Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 73


__ADS_3

"Saya tidak setuju!" dari luar ruangan aula terdengar langkah kaki yang masuk ke dalam. Di sana Herman menggunakan tongkatnya berjalan pelan. Di sampingnya asistennya yang selalu setia menemani.


Semua yang berkumpul dalam rapat segera menoleh. Mata mereka tampak terkejut dengan kehadiran Herman yang tiba tiba.


"Ayah!"


"Kakek!"


"Ketua!"


Semua anggota yang berada di dalam aula nampak bergumam satu persatu.


Tatapan Herman terlihat dingin. Lalu mengarah pada Anita. "Ayah, anda sedang tidak sehat. Mengapa anda memaksakan diri untuk kembali." Anita datang menghampiri. Mengambil alih si asisten yang tengah menggandengnya.


Herman tak bersuara ia membiarkan Anita yang menggandengnya hingga pria tua itu duduk di kursi yang biasa di duduki Arsya.


Tatapan pria tua itu terlihat tajam melirik satu persatu para anggota dewan yang hadir.


Tampak anggota dewan tidak berani menaikkan pandangannya.


"Jelaskan apa yang terjadi!" kata Herman dingin menunjuk pada Danni.


"Tuan besar. Para dewan direksi menginginkan ceo baru. Disini mereka berkumpul untuk menurunkan jabatan tuan Arsya. Lalu mencalonkan tuan Brian sebagai Ceo baru." kata Danni menjelaskan.


Kemudian tatapan Herman mengarah pada Brian. Brian yang ditatap pun tidak berani membalas. Ia menundukkan wajahnya.


"Ayah, itu benar. Sudah beberapa bulan Arsya tidak pernah masuk kerja. Semua kerjaannya dilimpahkan kepada Danni. Dan semua masalah ini membuat perusahaan menjadi hancur." kata Anita.


"Diam kamu!" bentak Herman membuat Anita terlonjak kaget dan mengatupkan bibirnya.


Herman menatap dengan tatapan intimidasi yang terlalu kuat. "Alasan kenapa Arsya tidak menghadiri rapat hari ini karena memang dia sedang ada halangan. Dan saya tidak setuju jika kalian mengatakan cucu yang saya besarkan dengan keras itu mangkir dari kerjaannya.


Selama bertahun tahun saya sendiri yang mendidiknya menjadi orang yang kuat. Bukan sebagai pencundang yang bersembunyi.


Saya adalah pemilik perusahaan ini. Dan saya memang mempercayakan semuanya pada cucu pertama saya. Dan karena hari ini seharusnya saya harus berada pada masa tuaku. Tetapi karena hal ini kalian mendesakku untuk tampil." kata Herman panjang.


Kemudian ia memerintahkan si asisten untuk memutar ulang sebuah video.


Semua pandangan langsung mengarah pada layar lebar di ujung ruangan.


Di dalam layar itu menampilkan banyak video. Di sana ada kerja keras yang di lakukan Arsya dalam mendapatkan simpatik para investor. Kemudian menggunakan dana pribadi untuk pendanaan yang diakibatkan kerugian yang dilakukan Anita. Di gambar itu di tampilkan dana pengeluaran dari rekening pribadi Arsya sendiri.


Kemudian video Arsya bermunculan sedang menggambar desaign dan itu sama persis dengan gambar yang dimiliki Anita.


Wajah Anita tampak pias saat video itu di tampilkan yang melibatkan dirinya. Kemudian di luar negeri juga ditampilkan Jika Anita banyak melakukan penggelapan dana termasuk senjata ilegal dan mulai bekerja sama dengan tuan Albert.


Semua kebusukan Anita di tampilkan dilayar begitu juga dengan Brian yang ternyata di luar dugaan adalah selalu bermain wanita.


Bahkan Brian bermain kejam ketika tidak mendapatkan proyek yang diincarnya. Banyak nyawa yang melayang di tangannya. Sehingga perusahaan yang akan diajak bekerja sama akan langsung setuju. Maka dari itu perusahaan Brian semakin maju karena kekejaman Brian karena mereka takut.


Para dewan merasa ngeri akan kejadian ini. Semua video video itu mengarah kepada Anita dan putranya. Para dewan juga menunjukkan wajah ngeri.


"Ini...." Rudy bersuara. Tidak menyangka dibalik kesuksesan mereka adalah hasil yang begitu kejam.


Sekarang video berubah dengan masalah akhir akhir ini.


Salah satu anak buah Arsya dipaksa untuk meretas semua dokumen rahasia perusahaan. Kemudian anak itu disuruh untuk mengkopi hasil kerja keras Arsya. Kemudian mengedarkan berita berita miring saat Arsya berada di luar negeri. Setiap hari mereka akan menyuap media masa untuk memberitakan hal ini terus menerus agar Arsya turun dari jabatannya dan digantikan oleh Brian.

__ADS_1


"A-Ayah." Anita berderit.


Herman melirik sekilas dan menatap satu persatu para dewan yang berwajah kaku.


"Kalian bisa lihat sendiri bagaimana cucu yang saya besarkan ini memang selalu bekerja keras. Jika kalian tidak percaya, saya yang akan menjadi jaminannya." ucap Herman tegas.


Seketika wajah para dewan yang awalnya kaku telah berubah.


"Baiklah tuan Herman. Karena anda sendiri yang berani bertanggung jawab. Maka kami merasa tenang sekarang." Pak Agung bersuara lebih dulu.


Yang lain ikut manggut manggut.


"Selama Arsya belum mampu memimpin. Saya sendiri yang akan memimpin perusahaan ini." sekali lagi Herman menegaskan.


Seketika para dewan tersenyum menanggapi.


Rapat yang menghabiskan waktu empat jam itu akhirnya selesai. Semua dewan keluar satu persatu.


"Kalian tinggal disini." kata Herman tatkala semua orang sudah keluar.


Anita tampak pias begitupun Brian.


Mereka kembali duduk.


Kini di ruang aula itu tinggal Herman, Anita, Brian dan asisten Herman.


Anita dan Brian tidak berani menatap Herman. Ia terus menunduk. Sementara Herman menatap satu persatu kedua anak dan ibu itu satu persatu.


"Kenapa kalian melakukan ini?" seru Herman.


"Ayah, memangnya apa yang telah kami lakukan?" sangkal Anita.


Anita mengatupkan bibirnya erat.


"Bukti bukti sudah mengarah padamu. Masih saja mengelak." Ujar Herman seraya menoleh sekilas ke arah Anita.


Mata pria tua itu memerah. "Kau sudah lihat sendiri video video itu, masih tidak mau mengakui." Ujar Herman tegas.


"Ayah!" seru Anita tak terima. "Sedari dulu, ayah tidak pernah memerdulikanku. Aku juga ingin menjadi kepercayaan ayah." kata Anita meraung.


"Sejak aku lahir, ayah memang tidak pernah melihatku sama sekali. Kau terlalu memperhatikan kakak. Dan setelah kakak meninggal kau langsung meberikan perhatian begitu banyak kepada Arsya. Bahkan putraku...." Anita berlinang air mata seraya menoleh ke arah putranya sekilas.


"Kau lihatlah putraku. Kau mengabaikannya dari bagian Adiyaksa ini. Kau tidak memberikan sepeser apapun kepadanya. Dan kini ayah masih saja membela anak itu..." Raung Anita dengan air mata mengalir deras.


Herman terdiam seraya menggenggam erat jemarinya.


"Di luar sana. Ayah tidak tau bagaimana aku bisa hidup. Setiap hari merangkak dijalanan hanya demi sesuap nasi. Dan sekarang aku hanya perlu membuktikan kepada ayah. Dihadapan ayah bahwa aku juga perlu kasih sayang dari ayah." lanjut Anita.


"Ayah, apakah dihatimu apa tidak ada lagi putri tercintamu ini." tegas Anita dengan menepuk nepuk dadanya.


Tangisnya tersengal kala mengingat dirinya yang didepak keluar negeri selama bertahun tahun. Hidup dijalanan bagai pengemis.


"Itu karena ulahmu sendiri!" dengus Herman. Bahkan Herman memegangi dadanya dengan satu tangannya kuat.


"Apa! Kelakuanku sendiri!" sindirnya kesal.


"Ayah!" Anita mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Apakah ayahmu ini buta!" geram Herman. Anita yang akan bersuara pun mendengus.


"Kau sudah menghabiskan uang kakakmu dengan tak jelas. Pergi ke hotel dengan pria tak jelas. Coba jelaskan pada ayah. Dimana ayah Brian." ucap Herman meraung seraya menggebrak meja.


Anita melirik putranya yang saat ini juga tengah menatapnya. Brian juga menatapnya penuh harap siapa ayah biologisnya saat ini.


"Itu...."


"Tidak mampu menjelaskankah?" Herman menoleh sekilas. Di dalam katanya tersirat sindiran yang begitu kejam.


"Lebih baik kau merenungi perbuatan kalian selama sisa hidup kalian." kata Herman.


Anita tercengang. "Apa maksud ayah." tanya Anita.


Tak berapa lama polisi datang dan memborgol mereka berdua.


"Ayah!" raung Anita tak terima.


Herman sempat meneteskan air matanya. Namun ia segera menghapusnya. Ia tersenyum menatap putrinya yang kini diringkus polisi.


"Anita, ayah adalah ayahmu. Ayah sangat menyayangimu. Tapi kau menganggap ayah tidak menyayangimu. Ayah mengusirmu keluar negeri karena saat itu kau harus menanggung semua yang kau perbuat di hadapan pengadilan yang bahkan akan menjeratmu dengan hukuman seumur hidup. Ayah tidak tega melihatmu maka ayah mengusirmu keluar negeri lalu melupakan semuanya. dan di masa yang akan datang kau akan menjalani kehidupan yang indah. Tapi ayah tidak menyangka. Kau melakukan kekejaman di luar sana. Bahkan kau secara terang terangan ingin membunuh keponakanmu sendiri."


Anita tertegun mendengar penuturan ayahnya yang panjang lebar ini. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan.


"Ayah, apa maksudmu." tanya Anita.


"Apa yang dikatakan tuan besar benar nona. Tuan besar menyayangi anda lebih dari nyawanya." kata Asisten Herman menjelaskannya lagi.


"Anita, namun sebelum kau pergi. Berikan obat penawar kepada Arsya." sela Herman membuat Anita menolehkan kepalanya.


"Apa! Tidak!" tolak Anita. "Ayah telah menjebloskan aku ke penjara. Dan sekarang ayah meminta obat penawar itu. Biar adil, aku tidak akan memberikannya. Biar dia sekarat dan menyusul ayahnya di alam baka." kata Anita seraya tertawa sumbang.


Plak!


Herman menampar Anita hingga wajah wanita itu tertoleh.


Anita meringis dan merasakan panas di sebagian wajahnya. "Bahkan ayah rela menamparku hanya demi menyelamatkan nyawa Arsya." kata Anita mencemooh.


"Anita, kau keterlaluan. Bawa dia pak!" perintah Herman.


Herman memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat putrinya dibawa pergi oleh polisi.


Brian juga melirik sekilas dan dibawa paksa oleh pihak kepolisian. Setelah semua menghilang, Herman terduduk lemas di kursinya.


Asisten Herman segera membawakan air hangat dan membantunya untuk minum.


"Tuan!" asisten itu memanggilnya lirih.


Herman melambaikan tangannya bahwa dia baik baik saja.


"Utus orang untuk pergi mengawasi. Anita adalah orang yang keras kepala." kata Herman.


Takutnya Anita kabur jadi Herman mengutus seseorang.


"Baik tuan." Asisten itu segera menelepon seseorang dan memerintahkan untuk mengurus prosedur penahanan Anita.


Namun baru sederet nomer terdengar suara ledakan di lantai bawah.

__ADS_1


Dor dor.....!!!!


__ADS_2