Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 72 pemilihan ceo


__ADS_3

Sementara itu, disisi lain di tempat Herman.


Asisten Herman datang dengan tergopoh gopoh. Herman yang saat ini sedang menikmati secangkir teh terheran dengan kedatangan asistennya itu.


"T-Tuan!" Asisten Herman karena usia yang makin renta membuat dirinya yang berjalan agak cepat itu membuat nafasnya naik turun.


"Ada apa pagi pagi sudah membuat keributan." Herman melirik sekilas dan meminum tehnya secara perlahan.


Asisten itu sudah agak tenang setelah menarik nafas dalam. "Lihat ini." si Asisten menyerahkan i-pad miliknya kepada Herman.


Herman segera melihatnya. Banyak media masa yang saat ini sedang memberitakan ceo muda Adiyaksa group yang sering mangkir dalam pekerjaannya.


Dia juga dituduh menggelapkan uang pemerintahan. Sekarang dewan direksi beegejolak dan ingin mengganti ceo lama dengan yang baru.


Pasar saham juga menurun drastis. Perusahaan besar Adiyaksa group saat ini di ambang kebangkrutan.


"Apa yang terjadi!" Herman bersuara dengan dingin seraya membanting i-pad di atas meja.


"Tuan, Akhir akhir ini perusahaan memang tidak baik baik saja."


Herman terdiam dan menatap lurus, keningnya sedikit berkerut. "Bagaimana dengan Arsya?" tanya Herman.


"Tuan, Tuan muda juga menghilang seiring berita ini beredar. Tidak menampakkan wajahnya sama sekali."


Sekali lagi Asisten tua itu mengambil I-pad dan membuka laman berita.


Herman mengambilnya dan menyimak berita yang sedang berkembang.


"Dinyatakan jika saat ini ceo muda Arsya Adiyaksa sedang pergi jalan jalan bersama mantan istrinya keluar negeri seraya membawa dana pemerintahan. Saat ini pihak pemerintah mengerahkan pihak kepolisian untuk mencari keberadaannya dan bekerja sama dengan polisi luar negeri.


Selain itu ceo muda ini dikatakan selalu mangkir dalam kepemimpinannya. Padahal perusahaan belum benar benar stabil. Lagi dan lagi ceo muda ini selalu pergi seenaknya. Kali ini para dewan bergejolak dan menginginkan ceo baru. Dan dalam dua minggu ini dewan selalu berdiskusi."


Belum selesai berita itu di ulas, Herman meletakkan i-pad di atas meja.


"Dimana Arsya sebenarnya?" tanya Herman seraya menoleh sekilas.


"Sebenarnya tuan muda bersembunyi di vila yang lama, yaitu di gunung."


"Kenapa dia bersembunyi. Kenapa dia diam saja di saat berita itu bermunculan menyerang dirinya. Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Herman tidak mengerti.


Selama ini Herman yang mengajarinya sendiri hingga ia menjadi kuat dan hebat. Tapi kenapa setelah dewasa, Arsya seolah menjadi lembek.


"Tuan besar, saya semalam baru menyelidiki. Jika saat ini tuan muda terkena racun yang berbahaya. Danni dan yang lainnya berusaha mencari dokter hebat di seluruh dunia."


"Lalu apa hasilnya?"


"Belum ada dokter yang mau datang meski di tawarkan uang yang sangat tinggi."


"Kasihan sekali cucuku." Herman berubah ekspresi dengan kesenduan.

__ADS_1


"Tuan, saya juga sudah mengamati nona muda Anita." kata Asisten itu sehingga pria tua yang terlihat sedih kembali menaikkan padangannya menatap sang asisten yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa yang di lakukan Anita akhir akhir ini?" tanya Herman.


"Sebenarnya segala kerjaan nona muda Anita selalu menjiplak kertas gambar desaign tuan muda Arsya. Ia menjualnya dengan harga tinggi. Sehingga ia mulai berhasil menarik perhatian perusahaan lain dan bekerja sama. Agar di mata tuan besar nona muda sekarang sudah mulai berhasil dan menarik perhatian tuan besar." cerita asisten renta itu.


"Apa!" Herman terkejut dengan tutur asisten tua itu.


"Semua kebusukan nona muda Anita dapat dibaca oleh tuan muda Arsya. Tuan muda Arsya murka karena peringatannya tidak digubris sama sekali. Tuan muda Arsya mengambil alih perusahaan tuan muda Brian."


"Bagaimana dengan Brian?" tanya Herman penasaran dengan kelanjutan hidup Brian.


"Tuan muda Brian tinggal bersama nona muda Anita." kata Asisten itu memberi tau.


Herman terdiam begitu lama. Ternyata Anita tetap saja masih sama dengan tingkahnya yang dulu. Tidak pernah berubah. Justru merugikan perusahan secara besar besaran.


"Lalu bagaimana nasib saham yang dulu pernah aku berikan padanya?" Herman teringat kala itu memberikan saham kepada Anita sebanyak 5% karena ia merasa bersalah telah membiarkan putrinya itu berkeliaran di luar negeri. Dan karena dia kembali maka ia memberikan sahamnya begitu saja.


"Saham 5% itu di sumbangkan ke perusahaan tuan muda Brian di saat tuan muda Arsya akan mengakuisisi perusahaannya untuk menopang kelancaran perusahaan. Tapi nyatanya tetap saja tuan Arsya mengakuisisi perusahaan tersebut. Dan saham itu kini tidak berada ditangan nona muda Anita lagi."


Herman mengangguk. Ternyata selama ini Herman telah dibohongi kata manis dari Anita.


Keadaan makin sulit, berita itu terus bermunculan untuk mendesak Arsya.


"Kita kembali besok." putus Herman ketika melihat berita itu kembali.


"Baik tuan."


Danni di dalam ruangannya merasa gelisah. "Tuan muda, rapat akan di mulai sebentar lagi." kata Danni melalui sambungan telepon.


Terlihat Arsya hanya membuka matanya saja dan melihat Danni berwajah gelisah berada di layar ponsel.


"Kemungkinan tuan muda tidak memiliki suara lagi di depan para dewan. Media masa juga terus bermunculan dan memberitakan hal negatif tentang anda. Saya sudah mencoba meredam berita ini. Tapi penghujat itu terus bermunculan sehingga berita ini terus berkembang dan menjadi topik utama." kata Danni dengan gelisah.


Arsya tidak mempunyai tenaga lagi. Hanya mampu mengerutkan dahinya dan memicingkan matanya.


"Tuan, jika tidak ada keajaiban kita sudah diambang jurang." kata Danni mendesah prustasi.


Kini para dewan telah dikumpulkan di ruang aula rapat.


Tak berapa lama Anita datang bersama seorang pria muda dibelakangnya. Para dewan menengok ke arah pria yang berada dibalik punggung Anita dan ketika mereka memastikan itu adalah Brian mereka pun merasa senang.


Kebangkrutan perusahaan sangat mempengaruhi penghasilan mereka jadi harus menggantinya dengan orang yang tepat.


Anita mengambil duduk diringi Brian duduk di sebelahnya.


"Tuan Danni, para dewan sudah berkumpul tinggal menunggu anda." Merlin sang sekertaris mengingatkan.


Kini wajah Danni terlihat semakin cemas. "Hum, baiklah." kata Danni menyahut Merlin. Setelah Merlin pergi. Danni hanya bisa pasrah. "Tuan sebentar lagi rapat di mulai. Semoga Tuhan melindungi kita dan kita tetap berada di posisi yang harus kita pertahankan." kata Danni lalu memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


Mendengar perkataan Danni, Arsya mencoba tetap sadar. Dengan isyarat mata ia memerintahkan kepada pengawal untuk menyalakan layar komputer dan menyaksikan jalannya rapat. Bagaimanapun ia harus tau keadaan rapat.


Danni setelah memutuskan sambungan, ia berjalan menuju ruang aula rapat. Langkah kakinya seakan lemas. Tetapi ia tetap berdiri tegak setelah menghembuskan nafas panjang.


Dalam sekejap aula rapat menjadi hening. Danni duduk di kursi yang biasa ia gunakan.


"Kita mulai rapatnya. Silahkan!" Danni mempersilahkan untuk memulai rapat.


Para dewan saling melirik. "Silahkan para dewan." Merlin pun bersuara mempersilahkan.


"Pak Danni, Dalam beberapa waktu ini. Saham kita terus anjlok. Para kontraktor juga sudah tidak mau menggunakan jasa kita. Dalam pemerintahan tidak memiliki pendukung. Kita tidak mungkin membiarkan perusahaan terus seperti ini." celetuk Rudi.


"Itu benar. Jika perusahaan makin merosot sudah tentu itu akan sangat mempengaruhi penghasilan kita." lanjut Pak Andre.


"Jika dibiarkan, perusahaan akan bangkrut. Siapa yang akan menanggung hal ini semua." dewan yang lain ikut menimpali.


"Di luar, ada banyak berita yang bermunculan. Ceo kita selalu mangkir. Dan lihatlah hari ini. Ceo kita tidak dapat di hadirkan meski perusahaan sudah begini." celetuk dewan yang lainnya lagi.


"Apa benar dengan berita itu pak Danni? Coba kau jelaskan apa yang terjadi?"


Para dewan setuju dan pandangan mereka mengarah kepada Danni.


"Baiklah! Saya tegaskan lagi kepada para dewan yang hadir disini. Memang saat ini ceo berhalangan hadir. Yang kedua, berita itu tidak benar. Pak Ceo tidak pernah mangkir sama sekali. Selain itu dia tidak menggelapkan dana pemerintahan."


"Hah, Alasan!" celetuk Rudi tidak terima. Kini tatapan Danni mengarah kepada pak Rudi.


"Benar, jika memang semua itu tidak benar kenapa ceo hari ini tidak hadir dalam rapat ini. Seharusnya dalam genting seperti ini dia harus turun tangan dan menangani kasus ini. Bukan malah menghilang tanpa jejak." celetuk pak Agung.


"Benar."


"Benar."


Para dewan yang lain sangat setuju. Danni terdiam karena terus disudutkan.


"Begini saja." timpal Gagah ketika ruang rapat semakin memanas. Pandangan semua orang langsung tertuju padanya. "Kita harus mencalonkan ceo baru terlepas ceo lama yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang setuju dengan usulanku silahkan tunjuk tangan." kata Gagah mengambil suara.


Gagah melirik Anita, Disudut lain Anita mengangguk samar diiringi senyum seringai. Dia diam karena hal inilah yang ia tunggu.


"Bagaimana dengan pak Brian. Pak Brian adalah cucu dari tuan Herman yang sah selain tuan Arsya sendiri." kata Gagah.


"Itu benar."


"Benar."


Yang lain langsung membenarkan. "Silahkan para dewan memilih." kata Gagah.


Ruangan aula menjadi hening. Mereka saling lirik kemudian mengangguk.


"Saya setuju." Pak Agung yang utama menaikkan tangannya.

__ADS_1


Di sana pak Rudi juga menaikkan tangannya. "Saya juga setuju."


Akhirnya mereka ikut menaikkan tangannya dan memilih Brian sebagai Ceo baru.


__ADS_2