Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Dua Puluh Enam


__ADS_3

Sudah jam 11 malam, Anna baru kembali ke Villa yang ia tempati. Ia memarkirkan mobilnya dengan rapi di dalam garasi. Saat baru akan mengetuk pintu, Ricky sudah membukanya terlebih dahulu.


Pria itu akan selalu sigap dalam pekerjaannya. Ia membungkuk hormat dan menyapanya seperti biasa. Anna melewatinya dan mengangguk samar. Kemudian menaiki tangga dan memasuki kamar pribadinya.


Di pojokan kamar masih tersimpan foto pernikahannya. Meski itu akibat sebuah perjodohan tetapi pernikahan itu adalah sah secara hukum dan sah secara agama.


Ia memandang foto itu yang masih tergeletak di atas lantai yang masih terbungkus kertas coklat. Tidak ada dari kedua orang itu ingin memajangnya.


Anna tersenyum pahit, "Masih enam bulan kan?" Ucapnya.


"Sudah tak sabar ya sampai perceraian kita, kamu sudah mengumumkan pertunangan." Lanjutnya. Ia kemudian menuju ranjang besarnya. Lalu menatap tempat yang biasa Arsya tiduri. lalu membayangakan di sampingnya adalah Linda.


"Huh, untuk apa memikirkan orang bodoh seperti kalian." Setelah menghibur dirinya sendiri Anna masuk ke dalam kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi.


"Duh Anna, jangan pikirkan mereka. Pikirkan dirimu sendiri kamu harus menabung dan setelah berpisah kamu tidak boleh bergantung dengannya lagi." Ia menatap dirinya di dalam cermin di dalam kamar mandi. Setelahnya ia keluar dan mengganti pakaiannya dengan piyama bergambar Papinca.


Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, setelah beberapa saat akhirnya dirinya tertidur pulas.


Malam yang panjang terlewati begitu cepat. Tanpa terasa sudah kembali pagi lagi.


"Hoammmm!" Anna menguap saat sebuah alarm ponsel miliknya berdering.


"Ah sudah jam enam saja." Monolognya, ia menggeliat untuk merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku, mematikan alarm kemudian beranjak menuju kamar mandi.


Setelah siap dengan seragam putih abu-nya ia keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Setiap pagi bahkan setiap hari ia selalu melihat pemandangan yang sama dan aktivitas yang sama.


Dia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Pulang pergi ada sopir yang mengantar, banyak pengawal yang menjaganya.


"Anna, wajah kamu kuyu sekali." Tegur Leya.


Kelopak mata Anna membuka dan menatap sahabatnya itu yang sedang memandangnya.


"Aku lelah dengan kehidupanku." Ujar Anna lalu kembali memejamkan matanya.


"Huh, kok balik tidur lagi."


Anna mendengar tapi malas untuk menjawab. Leya menggeser kursinya hingga mendekat dengan kursi Anna, lalu mendekatkan kepalanya di atas kepala Anna yang tengah tertidur.


"Aku ada ide, nanti malam kita dugem." Bisik Leya tepat di kuping kirinya.


Seketika mendengar kata dugem, Anna melebarkan matanya. Ia segera duduk tegak, tetapi kepala Leya masih diatasnya.


dug


Kepala keduanya saling terbentur, "Aduh!" Pekik Leya.


"Eh," Anna juga merasakan sakit akibat berbenturan dengan kepala Leya.


"Sakit Na..." Ringis Leya, tangannya mengusap usap dahinya yang memerah.

__ADS_1


"Sorry!" Ucap Anna menampakkan gigi putihnya.


Leya melambai lambaikan tangannya, Mengatakan bahwa dirinya baik baik saja. Sejenak Anna terdiam lalu mendekat lebih dekat dengan Leya.


"Dugem?" Tanya Anna seraya berbisik.


"Dugem?" Leya malah balik bertanya, ia lupa kalau tadi sudah mengatakannya.


Anna menepuk dahinya, karena Leya malah lupa dengan ajakannya.


"Kamu bilang mau dugem?" Ucap Anna menanyakan pertanyaan kedua kalinya.


"Oh...Dugem." Leya baru ingat.


"Masih muda tapi udah pikun." Cibir Anna kembali merebahkan kepalanya di atas meja.


"Yach tidur lagi." Decak Leya, ia tak habis pikir dengan sahabatnya ini yang selalu tidur di dalam kelas.


"Kamu mau enggak dugem, nanti malam aku bisa menjemputmu." Ucap Leya membisikkan di kuping Anna.


Anna kembali bergerak, Leya segera memindurkan kepalanya sebelum terbentur kedua kalinya.


"Jemput? kamu tau rumahku?" Tanya Anna setelah ia duduk tegak kepalanya menoleh menatap leya.


Leya menggeleng. "Jika kamu memberi lokasi lewat gps, aku pasti menemukan rumahmu." Ucap Leya dengan terkekeh


"Banyak anjing dirumahku, yakin kamu mau menjemputku." Ucap Anna meyakinkan sahabatnya itu.


"Sehebat itu Arsyamu?"


"Ya." Anna mengangguk.


"Tidak di sangka. Selain pengusaha muda sukses dia juga penyuka anjing?" Leya bergidik ngeri membayangkan betapa Arsya menyukai anjing. Leya mempunyai trauma di kejar anjing.


"Masih mau datang?" Tanya Anna meyakinkan. Leya bergidik ketakutan dan menggeleng kuat.


Anna tersenyum lalu menepuk nepuk bahu leya pelan. "Arsya mempunyai seribu pengawal di dalam rumahnya. Mana bisa aku keluar malam seperti itu." Ucap Anna menjelaskan.


"Hah." Leya tercengang. 'Seribu pengawal' ucapnya dalam hati. Leya menatap Anna dengan tidak percaya.


"Kamu tidak akan mengerti." Ucap Anna lalu beranjak dari kursinya.


"Eh mau kemana?" Tanya Leya.


"Keluar, cari makan." Sahut Anna lalu melangkahkan kakinya keluar kelas. Leya segera menyusulnya.


Tepat langkahnya berada di depan pintu, sebuah tangan menghadangnya. Ditangannya terselip sebuah kartu undangan. Anna mengernyitkan dahinya.


"Itu undangan buat kamu." Ucap seorang gadis dengan senyum di wajahnya.


Gadis itu adalah Indri. Gadis yang terkenal dengan the most wanted disekolahnya. Sebenarnya Anna malas berurusan dengan gadis itu. Anna mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Belum sempat Anna mengambil undangan itu, Indri menarik tangannya. "Jangan lupa, ke pestaku ada aturannya." Indri tersenyum seolah sedang memainkan sebuah trik.


Tangan Anna terhenti diudara, setelah mendengar ucapan Indri, ia tersenyum lebar.


"Aturannya, harus memakai kostum." Ucap Indri.


"Jangan khawatir." Balas Anna, tangannya yang mengudara secepat kilat menarik undangan itu.


"Aku pasti akan datang." Ucap Anna seraya berbisik saat melewati Indri yang berdiri tegak di depannya


Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Leya terbengong saat Anna kedatangan seorang tamu bernama indri. Mereka tak pernah akur sejak dulu. Tapi kenapa Indri hari ini datang membawakan undangan.


Leya tersenyum canggung, lalu melewati indri dengan pelan pelan. "Eh tunggu!" Suara Indri menghentikan langkah Leya.


"Ya." Leya berbalik menunggu ucapan Indri.


"Kamu juga diundang loch." Indri mengeluarkan sebuah kertas kartu undangan yang sama lalu menyodorkannya kepada Leya.


"Oh, Trims ya." Sahut Leya.


"Jangan lupa, temanmu diingatkan ya, jangan sampai tidak datang." Indri melewati gadis itu kemudian berkata dengan berbisik di samping telinga Leya.


Indri tersenyum lebar, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Leya. Leya membolak balik kertas yang terbalut kuning emas itu. Lalu teringat Anna.


Ia segera berlari menuju kantin. Setelah sampai, ia langsung duduk dihadapan Anna yang dengan santainya memakan bakso pedas dan es teh sebagai penyejuk tenggorokannya.


"Sial, kamu selalu ninggalin aku."Keluh Leya, Nafasnya masih terengah karena berlarian di koridor.


"Kamu yang kurang cepat." Elak Anna. lalu menyedot minumannya tetapi belum sempat Anna menyedot minumannya sudah direbut Leya.


Leya meminum es teh manis itu hingga habis dan hanya tersisa es batunya saja.


"Es teh milikku." Wajah Anna meringis saat sebuah tangan menghardiknya. Lalu menatap gelas yang telah kosong akibat ulah Leya yang secara tiba tiba.


"Huwah..."Leya menyuarakan kesegaran yang masuk ke dalam tenggorokannya. Lalu meletakkan gelas itu secara kasar hingga membentuk suara.


Duk


Gelas berbahan kaca itu berbenturan dengan meja kayu. "Lega." Ucap Leya. lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa basah karena air teh yang ia minum.


Wajah Anna menekuk dalam, ia sangat kehausan, tetapi sahabatnya itu malah menghabiskannya tanpa sisa. Leya tersenyum.


"Ini hukumanmu karena sudah meninggalkanku." Celetuk Leya.


"Haist." Anna hanya mampu mendesis.


Seusai makan bakso, keduanya kembali ke kelas. Leya membaca undangan itu dengan seksama. matanya membola saat pesta akan dilaksanakan besok sore di hotel hilton. Ia harus segera mencari gaun yang baru untuk menghadiri pesta itu.


"Na, kayaknya kita butuh ke mall nih." Celetuk Leya, tanpa melihat si empunya yang ia ajak bicara.


"Hem." Gumam Anna.

__ADS_1


Leya segera menoleh karena suara Anna terdengar lemah. "Astaga, tidur lagi. Nih orang kalau malam tidur gak sih. Dikelas molor aja kayak dihotel." cibir Leya.


__ADS_2