
Tring!
lift sudah sampai di lantai 45, Pintu lift segera terbuka. Anna melangkah keluar diikuti dua pengawal wanita dibelakangnya.
"Selamat malam nona."
"Malam nona."
Karyawan yang masih berada di sana buru buru menyapanya. Anna tersenyum seraya menganggukkan kepala.
Semua karyawan tertegun melihat pemandangan ini. Dia wanita yang sopan dan ramah. Tidak seperti wanita yang selalu datang dan selalu merendahkan mereka karena jabatannya. Mereka selalu ditindas oleh wanita itu.
Tapi gadis yang masih berstatus SMA ini. Dari wajah dan etiketnya terlihat sangat baik. Karyawan itu semakin sungkan kepadanya. Tetapi di dalam benaknya ada tanda tanya besar. Siapa gadis itu? Ada hubungan apa dengan presdir?
Danni yang berada diluar ruangan segera bangkit dari duduknya. "Nona muda!" Danni membungkukkan badan dan menyapa.
Sekertarisnya Merlin mendongak dan segera bangkit mengikuti gerak Danni barusan. Tetapi ia juga belum pernah bertemu dengan gadis itu. Tetapi Danni selalu menghormatinya.
"Presdir ada di dalam. Saya akan memberitaunya." Ucap Danni segera.
"Tidak perlu. Aku ingin memberinya kejutan." Jawab Anna melambaikan tangannya.
Setelah Anna melewatinya beberapa langkah, Merlin segera maju. "Asisten Danni, di dalam ada nona Linda!"
"Astaga, aku baru ingat. Kenapa kamu tidak memperingatkanku. Bagaimana ini?" Ucap Danni bingung.
"Cepat hentikan nona itu." Ucap Merlin menunjuk Anna yang hampir sampai.
"Ya."
Semenjak kejadian Linda yang tak sengaja berciuman dengan Arsya, Arsya memerintahkan menjaga ketat di depan pintu. Tetapi sejak hari di mana Linda menyebarkan berita itu, Arsya ingin membahasnya kali ini. Jadi mereka memutuskan untuk bertemu. Tetapi tanpa sepengatahuan Arsya, Linda justru datang lebih dulu ke perusahaannya.
Ceklek!
Pintu terdorong dari luar. Arsya dan Linda segera menoleh ke arah pintu.
"Danni siapa sur....uh kamu masuk!" Arsya mengecilkan suaranya saat yang masuk adalah Anna. Ia membeku di tempat. Sementara Linda sudah tersenyum menyeringai.
Anna tidak terkejut lagi. Ia berjalan pelan masuk ke dalam kantor. Diluar Danni menepuk nepuk keningnya. Setelah beberapa saat Danni buru buru masuk.
"Maaf presdir. saya kurang kompeten." Danni menundukkan kepala. Berdiri dibelakang Anna.
"Keluar!" Ucap Arsya menaikkan volume suaranya.
Danni membeku ditempat. "Matilah aku!" Batinnya meronta. Ia pergi keluar dan tampangnya seakan menangis. Merlin buru buru mengejarnya.
"Asisten Danni, Ada apa?" Tanya Merlin begitu khawatir.
"Sudah pasti aku akan dikubur hidup hidup oleh presdir." Ucap Danni meringis seperti menangis.
Merlin tertegun, Ia menepuk bahu Danni pelan. "Asisten Danni jangan menangis. Kamu tidak akan mati. Hanya saja kamu sudah disiapkan kuda emas di luar."
"Apa katamu." Pekik Danni mendongakkan kepalanya dengan marah menatap Merlin.
"Oh bukan, tidak Asisten Danni. A...aku salah bicara." Merlin menutup mulutnya dengan satu tangannya sambil menggelengkan kepala.
Merlin tidak berani berkata lagi. Danni meratapi nasibnya. Huh Kuda emas, apakah ia akan berakhir di afrika. Oh tidak membayangkan saja, ia tidak sanggup lagi. Danni terduduk lemas dikursinya seraya menundukkan kepala. Merlin kembali ke meja kerjanya tidak berani mengusiknya.
__ADS_1
Arsya menatap Anna dengan wajah datar, Anna juga menatapnya tanpa adanya ekspresi. Seolah mereka berdua sedang mengadakan perang dingin.
"Arsya, lihatlah kemari." Tangan Linda memaksa untuk melihatnya. Tetapi Arsya enggan. Ia masih saling tatap dengan Anna. Ditangannya ada bingkisan plastik hitam.
"Sudahlah Linda, keluarlah, urusan kita sudah selesai!" Arsya mencegahnya dan menghindari tangan Linda yang terus memegang rahangnya. Tatapannya semakin dingin dan datar.
Gigi Linda bergemeletuk. Jika bukan karena kedatangan gadis ini, aksinya pasti akan lancar. Ia semakin dendam kepada gadis ini. Sekarang Arsya mulai menjauhinya dan tidak peduli lagi dengannya. Dulu karena Herman yang mencegah hubungan mereka, sekarang hambatan itu bertambah dengan adanya gadis ini.
Linda segera bangkit dan menyandang tas dibahunya. Ia menghentakkan kakinya karena Arsya sama sekali tidak melihatnya. Ia berjalan melewati Anna.
"Ugh." Desis Anna. Linda sengaja menabrak bahu Anna hingga mundur dua langkah.
"Sorry! Sengaja!" Ucap Linda menyeringai.
Anna tidak mengatakan apa apa selain menatap Linda dengan perasaan kesal. Arsya yang melihat adegan ini segera pergi menarik tangan Anna.
"Jangan sentuh." Ucap Anna melambaikan tangannya. Arsya memandang Anna dengan perasaan rumit.
"Tidak seharusnya aku datang kemari lagipula aku ini bukan siapa siapamu. Aku adalah istri yang kedudukannya hanyalah sebagai status." Ucap Anna lalu melempar bungkus plastik itu ke wajah Arsya.
Arsya menangkap bingkisan plastik itu, Dan meletakkan di meja. Ia buru buru mengambil remot dan mengunci pintu ruangan secara otomatis.
Ceklek
Anna segera keluar dari sana, saat Tangannya mencapai pintu. Pintu itu tidak bisa terbuka. Ia terus menarik handle pintu sekuat tenaga. Arsya hanya duduk dengan melipat tangannya di dada. Ia menaikkan kedua kakinya di atas meja dengan saling bertumpu.
Wajahnya terlihat datar. Anna sekali lagi menarik pintu itu. Tapi tetap saja usahanya sia sia.
"Kenapa pintunya tidak bisa dibuka." Gumam Anna pelan. "Tadi Wanita itu bisa keluar."
"Berisik!" Ucap Arsya.
Anna membalikkan badannya, ia terkejut saat Arsya dengan arogan menatapnya.
"Ka...kamu!"
Arsya tersenyum miring.
"Berani melawan. Bukankah baru pagi tadi mengatakan maaf. Ternyata tidak ada ketulusan."
Anna mengerutkan keningnya, pria ini sangat menyebalkan. Dia bisa menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus. Sementara dirinya selalu ditindas olehnya.
"Apa maumu? Di kantor kamu selalu bersama wanita lain. Aku istrimu tetapi kamu tak benar benar menganggapku."
"Jadi? Kamu butuh pengakuan?" Arsya menaikkan sebelah alisnya.
"Huh."
"Semalam kamu begitu seksy." Arsya menyunggingkan senyuman.
"Apa yang kamu lihat." Anna melipat tangannya di depan dada.
"Ehkemmm. Sungguh menarik." Arsya memainkan kedua alisnya naik turun.
"Uh. Dasar mesum!"
"Hahaha...." Arsya tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Jika aku mesum, apa sebutan orang ini. Lihatlah!" Arsya membalikkan laptop mengarah pada Anna. Di dalam kamar itu ada kamera inframerah yang menangkap sosok dua manusia di atas ranjang sedang melakukan aksinya.
"Kamu!"
"Hahahaha. Untung video ini ditemukan olehku lebih dulu. Jika tidak. Apa yang akan kamu katakan pada kakek."
"Uh Arsya, kamu selalu menindasku. Tinggal lima bulan lagi kita bercerai. Aku tidak akan ditindas olehmu lagi." Anna memalingkan muka.
"Uh, benarkah. Bagaimana jika aku tidak akan menceraikanmu."
"Kamu! Apa maumu. Kita harus kembali pada perjanjian yang sudah kamu atur itu. Tapi kamu malah mengingkarinya."
"Huh, persetan dengan perjanjian. Aku bisa mengubahnya kapanpun yang aku mau."
"Uh kamu....memyebalkan." Arsya kembali terbahak. Sungguh menarik sekali bisa menggoda Anna.
Tangan Arsya membuka bingkisan martabak manis. Ia menghirup aromanya membuat selera makannya bertambah.
"Itu bukan untukmu!" Anna segera maju ingin merebut martabak manis dari hadapan Arsya. Tetapi Arsya menjauhkannya. Sehingga Wajah Anna menjadi lebih dekat dengan wajah Arsya.
Arsya dapat melihat jelas wajah Anna yang putih bersih tanpa jerawat. Bahkan lebih bersinar tanpa riasan apapun. Arsya tersenyum menyeringai. Segera memajukan wajahnya dan menyapu bibirnya sekilas.
"Ugh!" Anna mendorong dada Arsya hingga mundur ke sandaran sofa. Anna buru buru berdiri tegak dan mengusap bibirnya yang ranum dengan tangannya.
"Manis sekali?" Ujar Arsya.
"Kamu bajingan!" Desis Anna semakin geram dengan kelakuan Arsya yang sekarang.
"Kamu merampas ciuman pertamaku. Seharusnya ini adalah ciuman untuk orang yang aku cintai kelak. Tapi kamu merebutnya."
"Hehe." Arsya semakin bahagia.
"Cepat buka pintunya. Aku ingin pulang."
"Kamu belum meminta maaf dengan benar. Sudah terburu buru ingin pulang. Aku belum menghabiskan martabak ini. Duduk yang benar." Ujar Arsya meletakkan martabak manis itu di depannya.
Anna melangkah menuju sofa.
"Sini!" Arsya melambaikan tangannya agar Anna segera mendekat.
Melihat Arsya melambaikan tangan, Ia berbalik arah. Percuma saja berdebat dengan manusia arogan seperti Arsya. Arsya segera menariknya dan jatuh di pangkuannya.
"Ah..." Anna terduduk di atas paha Arsya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Bagus. Kamu sangat menarik." gumam Arsya pelan seraya menikmati martabak coklat manis. Anna terdiam.
Arsya menarik laptop dihadapannya, satu tangannya memegang martabak manis dan satu tangannya yang lain mengetikkan sesuatu di keyboard laptop.
"Lihat!" Anna mengangkat kelopak matanya dan melihat layar di dalam laptop.
"Ini...."
Di dalam laptop terdapat sebuah video seorang pria duduk di atas kursi dengan tangan terikat. Dua di antaranya adalah pengawal Arsya yang menodongkan senjata ke arahnya. Arsya menyunggingkan senyuman.
"Dia adalah pria malam itu."
"Ugh.." Anna tertegun
__ADS_1