
Sampai di luar pagar, Erka dan Anna saling menarik nafas panjang. Mereka begitu terengah saat berjuang melewati pagar. Keadaan di luar pagar sangatlah gelap. Hanya ada sisa lampu yang menerobos melalui celah celah dedaunan.
"Aih, tasku." Anna menepuk dahinya karena ia melemparnya ke halaman depan.
"Makanya sebelum bertindak kau harus tanya padaku dulu." kesal Erka.
"Mana aku tau jika kau akan menjemputku dengan cara seperti ini." Anna mencebikkan bibirnya.
"Sudahlah. Kau itu dari dulu bodoh. Makanya kau di akalin Arsya."
"Sial, kau mengejekku."
"Bukan! itu supaya kau sadar. Sekarang kita harus cari jalan sebelum mereka sadar jika kau menghilang." Ujar Erka. Kemudian menggenggam tangan Anna untuk sampai di jalan raya.
…
Kedua manusia itu berjalan di tengah hutan. Dengan minim cahaya Mereka terus menapakkan kakinya agar sampai di jalan raya.
"Sial, kenapa kau memilih jalan seperti ini." Ujar Anna kesal.
"Kau diamlah. Masih untung aku mau membantumu. Hanya ini cara satu satunya bisa keluar dari Villa. Banyak bawahan Arsya yang tak terhitung jumlahnya menyebar di seluruh jalanan dan dalam Villa. Apa kau tak pernah sadar juga." Marah Erka.
Anna tak membalas ucapan Erka selain terus mengikuti langkah Erka. Jam berputar sudah hampir pagi. Setelah sekian lama berada di dalam hutan, akhirnya ia menemukan sebuah rumah tua yang kosong.
"Erka, lihat." Anna menunjuk sebuah rumah itu.
"Jangan!"
"Hah, kenapa?" tanya Anna.
"Dengar dari orang. Ada rumah kosong di tengah hutan. Dan rumah itu adalah rumah pembantaian. Entah siapa orang itu. Aku juga tak tau, lebih baik kita menghindari hal hal yang tak diinginkan. Kau cepat ikuti aku."
Setelah berkelana semalaman, akhirnya Erka dan Anna bisa keluar dari hutan. Di balik hutan itu ada sebuah kota, untuk sementara mereka berdua tinggal di sana.
…
"Tuan muda. Nona kabur lagi." lapor Rendi saat menemukan sebuah tas besar di halaman.
Arsya yang sudah mengenakan setelan rapi mengerutkan keningnya.
"Cek semua cctv."
"Baik."
Selesai menghabiskan sarapannya Arsya menaiki tangga. Saat berada di tengah tangga berpapasan dengan Linda yang baru saja bangun. Arsya melirik linda melalui sudut matanya.
__ADS_1
Linda tersenyum manis. "Arsya!"
"Pergilah sarapan. Sebagai ibu hamil kau harus menjaga kesehatanmu." Ujar Arsya menasehati.
"Ya." setelah mengatakannya Arsya naik ke lantai dua.
Linda menuruni tangga dan Elsa yang akan menjaganya. Saat Arsya membuka pintu kamar yang biasa di tempati Anna. Kamar itu memang sudah kosong. Ia mencari petunjuk bagaimana Anna keluar dari Villa itu.
Sebuah dokumen perceraian berada di atas nakas. Arsya mengerutkan keningnya. Sebelumnya ia tak pernah mengirimkannya surat cerai itu. Karena ia sama sekali tak berniat menceraikan Anna.
Setelah mengecek beberapa cctv, Rendi tak menemukan jejak nona mudanya keluar dari Vila. Ia kembali mencari Arsya. Rendi menaiki tangga menuju lantai dua. Saat melihat pintu kamar tamu terbuka Rendi mengetuk pintu.
Arsya melirik dari sudut matanya. "Bagaimana?" Tanya Arsya tanpa memandang Rendi.
"Tidak ada jejak di kamera cctv." sahut Rendi.
Arsya mengangguk dan melihat keluar jendela. Rendi pun ikut melihat ke arah yang sama. "Atau nona muda melompat melalui pagar."
"Kemungkinan seperti itu." Jawab Arsya datar.
"Di balik hutan ini ada kota tua. Haruskah saya pergi ke sana mencarinya?" tanya Rendi.
Arsya meremas ujung dokumen surat perceraiannya. Ia terus menatap keluar jendela. "Tidak perlu. Kau pergilah." Ujar Arsya.
"Baik." Rendi segera undur diri.
*
Di kota tua, Anna dan Erka sama sama tertidur di dalam rumah tua. Karena semalaman tidak tidur jadi menghabiskan seharian ini untuk istirahat. Saat bangun hari sudah malam.
Anna segera keluar dan menemui Erka yang ternyata sedang duduk meminum teh bersama koh Aceng.
"Erka." Ujar Anna.
"Koh pergi dulu. Kau anak muda bersantailah." ucap koh Aceng. Erka mengangguk. Koh Aceng menepuk bahu Erka dan pergi.
"Ada apa?" tanya Erka saat Anna berjalan mendekatinya.
"Aku lapar." Ucap Anna.
"Di dapur ada beberapa sayur. Kau bisa masak?" Tanya Erka. Anna menggelengkan kepala.
"Ugh. Apa yang kau bisa." Erka mencibir tapi tetap beranjak dan menuju dapur.
"Bisa makan."
__ADS_1
"Dasar." Ujar Erka.
Erka mencari bahan sayur apapun yang bisa ia masak. Dengan jemarinya yang terampil ia membuat capjai sayuran. Setelah matang segera menyajikan ke atas meja. Uap yang mengepul membuat perut Anna semakin lapar.
"Ayo kita makan." Ujar Erka. Dua piring telah siap berada di atas meja. Anna mengambilnya ke atas piring dan memakannya.
"Enak sekali. Kau terampil sekali dalam memasak." Anna segera memujinya.
Erka melirik Anna dan kembali memasukkan sesuap makanan. "Sudah terbiasa hidup sendiri." balas Erka.
"Oh." Anna menganggukkan kepala.
"Kau sudah keluar dari Villa Arsya, sekarang apa rencanamu?" Tanya Erka memandang Anna.
"Pergi keluar negeri, tapi sebelum itu aku harus bertemu papa dan mama." ujar Anna. Erka mengangguk. Selesai menghabiskan makanan Anna segera merapikan piring dan mencucinya.
"Baiklah, kau istirahatlah. Besok pagi kita pergi sama sama ke Bena." ujar Erka.
"Erka!" Erka segera berbalik dan memandang Anna. "Terima kasih." Ujar Anna seraya berkaca kaca.
"Hem, kau adalah adikku, bagaimanapun aku akan tetap membantumu." ujar Erka. Anna mengangguk.
Erka memesankan tiket menuju Bena, jadi saat pagi hari mereka akan langsung berangkat.
Di Villa kediaman Arsya.
Hari sudah kembali larut. Ia baru saja kembali dari perusahaan. Ia masuk ke dalam kamar tamu dan melihatnya sebentar hingga suara Linda memanggilnya ia baru keluar dari kamar itu.
"Arsya! Kau dimana?" Lirih Linda. Ricky bilang jika Arsya sudah kembali. Jadi Linda ingin segera menemuinya.
"Ada apa?" Arsya berdiri tegak di depan pintu kamar tamu. Meskipun hati Linda merasa kesal tetapi ia tetap tersenyum manis.
Linda berjalan pelan lalu menggandeng lengan Arsya dengan kepala ia sandarkan di bahu Arsya.
"Bayimu ingin kau menyentuhnya." Ujar Linda dengan manja. Arsya menghentikan langlahnya, ia sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya di perut Linda yang masih terlihat rata.
"Ada apa sayang. Jangan membuat mami capek. Kau baik baiklah di dalam." Ujar Arsya seraya mengelus perut rata Linda. Linda tersenyum senang.
"Iya, papi." Balas Linda dengan suara anak kecil.
Arsya kembali berdiri tegak setelah berbicara dengan baby yang berada di dalam perut Linda. "Aku akan mandi terlebih dahulu. Tunggu aku sepuluh menit."
"Oke, aku akan tunggu di ruang makan."
Linda melihat punggung lebar itu masuk ke dalam kamar. Ia berbalik badan dan menuruni tangga menuju ruang makan. Semua pelayan sudah menata hidangan di atas meja dengan rapi. Tak ada sedikitpun pelayan yang berani menatapnya. Mereka menundukkan kepalanya dalam dalam.
__ADS_1
Linda menyunggingkan sudut bibirnya kemudian Elsa menarik kursi. Linda duduk di sana dengan angkuh dan arogan. Ia kembali menatap satu persatu pelayan itu membuat para pelayan sangat ketakutan. Linda selalu memperlakukan orang dengan tidak baik. Apalagi di saat moodnya sedang memburuk. Mereka sering kali mendapatkan pukulan besar jika saja melakukan kesalahan sedikit saja.