dalam ruangan kecil yang akan membawanya ke aula yang berada di lantai sepuluh, pria itu terus memeluknya tidak akan melepaskannya.


"Apa sudah mendingan?" Tanya Arsya ketika sudah melewati loby hotel. Di sana banyak sekali wartawan yang berlomba lomba mengambil gambar untuk mereka rilis. Apalagi ini merupakan tokoh penting dan terkemuka.


Arsya tidak mendapat jawaban dalam beberapa saat, ia mengira Anna masih syok saat melewati hotel. Dia semakin mengeratkan pegangan tangannya dan menggosoknya. Kemudian ia menundukkan kepalanya, tampak sebuah bibir yang melengkung manis.


"Hei ada apa. Kenapa kamu tersenyum?" Arsya menyadari jika saat ini Anna tengah tersenyum. "Apakah di wajahku ada sesuatu?" Tanya Arsya dengan alis berkerut. Ia heran melihat sikap Anna yang tiba tiba berubah.


Anna menggelengkan kepalanya. "Tidak apa apa." pandangan Anna menerawang ke enam tahun yang lalu. "Kamu begitu manis kepadaku. Coba sikapmu ini dulu seperti ini. Aku tak akan kabur."


Arsya menggosok hidungnya. "Jadi kamu berpikir akan kabur lagi!" Arsya sangat kesal karena Anna membicarakan hal ini.


"Oh bukan. Maksudku...."


"Sudahlah, jika kau mau kabur. Baiklah kabur saja sana." Arsya merajuk.


"Bersusah payah aku mengembangkan usahamu. Waktu dan otakku telah habis dalam proyekmu ini. Kamu tidak perlu berterima kasih karena hal ini. Sekarang kamu sudah sukses. Bisa membangun proyekmu sendiri. Kamu sudah tidak memerlukan aku lagi kan. Aku juga sudah tidak perlu khawatir kau kerkurangan uang." Lanjut Arsya dengan amarah yang menggebu.

__ADS_1


Anna meringis menatap wajah merah Arsya dari samping. Anna merasa bingung menghadapi pria itu. Mungkin dulu dia masih belum labil. Saat bertengkar seperti ini. Dia juga akan membalas perkataannya dengan kejam dan berani. Tetapi saat ini mereka sama sama telah dewasa. Semua masalah harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin.


Anna menghela nafas panjang. "Bukan! Aku hanya teringat waktu dulu. Saat itu aku masih labil jadi berpikiran pendek. Dan sekarang aku tidak perlu berpikir seperti itu. Aku hanya merasa, dirimu sekarang telah berubah. Kamu telah dewasa sekarang. Kamu selalu melindungiku dengan baik. Aku sangat terharu kepadamu." Ujarnya dengan senyum mengembang.


Arsya melirik sekilas. Terlihat senyuman yang membuatnya terbujuk dengan sendirinya. "Sebentar lagi kita menikah. Kau bersikap seperti ini bukankah kau terlihat seperti anak kecil."


Anna berkata dengan manis. Namun di dalam perkataan itu sedikit menekan. Alis Arsya sedikit terangkat. "Umurmu juga sudah melampui tiga puluh tahun. Apakah kau tidak malu dengan bersikap kekanakan seperti ini?"


"Kamu...."


"Diamlah!" Anna meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Arsya. Seketika Arsya terdiam. Lift terhenti di lantai sepuluh. Sebelum pintu lift terbuka. Anna menarik dasi hitam yang melilit leher Arsya, merapikannya. "Malam ini adalah malam penghargaan bagi kita juga sekaligus malam perjamuan. Jika wajahmu cemberut seperti ini. Kau akan terlihat jelek. Tersenyumlah." Jemari Anna berpindah ke wajah Arsya, memegang setiap sudut pipi Arsya dan menariknya. Sehingga membentuk sebuah senyuman.


Arsya memaksakan senyuman di bibirnya hingga terlihat giginya yang rapi. Pintu lift terbuka dengan sempurna. "Ayo!" Anna menarik lengan Arsya dengan kuat. Memaksa kaki Arsya untuk mengikuti hingga sampai ke depan pintu aula.


"Akhirnya kalian datang juga." Mr Anderson berkata dengan senang.


Arsya mengangguk. "Tentu saja kami akan datang. Selain itu acara ini juga istri saya ikut andil."


"Hahaha, baguslah." Mr Anderson tertawa. Satu tangannya menggaruk pelipisnya. Dia mendengar dari anak buahnya, saat kedatangan mereka di bandara ada kejadian baku tembak. Dia mengira mereka tidak datang jadi dirinya begitu sangat cemas. Namun malam ini kedua orang itu telah datang, ia pun merasa sangat lega. Mr Anderson pun mempersilahkan masuk.


Jam setengah delapan, acara di mulai. Mr Anderson segera naik ke podium. Memberikan sepatah kata untuk penyambutan. Ia juga memperkenalkan secara terbuka akan tamu penting malam itu. Setelah itu barulah mulai perjamuan. Makanan segera dihidangkan. Anna dan Arsya duduk di meja deretan kedua. Mereka sangat menikmati hidangan malam ini terlebih Mr Anderson sendiri merasa bangga.


Ia juga memperkenalkan pasangan itu kepada rekan bisnisnya yang lain. Mereka juga sangat penasaran. Orang seperti apa yang telah menciptakan parfum unik ini kepada mereka. Ternyata setelah mereka mengenalnya mereka sangat terkejut. Mereka ternyata adalah pasangan muda.

__ADS_1


Wajah Anna memerah kala orang orang itu menyanjungnya. Dia mengira mereka akan menghinanya. Sama seperti setahun lalu saat berusaha memperkenalkan parfum itu untuk pertama kalinya.


Terlebih dari para kalangan atas. Sudah ada banyak belasan parfum terkenal dan bermerk. Jadi parfum Anna ini termasuk parfum yang memiliki sebuah keberuntungan.


Acara berjalan dengan lancar. Hanya saja Anna merasa sangat mabuk. Sudah berapa kali ia minum anggur merah. Arsya merasa kesal. Sudah tau dia tidak kuat minum. Malah menerima mereka minum bersama. Akhirnya Arsya membopongnya untuk kembali ke lantai atas.


Membaringkannya ke atas ranjang.


"Ugh...minum...lagi...." Terdengar gumaman rendah keluar dari bibir Anna.


Arsya meliriknya dengan ujung matanya. Terlihat pipi Anna memerah. Satu tangannya membuka kancing kemejanya satu persatu.


Arsya masuk ke dalam kamar mandi, mendinginkan pikirannya yang saat ini ingin memuncratkan api lahar panas. Sepuluh menit berlalu, ia keluar dengan jubah mandi.


Terlihat tubuh wanita itu berbaring dengan nyaman di atas ranjang. Arsya mendekatinya, melepas sepatunya. Membenarkan selimut hingga ke bagian dada. Arsya hendak berbalik menuju balkon, tetapi Anna menendang selimutnya.


"Ugh, pusing sekali..."


Arsya menghela nafas, menarik selimut itu lagi dan menyelimutinya. Saat tangannya berada depan dada, Anna menarik tangannya. Jantung Arsya berdetak kencang. Wanita itu tidak sadar. Bagaikan di anggap guling. Arsya di dekap begitu erat.


Kini wajah keduanya tanpa jarak. Arsya menikmati pemandangan ini. Dia menyapu wajah Anna dengan seksama. Tangan Arsya mengulur, menyentuh hidung mancung Anna dengan jarinya yang panjang. Tanpa sadar ia tersenyum.


Sangat manis! Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Waktu sudah beranjak dini hari. Arsya tidak bisa lepas dari dekapan tangan Anna. Ia pun pasrah. Karena sudah mengantuk ia pun terlelap dengan sendirinya.


__ADS_2