Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 37


__ADS_3

Arsya terbangun ketika ia bermimpi buruk.


Dia bermimpi, jika dia sedang berada di tengah kobaran api. Dia ingin berteriak meminta tolong tapi suaranya tertahan karena ia melihat seorang gadis yang juga tengah berjuang untuk menyelamatkan dirinya di tengah kobaran api.


Arsya mencoba untuk menolongnya tapi api semakin besar dan membakar tubuh gadis itu. Dia panik, saat ingin mendekat kakinya malah tertimpa kayu besar. Dan api semakin membara. Saat itu dia segera tersadar, nafasnya tersengal dan keringat mulai bercucuran di sekitar tubuhnya.


Namun saat terbangun perutnya bergejolak dan merasakan mual di pagi hari. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan muntah. Kepalanya juga berdenyut nyeri.


Apakah terlalu lelah sampai tubuhnya berefek seperti ini?


Saat keluar kamar mandi, tubuh Arsya terasa lemas. Ia duduk di sofa panjang sembari meminum air putih.


Tepat saat ini Ricky datang sembari mengetuk pintu.


"Masuk!" Perintah Arsya dengan suara lemah.


Ricky masuk dengan beberapa pengawal sambil mendorong troley makanan.


"Tuan muda. Sejak semalam anda terlihat pucat. Saya berinisiatif membawakan sarapan bubur iga sapi pagi ini." Ujar Ricky merasa iba kepada Arsya.


"Ya."


Setelah meletakkan makanan ke atas meja. Ricky beserta dua pengawal lainnya bergegas keluar. Aroma masakan iga sapi ini terlihat sangat enak. Arsya buru buru mengambil sendok dan memakannya dengan lahap.


Setelah perutnya terasa kenyang. Arsya merasa bugar kembali. Sejak kepulangannyq dari Amsterdam dia merasa penyakitnya semakin parah. Setiap pagi selalu mual dan setelah memuntahkan segala isi di dalam perutnya, ia merasa lemas. Tapi setelah di masakan bubur iga sapi, ia kembali sehat seperti semula


Dan berita itu segera tersebar ke telinga Herman. Jadi ia bergegas menelepon Arsya.


"Arsya! Apa yang terjadi padamu?" terdengar suara khawatir dari ujung telepon.


"Memangnya apa yang terjadi padaku kek? Aku tidak apa apa. Aku sehat sehat saja." Sahut Arsya dengan suara arogan seperti biasa.


"Rendi bilang. Kau sering muntah? Sudahkah kau periksa ke dokter?" tanya Herman.


"Ya, itu hanya sebentar. Mungkin aku terlalu lelah sejak berada di Amsterdam dan sekarang aku harus kembali mengurus perusahaan. Untuk apa periksa ke dokter. Nanti setelah minum vitamin sudah enakan kok."


"Arsya. Kau adalah penerus Adiyaksa group. Kau jangan mengabaikan kesehatanmu. Seluruhnya bertopang kepadamu. Cepat periksa ke dokter." Ujar Herman dengan geram.


"Kakek. Sudah aku bilang jika aku tidak apa apa. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Lebih baik kakek diam di sana sambil menunggu hasil kerja kerasku."


"Bocah sialan! Aku sudah cukup dengan uang berlimpah pensiunanku buat apa aku memeras tenagamu. Aku berkata baik baik tapi kau...." Herman memegangi dadanya karena perkataan Arsya yang menusuk perasaannya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu kakek. Maaf." ujarnya merasa bersalah. Terdengar helaan panjang dari ujung telepon. Sepertinya Ferdi telah memberi obat penenang.


"Bocah busuk. Untung saja Ferdi cepat tanggap. Jika tidak. Apakah kau ingin aku cepat mati ha...." Herman berkata dengan tidak senang.


"Aku tidak berani. Aku sungguh menyesal." jawab Arsya.


"Sudahlah. Yang penting kau jaga kesehatanmu. Jika terjadi sesuatu kepadamu, cepat periksa ke dokter."


"Ya."


Herman segera memberikan telepon kepada Ferdi. "Tuan muda. Tuan besar terlalu mengkhawatirkanmu. Jadi lakukan apa yang dia perintahkan. Segalanya demi mu. Jika kau sakit itu akan memberikan kesempatan kepada orang yang tak bertanggung jawab dan menghancurkan harapan satu satunya tuan besar. Maaf, jika saya menyinggung perasaan tuan muda. Tapi semuanya demi tuan muda."


"Ya, aku mengerti. Yang terpenting kau jaga kakek dengan baik. Aku tau apa yang harus aku lakukan." Arsya mengulangi perkataannya.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan menenangkan perasaan tuan besar. Mungkin usia dapat mempengaruhi perasaannya yang cepat tersinggung."


"Hem. Katakan pada kakek. Aku benar benar menyesal. Aku sungguh tidak bermaksud demikian."


"Ya tuan muda. Jaga baik baik kesehatanmu. Karena itu akan mempengaruhi perusahaan."


"Baik. Aku mengerti."


Setelah itu telepon terputus. Arsya meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu memijit pangkal hidungnya.


"Halo." terdengar suara yang merdu dari ujung telepon membuat sudut bibir Arsya tersungging lebar.


"Anna!" Ujarnya dengan suara rendah.


"Hei Arsya. Kau sudah sampai di sana. Disini sudah tengah malam. Kau pasti sudah mau berangkat kerja kan?" Ujar Anna dengan suara masih ceria. Arsya mengerutkan dahinya heran.


"Jika kau tau, kenapa sudah larut kau belum juga tidur." Tanya Arsya.


"Aku masih mengekstrak parfum dan ini baru selesai. Sebentar lagi aku akan tidur. Oh ya. Terima kasih karena kau, aku di percaya tuan Axcel. Dia mengirim seribu botol kepadaku."


"Bagus jika seperti itu. Tapi kau jangan terlalu lelah. Lalu bagaimana dengan hasilnya?"


"Oh,soal hasilnya Mr, Anderson akan memesan lebih banyak parfum. Aku sangat senang sekali." Ujar Anna dengan tawa riang.


Namun hasil yang di maksud Arsya bukan itu. Melainkan hasil tespeck yang pernah ia berikan sebelum ia kembali ke tanah air.


"Maksudku..."

__ADS_1


"Ah Arsya. Aku sudah sangat mengantuk sekali. Kau segeralah pergi. Nanti kau akan terlambat. Aku akan tidur." Lalu Anna mematikan sambungan telepon.


Arsya hanya mampu menghela nafas. Dia sudah merasa sangat tersiksa tapi Anna tak juga memberikan tanggapan yang serius. Pada akhirnya, ia hanya menyimpan teleponnya dan bergegas keluar dari kamar.


Ricky yang melihat tuan muda segera pergi menyambut. "Tuan muda, anda masih terlihat pucat. Apakah akan pergi bekerja?" Tanya Ricky sambil membawa mantel dan tas kerja.


"Jika tidak. Siapa yang akan mengurusnya? Sudahlah Ricky. Kau kerjakan kerjaanmu saja. Aku sudah merasa sehat." Sahut Arsya dengan kesal.


"Tapi tuan muda. Tuan besar memberikan perintah agar tuan muda beristirahat selama beberapa hari di rumah."


"Kau bekerja kepadaku apa kerja bersama tuan besar?" Ujar Arsya dengan menghentikan langkahnya. Lalu menatap Ricky dengan jengkel.


"Maaf tuan. Tentu saja saya bekerja dengan tuan. Tapi saya juga tak bisa menolak perintah tuan besar."


"Jika seperti itu. Kau pergilah kepada tuan besar."


"Aih." Ricky tertegun sesaat. Kemudian ia segera berlutut dihadapan Arsya.


"Tuan muda. Maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan bekerja lebih baik kepada tuan muda." Ujar Ricky penuh permohanan.


"Bagus jika seperti itu. Tapi hukuman tetap hukuman. Kau harus menghukum dirimu sendiri. Selama seminggu ini kau harus pergi ke kuil lakukan doa di sana."


"Apa! Tapi tuan. Siapa yang akan melayanimu jika saya pergi ke kuil." Ujar Ricky dengan tidak percaya.


"Mau pergi atau tidak?" Tanya Arsya seolah mendesak.


"Hah. Baik saya akan pergi. Tapi bagaimana dengan tuan?"


"Rendi! Segera bantu Ricky berkemas. Antarkan dia ke kuil dan awasi dia selama seminggu. Pastikan dia selalu berdoa di kuil."


Rendi yang berada tak jauh dari mereka segera bergegas mendekat. Ia sempat tertegun kala mendengar perintah Ricky yang harus berkemas dan pergi ke kuil. Tapi semua itu ia simpan di dalam hatinya untuk tidak bertanya.


"Baik." Akhirnya Rendi mengangguk dan menyetujui perintah tuan mudanya.


Sebelum pergi, Arsya melirik sekilas ke arah Ricky kemudian ia berbalik dan pergi keluar. Di luar Danni sudah berada di luar mobil membukakan pintu kala melihat Arsya keluar dari pintu utama. Ia segera menyambut dan membawakan tas kerja masuk ke dalam mobil.


Arsya langsung masuk dan duduk di jok belakang. Pintu tertutup, danni masuk di jok samping kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan area Villa.


Danni mengamati ekspresi presdir yang rumit. Awalnya ia akan melaporkan jadwal hari ini. Tetapi ekspresi presdir tidak sedap di pandang jadi mengurungkan niatnya untuk memberi taukan hal itu.


Tak lama mobil terhenti di parkiran bawah tanah. Namun saat mobil terhenti, Arsya tak langsung segera turun. Danni segera memanggil presdir. Apakah mau keluar atau tunggu sebentar lagi? Dan pada akhirnya Arsya segera turun setelah beberapa saat.

__ADS_1


Sampai di lantai teratas. Arsya meminta jadwal pagi ini dan selebihnya, ia tidak lagi berminat. Jadi hari ini ia akan melakukan pertemuan dengan dewan direksi yang akan membahas acara akhir tahunan.


Untuk selebihnya, ia ingin segera tidur di rumah karena ia merasa terlalu lelah.


__ADS_2