
Hari semakin gelap. Kedua manusia itu masih tetap di sana memandangi sunset hingga menghilang. Keduanya terlihat bagai pasangan yang romantis tetapi kenyataannya adalah tidak.
"Sudah malam, ayo pulang!" Ajak Arsya seraya bangkit dari duduknya.
"Ya." Jawab Anna juga ikut bangkit dari duduknya. merapikan belakang rok yang terkena pasir dan mengenakan sendalnya.
Keduanya saling bergandengan seolah takut akan kehilangan satu sama lain. Mobil Roll Royce terparkir tak jauh dari nya. Kedua manusia itu sama sama masuk ke dalam mobil.
Pantai yang ia tuju adalah pantai yang sepi pengunjung. Sebelum pergi ke sana, ia sudah memberikan aba aba pada pengawal untuk mengosongkan tempat itu.
Alhasil, Dia bisa menikmati keindahan alam tanpa adanya keributan. Sedangkan Anna tidak menyadari bahwa itu telah di atur olehnya.
Yang dia rasakan adalah dia sudah lama tidak pergi ke pantai. Bisa bermain puas di sana. Dan pada saat ini Arsya mengajaknya ke sana. Betapa bahagia dirinya. Apalagi bisa menikmati sunset di sore hari. Anna semakin senang.
Mobil perlahan meninggalkan area pantai. Suasana sore ini masih membekas di hatinya, senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya. Arsya melirik Anna yang selalu tersenyum.
Anna yang menyadari langsung menoleh. "Emh. terima kasih untuk hari ini?" Ucap Anna tulus.
"Ckckck, sebenarnya aku tidak terlalu suka bersantai. Itu karena aku menghargai mama. Jadi aku mau ke sana." Elak Arsya.
Senyuman Anna menghilang karena mulut Arsya yang selalu berkata tajam. Anna mencebikkan mulutnya lalu menatap jalanan di depannya.
"Aku lapar. Kita singgah dulu ke restoran." Celetuk Arsya.
"Oke." Jawab Anna singkat.
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di tengah kota. Karena lelah Anna sangat mengantuk perlahan kelopak matanya menutup dengan sendirinya.
Arsya yang sedang fokus ke jalanan merasa sangat hening tidak ada pergerakan dari samping. Ia melirik ke samping ternyata Anna sudah tidur dengan pulasnya. Ia menepikan mobilnya. Lalu membuat kursi yang diduduki Anna miring kebelakang agar Anna bisa tidur dengan nyaman.
Barulah ia menjalankan mobil dengan perlahan. Dia sudah tidak menghiraukan perutnya yang terasa lapar. Segera melajukan mobilnya menuju kediaman ke Villa.
Mobil Roll Royce memasuki pekarangan Villa, dengan sigap para pengawal segera membukakan pintu. Saat pintu kursi samping Arsya segera memberi perintah.
"Jangan! biar saya saja yang bawa." Ucap Arsya.
Pengawal pun mundur secara teratur. Arsya sendiri yang membawa Anna masuk ke dalam rumah. Ricky sebagai kepala pelayan membuka pintu.
Dia tertegun sesaat melihat tuan mudanya yang menggendongnya sendiri masuk ke dalam. Tetapi Ricky tetap mengunci rapat mulutnya lalu membungkuk hormat dan berjalan dibelakang Arsya.
Sampai di depan pintu kamar utama, Ricky segera maju dan membukakan pintu. Sebelum Arsya melangkah masuk ke dalam kamar ia memerintahkan Ricky untuk menyiapkan makan.
"Ricky, siapkan makanan di meja makan."
"Baik tuan."
Ricky segera memerintahkan koki untuk memasak makanan. Sementara Arsya membaringkan tubuh Anna ke atas ranjang. Lalu pergi mandi. Seusai berganti pakaian Ia turun ke bawah. Di sana hanya ada Ricky yang menunggunya, pelayan yang lain sudah kembali ke gedung belakang untuk beristirahat.
Arsya duduk dikursi bagai raja, Lalu memakan hidangan itu dalam diam. Seusai makan, Ricky yang membereskan.
"Tuan, akhir akhir ini anda sepertinya kurang sehat. Apakah saya harus pergi memanggil dokter untuk anda?"
"Tidak perlu. Lain kali aku pergi sendiri. Jangan sampai Anna tau tentang penyakitku." Ujar Arsya.
"Baik tuan." Ricky membungkuk memberi hormat.
Arsya segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Terkadang seseorang tidak butuh alasan untuk menjelaskan sesuatu hal. Arsya naik ke atas ranjang dan tertidur.
__ADS_1
***
Suara cuitan burung bersaut-sautan, itu tandanya sudah pagi hari. Saat menoleh, sudah tidak ada Arsya di sana. Ia pun bangun dan mandi. Lalu bersiap siap pergi ke sekolah.
Saat sampai diruang makan, ia tidak menemukan Hanis di sana melainkan para pelayan yang berbaris rapi di belakang.
"Nona muda!" Sapa Ricky seperti biasanya.
Anna mengangguk dan langsung duduk setelah Ricky menarik kursi untuknya. Ia diam seraya menikmati sarapan paginya. Tidak ingin menanyakan hal apapun tentang Arsya yang selalu bermulut tajam.
"Nona muda. Tuan muda hari ini pergi melakukan perjalanan bisnis, dia pergi pagi sekali. Dia tidak sempat berpamitan dengan anda. Nona." Ucap Ricky memberitau.
"Oh." Jawab Anna datar. Ia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Lalu bangkit dari kursinya.
Ricky membawakan tas sekolahnya hingga masuk ke dalam mobil. perlahan mobil melaju meninggalkan pekarangan Villa.
"Pasti pergi sama Linda." Batin Anna.
Mobil yang ia tumpangi telah sampai di depan gerbang. Pak Jaki membukakan pintu. Setelah Anna sudah turun dari mobil, Pak Jaki melajukan mobilnya meninggalkan gerbang sekolah.
Anna menyapa pak satpam seperti biasa lalu melangkahkan kaki menuju ke gedung sekolah. Pak satpam garuk garuk kepala saat melihat anna yang menyapanya dengan tatapan datar. Lebih tepatnya terlihat murung.
"Anna!" Pekik Leya dan segera menghampiri Anna.
"Hai, selamat pagi." sapa Anna.
"Pagi ayangku..." Balas Leya lalu merangkul bahu Anna dan masuk ke dalam lift bersama sama.
Waktu berlalu dengan cepat. Saatnya mereka pulang sekolah. Saat diparkiran Daren membawa motor gedenya. Melihat Anna berjalan menuju gerbang, ia segera menghampirinya.
"Anna, Hai. Ayo aku antar pulang." Ucap Daren menghentikan motornya tepat di samping Anna dengan gerakan alami Daren membuka helm fullface-nya.
"Ya udah lain kali ya, aku juga pengen mampir ke rumahmu sekalian kenalan sama orang tuamu." Ucap Daren bercanda.
Anna membelalakkan mata, gawat jika Daren tau dia sudah menikah. takutnya dia akan menyebarkan gosip ini sebagai perisai.
"Ya sudah, aku pergi dulu. bye." Daren memutuskan pemikiran Anna. Tepat di saat ini pak Jaki sudah membukakan pintu mobil.
"Silahkan nona." Ucap Pak Jaki membuyarkan lamunan Anna.
Anna segera masuk ke dalam mobil, tepat di saat ini ponselnya berdering. Itu adalah Herman Adiyaksa. Anna tersenyum, Sudah lama ia tidak menemui kakeknya setelah tiga bulan yang lalu. Ia sangat merindukan kakek.
"Halo kakek."
"Oh cucu menantuku, akhirnya kamu mengangkat juga." Ucap Herman bernafas lega.
"Ya, Aku sangat sibuk jadi melupakan kakek."
"Tidak apa apa. Tidak apa apa. Sibuk sibuklah, kakek hanya menganggur saja." Balas Kakek.
"Maaf kek, belum ada waktu buat menjenguk kakek. tapi akhir pekan akan aku sempatkan menjenguk kakek."
"Hahaha...kamu memang terbaik bisa menebak pikiran kakek. baiklah. kamu baik baiklah. kakek tidak akan mengganggumu. kita berjumpa akhir pekan."
"Baik kek."
Telepon ditutup. Anna menghela nafas. Mobil membelah jalanan yang padat. Tepat di saat ini ia ingin pergi ke sebuah toko buku. Dia sudah lama tidak pergi ke sana.
__ADS_1
Jadi meminta Pak Jaki membelokkan mobilnya ke sebuah toko buku. Anna segera turun dan memasuki toko. Di sana di jual buku buku terkenal dan juga buku ekslusif yang hanya ada satu.
Dan kebetulan hari ini sudah terbit buku yang sudah lama ia incar. Ia mengintari rak buku untuk mendapatkan buku itu. Saat berada di deretan baris ke dua akhirnya ia menemukan dan sialnya buku itu tinggal satu.
Anna mengulurkan tangannya, dan saat itu ada sebuah tangan yang terulur di atas kepalanya dengan sigap langsung mengambil buku itu.
"Eh..." Seru Anna yang terkejut saat ada sebuah tangan yang mengambil buku itu.
Anna membalikkan badannya melihat di sana ada seorang pria yang berambut panjang yang diikat. Dia tersenyum manis.
"Ini buku kamu?" Ucap pria itu.
"Eh, tidak perlu. kamu ambil saja." Ucap Anna menolak meski hatinya menginginkan.
"Yakin? tinggal satu loh." Ucap Pria itu seakan menggodanya.
"Iya." Jawab Anna setegas mungkin.
"Eh, sepertinya kita pernah bertemu. dimana ya." Ucap pria itu mengingat pertemuan mereka sebelumnya.
Pria itu memindai wajah Anna bahkan seragam yang ia kenakan.
"Ah, ya di danau. kamu masih ingat tidak." Ucap pria itu. Anna menggeleng. Dia beneran tidak ingat pernah bertemu dengan pria itu. Pria itu tersenyum lalu menjulurkan tangannya.
"Elan. namaku Elan lengkapnya Zealen." Ucap pria itu.
"Anna. panggil saja Anna." Balas Anna seraya menyambut uluran tangan Elan.
"Namamu sangat bagus. Eh, sepertinya kamu sudah bisa jalan?" Elan melihat kaki Anna yang berdiri tegak. "bukankah waktu itu kamu memakai kursi roda."
Anna mengernyitkan dahinya, "Aku sudah sembuh." Lalu teringat pada lelaki yang dulu sangat percaya diri menyebutkan nama dirinya sendiri.
"Ah ya, aku ingat. kamu adalah pria menyebalkan itu." Ucap Anna baru bisa menyadari pertemuan pertama mereka.
"Haha, apakah aku semenyebalkan itu?" ucap Elan tertawa.
"Ya, kamu memang menyebalkan. saat itu aku hanya butuh ketenangan. dan kau merusaknya." Ucap Anna mengerucutkan bibirnya.
"Ya, kukira kamu ingin bunuh diri. Jadi aku hanya memastikan jika kau baik baik saja." Ucap Elan.
"Tidak mungkin, aku tak sebodoh itu. Aku tak akan melakukan hal yang merugikan dirimu sendiri." Jawab Anna.
"Baguslah." Ucap Elan tersenyum.
Anna mengangguk.
"Ini ambillah, kau sangat memerlukannya." Elan memberikan buku edisi terbatas itu kepada Anna.
"Tapi kamu..." Anna menunjuk di depan dada Elan.
"Tidak apa apa. Awalnya ingin membeli buku ini untuk sebuah kado. Berhubung kamu lebih menyukainya tak apa, ambil saja. Aku bisa beli yang lain kok." Jawab Elan santai. "Ambillah." Elan menjulurkan buku itu kepada Anna.
"Terima kasih." Balas Anna seraya mengambil buku itu.
"Lain kali, kamu harus ingat aku. Elan."
"Ya."
__ADS_1
Elan berbalik dan segera pergi. Anna menatap punggung yang lebar itu menjauh. Kemudian dirinya pergi ke kasir dan membayarnya.