Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 16


__ADS_3

"Nona Eli, sungguh mempunyai waktu luang." ditengah tengah makan, Arsya mencairkan suasana.


"Tentu saja tuan Arsya. Demi bisa bertemu tuan Arsya. Meskipun sibuk pun akan saya luangkan."


"Haha manis sekali." Arsya tertawa.


Anna di sampingnya ingin muntah mendengar kata rayuan Arsya. Sungguh memuakkan.


"Ah ya. Nona Eli ini bekerja di mana? Anda sepertinya bukan orang sembarangan." Ujar Arsya.


Eli tersenyum dan memotong daging stiek dengan elegan. "Tuan Arsya memang orang yang sangat jeli. Saya belum bekerja. Hanya saja papa saya adalah seorang pengusaha. Dan malam itu, papa saya mendapat undangan dan karena beliau sakit jadi saya harus pergi menggantikannya." Ujar Eli dengan tersenyum. Kemudian menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Oh, ternyata seperti itu." Ujar Arsya seraya melirik ke arah Anna.


"Noni, sejak tadi kau hanya diam. Bisakah kau menceritakan sedikit ceritamu." Pandangan Eli mengarah ke arah Anna yang sedari tadi terdiam sambil menikmati makanannya.


"Nona Eli tidak bisa dibandingkan dengan saya. Semua cerita saya tidak ada yang menarik." Ujar Anna.


"Bagaimana kalau ceritaku?" Arsya dengan senang hati menawarkan.


Lirikan Eli mengarah kepada Arsya. "Boleh juga. Sejak pertama bertemu. Kau adalah pria dingin yang pernah aku temui. Aku merasa penasaran dengan anda."


"Haha. Anda sedang memujiku." Arsya tertawa.


Eli mengendikkan bahu dan kembali menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Saya ini sedang mencari pasangan, menurut anda apakah anda cocok dengan saya?"


"Ach, benarkah?" Mata Eli tampak berbinar.


"Yach, Dulu ada seseorang yang sudah saya taksir. Tapi tampaknya usaha saya sia sia karena dia menghilang sudah hampir enam tahun. Jadi saya merasa putus asa untuk mencarinya." Ujar Arsya melirik ke arah Anna.


Anna pun ternganga dengan ucapan Arsya ini karena selalu mengarah kepadanya.


"Wow. Kenapa anda tidak mencarinya lagi saja. Siapa tau bisa bertemu dengannya lagi." Saran Eli.


"Haha, tidak perlu. Lagi pula dia sudah lupa padaku. Dan aku juga baru tau jika dirinya malah pergi dengan yang lain." Sahut Arsya, kedua tangannya yang telah selesai makan pun menyangga dagunya.


"Hemm, cerita yang sangat menyedihkan." Eli juga sudah selesai makan lalu mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya.

__ADS_1


"Maka dari itu, saya ingin bertanya kepada anda. Apakah kau mau menjalin hubungan dengan ku?" Ujar Arsya sembari tersenyum mengulangi pertanyaannya.


Anna yang berada di sampingnya pun merasa tersindir. Tapi ia tetap tenang dan dingin terhadap ucapan Arsya ini.


"Anda bertanya, maka saya juga akan menjawab. Boleh juga." Eli mengangguk dan setuju menjalin hubungan dengan Arsya.


"Bagus sekali." Arsya merasa senang. Satu tangannya langsung terulur dan mengambil tangan Eli yang berada di atas meja lalu menggenggamnya dengan mesra.


"Sialan! Dasar tak tau malu. Dia anggap aku sebagai kambing congek disini!" geram Anna dalam hati. Tetapi ia memilih diam dan tak menghiraukan mereka berdua yang saling merayu itu.


"Kalau kamu Noni. Bagaimana penilaianmu terhadap nona Eli ini jika bersanding denganku?" Tanya Arsya menolehkan kepalanya kepada Anna tanpa tangannya ia lepas dari genggaman tangan Eli.


Anna melirik tautan tangan yang belum terlepas itu. Kemudian menatap satu persatu wajah Arsya kemudian menatap Eli. Tampaknya gadis itu masih tersenyum menunggu jawaban dari Anna.


"Sial, dia malah memancingku dengan pertanyaan seperti ini." Ujar Anna dalam hati. Ia pun meletakkan garpu dan pisaunya dari genggamannya karena saat ini ia memilih memakan makanan penutup. dari pada harus mendengar kedua manusia itu saling merayu.


Anna bertopang dagu lalu memunculkan senyuman. "Nona Eli ini sangat cantik. Sedangkan tuan Arsya sendiri juga tampan. Menurutku bagus juga." Arsya tersenyum puas kala Anna memujinya jika dirinya tampan. Begitu juga Eli yang tersenyum untuk menanggapinya.


"Terima kasih. Kau memang paling tau seleraku." Ujar Arsya berterima kasih. Lalu ia pun menarik tangannya dari genggaman tangan Eli. Kemudian menarik kue dihadapannya sebagai makanana penutup.


"Sial, seharusnya aku bilang jika kau itu buaya, bukan tampan." Ujar Anna dalam hati. Ia kembali mengambil garpu dan pisaunya kembali mengiris iris cake itu dengan kejam membayangkan jika itu Arsya dan ia menumpahkan kekesalannya kepada cake itu.


Setelah menghabiskan makanan penutup, Eli segera beranjak dari kursinya karena dia akan bertemu dengan temannya. setelah berpamitan Eli pun pergi. Arsya menatap punggun Eli yang ramping itu hingga keluar restoran.


Anna pun ikut beranjak dari duduknya dan menggapai tas dari bawah kakinya. Sementara Arsya langsung membayar tagihan makanan ke kasir. Anna tak perduli dengan pria itu dan langsung meninggalkannya.


Sampai di parkiran ia langsung menuju ke mobilnya. Setelah menemukannya ia masuk ke dalam kursi kemudi. Ia melepas rasa kesalnya dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Sial, karena Arsya. Waktuku terbuang sia sia." Ungkap Anna dengan kesal. Barulah ia membawa mobilnya keluar dari area restoran.


Arsya tersenyum puas. Bagaimana tadi Anna memujinya jika dirinya tampan. Selama dia hidup bersama dengan Anna. Ini pertama kalinya mendengar Anna mengucapkan kata pujian dari bibirnya selain kata makian.


Kali ini pancingan terhadap Anna sangat sukses. Ia akan pelan pelan membuat gadis itu mencintainya dengan sepenuh hati. Tak berapa lama sebuah notif masuk ke handphone Arsya. Pesan itu dikirim oleh Eli.


"Terima kasih tuan Arsya atas makan siangnya. Juga sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu denganku." Isi pesan Eli.


"Ya." Balas Arsya dengan singkat. Namun Eli sudah merasa senang.


Arsya mengendarai mobilnya melintasi jalan raya. Sementara kedua pengawalnya membuntuti di belakangnya. Awalnya pria itu enggan untuk menemui Elisabeth. Tetapi mengingat tadi bahwa Anna sedang bertemu dengan seseorang jadi dia mau meluangkan waktu dan mengatur pertemuan di restoran yang sama dengan Anna.

__ADS_1


Untuk Elisabeth sendiri, bagaimana wanita itu bisa menemukan kontak Arsya. Karena dia adalah anak pengusaha sangat mudah baginya untuk mendapatkannya. Dan fakta baru saat dia menemukan jika Arsya adalah seorang pemuda sukses yang mampu mengelola sebuah perusahaan raksasa di bawah naungan Adiyaksa. Bahkan ia juga sempat terkejut karena usaha pria itu hampir menguasai dunia.


Jadi wanita itu benar benar menyukai pria misterius seperti ini.


Saat mengendarai mobil dengan santai. Arsya menemukan bahwa Anna sudah berdiri dipinggir jalanan sedang ingin menyetop taksi. Dahi Arsya sedikit mengernyit. Bukankah tadi wanita itu membawa mobil? Kenapa dia tiba tiba berhenti di tepi jalan?


Arsya menepikan mobilnya. Apalagi jalan ini berada di antara padang yang luas. Akan sangat sulit untuk menemukan taksi atau tumpangan lainnya. Ia segera mematikan mesin mobilnya dan keluar.


"Anna!" Ujar Arsya dengan suara rendah.


Gadis itu yang tengah berdiri di tepi jalan itu menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya terlihat kesal dan bibirnya ia manyunkan ke depan saat tau itu adalah Arsya. Si jengkel yang selalu mengganggu hidupnya.


"Dimana mobilmu?" tanya Arsya.


"Di sana." tunjuk Anna ke sebuah mobil yang terparkir di sebuah rumah yang terbengkalai. "Mogok." lanjut Anna.


Arsya mengarahkan pandangannya ke sebuah rumah kosong itu. Sedetik kemudian ia menatap Anna. Lagi pun sepertinya hari sudah mau gelap. Juga mendung.


"Kalau gitu, ayo pulang bersamaku. Lagian kan kita searah." Ujar Arsya memberi tawaran kepada gadis itu.


Baru saja pria itu merayu dan menyatakan perasaannya kepada wanita lain. Bagaimana mungkin ia mau menumpang di mobilnya. Ia tidak mau di cap sebagai pelakor karena berduaan di dalam mobil yang sama.


"Tidak perlu. Aku tidak mau semobil dengan manusia buaya darat seperti kau." Ujar Anna.


Arsya tersenyum menyeringai. "Bagaimana denganmu yang juga selalu bergonta ganti pria. Bahkan om om pun kau embat." ucap Arsya datar.


Anna membeliak. Bisa bisanya Arsya membalikkan fakta kepadanya. "Aku tidak. Kalau ada yang masih muda kenapa harus mencari om om." sahut Anna panik. "Lagi pula aku tadi bertemu dengan Mr Anderson untuk membahas usahaku yang sedang bekerja sama dengannya." lanjut Anna. Entah kenapa tiba tiba Anna menjelaskan yang seharusnya tidak ingin ia jelaskan.


Arsya semakin tersenyum dan itu membuat Anna merinding. "Bagus, ini menandakan bahwa kau tak ingin aku salah paham. Dan ya...aku akan percaya jika kau memperkenalkannya padaku. Maka aku tidak akan salah sangka jika kau menggaet om om."


"Sial, aku malah kemakan sama omongannya. Untuk apa tadi aku malah menjelaskannya." batin Anna.


"Tidak boleh. Untuk apa aku harus memperkenalkanmu. Lagi pula kita ini bukan apa apa." Anna masih bertekad.


"Baiklah kalau itu maumu." ujar Arsya. Ia menatap langit mendung dan hari semakin gelap. "Ini sudah mau hujan juga sudah mau malam. Kau yakin akan pendirianmu tidak mau menumpang di mobilku?" tanya Arsya memastikan sekali lagi jika wanita itu tetap bertekad.


"Ya." jawab Anna ragu. Karena sejak tadi ia tak menemukan mobil sekalipun yang lewat.


"Baiklah." Arsya mendesah pelan. Ia berbalik dengan pasti menuju ke mobil. Saat langkah sudah lebih dekat, Anna tiba tiba menyerukan namanya. Arsya pun berbalik menatapnya.

__ADS_1


"Ya. Apakah kau berubah pikiran?" tanya Arsya. Jika benar seperti itu. Maka ini kesempatan besar bisa berduaan.


__ADS_2