Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
bab 74


__ADS_3

Mendengar suara tembakan dari luar Herman dan Asisten tua itu saling tatap. Bersamaan dengan itu sebuah langkah kaki terdengar tergesa. Seorang pria penjaga masuk tanpa mengetuk pintu.


"Tuan, gawat! Nyonya Anita bunuh diri." kata penjaga itu.


"Apa!" Herman berdiri tegak mendengar putrinya bunuh diri.


Si asisten menepuk punggung Herman. "Tuan, anda tenanglah."


Asisten itu memberikan air. Herman segera meminumnya.


*Sebelum kejadian*


Hati Anita mencelos kala semua kalimat yang ia dengar dari ayahnya. Ia mengulang kalimat perkalimat.


Ayah menyayangiku!


Ayah menyayangiku!


Tapi kenapa jika ayah menyayangiku, aku tetap saja bagai anjing yang menjijikkan.


Bahkan putrinya sendiri di tampar olehnya. Aku adalah putrinya tapi dia rela menghukumku dengan cara seperti ini.


Rasa kesal berkecamuk menguasai hatinya.


Ketika langkahnya tiba di depan pintu loby, secara tiba tiba ia berlari dan menarik pistol dari pinggang polisi.


Ia berdiri di depan menghadang.


Si polisi tertegun sejenak, hingga detik berikutnya mereka kembali sadar dan hendak maju. Tetapi Anita sudah mengeluarkan pistol dan diarahkan ke semua polisi.


"Jangan maju!" tegas Anita.


Si polisi tidak berani melangkah.


Anita menodongkan pistol ke depan dalam waktu lama.


"Ma.." Seru Brian dengan suara tertahan.


Anita berlinang air mata. "Brian. Mama sangat menyayangimu."


Si polisi menatap iba pada Anita.


Anita kemudian tertawa terbahak bahak dengan penuh deraian air mata. Menatap langit seperti orang gila.


Sedetik kemudian ia menghadapkan mata pistol pada kepalanya sendiri.


"Hidup ini tidak ada yang pernah menghargai, bahkan ayahku sendiri menyeretku ke dalam kegelapan. Ayah, Putrimu ini sangat mencintaimu. Hahahaha....."


Dor dor


Anita menembak kepalanya sendiri. Suasana menjadi tegang. Semua orang yang menyaksikan merasa ketakutan dan gemetar.


Anita terhuyung dan terjatuh ke atas aspal yang panas. Darah berceceran keluar dari kepalanya.


Bugh


"Mamaaaaa!" Brian menjerit dan berlari dengan tangan diborgol kuat. Dia menangis tersedu.


Hari itu hujan rintik mulai berjatuhan seolah dunia tau.


Herman akhirnya tiba di lantai bawah. Ia melihat pelataran Adiyaksa group yang berubah warna menjadi darah. Hatinya bagai tersayat pisau. Sangat menyakitkan. Di sampingnya asisten tua menahannya.


Semua berkabung dalam keheningan.


Sementara Arsya pun menangis pilu melihat melalui video yang terputar di layar di hadapannya.

__ADS_1


Padahal jika saja Anita mematuhi hukuman yang berlaku, ia masih bisa hidup bahagia di masa depan. Menyaksikan putranya dan melihat kebahagiaannya sendiri.


Arsya bisa saja mencabut segala tuntutannya jika Anita mau bertobat. Tapi bagai nasi yang menjadi bubur. Anita memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Polisi menyeret paksa Brian. Sementara tubuh Anita akan dibawa pulang.


Di kediaman tuan besar tubuh Anita tergeletak di dalam peti. Dia di tata begitu cantik.


Arsya menyeret tubuhnya untuk bisa hadir di pemakaman bibinya.


"Arsya!" Herman melihat cucunya yang didorong masuk menggunakan kursi roda. Wajahnya terlihat pucat dan tatapannya terlihat sayu. Bibirnya mengering dan pecah pecah.


Arsya memaksakan senyuman. "Bagaimana kau kemari?" tanya Herman.


"Kakek!" Arsya menampik kekhawatiran sang kakek. Ia berusaha kuat.


"Aku baik baik saja." sahutnya.


Kini Herman dan Arsya berada di belakang rumah. Duduk bersama menikmati momen kebersamaan mereka yang lama tidak terjalin.


"Maafkan kakek!" Setelah lama hening Herman bersuara lebih dulu. Semua kejadian yang sedang terjadi ini karena kelalaiannya.


"Kakek!" Arsya menangkap tangan kakek yang berada di atas meja.


"Jika saja hari itu aku tidak iba dengan Anita mungkin semua kejadian ini tidak akan terjadi." Herman menyesali perbuatannya dulu.


Arsya menggeleng pelan. "Itu sudah berlalu."


Herman tersenyum miris dan memandang Arsya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Herman dengan tatapan sendu.


"Lebih baik." jawab Arsya.


"Kakek tidak tau jika Anita memiliki dendam kepadamu dan melakukan hal jahat. Semua ini salah kakek." Herman menyalahkan dirinya.


Arsya mendesah panjang. Ia tidak bisa berucap dalam kalimat panjang. Jadi hanya terdiam dan menepuk nepuk punggung tangan yang terlihat berkeriput itu.


Pria renta itu keluar dan menemui tamu yang hadir dalam pemakaman Anita. Meski Anita memiliki identitas penjahat tapi karena Herman adalah tokoh besar tentu mereka menghargainya.


Banyak kalangan atas yang hadir.


Di sudut ruangan Arsya hanya bisa menyaksikan.


"Tuan, Ferdi hampir saja dibunuh oleh anak buah Anita." lapor pengawal dengan berbisik pelan.


"Hum." Arsya mengangguk.


"Sekarang kami menahan Ferdi di gudang." lanjut pengawal.


Hari semakin sore. Raga Anita dibawa ke pemakaman keluarga Adiyaksa untuk di makamkan. Di sana tampak makam Ayah Arsya. Terlihat terawat dan fotonya tetap bersih.


Raga Anita di makamkan di samping makam ayah Arsya.


Semua pelayat pergi satu persatu. Kini tinggal Herman dan asisten tua bersama Arsya dan para pengawalnya.


Herman mengelus pusara Anita. Kemudian bangkit berdiri.


"Kakek pulang dulu." kata Kakek berpamitan.


Arsya mengangguk. Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk bersuara.


Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah pusara sang ayah yang telah lama meninggal.


"Ayah, Bibi semoga dosa kalian di ampuni sama yang kuasa. Aku hanya mampu mendoakan. Semoga kalian bahagia di alam sana. Selamat tinggal." ungkap Arsya di dalam hati. Kemudian pria itu berbalik pergi dan meninggalkan pemakaman.


Hari berlalu begitu cepat. Brian ditahan di kantor polisi dengan begitu banyak dakwaan. Dia terjerat hukuman lima tahun penjara.

__ADS_1


Semuanya berjalan normal seperti biasanya. Hanya saja tubuh Arsya masih saja lemas. Racun ditubuhnya belum dapat di tuntaskan. Hanya menggunakan obat obatan untuk menghalau penyebaran.


Semua urusan kantor diserahkan kepada Danni.


Di gudang.


Ferdi tampak tidak bersemangat. Sebelum hari di mana Brian pergi ke kantor bersama Anita. Pria itu lebih dulu menghadangnya.


Saat itu Anita marah karena ia sedang mengejar waktu. Karena kesal Anita keluar dari dalam mobil.


"Ada apa kau menemuiku lagi. Bukankah uangnya sudah aku berikan kepadamu." kata Anita sinis.


"Nyonya, bukan itu. Sesuai janji yang pernah anda lakukan sebelumnya. Anda akan memberikan penawarnya. Dan hari ini anda akan diangkat sebagai ceo sesuai dengan rencana anda. Anda seharusnya menepati janji." kata Ferdi.


"Cih, janji apa. Aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu."


"Nyonya! Jika anda bertindak seperti ini. Saya bisa memutar balikkan fakta. Saya akan mengatakan kepada media tindak kejahatan yang selama ini anda lakukan." kata Ferdi meraung.


"Coba saja jika kau berani." Anita melirik ke samping.


Dan para pengawal segera menodongkan pistol ke arah Ferdi.


Tetapi Ferdi merasa gentar akan hal itu. Nyawanya tidak berarti baginya.


"Coba saja anda membunuh saya. Nyawa saya tidaklah berarti." kata Ferdi tegas. Anita merasa kesal. Ia melirik ke arah pengawal karena sebelumnya Ferdi sudah menyiapkan sebuah video yang akan di unggah. Itu adalah video kejahatan Anita selama ini. Asalkan video ini diunggah ke publik tentu itu akan mempengaruhi kehidupannya. Lambe turah dan lambe nyinyir sekarang sangat menakutkan untuk sekedar menghujat.


Anita merasa kesal.


"Apa maumu?" tanya Anita sinis.


"Obat penawar. Sesuai kerja sama di awal." kata Ferdi.


Anita mengambil tas dan merogoh beberapa obat penawar.


"Berikan obat itu sehari satu kali dalam seminggu. Dan ini adalah obat terakhir. Obat ini akan memiliki reaksi panas." kata Anita lalu memberikan semua obat penawar itu.


"Sesuai harapan!" gumam Ferdi.


Anita lekas masuk mobil dan pergi menuju ke perusahaan. Iring iringan mobil melaju meninggalkan Villa.


Ferdi tersenyum lega.


"Tuan, semoga dengan obat ini. Nyawa anda segera tertolong." gumam pria itu lalu memasukkan ke dalam saku celananya.


Ferdi berjalan keluar dari halaman Villa. Tak berapa lama terdengar ada suara tembakan dari arah belakang. Ferdi terkejut.


Pria yang tengah mengenakan hodie hitam itu berlari dan bersembunyi.


Srett


Ferdi merasa linglung ketika ada sebuah gerakan yang menarik tangannya.


"Derri!"


Deri tampak tersenyum.


"Satu nyawa adalah berharga bagi kami. Kau tetap saudaraku." kata Deri.


Ferdi berkaca kaca mendengar kalimat itu. Meskipun dia telah berhianat tapi bagi mereka adalah tetap saudara.


Dor dor


Terdengar suara tembakan dari arah belakang.


"Ayo pergi."

__ADS_1


Deri dan Ferdi lekas pergi bersembunyi dan menyelamatkan diri.


__ADS_2