
Setelah melakukan perdebatan panjang itu, Anna dan Arsya tidur saling terpisah. Anna tidur di ranjang king size sementara Arsya harus tidur di lantai beralaskan kasur bulu. Ia mendesah kesal karena penolakan Anna.
Wajahnya terlihat memelas dan sangat memilukan. Malam yang panjang akhirnya terlewati. Keesokan paginya Anna bangun dan segera keluar dari kamar. Ia sedikit merilekskan tubuhnya di bawah sinar matahari. Setelah semalaman hujan. Matahari merangkak naik menghangatkan bumi.
Anna memandang sekilas matahari yang masih berwarna kemerahan, setelah merasa tubuhnya sudah menghangat ia segera masuk ke dalam dan menuju dapur. Ternyata Arsya juga sudah bangun. Wajahnya terlihat kuyu dan dibawah matanya menghitam bagai panda.
Anna tak bisa menahan tawanya dan segera bertanya. "Kenapa matamu menghitam? Apakah kau tak bisa tidur semalam?" ucapan katanya seolang mengejek.
"Ck. Di rumahku, aku terbiasa tidur di kasur yang empuk. Dan berada disini kau menyiksaku tidur di lantai. Apakah kau puas semalaman menyiksaku?" Ujarnya dengan kesal.
"Kalau begitu pergi saja kembali ke rumahmu, aku tidak menyuruhmu tinggal disini." Sahutnya ketus.
"Aku akan kembali, tapi kau juga harus kembali." Ujarnya.
"Sesuai perjanjian semalam." sahutnya acuh.
Wajah Arsya semakin menekuk. Wanita ini sungguh berani melawannya. Namun sayangnya dia malah semakin sayang. "Andai itu bukan kau, sudah ku buat kau menjadi kerupuk." gumamnya pelan. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi sekedar menggosok gigi dan mencuci muka.
Saat keluar, ia menemukan dua piring omelet di atas meja. Arsya merasa sangat lapar. Sejak semalam ia menahan lapar karena ingin segera bertemu Anna. Dan kini rasa laparnya menyeruak minta segera diisi.
Ia segera duduk di kursi kayu, mengambil garpu dan sendok. "Makan dengan hati hati." Anna memperingatkan. Tapi Arsya tak perduli. Ia langsung melahap omelet itu tanpa sisa. Setelah makanan tandas. Perutnya terasa sudah kenyang. Ia minum segelas air putih dan mengelap sudut mulutnya dengan tisu.
"Sebelum pulang, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." ujar Arsya sebelum bangkit berdiri dan mendorong kursi kebelakang.
"Apa itu?" tanya Anna.
"Nanti saja. Lebih baik kau segera bersiap. Jam tiga sore. Kita berangkat." ujarnya seraya menilik jam di pergelangan tangannya.
Anna hanya mampu memandang bahu lebar itu pergi keluar dan bibirnya sedikit terbuka karena heran dengan sikap Arsya. Anna mendesah pelan lalu mengambil piring kotor itu dan membawanya ke dalam wastafel kemudian ia mencucinya dan menatanya ke tempat semula.
Sementara itu, Anita sudah pergi ke sebuah perusahaan yang berada di bawah naungan Albert. Ya dia adalah ayah Elisabeth yang menjalankan usahanya dalam bidang minuman anggur dan bekerja sama dengan kerajaan.
Anita menyodorkan sebuah proposal serta gambar yang ia dapatkan sebelumnya. Ia juga dapat dengan lancar menjelaskan gambar dan perihal dana yang akan dihabiskan selama masa pembangunan.
Albert tentu saja meneliti semua itu. Tidak ingin merugi tentunya, jadi Albert berpikir dengan baik baik mempertimbangkan ajuan proposal itu. Anita menunggu dengan was was. Takutnya ia akan ditolak dan kesempatannya untuk mendekati albert akan berakhir sia sia.
"Lebih baik, kita bertemu lagi dua hari lagi." Ujar Albert pada akhirnya.
Rasa was was itu justru semakin menjadi. Tapi Anita hanya bisa mendesah pelan.
__ADS_1
"Baiklah tuan Albert. Sampai jumpa dua hari lagi." Ujar Anita lalu merapikan mantelnya dan tersenyum ringan. Ia melenggang pergi keluar dari kantor diikuti Arin di belakangnya.
Albert memijit pelipisnya dengan pelan. Pria paruh baya itu merasakan stres berlebihan apalagi memikirkan Eli yang kini tengah mengandung. Pihak Edward juga tidak ada melakukan apapun meskipun Albert berkali kali mengajukan lamaran secepatnya dengan putrinya.
"Papa!" kebetulan Eli datang lalu melihat Albert yang sepertinya sangat kelelahan. Ia segera mendekati Albert dan membantu memijat bahunya.
Albert merasakan pijatan itu dengan nyaman di pundaknya. Rasa lelahnya sedikit berkurang. "Eli. Menurutmu? Bagaimana tentang perusahaan adiyaksa group yang pernah kau bahas sebelumnya?" Tanya Albert meminta pendapat kepada putrinya tentang perusahaan yang sedang di jalankan oleh Arsya saat ini.
"Kenapa papa tiba tiba bertanya soal ini? Dulu papa selalu menolak." Jawab Eli.
Albert kemudian mengeluarkan sebuah proposal keatas meja. Kening Eli berkerut kemudian mengambil dan membuka proposal itu dan duduk dihadapan Albert.
"Ini milik Adiyaksa group? Papa! Apakah ini bangunan yang akan papa bangun pada perusahaan cabang?" Tanya Eli tidak percaya jika Adiyaksa group akan andil dalam pembangunan ini.
"Proposal itu baru datang setengah jam yang lalu. Dan proposal ini memang datang dari Adiyaksa group." jelas Albert.
Eli merasa senang. "Papa! Kenapa papa tidak langsung setuju saja. Menurutku gambar ini sangat bagus."
"Memang sesuai yang papa inginkan. Eli! Kau terlalu lama menganggur. Kau terlalu bermain di luar sampai kau harus hamil di luar nikah. Dan saat ini berita beredar tentang kau membuat nama besar kita tercoreng. Seharusnya sejak awal aku mendidikmu dengan keras agar kau tidak membangkang seperti ini. Sekarang demi mengembalikan reputasi keluarga kita, kau harus mengambil tindakan. Lakukan pekerjaan dan pecahkan masalah ini." Albert berbicara dengan menunjuk proposal yang dipegang Eli.
Kepala Eli hanya tertunduk ketika Albert menyalahkannya. Dia hanya mampu memegang ujung kertas itu dengan erat sehingga ujung kertas itu terlihat kusut.
"Maaf papa!"
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Albert, mata Eli membola. Ia mendongakkan wajahnya menatap Albert dengan tak berdaya.
"Papa, ini adalah bayiku. Aku tidak rela membuangnya." Eli berkata dengan air mata membendung dipelupuk matanya.
"Jika tidak mau, maka lepaskan marga Stefanus. Lalu kau akan dicoret dari kartu keluarga."
"Pa."
"Keluarlah! Pikirkan baik baik ucapan papa. Lalu kerjakan pekerjaanmu dengan benar." Setelah berkata demikian Albert menundukkan kepalanya dan kembali bekerja.
Eli mencengkram ujung kertas yang ia pegang dengan erat. Sesaat kemudian ia pun keluar dengan berlinang air mata.
Tepat jam tiga sore.
Anna mengemasi barangnya yang ia perlukan saja. Arsya menunggunya sambil duduk di sofa. Setelah beberapa saat Anna keluar dengan pakaian rapi. Arsya memberikan kode tangan kepada pengawal untuk mengambil koper milik Anna lalu membawanya keluar dan memasukkannya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang." Ujarnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu bangkit berdiri.
Ada rasa tak rela di dalam benak Anna ketika harus meninggalkan semua ini. Kelima pegawainya berdiri di depan pintu sambil menatap Anna yang kini telah berada di ruang tamu. Mereka meneteskan air mata kesedihan mereka.
Selama hampir satu tahun itu, mereka selalu bersama sama merawat ladang mawar ini. Bahkan mereka menganggap sudah seperti saudara, keluarga dan kerabat dekat. Elmo yang paling sedih di antara pegawai lainnya. Pasalnya, dia adalah orang pertama yang di bantu Anna saat ia tengah berada masa sulit.
Anna yang melihat semua pegawainya langsung menghampirinya. Dia memegang pundak Elmo dan mengelusnya pelan. Tetapi Elmo malah menangis semakin kencang.
"Elmo." Tenggorokan Anna seperti tercekat dan berhenti di tenggorokan. Ia sangat mengerti perasaan sedih mereka. "Kita tetap saudara dan keluarga. Kau jangan terlalu sedih begini. Kita akan tetap bersama." Ujarnya.
Laura, Laila, Pedro, dan Eva langsung memeluk tubuh Anna yang mungil dengan mengerubunginya.
"Anna, sudah saatnya." Ujar Arsya yang berdiri tegak dibelakangnya.
Anna merangkul satu persatu pegawainya. "Kalian jaga ladangku ini dengan baik. Jika usahaku ini semakin besar, kalian adalah orang pertama yang sangat berjasa padaku."
Laila, Eva dan Laura sama sama mengangguk. "Noni. Kau juga jaga kesehatanmu. Terakhir wajahmu terlihat pucat. Minumlah banyak vitamin dan olahraga. Jangan terlalu lelah." Laila memberi nasehat. Apalagi wanita itu adalah wanita yang paling dewasa di antaranya. Bagaimana tidak. Dia sudah berumur sekitar 40 tahunan bahkan ia sudah memiliki putri yang sangat cantik.
Anna langsung menoleh pada Laila dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih bik Laila. Kau juga jaga kesehatanmu dengan baik." Sahutnya.
Anna melepas pelukannya dengan Bik Laila. Arsya di belakang langsung mensejajarkan langkahnya dan merangkul bahu Anna. "Terima kasih semuanya. Karena kalian sudah menjaganya selama ini. Aku akan memberikan imbalan yang sesuai pada kalian."
Mata mereka langsung berbinar terang. Pedro di belakang segera berkata. "Terima kasih tuan Arsya. Anda sangat rendah hati." Suara pedro mewakili semua orang di sana. Lalu membungkuk hormar. Ke empat lainnya segera bergerak dan melakukan hal yang sama.
Arsya hanya tersenyum kemudian membawa Anna keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Mobil bmw berbondong bondong meninggalkan area pekarangan rumah Anna. Kelima pegawai itu hanya mampu melihat hingga mobil menghilang dari pandangan. Mereka merasa ketidakhadiran Noni membuat mereka merasa sepi.
Namun mereka harus tetap bekerja dan akhirnya mereka melanjutkan kerjaan mereka.
Di dalam mobil, Anna merasa separuh hatinya kosong. Ia merasa usahanya terasa sia sia. Kemudian melihat ke samping dan menatap wajah Arsya yang terlihat datar.
Arsya menyadari jika saat ini ia sedang di tatap oleh Anna. "Kenapa?" tanyanya kemudian menoleh.
"Aku merasa sangat tidak rela." Ujarnya.
Arsya menaikkan alisnya sebelah. "Jika bukan karena bayimu yang membuatmu selalu mengancamku. Aku tidak akan mau bersama denganmu. Alasan kenapa aku tidak kembali setelah selesai berkuliah adalah dirimu." Ujar Anna dengan ketus.
Arsya menyipitkan matanya, "Aku mengerti jika saat ini kau marah karena bawaan bayi. Lebih baik jangan selalu marah marah. Sangat tidak baik untuk bayimu." Ujarnya pandai berkelit.
Anna melotot pada Arsya. Ah sial. Pria ini sangat menjengkelkan. Batin Anna.
__ADS_1
Pada akhirnya Anna tidak lagi berbicara. Dia sedang tidak mood. Dan dia mengatupkan bibirnya dengan rapat. Ia kembali meluruskan pandangannya ke depan dan menyenderkan punggungnya yang lelah pada sandaran jok.
Arsya juga melakukan hal yang sama. Menyenderkan punggungnya dan meluruskan pandangannya ke depan. Tetapi di dalam hatinya ia merasa menang sudah mematahkan perbincangan Anna yang selalu saja marah tak jelas dan membahas hal yang sama. Yaitu sebuah penolakan dan selalu ingin menjauh darinya. Dan itu membuat Arsya sangat jengkel dan kesal.