
Arsya berjalan ringan menaiki tangga, Ia masuk ke dalam kamar. Lalu mandi dan berganti pakaian dengan pakaian kantoran. Setelah rapi ia keluar kamar dan menyusul ke ruang makan.
Saat berada di ruang makan, Linda duduk di sampingnya sementara Anna duduk seolah memberi jarak. Arsya mendesah pelan. Sungguh hal ini yang tidak ia inginkan.
Ia kembali berjalan pelan, Ricky menarik kursi hingga Arsya duduk di sana. Ricky mendorong kursi itu hingga Arsya dapat duduk dengan nyaman.
Linda dengan antusias mengambilkan sepotong roti di piring Arsya. Menuangkan segelas jus jeruk dan meletakkannya di samping kanan. Benar benar seperti istri yang sebenarnya.
Anna tidak ingin melihat tingkah laku mereka yang mesra. Jadi hanya menundukkan kepala dan terus makan.
"Arsya, nanti siang. Aku ada pemeriksaan janin ke rumah sakit. Em. Bagaimana kalau kau yang mengantarkan sekalian temani aku periksa." Ujar Linda tersenyum.
"Hem, nanti siang akan aku usahakan." Jawab Arsya.
"Baguslah." Linda berseru senang.
Sementara Anna terdiam. Ia telah menghabiskan roti isinya dan segera pergi dari sana.
"Aku sudah selesai." Ujar Anna yang membuat wajah Linda mendongak. Tetapi Arsya acuh tak acuh.
"Baguslah, kau hanya akan menganggu waktu kami." Ujar Linda.
Anna melirik sekilas ke arah Linda. Ia kemudian pergi dari sana. "Aku akan berangkat." Arsya juga menyelesaikan sarapannya dan beranjak dari kursinya.
Linda menarik pandangannya kemudian menatap Arsya. "Kenapa buru buru?" Linda juga beranjak dari kursinya dan mengambil jas Arsya yang tersampir di sandaran kursi.
"Ada meeting pagi ini." Ujar Arsya.
Linda membantu Arsya mengenakan jas. Kemudian di lapisi mantel berwarna hitam. Linda mencium pipi Arsya dan itu tak jauh dari pandangan Anna.
Jelas jelas ini adalah perselingkuhan yang begitu terang terangan. Anna membalikkan badan dan pergi menuju kamarnya.
Arsya segera keluar dan mobil Liumosin menunggunya di depan pintu. Arsya masuk ke dalam mobil. Mobil melesat keluar pekarangan. Anna memandangnya melalui teras balkon.
Dari kejauhan Arsya dapat melihat posisi Anna. Entah kenapa hatinya merasa ada sebuah harapan. Arsya menyunggingkan senyuman.
"Reimond. Apakah kau pernah memiliki pacar?" Tiba tiba Arsya menanyakan hal sensitif kepada Reimond.
"Tidak. Saya tidak berani memiliki pacar. Hidup saya hanya untuk anda tuan." Jawab Reimond.
Arsya mendesah pelan. "Carilah pacar, tidak selamanya kau akan berdiri di sampingku terus. Ada saatnya kau harus menemukan kebahagianmu." Ujar Arsya.
"Baik tuan. Tetapi aku sekarang merasa bahagia dan nyaman bersama tuan." Jawab Reimond.
__ADS_1
Arsya tidak lagi bertanya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap I-pad.
Di luar. Rendi menemukan pria yang sejak dua hari ini mengintai dari kejauhan. Ia di bawa masuk ke sebuah rumah tua di tengah hutan. Mata pria itu tertutup sehingga ia tidak mengetahui jalan mana yang ia lewati. Saat mata terbuka. Ia hanya dapat melihat rumah kosong juga ada banyak pria berbadan kekar mengelilinginya.
Jo segera maju, duduk menyilangkan kakinya. "Siapa namamu?" Tanya Jo garang.
Ivan anak buah Ardan Mendongakkan wajahnya. Wajahnya babak belur karena di pukul habis oleh Rendi. "I...ivan." sahut Ivan dengan terbata.
"Siapa yang menyuruhmu." Ivan menatap wajah Jo dengan takut.
Ternyata ini yang di maksud Ardan untuk berhati-hati. Ternyata ini adalah sekelompok orang yang sangat kuat. Bahkan tenaganya tidak bisa menandinginya. Kekuatan Rendi jauh lebih besar dari tenaganya. Padahal jika di pasar dia yang lebih berkuasa dan hebat.
"Katakan!" Jo meremas rahang pria itu dengan kejam sehingga pria itu merasakan sakit.
Ivan sungguh merasa ketakutan saat ini. Bahkan cengkraman itu terlalu kuat sehingga mulutnya tak bisa membuka dengan sempurna.
Plak
Sekali lagi Jo tak sabar menghadapi pria dihadapannya. Tubuhnya penuh tato. Sepertinya dia adalah preman pasaran yang sok jagoan. Jo segera mengeluarkan ponselnya dan memberitaukan Arsya tentang keadaannya.
Arsya mengangguk mengerti lalu memerintahkan agar membiarkan pria itu tetap di sekap.
Arsya melihat jam di pergelangan tangannya bersamaan sebuah deringan telepon berbunyi keras. Di layar terlihat nama Linda sedang memanggil. Dengan malas Arsya mengangkat panggilan itu.
Linda merasa tak senang dengan jawaban Arsya. Padahal tadi pagi mengatakan akan menemani di jam siang. Kenapa begitu mundur sampai selesai kerja.
Linda melempar apel di tangannya dan mengenai tembok. Sunguh sungguh kesal. Elsa di sampingnya hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala. Ia tak berani mengatakan apapun.
Kebetulan Anna sedang berpakaian rapi saat ini. Bergumam melalui telepon dan berjalan menuruni tangga. Elsa melirik ke arah tangga lalu berbisik kepada Linda.
Linda segera menoleh, menatap Anna sampai di tangga terakhir. "Hei. Mau kemana kau?" Tanya Linda.
Anna menyimpan teleponnya dan mendongak menatap Linda yang berwajah arogan.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau juga akan pergi. Kenapa kau masih disini?" tanya Anna.
Linda tak senang menjawab. "Itu urusanku. Lagian kau mau kemana siang siang begini. Jangan bilang kau pergi untuk berkencan dengan lelaki lain. Nanti aku bilang pada Arsya bahwa kau berselingkuh." Ujar Linda puas.
Anna tercengang. "Oh, jadi kau ingin mengadukanku dengan alasan selingkuh. Bagus sekali!" Anna tersenyum ringan lanjut berkata. "Ternyata ini yang kau lakukan, memanasi Arsya agar segera bercerai denganku."
"Ups." Linda menutupi bibirnya. "Keceplosan." Ujar Linda.
"Baguslah, dengan begini kau tanpa sengaja membantuku pergi dari sini." ujar Anna kemudian pergi.
__ADS_1
Linda menatap punggung kecil itu melewati dirinya. Ia begitu kesal jika berhadapan dengan Anna.
Mobil phantom berjalan keluar gerbang. Elsa segera melapor. "Dia sudah pergi." ucap Elsa.
"Bagus, setidaknya aku merasa nyaman tanpa ada dia." Sahut Linda kemudian bersandar di sandaran sofa.
Anna bertemu dengan Leya di sebuah kafe. Kebetulan di sana juga ada Erka. Dia langsung duduk dihadapan keduanya dengan bibir cemberut.
"Kau kenapa? Datang datang tuh bibir udah di monyongin." ujar Erka saat melihat kedatangan Anna duduk.
"Ini gara gara Linda."
"Kenapa dengan Linda?" tanya Leya.
"Dia tinggal di tempat Arsya dan tidur di tempat yang aku tempati." Ujar Anna.
"Apa!" kedua manusia itu terkejut.
"Sial, dulu aku sempat menawarkanmu untuk memberinya pelajaran. Sekarang malah seenaknya saja mengusir orang." Ujar Leya menyingsingkan lengan bajunya menampakkan lengannya.
"Aih, Leya memangnya kau berani melawan Linda." Tanya Erka.
"Memangnya kenapa, dia bukan hantu. Kenapa tidak berani." Jawab Leya.
"Bodoh. Dia mempunyai banyak pengawal. Memangnya kau sanggup melawan. Yang kau bisa hanya balapan." Ejek Erka.
"Sial. Kau mengejekku." Ucap Leya menaikkan dagunya.
"Tidak!" Erka menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, kalian berdua membuatku pusing." Sela Anna menengahi perdebatan mereka.
Leya dan Erka kembali dengan sikap tenang. "Aku sudah menandatangani surat cerai. Kalian berdua bantu aku keluar dari Villa itu." Ujar Anna.
"Anna, kau sadarlah. Begitu banyak pengawal yang berjaga. Bisa mati aku jika melarikanmu dari villa itu." Leya tanpa sadar mendesah.
"Itu kau tau. Jika melawan Linda juga akan bernasib sama." cibir Erka.
Leya melotot ke arah Erka. Dan Erka menjulurkan lidahnya.
"Kalian jika bertemu bagai kucing dan tikus. Kenapa kalian tidak menikah saja. Kalian pasti akan cocok." Ujar Anna tersenyum.
"Aih, gak bisa."
__ADS_1
"Benar. Itu gak mungkin." Erka membenarkan perkataan Leya yang tidak mungkin hal itu terjadi.