Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 8


__ADS_3

"Halo, siapa ya?"


Deg....


Jantung arsya memompa dengan cepatnya. Suara itu sangat familiar di indra pendengarannya. Meskipun sudah enam tahun lebih dia tak pernah bertemu dengannya. Tapi dia memiliki intuisi yang sangat kuat. Air matanya yang ia tahan, tak bisa ia bendung tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Anna masih berdiri di tempatnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia masih menatap pria itu yang tak kunjung berbalik menghadapnya.


"Hai." sekali lagi Anna menyapa pria itu. Siapa tau pria itu tidak mendengar sapaannya.


Arsya mengusap matanya dengan ibu jarinya. Lalu berbalik menghadap Anna. Anna terbelak, matanya melebar bahkan mulutnya terbuka. Ia tak menyangka akan bertemu Arsya kembali setelah enam tahun berlalu.


Anna menutup mulutnya yang menganga dengan satu telapak tangan kanannya.


"Hai Anna." Ujar Arsya dengan sendu. Tetapi ia tetap tersenyum. Ia tak bisa menahan rasa rindunya selama ini.


Anna memundurkan langkahnya, ia benar benar terkejut. "Kamu! Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Anna dengan langkah yang terhenti saat di balik punggungnya ada tembok penghalang.


Arsya tersenyum miris. Meskipun ia sudah menemukan Anna tetapi ia tak bisa memeluknya.


Sementara direktur Roni yang berada di ruang kerja tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua. Ia juga merasa bosan menunggu. Akhirnya ia keluar dari dalam ruangan itu.


Saat keluar, ia terbelalak menyaksikan kedua manusia itu malah saling terdiam dan saling memandang. Jarak antara mereka sekitar lima langkah. Direktur Roni ingin mendekat dan akan mengatakan yang sebenarnya. Tetapi sebelum ia melangkah, Arsya sudah kembali bersuara.


"Anna, kembalilah!" Saat Arsya mengatakan hal itu. Langkah direktur Roni terhenti. Ia tercenung.


"Anna, kembalilah! Kedua orang tuamu merindukanmu. Apakah kau akan selamanya berada disini?" Ujar Arsya mengulangi perkataannya dan menambahkan beberapa kata.


Anna tak bisa membendung air matanya. Ia sudah meneteskan air matanya tatkala pria itu mengatakan kerinduan kedua orang tuanya.


"Tidak. Aku tidak akan kembali." Gumam Anna dengan pelan.


Direktur Roni tak mengerti dengan ucapan Arsya. Tapi satu hal yang tak ia ketahui. Apakah mereka saling mengenal?


"Kau boleh membenciku. Tapi kedua orang tuamu tak berhak mendapatkan kebencian darimu." Arsya kembali melontarkan kata kata yang bisa menggerakkan hati Anna.


"Mereka sakit keras. Apakah sedikitpun tak ingin melihatnya." Arsya terpaksa berbohong demi bisa menariknya kembali.

__ADS_1


Anna menaikkan kelopak matanya. "Tidak mungkin, kau berbohong." Ujar Anna ia membalikkan tubuhnya dan menangis.


"Presdir!" Direktur Roni memberanikan diri untuk segera menyela. Ia juga merasa kasihan saat Anna menangis seperti itu.


"Roni. Katakan padanya. Kedua orang tuanya merindukannya." Ujar Arsya. "Dan kau segera kembali. Aku tunggu di kantor." kemudian ia berbalik pergi.


Direktur Roni melirik ke arah punggung Anna yang bergetar. Tetapi ia tak bisa berlama lama di sana. Ia membuka mulutnya tapi tak mengatakan apa apa. Ia kemudian berlalu dari ruangan itu.


Anna berjongkok di bawah tembok. Ia menangis tersedu kala mengingat kedua orang tuanya. Ia menghilang bagaikan ditelan bumi. Ia hanya sesekali mengabari Leya. Tetapi untuk kedua orang tuanya sama sekali ia tak pernah memberi kabar. Ia terakhir kali bertemu sebelum pergi keluar negeri hal itu ia lakukan untuk menghindari Arsya.


Dan ini, Apakah benar Wiryo dan Dewi sedang sakit? Jika benar. Maka ia merasa bersalah karena mencampakkan kedua orang yang telah membesarkannya selama ini.


Dengan kaki yang masih lemas, Anna segera beranjak dari lantai. Ia mengusap air matanya yang mengering di kedua pipinya. "Maafkan aku Pa! Ma!" gumam Anna pelan.


Sementara Arsya di kantor tampak termenung. Matanya memerah karena air mata. Saat Roni datang Arsya kembali ke sikap semula.


"Presdir!" Direktur Roni segera menyapa Arsya.


"Aku sudah mempunyai solusi terkait pendanaan yang masih ada kekurangan. Kau tenang saja. Aku sudah menutupinya."


"Besok pagi, aku akan kembali."


"Secepat itu?"


"Ya, pekerjaan disini sudah fik. Bahkan masalah ini kau sudah membereskannya. Jika saja kau tak mau bertindak maka aku yang akan membereskan orangmu sekaligus kau, aku lempar ke Afrika."


"Astaga! Presdir. Anda kejam sekali."


Arsya melirik ke arah direktur Roni yang ketakutan. "Untuk urusanmu melamar wanita. Lebih baik hentikanlah. Dia wanita yang bersuami."


"Apa!" Direktur Roni terkejut. Dia tak melihat wanita itu mengenakan cincin pernikahan.


Direktur Roni menyadari. Sebelumnya ia pernah melihat presdir mengenakan cincin. Setahun kemudian ia tidak mengenakannya tetapi ada sebuah kalung dilehernya dan cincin itu sebagai bandulnya.


Apakah mungkin, wanita itu adalah....


Memikirkan hal ini, kaki direktur Roni merasa lemas. Ia menatap presdir Arsya dengan tak percaya terlebih Arsya juga mengenal kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dia juga memperhatikan tatapan mata Arsya yang seperti orang yang sedang kehilangan. Juga sorot matanya ada rasa rindu yang mendalam. Juga kalimat kalimat yang seperti dua muda mudi yang berpasangan.


Direktur Roni menarik kesadarannya tatkala deru mesin mobil mengusik lamunannya. Ia menoleh saat mobil itu sudah pergi menjauh.


Sementara Anna. Ia termenung di dalam kamarnya. Apa yang seharusnya dia lakukan? Ia juga merasa rindu dengan kedua orang tuanya. Bagaimana kabarnya sekarang? Sejak kepergiannya. Ia menutup mata dan telinganya. Ia tak pernah mencari kabar tentang mereka berdua.


Ia hanya merasa takut, jika saling berkabar. Arsya akan dengan mudah menemukannya. Tetapi sepertinya pria itu juga menutup seluruh berita keluar negeri. Ia tak pernah menemukan apapun tentang berita pria itu.


Anna merasa prustasi sendiri memikirkan hal ini. Tetapi ia sudah bertekad.


Saat pagi kembali menyapa, Arsya dan Danni meninggalkan negara itu. Sementara Roni hanya tinggal beberapa hari lagi.


Anna menatap konstruksi pembangunan dengan tatapan rumit. Konstruksi itu sudah hampir jadi. Pemiliknya juga sepertinya sudah akan memulai prakaryanya.


"Noni!" Suara direktur Roni mengusik lamunannya. Terlihat direktur Roni sedang melambaikan tangan. Anna tersenyum sebagai tanggapan. Direktur Roni segera pergi menghampiri.


"Noni, apa yang sedang kau lihat?" tanya direktur Roni.


"Lihat rumah konstruksi yang kau buat. Sepertinya sudah seluruhnya hampir jadi." ujar Anna.


"Ya, sepertinya. Sebentar lagi kita akan berpisah."


"Oh ya. Aku ingin bertanya satu hal?"


Direktur Roni menaikkan alisnya sebelah. "saat kau mengatakan suka padaku. Sekarang aku memikirkan jawabannya."


"Kita jalani hubungan ini dengan berpacaran. Aku menerimamu."


"Ach." direktur Roni terbelak karena terkejut. Sejak Arsya mengatakan untuk tidak mendekatinya. Ia pun tak pernah lagi berniat untuk melamarnya.


"Ini..."


"Aku tau perasaanmu. Kau tidak akan menarik perkataanmu kan." tanya Anna.


"Bukan, tapi bukankah kau sudah...."


Anna segera menggelengkan kepalanya. "tidak!"

__ADS_1


__ADS_2