Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Dua


__ADS_3

Mobil Liumosin telah sampai di pekarangan hotel Royal. Arsya turun dan segera masuk. Sebelum pergi ia sudah diberitau oleh pengawal bahwa Linda berada di lantai 17 dengan nomer kamar 105. Arsya dan para pengawal menuju lantai tersebut.


Kembali lagi deringan telepon berbunyi. Ia melirik saku celananya tertera nama kakek di sana. Arsya mengerutkan keningnya. Sebulan ini, sudah lama tak bertemu kakek. Tapi dia menelepon di saat akan bertemu Linda. Jika tau tentang keberadaannya pasti ia akan dipukul.


Deringan telepon berdering hingga mati. Herman merasa kesal dan mengulang kembali panggilannya oleh Ferdi.


"Apa yang dia lakukan? Anak kurang ajar selalu membantahku." Herman tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ia mengumpat.


"Tenanglah tuan, mungkin tuan muda sedang dalam perjalanan bisnis jadi tidak bisa mengangkat telepon. Sekarang masih terlalu pagi jika memarahinya." Ferdi segera menenangkan.


"Sialan! Kamu tua bangka selalu membelanya." Ferdi tertegun. Kemudian ia menunduk dan merutuki kesalahannya.


"Tuan, saya salah. Maafkan saya." Ferdi memukul mulutnya dengan tangannya.


"Sudah, lebih baik cepat sajikan teh. Mungkin akan sedikit lebih tenang." Ujar Herman memberi perintah.


"Baik." Ferdi menghentikan pukulan terhadap mulutnya segera berbalik dan memerintahkan pelayan untuk menyajikan teh.


"Sepertinya sudah lama aku tidak santai seperti ini." Gumam Herman duduk di sebuah gazebo dan menatap bunga bunga lili yang mulai bermekaran indah ditaman.


Arsya sudah memasuki lift menuju lantai 17. Teleponnya kembali hening. Ia pun merasa sangat lega. Jadi ia bisa menemui Linda tanpa hambatan.


Pengawal itu seperti biasa mengawal di depan dan belakang. Saat sampai didepan pintu pengawal itu menyerahkan sekantong pakaian wanita. Arsya menerimanya. Kemudian pengawal itu mengulurkan tangan dan mengetuk pintu.


Linda sudah selesai mandi, mendengar ada ketukan pintu dari luar, ia tersenyum. Dengan wardrop persediaan hotel ia bergegas keluar dan melihat melalui celah pintu hotel.


Sungguh datang', Linda tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia merapikan handuknya dan menarik handuk itu kebawah memperlihatkan payudara yang montok.


"Selamat pagi." Linda tersenyum berseri seri seraya membuka pintu.


Arsya berdiri tegak dengan punggung membelakangi. Pengawal yang mengetuk pintu itu tertegun dengan penampilannya. Bahkan jakunnya naik turun karena terpesona dengan tonjolan didepan dadanya.


Pengawal itu hampir meneteskan air liur jika Arsya tidak menepuk bahunya, pengawal itu tersadar dan segera mundur kemudian menundukkan kepalanya.


"Arsya, kamu sungguh datang." Linda mengulurkan tangannya dan menarik lengan Arsya dan merangkulnya dengan lekat. Ia membawanya masuk ke dalam kamar hotel.


"Cepat ganti pakaianmu lalu segera pulang." Ucap Arsya datar.


"Ugh, baru saja sampai. Tapi kamu sudah ingin segera pergi." Linda merajuk dengan bibir mengerucut.


Arsya duduk di tepian ranjang, Dan Linda duduk bersandar di sampingnya dengan nyaman.


"Aku tidak bisa berlama lama, karena perusahaanku butuh orang disiplin. Jika aku tidak memulainya maka karyawanku akan mencemooh." Ucap Arsya menjelaskan.

__ADS_1


"Ya, aku tau. Kamu manusia paling rajin sedunia. Tapi tidakkah kau tau. Kau juga butuh hiburan. Jangan habiskan masa mudamu dengan bekerja terus menerus." Ucap Linda mencoba memberi hiburan.


"Hem, aku tau apa yang harus aku lakukan." Jawab Arsya.


"Ugh, ayolah sedikit saja." Linda naik ke atas pangkuan Arsya seraya mengedipkan mata. Bo*ongnya yang montok menggesek gesek pahanya dengan manja. Kedua tangannya melingkar di leher Arsya.


Arsya menekan keperkasaannya agar tetap tidur. Ia tak mempunyai nafsu jika berhadapan dengan Linda. Tapi Linda ini sungguh keterlaluan. Linda menggesek gesekkan bo*ongnya beberapa kali. Membangunkan sisi Arsya yang tertidur.


Tetapi prinsip Arsya, dia tak akan melakukan hal keji itu sebelum menjadi istrinya. Arsya segera berdiri.


"Brugh."


"Ugh." Linda meringis.


Arsya buru buru berjongkok. "Kamu tidak apa apa kan?" Tanya Arsya.


"Huhuhu, bo*ongku." Linda menangis dengan sedih.


Arsya merasa bersalah dengan tindakannya, tetapi tindakan Linda tadi, Arsya tidak bisa menahannya. "Ah, aku tidak bisa berdiri huhuhu." Linda berseru dengan air mata meleleh di kedua pipinya.


"Kamu ganti baju dulu, aku antar kerumah sakit. Tenanglah." Ucap Arsya membujuk Linda agar berhenti menangis.


"Antarkan aku ke kamar mandi, aku sungguh tidak bisa berjalan." Ucap Linda.


Tepat di saat Arsya menggendong Linda membawa masuk ke dalam kamar mandi, sebuah kamera diam diam memotret kejadian ini. Di dalam hati, Linda merasa menang.


"Ya."


Meskipun sikap Arsya dingin terhadap Linda, tetapi hatinya tetap menghangat terhadapnya. Linda tersenyum kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawakan oleh Arsya tadi.


Arsya duduk termenung, kejadian tadi mengingatkan dirinya semalam bersama Anna. Diam diam ia menyunggingkan senyuman. Sudah enam bulan dirinya menahan ego dan nafsunya jika bersama Anna. Demi mengalihkan egonya, ia hanya mampu mencium keningnya di saat Anna tak sadar.


Namun kesadarannya harus ia tarik kembali, saat suara yang familiar memanggil namanya dua kali. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


"Arsya!" Linda mengusap pipinya yang basah tatkala melihat Arsya memasuki kamar mandi.


"Ada apa?" Tanya Arsya seraya berjalan mendekat.


"Aku kira kamu pergi, jadi aku takut kamu meninggalkanku lagi." Ucap Linda.


Arsya mengangguk, kemudian membopong Linda keluar kamar. Pengawal yang berjaga didepan segera memberi hormat tatkala Arsya keluar. Kemudian mereka mengawal didepan dan belakang.


Sampai diloby, mobil mendekat. Arsya mendudukkan linda di kursi belakang dan ia juga ikut duduk di sampingnya. Para pengawal bergegas masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil beriringan pergi meninggalkan hotel royal. Arsya duduk tegak dengan tangan yang memegang i-pad. Linda yang duduk disampingnya mendekatinya, satu tangannya ia lingkarkan dilengan Arsya. Kepalanya ia sandarkan dibahu Arsya dengan nyaman.


Tetapi perlakuan ini Arsya merasa tidak nyaman. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hingga sampailah di sebuah rumah sakit dibawah naungan Adiyaksa group. Tepat di saat rombongan tiba di pekarangan rumah sakit para petinggi rumah sakit mengetahuinya, jadi mereka bersiap menyambut kedatangan mereka.


Arsya turun dari mobil seraya membopong Linda. Perawat segera maju dengan membawa kursi roda. Arsya mendudukkan Linda dengan hati hati di atas kursi roda.


"Presdir Arsya!" Kepala manager sendiri yang menyambutnya didepan pintu rumah sakit.


"Hem, kamu cepat periksa keadaannya!" Perintah Arsya.


"Baik." sahut kepala manager lalu mengedipkan matanya agar para staf segera bekerja. Perawat mendorong kursi roda Linda hingga memasuki ruangan IGD. Arsya berada diluar ruangan. Ke empat pengawal tetap berjaga disekitar rumah sakit.


Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan. Arsya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan mendekati.


"Presdir, Nona Linda tidak terjadi apa apa. Hanya butuh beberapa hari saja akan sembuh." Ucap dokter memberikan penjelasan.


"Oke, berilah dia ruangan VIP. Aku akan masuk menemuinya."


"Baik." Dokter itu segera mengaturnya.


Arsya masuk dan menemui Linda.


"Apa kata dokter?" Tanya Linda saat Arsya masuk.


"Hanya butuh istirahat. Kamu disini selama beberapa hari. Aku harus pergi ke kantor. Kamu istirahatlah, dokter yang akan menjagamu." Ucap Arsya.


Mendengar bahwa ia akan ditinggalkan Linda merasa tidak rela, ia mengulurkan tangan mencekal lengan Arsya.


"Jangan pergi!" Arsya mengerutkan keningnya.


Linda menundukkan kepalanya. "Disini aku sendirian, ayah dan ibuku tidak berada disini, aku sangat kesepian." Ujar Linda.


Arsya mengangguk. "Ya, aku tau! Tapi, aku masih mempunyai tanggung jawab besar. Kamu baik baiklah, sepulang kantor aku akan menjengukmu." Arsya menyingkirkan tangan Linda yang mencekal lengannya. Kemudian ia menepuk nepuk pucuk kepalanya dan berbalik pergi.


Setelah kepergian Arsya, Linda tersenyum. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


Di Vila kediaman Arsya


Anna terbangun karena seorang pelayan masuk dan membangunkannya. Saat bangun ia melihat sekeliling. "Apakah Arsya sudah pergi?" Tanya Anna.


"Iya nona, tuan muda sudah pergi sejak jam 6 pagi."


"Oh." Setelah itu. Anna segera mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Sampai di meja makan, seperti biasa Ricky yang akan menyambut dan mempersiapkan segala kebutuhannya. Saat makan, Ricky segera maju dan memberitaukan jika mulai hari ini akan ada les privat untuk nona mudanya. Dan Ricky juga membacakan segala jadwal yang akan dilakukan nona mudanya sejak bangun tidur sampai tidur lagi.


"Uh mengesalkan." Gerutu Anna saat mobil sudah melaju dijalanan raya yang mengantarkannya pergi ke sekolah.


__ADS_2