
Disiang hari semua keluarga berada di rumah. Apalagi ini adalah minggu. Hanis dan Anna berada di dapur.
"Ma, lagi masak apa? Aku bantu?" Ucap Anna seraya masuk ke dapur. Memperhatikan Hanis yang berada di dapur ia pun ingin tau sedang memasak apa.
"Ya, ini sedang memasak pangsit rebus. Saat Linda membawanya, aku berpikir ini kesukaan Arsya saat kecil dulu. Jadi berinisiatif membuatnya. Kamu boleh mencobanya." Ucap Hanis.
"Terima kasih ma." Ucap Anna. "Aku mulai dari mana?" Lanjut Anna bertanya.
Hanis mengajarinya dengan telaten. Anna pun langsung bisa mempraktekannya meskipun bentuknya tak seindah buatan Hanis. Tapi ini juga sudah bagus.
Anna merasa sedih, karena pangsit rebus miliknya tak sebagus buatan Hanis. Hanis segera membujuknya.
"Tidak apa apa, lain kali jika terus belajar pasti akan menjadi bagus lagi." Hanis menepuk nepuk tangannya dengan pelan.
Anna hanya tersenyum, sungguh indah bisa bersama seperti ini. Ia menjadi terharu. Dan kenangan ini tak akan pernah ia lupakan.
Hidangan pun sudah siap, Para pelayan segera menatanya di atas meja makan.
"Ma, aku ke atas dulu ganti baju." Pamit Anna.
"Ya." Jawab Hanis.
Anna segera menaiki tangga menuju kamar utama. Setelah berada di dalam kamar, Arsya sedang berada di balkon sedang bertelepon. Anna tidak menghiraukan keberadaan Arsya yang entah sedang bertelepon dengan siapa. Anna segera masuk ke dalam kamar mandi.
Seusai mandi, Anna sudah keluar dengan pakaian ganti yang lebih santai. Bersamaan itu Arsya juga masuk ke dalam kamar. Mata mereka saling bersitatap dalam sedetik. Tetapi Anna segera menolehkan kepala dengan dingin lalu melewatinya begitu saja.
Arsya segera menangkap lengannya. Langkah Anna terhenti. Mereka saling membelakangi.
"Ada apa?" Tanya Anna dengan dingin.
"Kamu jangan bergaul dengan lelaki itu. Dia tidak baik." Ucap Arsya memperingatkan. lalu membalikkan tubuhnya.
Anna menghela nafas. Dia slalu mencampuri hidupnya. Dia sangat malas karena hal ini mereka akan berakhir saling mendiamkan. "Ckckck. Kenapa? kamu cemburu lalu menjelekkannya didepanku."
"ANNA!" Teriak Arsya dengan marah. Sudah berkali-kali Arsya memperingatkan tapi Anna selalu menentangnya. Kesabaran Arsya kian habis. Dia memaksanya untuk saling berhadapan.
Anna tersenyum sinis. "Kenapa aku tidak boleh bergaul dengannya. tetapi kamu sendiri bergaul dengan Linda bahkan kalian saling berciuman. Kamu ini sejak dulu selalu egois." Ucap Anna menggebu.
Arsya langsung menarik tangannya hingga Anna masuk ke dalam pelukannya. Tangan kirinya memegang erat pinggangnya sementara tangan kanannya menarik dagu Anna agar menatapnya.
Sepasang mata itu sangat tajam bagai Elang yang siap menerkam. Tatapan Arsya semakin tajam dan dalam seolah dia adalah dewa kematian.
Sementara Anna adalah makanan yang siap dimakan. Melihat wajah Anna yang seputih salju mampu memporak porakkan hatinya. Arsya memindai wajah Anna yang sedekat cahaya bulan. Matanya yang indah selalu menenggelamkan. Bibirnya yang merah muda sangat menggoda.
Tiba tiba jantung Arsya semakin berdegup kencang. Tunggu! Dia seperti mengingat seseorang. Dia mempunyai mata sama persis dengannya.
__ADS_1
Tangan Arsya segera mendorongnya hingga Anna mundur dua langkah.
"Cih." Anna tertawa mengejek. "Arsya, hubungan kita hanya tinggal sembilan bulan. Kamu tak perlu menghalangiku dengan siapa, aku juga tak akan menghalangimu dengan siapa. Karena setelah berpisah, aku tak akan bergantung lagi denganmu."
Setelah mengatakannya Anna berlalu pergi. Arsya menekan dadanya yang terasa sakit. Lalu bergegas menuju laci di meja nakas lalu membukanya. Ia mengambil obat itu dan menelannya.
Perlahan degupan jantungnya sudah merasa lebih baik. Keringat yang muncul di dahinya sebesar biji jagung ia seka dengan lengannya. Tatapannya beralih ke arah pintu yang tertutup. Kenapa dia kembali dengan sosok lain?
***
Wajah Anna yang terlihat muram berganti dengan senyuman ceria. Ia menuruni tangga dan masuk ke ruang makan. Hanis sudah duduk menunggu anak anaknya untuk bergabung. Lalu makan siang bersama.
"Mana Arsya?" Tanya Hanis ketika Anna turun sendirian.
"Mandi ma, bentar lagi juga turun." Jawab Anna lalu duduk di samping kiri. Hanis hanya mengangguk.
Tak berapa lama Arsya sudah bergabung di ruang meja makan. Dan mereka melakukan makan siang bersama. Hanis merasa senang dan membuka mulutnya untuk berkata.
"Hari ini adalah hari libur. jarang jarang kalian bisa berkumpul bersama. Arsya, ajaklah istrimu jalan jalan sesekali." Ucap hanis.
"Ma, aku sibuk. Masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan." Arsya menolak dengan lembut.
"Ayolah Arsya. Aku jarang sekali melihat kalian berdua bersama. Ini adalah waktu yang tepat untuk me time. Jangan memaksakan diri untuk bekerja. Sesekali berlibur tak apa."
"iya ma." jawab Anna patuh.
Seusai makan Anna segera pergi ke kamarnya. Ia pun berganti pakaian dengan rapi. Lalu menuruni tangga dan menunggu Arsya yang juga sedang berganti pakaian.
Saat Anna sedang menunggu, Hanis mencebikkan bibirnya karena kesal dengan putranya yang tak segera turun padahal hari sudah hampir sore.
Baru satu tangga yang ia pijak, Arsya sudah keluar dari kamarnya. "Eh, mau disusulin akhirnya keluar juga." Ucap Hanis.
Anna yang awalnya sedang menonton televisi segera mendongak. Ia sangat terpana dengan penampilan yang menurutnya sangat santai. Kaos putih yang di padukan dengan kemeja kotak kotak berwarna navi sedangkan bawahannya sendiri adalah celana pendek berwarna putih.
Arsya terlihat sangat tampan dan memukau. Anna sampai menganga saat melihatnya. Arsya yang merasa terus dipandangi tersenyum tipis.
"Air liurmu hampir menetes." Ucap Arsya saat dia sudah berada dihadapan Anna.
Tanpa sadar Anna menyeka sudut bibir dengan lengan kanannya. Dia terlalu polos untuk bisa dibohongi. Arsya tertawa kecil. Gadis didepannya terlalu lucu dan menggemaskan.
Saat merasa di bohongi, Anna segera memutus gerakannya lalu menatap tajam ke arah Arsya.
"Eh, enak aja. kamu kibulin aku." Anna ingin memukul Arsya.
Namun sebelum pukulan itu sampai ditubuhnya, Arsya sudah menghindar. "Ayo cepat pergi keburu malam." Ucap Arsya dengan santai.
__ADS_1
Lalu menarik tangan Anna keluar Villa. "Ma, aku pergi dulu." Ucap Arsya berpamitan.
"Dah ma." Anna melambaikan tangan ke arah Hanis dengan satu tangannya yang menganggur.
Hanis membalas lambaian Anna dan mengangguk tersenyum. Kali ini Arsya meminta kepada pengawal untuk tidak mengawal hari ini. Dia akan pergi berdua dengan Anna. Dan menyetir sendiri.
Di sepanjang perjalanan keduanya saling terdiam. Seolah sedang terjadi perang dingin. Anna lebih baik melihat keluar jendela sementara Arsya tetap fokus dengan jalanan.
"Kita pergi kemana?" Tanya Arsya memecah keheningan.
"Terserah." jawab Anna.
Arsya melajukan mobil mewahnya membelah jalanan. Kebetulan dihari libur seperti ini tidak terlalu banyak kendaraan sehingga ia bisa leluasa mengemudikan mobil dengan relaks.
Arsya menghentikan mobilnya setelah sudah sampai di tempat tujuan. Anna melihat sekitar melalui kaca dari dalam mobil. Lalu mengikuti Arsya turun dari mobil.
Terdengar deburan ombak dari arah sebrang, ia menolehkan kepala bahwa itu adalah pantai. Seketika angin menerjang rambutnya yang tergerai indah menutupi wajahnya dan rok selututnya melambai lambai mengikuti arah angin.
Anna segera berlari ke arah pantai. Arsya yang tadinya sedang menerima telepon segera menutupnya.
"Oke, saya tutup dulu." Setelah mengatakannya ia mematikan telepon dan menyimpan ke dalam saku celana.
Anna berlari ke sana kemari seolah mengejar ombak, tawanya terdengar riang seakan tanpa beban.
Arsya berjalan ke arahnya. Anna yang melihatnya segera menghampiri.
"Ayo buat istana pasir." Ucap Anna sembari menariknya. Ia menyerahkan wadah beserta skop kecil.
Anna segera berjongkok dan memulai membuat istana pasir. Sementara Arsya selalu gagal menuangkan pasir yang sudah ia bentuk, Alhasil pasir istana yang ia buat penyok sebagian.
Anna menertawakan hasil akhir yang dibuat Arsya. Tanpa terasa hari semakin sore.
"Ayo pulang sudah hampir gelap."Ajak Arsya menyudahi permainan mereka.
"Tunggu sebentar, disini kita bisa menyaksikan sunset. Aku sudah lama tidak melihatnya. tunggu sebentar lagi." Ucap Anna.
Arsya menghembuskan nafas panjang. Lalu mendekati Anna yang sudah duduk di atas pasir dengan beralaskan sandal yang ia pakai.
Tepat jam Lima, Anna memandangi sunset dengan rasa kagum. Wajahnya yang putih memancarkan cahaya keemasan karena pantulan cahaya matahari. Anna memandangi sunset dengan tersenyum lebar bahkan terlihat berseri seri.
Arsya yang sedang duduk di sampingnya merasa itu adalah hal biasa, Saat menoleh ke arah samping ia tanpa sengaja memandangi wajah Anna. Ia tampak lebih cantik, rambutnya yang hitam menari nari dibelakang.
Ini adalah pemandangan yang lebih indah dari pada sunset. Sesekali Anna akan membuat gerakan menyelipkan anak rambut yang mengenai wajahnya. Diam diam Arsya tersenyum tipis.
Meskipun mulutnya selalu tajam dalam berkata, tetapi di dalam hatinya ada rasa yang tak bisa ia jelaskan. Kebaikan Anna selalu terpampang nyata di hadapannya sehingga ia tak mampu untuk berkata.
__ADS_1