
Hari berikutnya, bazar yang ditunggu tunggu telah tiba. Anna dengan semangat mengikuti bazar. Sementara Arsya menekuk wajahnya karena kesal dengan Anna yang keras kepala.
Anna tidak pernah mengikuti bazar dari sebelumnya dan ini baru pertama kalinya dirinya ikut. Suasana di acara bazar itu lumayan ramai. Banyak sekali para pemuda dan pemudi memperkenalkan produk mereka yang sedang mereka ciptakan. Termasuk perkebunan anggur yang berada di samping ladang kebun mawar Anna.
Anna secara antusias juga memperkenalkan produk buatannya. Dari sabun cair, sabun batangan, parfum, dan teh mawar. Banyak di antara para ibu ibu dan anak remaja yang mengelilingi. Anna secara terbuka memberi penjelasan jika semua produk yang ia buat adalah produk yang ia ekstrak sendiri dari bunga mawar.
Dan para ibu ibu dan para remaja itu mengangguk. Sebenarnya mereka datang bukan untuk melihat secara dalam oleh produk Anna tetapi melihat secara jelas pria di sampingnya. Meski ia berdiri dengan angkuh, tetapi postur tubuh dan wajah gantengnya yang menarik mereka untuk datang mengelilingi.
Mereka secara malu malu mencuri pandang ke arah Arsya. Dan ada yang secara terang terangan. Namun Anna tak perduli. Meskipun mereka bersikap demikian, Anna merasa cukup terbantu dengan kedatangan Arsya yang justru produk buatannya berlaku keras dan cepat habis.
Anna menghitung hasil penjualannya setelah seharian ini bekerja keras.
"Besok gak usah ikut." Celetuk Arsya saat membantu membereskan kedai.
"Hasilnya lumayan." Balas Anna.
"Lumayan apaan! Lihat tangan dan wajahku. Ini semua gara gara mereka yang selalu mencubit wajah dan tanganku. Sekarang jadi merah." Ujarnya dengan kesal.
Anna menyunggingkan senyuman, menyimpan hasil penjualan ke dalam dompet lalu melihat Arsya yang wajahnya memerah.
"Bagaimana kalau kita makan di restoran. Sudah lama kita gak pernah pergi. Sebagai ganti rugi, aku yang bayarkan." Saran Anna.
"Wajahku yang merah. Ini gak sebanding!" Arsya merajuk.
"Oke. Nanti aku yang tanggung jawab."
Arsya menimang kata kata Anna. Tak lama setelahnya ia mengangguk dan mengiyakan. "Baiklah. Kau harus benar bertanggung jawab."
"Oke."
Tak lama setelah sore hari semua bazar telah ditutup. Anna dan Arsya meluncurkan mobilnya menuju ke sebuah restoran ternama di sana.
Sampai di sana mereka langsung duduk di bangku yang kosong. "Karena kau telah membantuku hari ini dan sampai daganganku habis maka kau boleh memesan apapun yang kau suka." Ujar Anna sembari memberi buku menu kepada Arsya.
"Benar ya. Sekarang nafsu makanku sedang banyak entah kenapa akhir akhir ini." Ujarnya.
__ADS_1
"Tentu...."
Kemudian Arsya menyebutkan satu persatu makanan kepada pelayan. Pelayan mencatatnya dan pergi. Selama menunggu makanan mereka datang Anna dan Arsya berbincang sebentar hingga kemudian nona Eli datang bersama calon tunangannya.
"Tuan Arsya. Noni. Kebetulan sekali. Apakah kalian sedang makan malam disini?" Tanya Eli menyapa keduanya.
Arsya langsung tersenyum. "Nona Eli. Ya benar. Kami sedang makan malam. Nona Eli bersama pacar?" Arsya melirik ke samping Eli. Seorang pria bangsawan yang penuh wibawa.
Eli melirik ke samping dan tersenyum. "Ya. Kami juga sedang makan malam. Kalau begitu kami permisi." Ujar Eli. Lalu berbalik.
Calon tunangan Eli langsung menarik tangan Eli dengan erat. Eli merasa kesakitan. Tapi ini di tempat umum. Ia mencoba menahan segala kesakitannya dan melepaskan cengkraman tangan dari pria itu. Dan akhirnya terlepas.
Saat mereka duduk. Pria itu langsung melirik ke arah Arsya duduk. Sementara Eli tempat duduknya langsung mengarah pada tempat duduk Arsya. Jadi wanita itu dapat melihat jelas bagaimana Arsya bercengkrama dengan gadis didepannya. Eli mengepalkan tangannya. Seharusnya saat ini dia yang berada di sana lalu mengakui bahwa dia hamil anaknya.
"Kau masih menyukainya?" Ujar pria itu dengan suara dingin.
Eli tersadar akan bayangannya. Lalu menarik pandangannya. Ia tidak berani melawan pria ini. Jadi ia menggelengkan kepala.
"Tidak." dia menyahut dengan suara tegas meyakinkan pria itu.
"Bagaimana jika aku hamil anak pria itu?" Eli memberanikan dirinya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan sebelumnya.
Mata pria itu berkilat penuh amarah. Matanya langsung memerah. Eli mendongakkan kepalanya menoleh dan menatap mata pria di sebelehnya. Kemudian ia tersenyum.
"Aku sedang hamil. Dan aku melakukannya bersama pria itu. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau tetap akan menghancurkan perusahaan ayah."
"Hehe. Kau mengancamku!" Pria itu terlihat tertawa tetapi penuh dengan bahaya.
Melihat wajah bengis pria disebelahnya. Eli melunturkan senyuman di wajahnya. Ia seperti ketakutan dan tidak berani lagi memancing emosi pria itu lagi.
"Tidak."
Pria itu langsung mencengkram dagu Eli. Memaksanya untuk menatapnya. "Aku tidak akan melepaskanmu. Meskipun kau hamil anak pria lain. Aku bisa melakukan segala cara untuk menghilangkan bayi dalam perutmu dengan caraku."
Eli meringis dan memegangi lengan pria itu dengan kedua tangannya untuk melepaskannya. Tetapi cengkraman pria ini terlalu kuat. Ia meneteskan air matanya. Saat mendengar pria itu akan menghilangkan bayi di dalam perutnya, Eli segera memohon.
__ADS_1
"Tidak. Edward. Kau jangan melakukan ini." Ujar Eli penuh dengan air mata.
"Cih. Apa peduliku. Asalkan kau menuruti kemauanku maka kau akan aman bersamaku."
"Ya...Ya...Ya.... Aku akan patuh padamu."
"Bagus."
Edward langsung melepas dagu Eli dan tersenyum puas dengan jawaban Eli. Berbeda jauh di tempat Arsya. Dulu Arsya selalu bersikap kaku karena mungkin dia belum menyukai Anna. Tetapi sekarang nampak berbeda dia benar benar menyukai Anna.
Dan suasana makan malam di sana tampak lebih hidup. Anna suka bercerita bagaimana suka dukanya saat dia mengelola ladang mawar sendirian. Dia juga tidak memiliki pegawai saat itu.
Umurnya yang masih belia membuat dia tidak dipercaya oleh orang orang. Jangankan menggaji mereka. Di umur segitu kebanyakan dari mereka masih labil dan suka bercanda. Jadi segala omongannya dianggap bercanda.
Di saat ia merasa prustasi. Elmo datang meminta pekerjaan. Dia masih muda tapi akibat pergaulan yang salah dia menghamili anak orang yang seusia dengannya. Anna langsung terbantu dengan datangnya Elmo ini.
Elmo juga merasa senang bisa mendapatkan pekerjaan dan akhirnya ia bisa menghidupi anak dan istrinya. Sementara Anna bisa mendapatkan orang untuk membantunya menanam ladang seluas itu.
Arsya yang mendengarnya merasa bersalah. "Ternyata perjuanganmu sangat tidak mudah." Ujar Arsya.
"Ya. Maka dari itu aku tidak akan meninggalkan ladang ini ataupun menjualnya. Dulu aku sangat bersusah payah membelinya." Ujar Anna.
"Lalu, jika aku mengajakmu kembali apakah kau akan menolaknya?" pertanyaan itu sangat sederhana tapi mempunyai makna yang dalam.
"Entahlah." Anna merasa sedih juga merasa rindu bercampur menjadi satu.
"Awalnya aku akan tetap tinggal disini. Memikirkan papa dan mamaku sudah bahagia. Meski mereka bukan orang tua kandungku. Tapi sejak kecil mereka telah mengasuhku. Aku juga merindukannya. Tapi aku mempunyai pilihan hidup sendiri."
"Jadi kau tidak akan kembali?"
Anna menggeleng pelan. Arsya terdiam beberapa saat lalu pada akhirnya ia mengungkapkan isi hatinya.
"Aku tidak bisa selamanya berada disini. Ada perusahaan yang harus aku kelola. Besok pagi, aku akan kembali. Aku sudah membantumu sampai disini. Dan kau bisa melakukannya sendiri ke depannya. Aku sudah menyiapkan segala hal disini."
"Ah." Anna tercengang. Tiba tiba hatinya terasa kosong.
__ADS_1