
Tettt Teeeetttt Teeeeetttttt
Terdengar bel istirahat berdering setiap penjuru sekolah. Anna menutup bukunya dengan perasaan lega. Ia merasa lelah harus mendengarkan ceramah di depan kelas. Hari ini ada pelajaran matematika. Setelah hari itu, Ia selalu diperhatikan. Setiap ada sesi kuis di pelajaran matematika ia akan ditunjuk untuk yang pertama.
Meskipun mampu berdalih tetapi ia tak bisa mangkir dari sebuah hukuman. Yang kedua ia sudah ketahuan selalu tidur di dalam kelas setiap mata pelajaran. Akhirnya para guru selalu ketat mengawasi dirinya. Apalagi kelas yang ia masuki adalah kelas unggul.
Jika Anna melakukan hal ini secara terus menerus maka pihak guru akan berkonsultasi kepada kepala sekolah untuk memindahkan Anna ke kelas yang lain. Jadi para guru bersepakat selama satu bulan ini akan mengawasi Anna.
Anna merasa bosan kalau setiap hari akan seperti ini. Hari harinya akan lebih membosankan.
"Na, wajahmu ditekuk begitu." Leya menggeser tempat duduknya berdekatan dengan Anna.
"Hem, gimana tidak. Jika para guru itu sekongkol mengeluarkan aku maka habislah aku. Apalagi jika harus sekelas dengan Indri itu." Ucap Anna kesal.
"Makanya kamu harus berjuang demi tetap berada dikelas unggul ini." Ucap Leya.
"Tentu saja." Ucap Anna menyibakkan rambutnya kebelakang.
Tiba tiba terdengar keriuhan di depan kelas. Leya dan Anna saling menatap. "Ada apa?" Tanya Anna.
"Mana tau." Jawab Leya seraya menaikkan bahunya.
Di depan kelas, para siswa sedang berkumpul. Entah apa yang mereka bahas. Terlihat begitu antusias dan senang. Anna keluar bersama Leya.
"Ugh, aku dengar presdir Adiyaksa berkunjung kemari." Ujar salah satu siswa.
Para siswa perempuan itu berkerumun membentuk sebuah lingkaran.
"Benarkah, kamu tau dari mana?" Tanya Siswa yang berada didepannya penasaran.
"Tentu saja, aku melihatnya. Tadi gak sengaja pergi ke toilet dan melihat mereka berjalan jalan didampingi kepala sekolah dan guru yang lain." Ujar gadis itu.
"Aku dengar mereka menyebut presdir adiyaksa."
"Haha, ini sebuah kejutan besar di sekolah kita." Ujar seorang gadis berambut pendek.
"Benar juga, dulu hanya mendengarkan saja sekarang mereka berada disini. Aku penasaran bagaimana rupa-nya?"
"Iya, apakah dia sama dengan yang di foto. Dengar dengar sudah bertunangan dengan Linda Sebastian."
"Tau dari mana kamu."
"Ah itu kan berita lama yang di muat di internet. Seluruh dunia juga tau."
Anna mengerutkan keningnya. Tiba tiba perasaannya tidak enak. Kenapa Arsya bisa ada disini? Apa yang dia lakukan? Sederet pertanyaan itu memenuhi pikirannya.
"Ayo ke kantin saja. Gadis gadis itu memggosipkan hal gak berguna." Leya menepuk bahu Anna, secara otomatis membuyarkan lamunan Anna.
Mereka berdua menuju kantin yang berada di lantai satu.
"Biar aku saja yang pesan. Kamu mau pesan apa?" Tanya Anna pada Leya.
"Es, bakso, pake pangsit dan kuahnya yang banyak." Ucap Leya sambil tersenyum.
"Terlalu banyak permintaan." Anna mencebikkan bibirnya kemudian berlalu pergi.
Tak berapa lama Anna kembali dengan membawa nampan. Namun belum sampai di tempat duduknya sebuah kaki tertendang oleh kakinya.
__ADS_1
Duk
Kaki Anna tersandung sehingga membuat semua makanan di atas nampan tumpah ke lantai karena tidak bisa menyeimbangkan kakinya. Anna juga ikut terjerembab ke depan.
Semua orang yang melihatnya sedang menertawakannya. Anna merasa geram dengan orang yang menjulurkan kakinya dengan sengaja. Ia lantas mendongak siapa pemilik kaki yang sengaja membuatnya terjatuh.
"Kesya." Jeritnya dalam hati.
Anna segera berdiri. Merapikan roknya yang berantakan. Leya yang melihatnya segera mendekati dan membantu Anna berdiri.
"Kesya. Kamu sengaja ya?" Tanya Leya ingin memukul kesya.
"Hahaha, Iya emang kenapa?" Jawab Kesya dengan senyum mengejek di wajahnya.
"Sialan!" Leya mencengkeram kerah leher Kesya mengulurkan tangan bersiap menamparnya.
"Tampar saja. Itu balasan buat orang yang sudah merusak citra Indri. Sekarang Indri dikeluarkan dari sekolah ini gara gara dia." Kesya menunjuk dengan jarinya ke arah Anna.
Anna mendorong Leya ke samping. Leya pun terpaksa menarik tangannya yang memegang kerah leher Kesya.
"Ulangi sekali lagi!" Ucap Anna datar dan tenang.
Ada sedikit kilau percikan api kemarahan di mata Kesya. Tatapan Anna sangat tajam menatapnya. Ada sedikit rasa takut pada diri Kesya. Tapi ia harus berani melawan biang kerok ini untuk membalaskan dendam Indri.
"Kamu! Yang membuat Indri dikeluarkan dari sekolah ini. Jadi aku harus membuatmu lebih sengsara." Balas Kesya dengan berani.
Plak
Terdengar suara pukulan yang keras menampar pipi Kesya.
"Bagus Anna, jangan kalah dengan orang yang telah menindasmu." Ucap Leya merasa bangga.
"Sialan, kamu berani memukulku." Kesya berbicara dengan tergesa kemudian mengayunkan tangannya dan memukul pipi Anna hingga memerah.
Anna kembali mengayunkan tangannya dan membalas pukulan Kesya. Dea teman disebelahnya merasa geram kemudian membantunya dengan menarik rambut Anna hingga membengkok ke belakang. Leya yang melihat perdebatan itu segera menarik rambut Dea membalas perbuatannya.
Seketika ke empat orang saling tarik menarik. Tidak seorangpun yang berani melerai, mereka semua tau jika genk the most wanted ini selalu mencari gara gara tapi setelah mendengar ketua dari mereka dikeluarkan tidak terdengar berita itu lagi.
Dalam kurun waktu beberapa minggu. Mereka merasa damai. Tetapi mereka tidak menyangka akan kembali ricuh saat bertemu dengan Anna. Mereka menyaksikan pertengkaran ini dengan saling menghina. Dan bagi mereka yang sudah pernah di ajak cekcok dengan genk most wanted tanpa sadar mereka mendukung Anna untuk membalaskan rasa sakit mereka.
Seketika suasana kantin menjadi riuh. Mereka terus saling dukung agar dimenangkan Anna. Secara otomatis pamor mereka akan turun. Berbeda dengan para lelaki yang akan mendukung the most wanted. Apalagi mereka sangat cantik cantik Jadi mereka akan mendukung genk most wanted.
Di saat bersamaan Arsya sedang melepon. Terdengar pintu diketuk. Para pengawal wanita datang.
"Ada apa?" Tanya Arsya dengan raut wajah tenang dan datar.
"Tuan muda, Nona muda sedang bertengkat di area kantin." Lapor pengawal wanita.
"Kenapa kamu biarkan, Tak berguna." Ucap Arsya dan menyudahi panggilan telepon.
Pengawal itu bergegas maju.
"Maafkan kami tuan, nona muda melarang kami mendekat karena takut akan ketahuan. Jadi kami hanya berjaga dari kejauhan." Ucap pengawal itu takut.
"Keluarlah! Dan temui Arsen." Ucap Arsya bergegas keluar dari ruang peristirahatan.
"Baik tuan muda." Pengawal wanita itu tau akan kesalahannya. Jadi hanya bisa pergi dan mencari Arsen. Pengawal yang selalu dipercaya oleh Arsya karena kepiwaiannya dan kecerdikannya.
__ADS_1
Di depan pintu Danni bergegas maju. "Presdir! Mau kemana?" Tanya Danni karena Arsya berjalan tergesa keluar dari ruangan.
"Diamlah. Kamu sama sekali tidak bisa membantu. Selalu berbuat onar." Ucap Arsya menyalahkan.
Danni hanya bisa menundukkan kepala, memang benar apa yang dikatakan oleh Arsya. Jadi ia hanya diam dan mengikuti presdir di belakang.
"Presdir Adiyaksa!" Kepala sekolah tercengang saat mengetahui presdir Arsya keluar dari ruangan. Saat melihatnya ia buru buru keluar dari tempatnya.
"Dimana letak kantin?" Tanya Arsya.
"Oh di sana." Kepala sekolah itu menunjuk dengan ibu jarinya. Arsya melangkahkan kakinya sesuai petunjuk kepala sekolah itu.
Kepala sekolah tertegun karena suasana kantin sangat ramai. Apa yang terjadi? Dia tidak tau jelas apa yang terjadi. Hanya bisa bertanya tanya di dalam hati dan mengikuti langkah Arsya sampai masuk ke area kantin beserta para staf guru yang lain.
Semua siswa tertegun dan berhenti berdebat soal dukungan mereka saat seorang pria berjas biru navi dengan langkah yang menawan dan tegas memasuki area kantin.
Pria itu mampu membius mereka dengan tampangnya yang gagah dan berwibawa.
Arsya dengan jiwa pemimpin menerobos masuk ke dalam kerumunan. Seketika kerumunan itu terpecah menjadi dua bagian kanan dan kiri ditengahnya membentuk sebuah jalan. Arsya berhenti dua meter dari Keempat gadis yang saling tarik menarik.
Kepala sekolah melihat pemandangan ini menjadi gugup.
"Seperti ini yang kalian maksud dengan moral yang baik." Kepala sekolah tertegun mendengar kata menohok dari ucapan Arsya.
Kepala sekolah segera memerintahkan stafnya untuk melerai mereka.
"Cepat hentikan! Cepat hentikan mereka!" Ucap kepala sekolah memerintahkan staf agar menghentikan perseteruan mereka berempat.
Staf guru segera maju. Tetapi malah terkena serangan dari pukulan Kesya yang tanpa sengaja mengenai dadanya. Pukulan itu terlalu kuat sehingga staf guru itu terambing ke belakang.
"Ugh." Kesya terbelalak saat terdengar suara rintihan guru itu yang tiba tiba maju ke depan.
"Pak Setyo." Anna terbelak karena terkejut pak Setyo selaku guru BK terkena serangan dari Kesya karena Anna membungkuk menghindari serangan dari Kesya.
Ke empat gadis itu saling menatap ke arah pak Setyo. Mereka menyadari saat ini mereka menjadi bahan tontonan yang menarik. Semua yang melihat adegan ini saling diam. Lalu menarik tatapan mereka ke arah kepala sekolah dan para staf yang berada dibelakangnya.
Sementara Danni tak percaya dengan adegan didepannya. Arsya dengan wajah tenang dan datarnya tetap menatap ke arah depan.
Anna menjadi gugup. Ini....
Pak Setyo segera bangkit saat salah satu murid lelaki membantunya berdiri.
"Kalian ke ruangan BK." Pekik Pak setyo.
Kini tatapan ke empat gadis itu menarik tatapannya dan mengalihkan ke arah pak Setyo dengan wajah galaknya. Dea dan Kesya segera berdiri dari atas tubuh Leya. Anna dan Leya saling menarik tangan agar berdiri tegak.
Ke empat gadis itu di giring masuk ke dalam ruangan BK. Anna merasa dirinya sedang terancam kali ini. Melihat wajah datar Arsya, Anna merasa takut dan gugup.
"Anna, jangan lihat ke sana." Leya menyadari tatapan Arsya yang begitu tajam bagai elang.
Karena Leya sudah tau hubungan mereka. Jadi leya menarik wajah Anna untuk mengarah padanya. Anna hanya bisa menunduk dan berjalan di belakang Pak Setyo.
"Semua Bubar dan masuk ke ruang kelas masing masing!" Terdengar seruan Kepala sekolah memberi perintah.
Semua murid segera berhamburan dan menuju kelas masing masing. Kini Anna dan Leya saling merangkul satu sama lain. Tubuh mereka merasa lemas karena serangan bertubi tubi dari Kesya dan Dea.
Penampilan mereka sudab acak acakakan tak jelas. Dibelakangnya Arsya tetap melihat ke empat gadis itu menuju ruangan Bk. Danni tercengang dan segera maju.
__ADS_1
"Saya yang akan membereskan nona muda."
"Hemm."