Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 41


__ADS_3

Ketika semua terasa buntu. Akhirnya Anita menemukan jika saat ini Perusahaan ayah Eli membutuhkan arsitek untuk membangun perusahaan cabang. Kali ini seolah Anita memiliki kesempatan besar untuk membuktikan kinerjanya.


Sekaligus dapat mengumpankan gadis itu masuk ke dalam perangkapnya. Anita memerintahkan kepada Arin untuk pergi mengambil gambar yang sedang dikerjakan Arsya.


Pada saat ini. Arsya sedang pergi menemui salah satu klien di luar kantor. Arin menyamar sebagai petugas kebersihan dan masuk ke dalam kantor Arsya. Dan dia menemukan sebuah gambar di dalam komputer yang saat ini akan diajukan kepada perusahaan West corp dalam membangun perusahaan anak cabang.


Dengan kecepatan kinerjanya, Arin segera menyalin gambar ke dalam komputernya. Setelah seratus persen. Ia mengembalikan komputer ke dalam posisi awal. Setelah itu Arin segera keluar dan melenggang dengan santai.


Salah satu pegawai OB tidak menyadari jika dia bukan pegawai. Dia hanya pergi memerintahkan untuk kembali membuatkan kopi pada salah satu karyawan di dalam ruangan divisi.


Arin mendengus, dan segera menolak permintaan OB itu. Dia beralasan jika saat ini lantai bawah butuh penanganannya untuk membersihkan lantai depan dengan segera apalagi dia mendengar sebentar lagi CEO akan segera kembali. Lantai terlihat licin pada akhirnya Pegawai OB itu segera memerintahkan pergi ke bawah.


Arin bernafas lega. Akhirnya dia bisa menghindari pagawai OB yang tak berguna itu. Dia segera keluar dengan pakaian hitam dan kaca mata hitam. Di luar Anita menunggu dengan was was. Namun saat melihat Arin keluar dengan selamat. Anita bisa bernafas dengan lega.


Mobil melaju dan Arin sudah dijemput dengan mobil berwarna perak. Mobil meninggalkan pelataran perusahaan Adiyaksa group. Tak ada satupun yang menyadari kedatangan mereka. Anita sudah tak sabar dan segera bertanya.


"Bagaimana?" tanya Anita.


"Berhasil nyonya. Aku sudah menyalin desain gambar yang akan di ajukan kepada West Corp. Dan ini gambarnya." arin menyodorkan chip kepada Anita.


Anita segera membuka laptop dan memasukkan chip itu ke dalam laptop. Dia melihat gambar itu dengan seksama. Hasil gambar milik Arsya ini sangat rumit, bahkan Anita tidak bisa melihat secara detail gambar milik Arsya.


Ia memijat pelipisnya. "Nyonya? Ada apa?" tanya Arin.


Anita menyodorkan gambar itu kepada Arin. "Jika kau tau coba jelaskan semua gambar ini?" Ucap Anita.


Arin mengerutkan dahinya. Ia juga tidak mengerti setiap gambar itu. Arin dengan tertunduk segera meminta maaf. "Maaf Nyonya, saya juga tidak mengerti."


"Sialan! Arsya sengaja membuat gambar rumit ini. Dan kau jangan bodoh. Segera cari orang untuk menjelaskan semua gambar ini." Ujar Anita dengan kesal.


"Baik Nyonya."


Disisi lain.


Arsya baru saja kembali dari pertemuannya dengan klien. Saat lift mengantarkannya sampai di lantai atas. Dia menyadari saat pintu ruangannya sedikit terbuka. Keningnya berkerut dan menoleh kepada Danni.


"Presdir. Ada apa? Kenapa anda tidak segera masuk?" Tanya Danni.


"Sebelum pergi, saya masih ingat jika pintu ini tertutup rapat. Kenapa setelah kembali pintu ini terbuka?" tanya Arsya.


Danni melihat pintu di depan presdir. "Saya akan bertanya pada pegawai disini?" Ujar Danni.


"Hem, pergilah."


Danni segera pergi. Sementara Arsya segera masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat sekeliling dan tidak ada yang mencurigakan. Semuanya terlihat masih rapi seperti sebelumnya. Namun, ia tetap harus waspada jika saja ada kamera micro di dalam ruangannya.


Pada saat ini Danni segera kembali. Dan segera melaporkan. "Tidak ada yang datang selain OB yang sedang mengepel lantai." Ujar Danni.


"Baiklah, mungkin aku terlalu cemas. Kau kembalilah bekerja."


"Baik." Danni segera keluar dan menutup pintu.


Segera setelah itu, Arsya membuka komputer dan melihat kembali kerjaannya. Dia teringat jika West Corp menginginkan gambar itu di rubah. Atau lebih tepatnya menambahkan beberapa ruangan. Jadi Arsya segera mengubah gambar itu dengan lebih terlihat efisisen.


Waktu tak terasa telah tengah malam. Arsya menyenderkan punggungnya yang lelah ke sandaran kursi. Ia segera mengambil ponsel miliknya dan melihat jam.


Jika di sini tengah malam, tentu saja di Amsterdam sudah pagi hari. Dia bergegas menekan nomer Anna. Segera sambungan tersambung dengan cepat.


"Anna!"


"Arsya! Ada apa. Aku sangat lelah. Kenapa kau pagi pagi sekali menelepon ku?" tanya Anna dengan beruntun.


"Tidak apa apa, aku hanya sedang merindukanmu."


"Ck. Arsya! Kenapa setiap kali kau berkata manis kepadaku terasa ada ribuan kupu kupu hinggap di perutku. Kau sangat menggelikan." Ujarnya dengan tertawa geli.


Arsya tersenyum hambar. "Apakah aku terlihat seperti badut yang lucu bahkan kau menertawaiku karena ucapanku?" kening Arsya berkerut.


"Ya. Kau adalah pria datar dan jarang sekali tersenyum apalagi berkata manis seperti ini. Sungguh berbeda sekali jika berhadapan dengan publik."

__ADS_1


"Ya. Karena semua yang aku lihat semuanya terasa membosankan. Sementara dengan kau, aku merasa kau sangat menarik."


"Sudahlah, simpan ucapanmu itu untuk besok. Kau pergilah istirahat. Aku akan pergi ke ladang. melanjutkan ekstrak parfumku. Sebentar lagi Mr, Anderson akan datang berkunjung. Jadi aku harus mempersiapkannya."


"Berita yang bagus. Setelah itu, aku akan segera menjemputmu."


"Ya baiklah."


Telepon terputus. Arsya meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memutar kursi eksekutifnya mengarah pada kaca. Tatapannya terarah pada gedung gedung yang menjulang tinggi dihadapannya. Pikirannya seolah sangat rileks.


Setelah beberapa saat ia pun bangkit berdiri dan mengenakan mantelnya barulah ia keluar dari ruangan kantor. Di ikuti Danni di belakangnya dan kemudian kembali pulang.


Disisi lain, Anita sudah mengerti bagaimana penerapan gambar milik Arsya itu. Ia tersenyum cerah dan akan segera melaksanakan tugasnya. Yang pertama ia akan pergi ke Amsterdam. Dan melakukan perjalanan bisnis, tetapi dalam hal itu tentu saja bukan untuk perjalanan bisnis saja. Seharusnya ada embel embel untuk berbelanja dan berrekreasi. Sudah sebulan ini, dia terlalu lama menganggur. Palingan jika bosan ia akan pergi berbelanja. Kalau tidak ada kerjaan dia menghabiskan waktu pergi ke bar.


Dan saatnya dia bisa ke luar negeri lagi tentu saja tidak akan melewatkan kebiasaannya untuk bersenang senang. Apalagi negara ini belum pernah ia kunjungi, pasti ada suasana berbeda di setiap momentnya.


Tepat di ke esokan harinya. Arsya sudah bersiap dengan satu koper pakaiannya. Di belakangnya ada Danni dan lima pengawal terlatih yang akan menjaganya.


Dua mobil sudah disiapkan. Arsya bergegas masuk dan satu mobil dengan Danni. Sementara ke empat pengawal lain berada di mobil belakang. Mereka bergegas menuju bandara dan akan kembali terbang menuju Amsterda.


Senyum cerah menghiasi wajah Arsya. Dia benar benar sangat merindukannya. Tak membutuhkan waktu lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai di bandara.


Arsya dengan segenap pengawal segera masuk ke dalam sambil menunggu proses jam penerbangan. Sementara Anita juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, ruangan tunggu mereka tidak sama. Anita memilih jam penerbangan dengan perjalanan piknik. Sementara Arsya melakukan perjalanan bisnis.


Tentu saja Arsya akan berada di kabin kelas bisnis. Sementara Anita berada di kelas VIP. Mereka berdua tidak akan bertemu satu sama lain. Namun Danni menyadari jika ada Anita. Ia memberitaukan kepada Arsya dengan berbisik pelan.


"Presdir. Aku menemukan nyonya Anita berada di kelas VIP."


Kening Arsya berkerut. "Hem, apa yang sedang dia lakukan?" tanya Arsya.


"Dilihat dari segi penampilannya, sepertinya nyonya Anita akan pergi piknik."


"Piknik? Memang wanita tua itu hanya bisa menghamburkan uang. Biarkan saja. Setelah sampai kau selidiki dengan jelas. Apakah dia benar piknik atau mempunyai tujuan lain."


"Baik."


Setelah masuk ke dalam kabin. Arsya segera duduk seorang diri di kelas bisnis. Kepalanya tertutup topi sementara telinganya tertutup dengan peredam suara. Ia memejamkan mata dengan santai dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Sementara kelima pengawal tetap bersiaga begitu juga dengan Danni yang tetap bersiaga.


Mereka tidak tau jika Arsya juga pergi ke Amsterdam. Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam di atas awan. Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di bandara internasional.


Anita dan segenap anak buahnya turun terlebih dahulu dan melakukan prosedur penurunan barang. Setelah selesai mereka menyewa mobil dan pergi ke hotel.


Sementara itu Arsya dan juga para pengawalnya melakukan perjalanan menuju ke tempat Anna. Kebetulan, arsya datang pada musim hujan. Saat tiba, hujan deras mengguyur kota itu. Saat sampai, pakaiannya terlihat basah kuyub.


"Anna!" Meskipun basah, Arsya tak bisa menahan perasaannya jadi ia membelah kota dan bergegas menemui Anna.


"Arsya! Kau kehujanan?" Anna mengambil handuk dan memberikannya kepada Arsya. Arsya menerimanya dan menggosok rambutnya yang basah.


"Aku tidak bisa menahannya untuk bisa bertemu denganmu." Ujarnya kemudian meletakkan handuk begitu saja di atas kursi. Lalu memeluk Anna dari belakang punggungnya.


Anna saat ini sedang membuat teh jahe hangat untuk Arsya. Saat Arsya memeluknya dari belakang ia tersentak kaget. "Pakaianmu basah. Nanti aku juga basah." ia mendorong tubuh Arsya lalu mengambil gelas dan meletakkannya di atas meja.


"Minumlah teh jahe ini akan menghangatkanmu." Ujarnya.


"Anna apa kau tidak merindukan aku juga ha?"Tanya Arsya tidak mau menyerah.


"Arsya, lebih baik kau segera mandi dan berganti pakaian. Nanti kau sakit." Anna tidak menjawab pertanyaan Arsya tetapi memerintahkan untuk segera mandi.


Arsya memonyongkan bibirnya. "Na!"


Anna tak menjawab selain mengambil handuk dan mendorong Arsya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa saat, wajah Arsya terlihat lebih segar. Dia juga sudah berganti pakaian. Lalu ia ikut duduk dihadapan Anna di kursi kayu.


"Arsya!" panggil Anna setelah beberapa saat.


"Hem." Sahut Arsya lalu mengambil gelas yang berisi teh jahe dan menyesapnya. Tubuhnya yang menggigil sedikit menghangat.


"Aku ingin tanya padamu?" Ucap Anna.


"Ya katakan saja." Jawabnya nampak tak acuh.

__ADS_1


"Kita sudah terpisah selama lima tahun hampir enam tahun. Menurutmu apakah pernikahan kita masih sah?"


"Tentu saja. Aku tidak pernah mengajukan perceraian ke pengadilan. Tentu saja kita masih sah pasangan suami istri." Arsya melipat kedua tangannya di atas meja.


"Tapi, semalam aku membaca sebuah artikel. Bagi pasangan yang pisah ranjang selama lebih tiga bulan. Dalam agama itu namanya sebuah perceraian."


"Aku tak percaya. Kita tetap sah sebagai pasangan suami istri." Arsya ngotot.


"Baiklah. Sesampainya kita di indonesia. Kita konsultasikan pada pemuka agama."


"Jadi kau setuju kembali kan?" Arsya mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya dengan senang.


"Eh, jangan terlalu percaya diri. Aku kembali karena ingin memastikan hubungan pernikahan kita. Takutnya kau memanfaatkanku sama seperti dulu." Ujarnya sesuai saran Leya. Pria ini patut di curigai.


"Manfaat. Anna. Keuntungan apa yang aku dapat jika memanfaatkanmu." tanyanya dengan geram.


"Apa kau lupa, kau selalu mengancamku dengan mengakuisisi perusahaan papa. Dan sekarang pasti ada makna di balik semua ini kan?" Alis Anna bertaut seraya menunjuk wajah Arsya dengan telunjuknya.


"Oke. Aku mengerti akan kecemasanmu. Tapi aku benar benar tidak memanfaatkanmu. Aku benar benar mencintaimu." Ujarnya menghela dan duduknya sedikit merosot.


"Aku tidak percaya." Jawab Anna.


"Apalagi yang harus aku buktikan kepadamu Anna! Umurku sudah tiga puluh tahun. Aku butuh pendamping hidup dan membina rumah tangga yang bahagia. Juga bersama anak anakku. Dan itu harus lahir dari wanita yang aku cintai." Ujarnya memastikan.


"Tapi tak semudah itu. Kau mengakui pernikahan kita yang masih sah. Sebelum kita sampai di indonesia dan memastikan kepada pemuka agama. Maka kita harus tidur terpisah." Ujar Anna.


"Baiklah. Jika pemuka agama itu menganggap pernikahan kita masih sah. Apakah kau masih tidak ingin tidur denganku?" Arsya merasa putus asa.


"Hanya sampai pemuka agama itu memastikan jika pernikahan kita masih sah."


"Jika tidak?" tanya Arsya menaikkan alisnya sebelah.


"Tentu saja kau harus mengurus perceraian secara hukum." Jawab Anna datar.


"Tidak bisa." Arsya melotot kepada Anna. "Jika tidak sah dalam agama. Kita harus menikah lagi. Dan aku akan mempersiapkan segalanya dengan meriah. Mengundang para wartawan dan kolega bisnis."


"Arsya! Kenapa kau selalu memikirkan perasaanmu sendiri. Kau menyebalkan!" Ujar Anna dengan cemberut.


"Aku tidak. Justru kau yang memikirkan perasaanmu sendiri. Sekarang di dalam perutmu ada bayiku. Jika terjadi apa apa pada bayi itu, kau bisa aku tuntut."


"Ck. Seperti itulah sikapmu Arsya. Selalu mengancamku. Jika seperti ini. Aku tidak mau kembali." Geram Anna membalas ancaman Arsya.


"Huft. Kau mengancamku balik?" Arsya menatapnya dengan kesal.


"Ya."


"Oke, aku mengalah. Sekarang apa yang kau minta?" tanya Arsya.


"Tentu saja timbal balik yang menguntungkan?" Anna tersenyum puas.


"Katakan!" Arsya hanya bisa menuruti permintaan Anna.


"Pertama, apapun yang terjadi. Kau tidak boleh mengakusisi perusahaan papa."


"Oke. Apakah masih ada yang kedua?" Jawab Arsya menyanggupi.


"Ya. Yang kedua. Aku baru saja menjalankan usahaku disini. Dan aku akan kembali setelah sukses."


"Jika seperti itu, yang kedua tidak diperlukan. Bagaimana denganku. Jika kau disini dan aku di sana. Tidak bisa. Kita adalah pasangan suami istri jadi tidak boleh terpisah satu sama lain." Jawab Arsya.


"Jika kau tidak mau, aku juga tidak mau kembali."


"Astaga, Anna. Aku benar benar tidak bisa jauh darimu. Terlebih banyak yang mengancam. Jika kau berada disini, aku tidak bisa melindungimu selama dua puluh empat jam. Dan aku juga tidak bisa meninggalkan perusahaanku begitu saja." Jawab Arsya gusar.


"Bagaimana lagi, aku juga tidak bisa pulang begitu saja. Terlebih kau bisa saja memanfaatkanku kapan saja." Ucap Anna merasa menang telak.


Arsya memijat pelipisnya. "Oke, kita bicarakan seperti ini dulu. Selanjutnya kita bahas lagi nanti. Yang penting kita pulang ke negara kita. Selama dua hari itu, aku akan mengirim orangku kemari dan mengurus ladangmu."


"Oke."

__ADS_1


Pada akhirnya mereka sama sama setuju untuk kembali. Hanya saja obrolan mereka berlanjut setelah kembali ke indonesia.


__ADS_2