Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 17


__ADS_3

"Ya. Apakah kau berubah pikiran?" tanya Arsya. Jika benar seperti itu. Maka ini kesempatan besar bisa berduaan.


Anna menimang sejenak dengan apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Akhirnya Anna mengangguk pasti. Jika bukan karena terdesak. Anna benar benar tidak akan mau menerima tawaran Arsya.


Arsya tersenyum puas. Di balik ini semua ada campur tangannya untuk mengempesi ban mobil Anna.


"Ok, ayo masuk." Ujar Arsya.


Anna mengayunkan langkah kakinya masuk ke dalam mobil Arsya. Dan mobil Arsya berjalan layaknya keciput. Anna duduk di jok samping dengan sebal.


"Sya, bisa gak jalannya agak kencangan." Ujar Anna.


"Oh." Arsya pun menambah kecepatannya menjadi 150 km/jam.


"ASTAGA!" Anna menjerit karena saking takutnya. Kedua tangannya ia tautkan pada pegangan atas mobil. Jantungnya hampir melompat keluar saking takutnya. "Arsya! Pelankan sedikit mobilmu. Aku tak bisa bernafas." Sahut Anna.


"Baiklah." dengan santai pria itu langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Hampir saja dahi Anna terkena dasbor depan mobil.


Ciiittttt!!! Mobil terhenti dengan meninggalkan bekas ban. Anna terbatuk dan segera membuka seatbeal yang membelenggunya dan keluar dari dalam mobil.


Ia sangat mual sekali. Sampai ia berjongkok di tanah dan mengeluarkan muntahan.


"Sial, dia mengerjaiku." batin Anna. Ia masih berjongkok mengeluarkan isi perutnya. "Hoek."


Tak berapa lama Arsya turun membawakan tisu. Lalu memberikannya kepada Anna. Anna mengusap sudut bibirnya.


Hari sudah gelap dan langit akan segera turun hujan. Bertepatan dengan kilat yang menyambar. Anna kembali berteriak karena terkejut.

__ADS_1


"Aaaaaa!" Anna berteriak seraya menutup telinganya. Lalu menghambur ke pelukan Arsya. Meminta perlindungan.


"Ada guntur, aku sangat takut." Ujar Anna dengan memasukkan kepalanya ke dalam dadanya.


"Tidak apa apa, ayo masuk. Kita segera pulang." Arsya dengan pelan menepuk punggungnya, dengan satu tangan kanannya langsung membawanya masuk. Tak lupa memasangkan seatbeal ke tubuh Anna. Dan ia kembali ke kursi kemudi setelah menutup pintu.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Gadis itu tampak meringkuk ketakutan. Arsya merasa menyesal tadi telah mempermainkannya. Tak berapa lama, mobil yang ia tumpangi telah sampai di tempat tinggal Anna. Saat Arsya menoleh, gadis itu tampak sudah tertidur. Ia tak berani membangunkannya jadi membiarkannya tetap tertidur.


Rumah itu masih tampak gelap. Arsya langsung menggendongnya keluar dari dalam mobil. Ini pertama kalinya gadis itu ketakutan karena suara petir. Apa yang terjadi selama ini?


Anna ia letakkan di kursi di teras rumahnya sementara dirinya mencari keberadaan kunci rumah ke dalam tas slingbag gadis itu. Setelah mendapatkannya ia langsung membukanya. Setelah pintu terbuka, Arsya kembali menggendongnya dan membawanya masuk. Sambil meraba mencari saklar lampu. Ia berjalan pelan.


Saat ini terdengar hujan turun dengan lebat di luar. Tampak kaki Arsya selalu tersandung karena tidak tau saklar lampu. Saat sudah menemukannya ia segera menyalakannya. Saat sudah terlihat terang Arsya menoleh. Tadi dia habis menendang pot jadi saat ini rumahnya sangat berantakan.


Tetapi Arsya tak perduli. Ia segera mencari kamar untuk membaringkan Anna. Ia melihat ada tiga pintu disana. Pintu pertama adalah kamar mandi, pintu kedua adalah dapur dan pintu ketiga barulah kamar pribadi Anna.


Tangannya sudah merasa kebas, tapi tetap ia tahan. Saat membuka pintu kamar, Arsya hampir tak tahan dan ingin menjatuhkan Anna. Tapi untung saja Danni sigap berada di sana. Ia membantu membukakan pintu dan menyalakan lampu kamar sehingga Arsya masih bisa menahannya dan membaringkannya di atas kasur dengan pelan.


"Baik." Danni pun keluar dari dalam kamar. Sementara Arsya masih berada di sana menjaganya. Ia menyelimuti gadis itu hingga ke dada. Lalu ia menoleh ke arah pintu jendela yang ternyata masih terbuka. Ia pun berjalan ke sana lalu menutupnya. Tak lupa menarik gorden hingga tertutup rapat.


Setelah itu, ia kembali duduk di samping Anna dengan berjongkok. Sudah hampir tujuh tahun lamanya gadis itu menghilang dari pandangannya. Ia benar benar sangat merindukannya. Arsya menatap wajah gadis itu yang tampak damai.


Ia mengulurkan tangannya dan membelai wajah itu. Di mulai dari keningnya, pipinya kemudian berhenti pada bibirnya. Bibir itulah yang memberinya kesan manis. Arsya tersenyum. Kemudian ia menarik tangannya dan keluar dari dalam kamar.


Tepat saat itu Danni datang membawa laporan. "Presdir!"


Arsya langsung menerima laporan itu dan membacanya dengan seksama.

__ADS_1


"Nona Anna hanya tidak terbiasa dengan cuaca dingin. Jika musim dingin ia akan terkena flu dan demam. Mengenai guntur tadi. Mungkin ia sedang kaget jadi ia merasa takut."


"Baiklah, kau bisa kembali." ujar Arsya. Tak ada yang ia cemaskan lagi setelah mendapatkan laporan medis Anna. Ia kembali duduk dan menyalakan tivi. Tak berapa lama, Danni datang kembali membawakan set pakaian ganti.


Arsya langsung pergi mandi. Seusai mandi ia langsung meluncur ke dapur. Ia sangat lapar. Saat membuka kulkas, ia terheran karena isi kulkas itu adalah mie instan dan sebagiannya adalah sayur.


Dahi Arsya berkerut saat menemukan makanan tanpa gizi itu didalam kulkas. "Mungkinkah selama ini gadis itu selalu makan makanan seperti ini!" gumam Arsya. Ia kembali meletakkan mie instan itu ke tempat semula dan mengambil air minum sebagai tujuan utamanya.


Setelah itu, ia mengambil beberapa sayuran dan mengeluarkannya. Ini pertama kalinya dia melakukan hal yang tak pernah ia lakukan. Sayur mayur itu entah bisa di buat apa. Ia pun mengambil ponsel dan mengotak atik ponsel itu cara memasak.


Ia mencari tau dulu nama sayur itu. Setelah mendapatkannya ia langsung mengerti. Setelah tau nama masing masing sayur, ia kemudian mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya kembali. Masakan apa yang pas untuk sayur sayur itu.


Ia memasak sayur itu sesuai di ponselnya, jadilah sayur sop. Ia juga mencari bahan lain yang di namakan beras. Kemudian mencucinya dan setelah bersih ia langsung memasukkannya ke dalam rice cooker.


Setelah itu, ia kembali ke ruang tivi dan menonton tivi sebentar menunggu nasi itu matang.


Di dalam kamar. Anna terbangun saat perutnya merasa lapar. Ia mendongak ke arah seluruh ruangan. Ternyata dia berada di dalam kamarnya. Ia mendudukan tubuhnya, pelipisnya ia tekan karena sedang pusing. Setelah itu ia melihat jam weker di sampingnya sudah jam 11 malam.


Anna beranjak dari tempat tidurnya dan mandi. Selesai mandi, ia mengenakan wardrop dan keluar dari dalam kamar menuju dapur.


Tapi saat keluar dari kamar. Ia menemukan tivi yang menyala. Ia mengerutkan keningnya dan membelokkan kakinya ke arah sana. Ia terkejut tatkala ada pria sedang tertidur dalam posisi duduk.


"Arsya! Kenapa dia malah tertidur disini!" gumam Anna pelan. Kemudian ia mematikan televisi. Anna kembali melanjutkan langkah kakinya menuju dapur karena ia sudah sangat lapar. Namun ia masih dikejutkan dengan hal lainnya.


Semangkok sup sayur di dalam mangkok dan nasi yang sudah matang di dalam rice cooker. Ia menengok melalui pintu terbuka memperlihatkan ruangan tivi.


"Ini pasti Arsya yang memasak." Gumam Anna pelan. Karena terlalu lapar, ia tak ingin repot memasak. Jadi mengambil makanan yang ada.

__ADS_1


Ia mengambil mangkuk dan menyendokkan nasi ke dalamnya. Tetapi ia di buat terkejut karena nasi yang di masak oleh Arsya ini terlalu lembek. Tapi tak apalah, ia sudah terlalu malas. Kemudian ia mencicipi sup sayur itu. Rasanya....sungguh lumayan.


Anna menganggukan kepalanya, merasakan masakan yang di masak Arsya. Sejak kapan pria itu bisa memasak? Anna bertanya tanya dalam hatinya. Alih alih memikirkan hal itu, lebih baik melanjutkan makan.


__ADS_2