Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
bab 71


__ADS_3

Hampir 12 jam Arsya menghabiskan waktunya berada di atas awan. Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna.


Disisi lain. Di luar bandara. Anita mengirim anak buahnya untuk mengintai.


Arsya berubah haluan jadi di jam yang seharusnya ia tiba kini mata mata itu tak menemukan apapun. Orang orang berlalu lalang dengan berbondong bondong. Tapi tak menemukan kerumunan anak buah Arsya dan Arsya itu sendiri.


"Sialan. Kemana anak itu pergi!" disisi lain ketika Anita mendapat kabar ia mengumpat dengan kesal.


Padahal ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengecek kedatangan pesawat yang ditumpanginya. Tapi nyatanya mereka tidak tiba di sana.


Anita mengepalkan tangannya erat.


"Mama, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini terus." kata Brian tiba tiba datang. Wajahnya tampak suram dan murung.


Anita menoleh, wajah yang awalnya muram berubah serius.


"Brian. Tenanglah. Mama sedang berusaha membunuh anak sialan itu." kata Anita menghampiri anaknya.


Brian duduk di sofa dan bersandar. Dia tampak lelah karena mengejar istrinya yang sudah tidak mau rujuk lagi dengannya. Apalagi saat ini keluarga Brian benar benar diambang kemiskinan.


Brian berdecak. "Usaha?" Brian kesal. "Usaha mama selalu dapat dibaca oleh Arsya." kata Brian.


Kini bahu Anita melemah, ia memegang bahu Brian. "Brian, tidak ada usaha yang sia sia jika kita bersabar. Perkataanmu memang benar. Arsya selalu bisa membaca taktik mama. Tapi yakinlah jika mama pasti berhasil. Saat ini tubuh Arsya sudah terkena racun dari mama." kata Anita menenangkan Brian.


"Racun?" Brian membeliak. Dia kaget kala mamanya bisa meracuni Arsya. Padahal Brian yakin jika Arsya adalah orang yang selalu waspada kenapa bisa lengah.


Anita mengangguk dan tersenyum menyeringai. "Dia terkena racun. Dan racun itu sulit di obati. Kemana dia akan pergi?"


Kemudian Anita menoleh ke arah putranya. "Dia cepat atau lambat pasti akan mati. Kita hanya tinggal menunggu waktu." kata Anita.


Brian merasa tenang sekarang.


Sementara itu Arsya datang satu jam yang lalu karena ia mengetahui rencana Anita yang akan membunuhnya. Meskipun raganya merasakan rasa sakit yang tidak bisa diterima oleh orang biasa tetapi otaknya bekerja dengan cepat dan efisien.


Kini Arsya telah tiba di kediamannya yang berada di atas gunung. Dia mengendalikan Danni yang kini sedang memimpin rapat. Karena tidak mungkin bagi Arsya dengan tubuhnya yang kian kurus itu bisa menghadiri rapat.


Dia mengoperasikan semua peralatan dan memantau jalannya rapat yang sedang berlangsung saat ini.


Para dewan direksi masih saja ricuh karena Arsya yang tidak konsisten dalam mengoperasikan perusahaan. Dia dianggap mangkir karena selalu bepergian tak jelas.


Kepercayaan yang dulu pernah dijanjikan seakan sudah dilupakan. Saham juga menurun drastis. Tidak ada lagi yang mau memakai jasa mereka lagi. Pihak pemerintah juga tidak mau mendukung lagi. Itulah sebabnya para dewan takut jika perusahaan bangkrut mereka juga tidak ada pemasukan lagi.


Bagaimana kehidupannya ke masa depan. Ada keluarga yang harus mereka hidupi. Ada anak yang harus ia beri asupan pendidikan. Tapi melihat kondisi perusahaan yang seperti ini mereka tidak bisa tenang.


Di luar banyak berita miring tentang petinggi perusahaan mereka. Jika ceo Adiyaksa Group tidak peduli lagi dengan kepemimpinannya.


Sering mangkir dan menggunakan dana publik untuk berjalan jalan bersama mantan istrinya.


Ceo Adiyaksa group juga dituduh menggelapkan uang pemerintah.

__ADS_1


Saat mendengar hal ini, pihak pemerintah juga tidak bisa tinggal diam. Mereka akan melaporkan hal ini ke pihak yang berwenang.


Seolah masalah ini semakin rumit ditangani. Danni tidak bisa mengendalikan semuanya kecuali Arsya sendiri yang turun tangan.


Kepala Arsya berdenyut diiringi tubuhnya yang tidak nyaman.


"Tuan!" pengawal yang berada disisi kanannya berseru kala tubuh Arsya hampir oleng.


Arsya melambaikan tangannya. "Tidak apa apa." sahutnya.


Layar komputer masih menampilkan suasana rapat yang makin menegang. Danni di sana duduk bersama sekertarisnya sedang dihakimi.


Tidak bisa memberi penjelasan dan meyakinkan mereka lagi.


Mereka satu persatu memberitaukan keluhan mereka. Lalu di susul yang lain untuk mengganti ceo saja.


Ruangan aula itu menjadi ramai. Empat jam rapat tidak menemukan hasil yang baik. Justru mereka satu persatu mendapatkan kabar yang justru memperburuk suasana di sana.


"Tuan, tidak ada jalan lain." sisi kiri ada pengawal yang sejak tadi memperhatikan rapat dari awal.


"Para dewan itu sangat sulit diredakan. Bos Danni kewalahan menangani rapat." Pengawal bergumam dan merasa kasihan kepada Danni.


Arsya tetap diam menatap layar dengan tenang. Padahal dirinya tidak nyaman untuk berlama lama duduk di sana. Dahinya sesekali mengernyit.


Ketika jam 8 malam, rapat baru bisa dihentikan. Tetapi di dalam hati para dewan tetap kecewa.


Disisi lain Anita mendapatkan kabar. Jika hari ini ada rapat antara para dewan. Mereka secara besar besaran berdemo untuk menurunkan jabatan Arsya.


"Bagaimana Brian. Apakah kau meragukan usaha mama lagi." kata Anita.


Brian menggoyangkan gelasnya yang berisi minuman berwarna biru dan tersenyum puas. "Ini baru mamaku." kata Brian.


"Jadi setelah ini kau harus bersiap siap untuk diangkat sebagai Ceo di perusahaan ayah." kata Anita.


Pagi itu dewan direksi mulai berdiskusi.


"Presdir Arsya sudah didesak untuk keluar tapi sampai hari ini beliau tidak kunjung keluar." kata dewan bernama Rudi.


"Bagaimana ini? Jika seperti ini terus menerus uangku akan hilang dan kita akan jatuh miskin secara perlahan." Dewan bernama Agung berseru.


"Benar!" yang lain juga membenarkan.


Dewan bernama Gagah maju. "Kalian tenanglah. Kita tidak harus menanggung semua ini jika ceo lama kita desak untuk mundur."


Rudi, Agung dan yang lain tercengang. "Siapa calon yang akan kau rekomendasikan sebagai ceo baru?" tanya Dewan bernama Ajeng.


Gagah tersenyum menyeringai. "Tuan Brian!." Lirihnya. Gagah menatap lurus. "Bukankah tuan Brian juga adalah cucu sah tuan Herman. Selain itu, dulu beliau menjadi pemimpin yang bertanggung jawab di perusahaanya. Dia juga mampu membesarkan nama perusahaannya yang dulu kecil menjadi besar." Gagah memandang puas.


Terbersit dalam pikiran mereka untuk menyetujui usulan Gagah. Satu persatu juga mendapatkan berita tentang prestasi Brian selama menjalankan perusahaannya.

__ADS_1


Mereka merasa senang, akhirnya mendapatkan ceo baru yang tidak akan mangkir dari tanggung jawab.


"Ini rekomendasi yang bagus pak Gagah." Rudi, Agung dan yang lainnya merasa tenang. Akhirnya mereka bisa bernafas lega dan hidup tenang seperti biasanya.


"Lalu kapan kita bisa mengajukan pengajuan ini?" tanya Ajeng berseru.


Gagah menggaruk pelipisnya. "Dua minggu lagi." kata Gagah.


Para dewan mengangguk tanda setuju. Rapat dibubarkan.


Kini para dewan sudah mendapatkan solusinya mereka mulai tenang lagi.


Danni menelepon Arsya.


"Tuan Arsya!"


"Hm." Arsya berdehem.


Ia juga memposisikan dirinya untuk duduk. Selama racun yang berada ditubuhnya belum menghilang. Tubuh Arsya tidak bisa diajak kompromi. Tubuhnya kian hari kian melemas.


Matanya juga semakin buram. Dia tidak bisa melihat dengan jelas. Seolah dirinya kian hari kian memburuk. Pengawal yang berjaga merasa was was. Tidak ada obat obatan yang mampu menetralkan racun itu.


"Danni. Ada kabar apa?" tanya Arsya. Suaranya dibuat tegas seperti biasanya.


"Tuan, saya mendengar jika dewan direksi sudah menentukan ceo baru." kata Danni.


Arsya terdiam sejenak untuk menghalau kepalanya yang pusing.


"Siapa calon yang mereka inginkan?" tanya Arsya setelah rasa pening itu kembali menghilang.


"Anda pasti sudah tau jawabannya." kata Danni. Ia menatap lurus ke depan sedang berpikir. "Saya juga sudah menemukan Dimana Ferdi tinggal."


"Heh, Ferdi!" Arsya berseru dengan suara dingin. Sekelebat Arsya menemukan titik terang karena hilangnya Ferdi bersamaan dengan perusahaan yang mendapat tuntutan besar besaran.


"Benar tuan!" Danni mengangguk. "Saat ini, Anak itu berada di gedung tua yang sudah terbengkalai lama. Anak itu bekerja sama dengan nyonya Anita." lanjut Danni.


Danni memijit pelipisnya. "Danni. Sekarang blok semua dokumen perusahaan, hilangkan semua desaign milikku. Kemudian retas semua gambar yang dicuri Anita dan temukan alamat yang digunakan Anita untuk pekerjaannya." kata Arsya.


"Baik tuan, mengerti."


Setelah mendapat perintah dari Arsya, Danni mulai mengerjakannya. Dalam dua hari ia lembur terus menerus dan kini ia mendapatkan hasil.


Sementara Ferdi merasa linglung ketika bloger yang ia retas menghilang tanpa jejak. Padahal ia menggunakan nama anonim.


"Hah!" Ferdi tercengang. "B..Boss!" Gumamnya lirih dengan suara bergetar. Ia yakin saat ini adalah ulah Danni.


Meskipun layar di laptop milik Danni adalah sederet angka angka yang berjalan terus naik. Ia hanya membiarkannya saja. Air matanya berlinang tanpa kendali.


Danni menghapus jejak Ferdi dan mengembalikan seperti semula. Kemudian menggatunya dengan alamat PIP Anita.

__ADS_1


Semua kerjaan ini seperti membalikkan telapak tangan. Danni tersenyum puas. Dalam hal ini Anita tidak sadar jika semua kerjaan yang tengah ia lakukan telah berbalik. Anak panah yang awalnya bersiap menyerang Arsya kini tengah mengintai dirinya.


__ADS_2