
Anna masih setia menunggu di ruangan tivi. Melihat ke sekitar, para pengawal juga berjaga di setiap sudut rumah.
Ia menunduk melihat arloji ditangannya. Sudah kelewat setengah jam yang lalu. Bahkan Danni sudah pulang. Tapi Arsya belum juga menampakkan batang hidungnya.
mengernyitkan dahi. Ini tak biasanya Arsya akan menahan makan makan malamnya.
Akhirnya mematikan tivi. Menaiki tangga. Tapi bukannya berbelok ke kamarnya. Tapi menuju ruang kerja.
Seorang pengawal menghadangnya. "Nyonya mau kemana?" tanya pengawal itu.
Anna mendongakkan kepalanya dan menatap pengawal yang menatapnya dingin.
"Ini rumah Arsya. Tentu saja mencari Arsya." Kata Anna ketus.
"Nyonya. Tuan sedang bekerja. Beliau tidak bisa di ganggu." kata pengawal itu.
Anna mengerutkan kening. Arsya yang ia tau tidak pernah seperti ini. Meskipun pria itu memiliki jam sibuk. Pria itu akan selalu meluangkan waktu untuknya. Ada beberapa kecurigaan di dasar hatinya. Tapi ia tetap tenang dan tidak ingin melakukan sesuatu sebelum ia tau jelas. Meskipun ia tidak memungkiri bahwa perusahaan Arsya saat ini memang down. Tapi menurut yang ia tau sifat Arsya, meskipun sibuk sekalipun pria itu tidak akan menyuruh pengawal menjaga di luar pintu. Pasti ada sesuatu!
"Bekerja ya bekerja. Tapi harus tau batasan. Ini sudah kelewat jam makan. Jika begini dia akan sakit. Menyingkirlah!" kata Anna balas dingin.
Pengawal yang berjaga di dalam keluar mendengar keributan.
"Ada apa?" Deri keluar dan bertanya. Pengawal yang awalnya menahan Anna langsung menyingkir lalu menundukkan kepalanya.
"Arsya apakah masih bekerja?" tanya Anna tidak memandang pengawal yang tadi menghadangnya. Ia maju ke hadapan Derri.
"Biarkan nyonya masuk." Dari dalam ruangan terdengar suara berat dan serak.
Anna melongokkan kepala ke dalam. Arsya tengah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah lelah.
Anna tersenyum dan masuk begitu Deri menyingkir memberinya jalan.
"Sya, kau bekerja lembur seperti ini akan merusak dirimu." kata Anna seraya masuk ke dalam ruangan.
Arsya mengibaskan tangannya agar semua pengawal segera pergi.
Arsya tersenyum. "Kamu sudah tau beritanya, bukan? Jadi aku harus bekerja keras untuk kembali menegakkan perusahaan yang hampir runtuh."
Anna terhenti di depan meja besar dan bersandar pada meja kerja dengan posisi menyamping.
"Ya aku tau. Tapi kau juga tidak perlu melewatkan makan malam hanya karena ini. Arsya! Andaikan kau jatuh miskin, aku masih bisa menghidupimu. Aku mendirikan rumah penelitian kebun mawar. Sekarang meski tidak seberapa yang aku hasilkan tapi masih cukup untuk menghidupi seumur hidup." Kata Anna dengan tangan bersedekap di depan perut.
Arsya bangkit meski dengan susah payah. Tapi dihadapan Anna ia harus kuat. Ia menjawil hidung mancung Anna dan melipat tangan.
"Aku adalah pria. Mana mungkin meminta dinafkahi seorang wanita. Ayo keluar. Kita makan." Arsya tertawa tangannya langsung merangkul bahu Anna dan mengajaknya keluar.
Anna mencubit perut Arsya hingga Arsya mengaduh.
__ADS_1
"Aku serius Arsya." sahut Anna dengan bibir manyun.
"Iya iya, aku tau. Aku menghargai usahamu." sambil berkata sambil menapakkan kaki menuruni tangga.
Arsya melangkah dengan hati hati. Untung saja tangannya melingkar di bahu Anna. Setidaknya pria itu memiliki sandaran. jika tidak, ia akan terjatuh bergulung hingga ke dasar.
Sampai di meja makan. Pengawal menghidangkam makanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Anna yang sudah mencentongkan nasi ke dalam piring.
Arsya melirik ke arah hidangan yang tersaji. Satu persatu ia menunjuk lauk yang ia akan makan. Anna segera mengambilkannya.
"Ayo makan yang banyak. Kau terlihat kurus sekali setelah kita dua bulan berpisah." Kata Anna seraya menatap lamat wajah Arsya.
Arsya melirik sekilas dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Setelah makanan itu sudah masuk kerongkongan barulah ia menyahut.
"Itu karena kau tidak memperhatikanku lagi." jawab Arsya kembali menyuap makanan.
"Kapan?" tanya Anna.
"Sejak kau mengakui Amsterdam adalah rumahmu." balas Arsya setelah menelan makanannya.
"Ya memang begitu adanya." Anna menjawab apa adanya.
Arsya mengambil minum setelah makanan dipiringnya tandas.
Anna terdiam. Pikirannya berkecamuk.
"Kenapa kau mencariku tadi. Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya Arsya membuyarkan lamunan Anna.
Anna menaikkan pandangannya. "Soal pernikahan kedua kita."
"hum." Arsya mengangguk. "Apa yang ingin kau mau. Aku bisa mengabulkannya selama aku mampu." kata Arsya penuh penegasan.
Anna tertawa ringan. Membuat Arsya menukikkan alis.
"Aku tidak perlu pesta yang mewah. Aku tau saat ini keuanganmu sudah terkuras habis untuk menangani masalah perusahaanmu. Aku hanya meminta satu hal." kata Anna.
"Apa itu. Katakan saja. Meski saat ini keuanganku masih kritis tapi aku masih mempunyai banyak uang. Kau tidak perlu cemas soal hal ini." Arsya menaik turunkan alisnya.
"Aku akan mengundang teman temanku."
"Hanya itu?"
Arsya merasa heran dengan permintaan Anna yang diluar nalar. Tentu saja ia bebas mengundang teman temannya. Kenapa dia harus bertanya.
Anna mengangguk. "Iya. Hanya itu." sahut Anna yakin.
__ADS_1
Arsya menggaruk pelipisnya. "Aku kira kau akan meminta mahar yang banyak." sahut Arsya.
Anna mengendikkan bahu. "Mahar? yaaa itu ide yang bagus." Kata Anna santai. Ia terdiam sesaat memikirkan sesuatu. "Bagaimana jika kau memberikan setengah saham kepadaku?" kata Anna dengan senyuman ringan.
Arsya terbatuk batuk karena meneguk ludahnya sendiri. Anna segera mendekat menepuk nepuk punggung pria itu dan memberikan segelas air putih yang baru ia tuangkan.
Setelah merasa baikkan, Anna kembali duduk. Kedua tangan terlipat di atas meja.
"Bagaimana Arsya?" tanya Anna.
"Ini terlalu sulit. Kenapa kau tidak meminta yang lain. Dan kenapa kamu tiba tiba meminta saham dari ku." Arsya mengernyit heran.
"Ya aku mau saja. Tidak ada alasan lain." Kata Anna.
Arsya menatap lamat wajah mungil nan cantik itu. Warna rambut yang semakin pudar membuat pesonanya semakin bertambah.
"Soal saham ini tidak bisa diberikan begitu saja. Ada banyak prosedur yang harus di lalui." kata Arsya menjelaskan.
"Ya, aku akan mengikuti prosedur itu. Asalkan memiliki saham di sana." sahut Anna membuat Arsya semakin curiga.
Ini awal awal seperti sikap Anita yang pandai merangkai kata kata. Setelah mendapatkan izin, wanita itu menghempaskan segala kejayaannya hingga terjatuh miskin.
"Sahamku hanya memiliki 60 persen saja di perusahaan itu. Jika aku bagi denganmu. Otomatis kau juga merupakan pemegang saham kedua. Perusahaan yang aku jalani ini sedikit rumit. Apakah kau mengerti tentang design?" tanya Arsya sekali lagi menegaskan.
"Aku memang tidak mengerti, tapi jika kau mengajariku aku pasti bisa. Aku ini mudah belajar." Sahut Anna dengan entengnya.
Arsya menghela nafas pelan. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran, melipat kedua tangan di depan dada. Menatap lekat pada wanita yang duduk bersebrangan dengannya.
"Kenapa? Kau curiga jika aku akan seperti Anita." pertanyaan itu tepat sasaran dengan tatapan yang dilayangkan Arsya beberapa saat lalu.
"Aku tidak mengerti cara berpikirmu. Selama kau tinggal di Amsterdam kau berubah aneh." kata Arsya memindai tubuh Anna sampai di bagian atas meja saja.
"Perkebunanmu sudah aku perjuangkan sampai dititik paling aman. Kau bisa berdiri di sana sebagai ceo untuk dirimu sendiri. Kenapa kau berubah dari kelinci kecil menjadi singa betina yang buas." masih dengan wajah serius Arsya menatap Anna dan mengejeknya.
"Hahahahaa..." Anna tertawa mendengar ejekan yang ditujukan kepadanya.
Arsya semakin heran dengan sikap Anna yang sekarang. Apakah dia bukan Anna. Atau kembarannya. Arsya meringis seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ada ada saja kamu Arsya." sahut Anna setelah tawanya mereda.
"Ya memang begitu adanya kan?" Arsya menaikkan alisnya.
Anna tersenyum ringan. "Aku nanti adalah istrimu Arsya. Sudah sebagai tugasku menjaga perusahaan suamiku. Aku melihat beberapa berita yang beredar tentang kamu, saat itu aku berpikir keras. Jika aku memiliki setengah saham di sana. Kita berdua akan sama sama melawan mereka. Jika kedua orang bersatu maka kita pasti akan menang."
Ada semburat merah dipipi Arsya yang kemudian menjalar ke telinganya. Ternyata seperti ini pemikiran Anna. Hidup di luar negeri membuatnya jauh lebih dewasa.
"Hum, kamu lebih dewasa sekarang. Patut dihargai cara pemikiranmu ini." Arsya tersenyum bangga.
__ADS_1
"Sudah malam. Ayo istirahat. Besok aku ada kerjaan lebih banyak lagi." kata Arsya seraya bangkit dari duduknya. Merangkul bahu Anna dan membawanya menuju lantai dua.