
Kaki Arsya melangkah menaiki tangga. Wajahnya terasa lelah. Ini sudah jam 2 dini hari. Sampai di kamar utama, senyumnya langsung terbit ketika melihat sebuah gundukan di atas ranjang. Dengan pelan ia melangkahkan ke sana. Menyibak sedikit selimut hingga terlihat sedikit wajahnya. Kemudian ia mencium kening itu sekilas.
Arsya lanjut pergi ke dalam kamar mandi. Membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat. Sepuluh menit berlalu. Selesai berganti pakaian tanpa rasa curiga langsung pergi tidur dan merangkul pinggang gadis itu dengan erat.
Anita masih berada di Amsterdam menikmati secangkir kopi dengan pandangan lurus ke depan menatap bangunan tinggi di depannya. Ia tersenyum puas kala Eli tengah tergoda akan tawarannya.
Terdengar deringan telepon berbunyi keras. Arin selaku asisten Anita melihat layar telepon. Lalu mendekat dan berbisik pelan. Senyum Anita mengembang dan menerima ponsel segera mengangkatnya.
"Halo."
"Nyonya, saya sudah melaksanakan perintah anda. Istri tuan Arsya kami sekap di rumah tua."
"Hahhaa....bagus sekali. Biarkan dia di sana. Jangan lupa beri dia makan."
"Baik nyonya." Sang pengawal segera menutup telepon. Lalu memberikan ponsel itu kepada Arin.
"Sepertinya rencana Nyonya berhasil." Arin menerima ponsel sambil memuji.
Anita masih tersenyum. "Ini belum sepenuhnya berhasil. Sebelum perusahaan itu benar benar jatuh ke tanganku maka aku akan terus mempermainkannya. Biarkan dia sibuk dengan kebucinannya. Dia juga tidak tau siapa wanita yang ia pelihara di rumah itu."
Arin tersenyum kemudian berlalu pergi.
Malam berangsur angsur mulai pagi, Arsya terbangun tepat ketika jam lima pagi. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, bersiap siap dan pergi ke kantor jam enam pagi. Dia tidak memperhatikan si wanita yang masih terus tertidur. Dia mengecupnya sekilas dan pergi begitu saja.
…
"Presdir, perusahaan West Corp tiba tiba membatalkan kontrak dengan kita." Danni berseru memberitau.
"Apa! Kenapa?" Tanya Arsya.
Danni memberikan sebuah dokumen. "Belum ada alasan mengenai itu. Tetapi presdir dari west corp bilang. Jika desaign gambar yang anda berikan adalah sebuah kopian. Ada seseorang yang menerobos mencuri gambar kita."
"Coba kau cek, siapa orang yang mencuri gambar kita."
"Baik."
Danni keluar dari ruangan presdir. Kemudian mengecek cctv. Setelah menemukannya ia kembali dan melaporkannya. "Presdir ini video yang sudah saya salin dari ruang pengendalian cctv. Sepertinya memang ada orang yang masuk ke dalam ruangan anda."
__ADS_1
Arsya segera melihat vidio salinan cctv. Ia dapat melihat seorang wanita mengenakan seragam kebersihan. Wajahnya mengenakan masker. Jari tangannya terlihat lincah mengoperasikan komputer. Dan menyalinnya ke dalam flash disk.
"Selidiki dengan jelas orang ini." perintah Arsya. Sesaat kemudian dia menyadari saat berada di luar gedung. Sebuah mobil yang ia tau adalah milik Anita.
Baru saja Danni hendak keluar setelah mendapat perintah. Tetapi mendengar suara Arsya, ia kembali berbalik.
"Tunggu!"
Kening Arsya berkerut dalam dan melihat dengan cermat video itu. Ia memperlambat setiap adegan. Kemudian ia mendesis. "Sialan. Anita!"
Anita yang masih menikmati kopi tiba tiba bersin dua kali. Arin yang mendengar Anita bersin bersin segera membawakan mantel.
"Nyonya. Sepertinya anda sedang sakit."
"Mungkin karena cuaca disini sedikit berbeda." Balas Anita.
Arsya langsung meremas kertas yang berada dihadapannya menjadi bola kecil. "Presdir. Bagaimana kita menghadapi West Corp sekarang?" Tanya Danni dengan hati hati.
Suasana hati Arsya sedang buruk. "Biarkan saja, jika ingin membatalkan."
"Tapi perusahaan akan merugi besar." Danni sangat khawatir.
"Baik."
Arsya dalam suasana hati yang buruk. Untuk mengembalikan suasana itu ia segera menghubungi istrinya. Ia menekan tombol dan sambungan segera terhubung.
"Halo, dimana Anna?" Arsya menghubungi telepon rumah karena takut jika mengganggu Anna.
Ricky berkata sambil melihat tangga. "Sejak pagi nyonya Anna belum turun. Beliau akan turun ketika jam makan siang." Jawab Ricky.
Arsya mengangguk. "Baiklah, beri dia sup sarang walet seperti yang aku perintahkan. Kondisi janinnya harus baik baik saja. Jika terjadi sesuatu kalian yang akan aku hukum." Ucap Arsya.
"Baik tuan."
Ricky menekuk wajahnya dengan sedih. Dia yang selalu mendapat hukuman akan tugasnya yang nampak ringan. Ricky menghela nafas kemudian masuk ke dalam dapur untuk memerintahkan pengawal untuk memasak.
Meskipun dia adalah pengawal tetapi dia cukup handal dalam memasak.
__ADS_1
"Ricky, ada apa? Kenapa kau terlihat menyedihkan." Tanya Sang pengawal.
"Lihatlah, tuan Arsya selalu menghukumku dengan kesalahan kecil saja. Dulu dihukum ke kuil dan berdoa selama seminggu. Kau tau bagaimana rasanya di kuil? Aku setiap hari hampir kelaparan karena orang orang disana selalu berpuasa."
"Menyedihkan sekali." Pengawal itu sedang iba.
"Makanya, sekarang kau harus memasak sup sarang walet yang enak untuk nyonya." Sahut Ricky.
Pengawal itu melihat jam di dinding. "Ini sudah jam 11 siang. Nyonya Anna belum keluar juga."
"Diamlah, kau masakkan saja sesuai perintah tuan. Biarkan aku yang mengantarnya saja. Mungkin Nyonya Anna kelelahan."
Kemarin Tuan Arsya baru saja kembali dari Amsterdam. Setelah melihat nyonya Anna masuk ke dalam rumah. Mereka tiba tiba terbius dan mengantuk. Saat mereka terbangun sudah jam 13 siang. Saat Ricky pergi ke atas, nyonya Anna bilang jika sudah makan. Tetapi mereka tidak menaruh curiga apapun. Saat malam nyonya Anna juga tidak turun ke bawah untuk makan malam. Mereka berpikir, mungkin nyonya Anna kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang.
Arsya merasa lega. Ia meletakkan ponsel di samping sikunya dan lanjut kerja hingga tengah malam.
Punggungnya terasa kaku setelah bekerja seharian. Ia menggerakkan punggungnya ke kanan. Lalu bersandar pada sandaran kursi.
Setelah merasa rileks, Arsya segera kembali. Sampai di Villa. Ia mengintruksikan kepada pengawal untuk tetap bersikap tenang. Takutnya akan mengganggu tidur Anna.
Arsya pergi ke kamar mandi dan mandi. Selesai berganti pakaian ia langsung duduk di tepian ranjang. Ia mencium dahi Anna yang sudah tertidur dalam kegelapan malam. Wajah gadis itu selalu tertutupi oleh selimut. Demi tidak mengganggunya, Arsya membukanya hingga di keningnya lalu mengecupnya. Kemudian ikut pergi tidur dengan tangan melingkar pada perutnya.
Di Amsterdam, Anita sudah mendapatkan kontrak kerja sama dengan Eli, tinggal mengeluarkan uang untuk pembiayaan pembangunan. Semua ini telah ia rencanakan dan dia atur sebaik mungkin.
Anita pergi berbelanja ke sebuah mall di tengah kota, dia terlalu bahagia karena mendapatkan kepercayaan yang dimintai ayahnya. Kelak dia tidak akan ragu lagi untuk melangkah. Dia menghabiskan uang hampir 700 juta demi berbelanja barang branded.
"Nyonya, apakah siang ini kita akan kembali." tanya Arin setelah Anita kembali dari tempat perbelajaan.
"Ya untuk proyek ini, aku sudah menginstruksikan orangku untuk melakukan peninjauan dan pengawasan. Kita pulang saja." Sahut Anita dengan santai sambil membuka satu persatu paperbag yang baru saja ia dapatkan.
"Baik nyonya." Arin mengangguk dan segera menyiapkan koper.
Disisi lain, Albert meninjau tentang kerjaan Eli yang sedang berlangsung. Eli juga sering melihat konstruksi bangunan itu.
"Cukup mengejutkan, bangunan ini terlihat sangat mewah, apalagi dari desaign gambarnya terlihat sangat mendetail." Albert memujinya.
Eli tersenyum senang. Secara tidak langsung juga memuji kerjaannya.
__ADS_1
"Ayah, apakah ayah setuju jika aku menikah dengan Arsya. Lagi pula, Ayah sudah melihat sendiri bagaimana kerjaannya." eli mencoba membujuk ayahnya.
"Aku memuji kerjaannya bukan memuji orangnya." Albert berkata dengan dingin. "Lagi pula, pembangunan ini yang bertanggung jawab adalah bibi-nya. Bukan Arsya."