Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 15


__ADS_3

Setelah kepergian Danni, Arsya teringat kepada cincin milik direktur Roni. Ia mengeluarkannya dari dalam dompetnya dan melihatnya.


"Cih, sederhana sekali." Tanpa ia teliti pun ia sudah bisa menebaknya jika cincin itu terbuat dari titanium yang berkualitas tinggi. Lalu ia membuangnya ke dalam tempat sampah.


Barulah ia melanjutkan sarapan paginya dengan tenang.


...----------------...


Anna menyambut pagi harinya dengan senyuman indah. Rambutnya yang berwarna pirang dan pendek itu ia ikat ke belakang. memperlihatkan lehernya yang jenjang nan putih mulus. Kali ini, ia akan melakukan pertemuan keduanya dengan Mr Anderson. Jadi ia meracik parfum dengan aroma casual. Maksudnya, bau parfum ini akan menarik kaum pemuda dan pemudi.


Arsya memang tidak mempunyai kesibukan apapun setelah berada di sana. Jadi hanya menggunakan waktunya untuk melihat kebun mawar. Ia juga menyapa para pekerja juga bertanya bagaimana cara merawatnya.


Salah satu pekerja bernama Elmo memberi penjelasan. Agar bunga mawar bisa tumbuh dengan cantik dan berkualitas harus diberi pupuk dan disiram setiap pagi. Arsya mendengarkan dengan seksama. Pasalnya ia juga tak tau cara penanaman bunga mawar. Kalau di villa tempat tinggalnya juga tak ada tanaman hiasan apapun.


Tepat jam 11 siang. Anna keluar dari rumah pengujiannya. Ia tak lupa mengunci pintu dan mengambil sepeda ontelnya kembali ke rumah yang akan ia ganti dengan mobil. Saat itu kebetulan Arsya menoleh dan melihat kepergian Anna.


"Nonimu mau pergi ke mana?" tanya Arsya kepada Elmo. Elmo yang memang tau semua jadwal Noninya ia langsung memberitaukan.


"Kalau tidak salah, Noni akan ada pertemuan dengan Mr Anderson." Ujar Elmo.


"Dimana?"


"Restoran Merah hati."


Arsya mengangguk seraya menatap punggung ramping Anna yang sedang mengayuh sepedanya menjauh.


"Baiklah, kita lanjutkan lagi." Ujar Arsya setelah Anna sudah jauh dari perkebunan.


Satu jam kemudian Anna telah sampai di sebuah restoran merah hati. Dan di sana Mr Anderson tiba sepuluh menit lebih dulu.


"Halo Mr, Anderson. Maaf terlambat."


"Halo Noni. Tidak apa apa. Bukan kau yang terlambat melainkan akulah yang datang lebih cepat."


Anna menanggapinya dengan tersenyum. Kemudian mereka memulai meeting mereka. Mr Anderson sebelumnya telah mempromosikan parfum yang pertama dan dia juga membawa kabar baik. Jika parfumnya ini sangat diminati masyarakat. Banyak kaum yang selalu mencarinya. Bahkan sampai kehabisan karena parfum yang pertama Anna hanya menyediakan 20 parfum saja.

__ADS_1


Dan Mr Anderson menyeponsorkannya. Tentus saja masyarakat percaya karena Mr Anderson adalah orang yang sangat terpercaya. Anna sangat senang mendengarnya.


"Mr Anderson. Terima kasih karena sudah mau bekerja sama denganku. Kami ini hanya usaha kecil kecilan. Jadi belum memiliki pabrik yang besar atau memiliki perusahaan yang besar sehingga tidak memiliki cukup ruang untuk memperbanyak parfum." Ujar Anna.


"Tidak apa apa. Parfum parfum yang kau buat ini, aku jual dengan limited edition. Jadi masyarakat yang berburu akan berlomba mendapatkannya. Siapa cepat dia dapat."


"Haha. Mr Anderson memang sungguh dipercaya. Awalnya aku masih ragu tapi karena Mr Anderson. Aku menjadi sangat percaya diri."


"Baguslah. Jiwa pemuda itu memang harus semangat maka dari itu akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Aku senang mendengarnya." ujar Mr Anderson memuji kegigihan Anna.


"Terima kasih Mr." ujar Anna dengan tulus. Membuat Mr Anderson tertawa.


Setelah itu Anna mengeluarkan sebuah parfum baru yang baru saja ia racik. "Bagaimana soal parfum yang ini Mr.?"


Mr Anderson menerimanya dan mencium bau parfum yang baru. "Wow. Ini sangat kasual. Lebih pantas untuk di buru para remaja."


Anna tersenyum. "Bagaimana kau bisa menciptakan bau yang seperti ini?" tanya Mr Anderson.


"Hehe. Itu adalah penemuan baruku Mr." Sahut Anna.


"Baiklah. Ini untuk sementara aku bawa. Dan meminta para petinggi perusahaan untuk mempertimbangkannya. Jika menurut mereka bisa sesuai. Maka aku akan meminta orderan yang lebih."


"Baiklah, sepertinya pertemuan kali ini sampai disini saja. Aku masih harus pergi ke pertemuan berikutnya." Mr Anderson segera beranjak dari tempat duduknya.


"Terima kasih Mr. Anderson, semoga pertemuanmu selanjutnya lancar." ujar Anna lalu mengulurkan tangannya.


"Iya. Saya duluan Noni." Sambut Mr Anderson menjabat tangan Anna.


Mr Anderson pergi terlebih dulu. Anna pun melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan di sana untuk memesan makanan. Karena ia sudah sangat lapar. Tak berapa lama pelayan pun datang dan mencatat semua pesanannya.


Selama menunggu pesanannya datang sebuah suara yang familiar datang dari balik punggungnya.


"Ternyata selain menggaet Direktur Roni juga menggaet om om juga ya." itu adalah suara Arsya yang sengaja mencibir. Anna ternganga lalu berbalik dan melihat sosok pria yang sedang memunggungginya.


Pria itu mengenakan topi hitam dan kaca mata hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Anna lekas menghampirinya dan menarik topi yang bertengger di atas kepalanya.

__ADS_1


"Kau! Ngapain kau kemari?" Ujar Anna dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Arsya. Pria itu tampak tersenyum sinis lalu dengan santainya meminum jus yang telah ia pesan.


"Sedang makan siang lah. Memangnya mau ngapain ke restoran." jawab Arsya lalu meletakkan jus orange nya ke tempat semula dengan gerakan anggun yang alami.


"Aku tau jika di restoran itu tempatnya makan. Tapi kenapa kau harus berada disini. Atau jangan jangan kau sedang mengintaiku?" Tuduh Anna.


"Cih, mengintaimu? Kurang kerjaan banget harus menguntitmu. Aku punya acara sendiri." Jawab Arsya. Tak lama ia sedang melambaikan tangan ke arah pintu masuk.


Anna pun ikut menoleh, siapakah orang yang akan ditemui Arsya? Dan ternyata dia adalah bule berparas cantik dan tinggi. Tubuhnya langsing dan sepertinya dia bukan sembarang orang. Dari segi pakaiannya terlihat mahal dan kaya.


Gadis itu tersenyum saat Arsya melambaikan tangan kepadanya, ia pun langsung menuju ke tempat duduk yang sudah di pesan oleh Arsya.


"Maaf tuan Arsya. Saya terlambat." Ujar Perempuan itu merasa sungkan.


"Tidak apa apa, saya juga baru sampai sekitar lima menit yang lalu. Silahkan duduk nona Eli." ujar Arsya mempersilahkan. Setelah Eli duduk dihadapannya, arsya mendongak ke arah Anna yang masih menatap Eli.


"Ah, ya nona Eli, perkenalkan. Dia kerabat jauh saya. Namanya Anna. Tetapi dia disini lebih dikenal dengan Noni." Ujar Arsya memperkenalkan.


Eli melihat Anna dan tersenyum. "Oh, anda sangat cantik juga nama yang bagus. Halo Noni, saya Elisabeth dan panggil saja aku Eli."


"Halo, nona Eli. Senang bertemu denganmu. Kalau gitu saya akan kembali ke meja saya. Silahkan anda nikmati makan siang anda." Ujar Anna.


"Kenapa terlalu terburu buru. Lagian kau makan juga sendirian. Kenapa tidak gabung sekalian." Cibir Arsya.


Anna sekilas melirik ke arah Elisabeth. "Benar yang dikatakan tuan Arsya. Lebih ramai akan lebih seru." sahut Eli.


"Tapi, nanti akan mengganggu kalian."


"Maaf nona Eli, dia ini masih terlalu polos. Anda tidak merasa terganggu kan. Jika Noni ini ikut duduk disini?" Tanya Arsya menatap Eli.


"Tentu saja tidak. Silahkan Noni." ujar Eli dengan ramah.


Anna menatap Arsya dengan kejam lalu tersenyum ke arah Eli. Dengan terpaksa Anna ikut duduk di sana. Saat pelayan datang membawa pesanan mereka. Anna melambaikan tangan ke arah pelayan.


"Letakkan disini?" ujar Anna.

__ADS_1


Pelayan yang tadinya akan meletakkan makanannya pun langsung mengarah ke meja di sebelahnya.


Tak berapa lama pesanan Arsya pun datang. Mereka bertiga langsung mengambil hidangan di depannya dan memakannya sambil berbincang.


__ADS_2