
Anna kembali dari sekolah tepat jam empat sore. Meskipun Arsya sudah kembali dan duduk di sofa di ruang tengah, Anna sama sekali tak meliriknya. Ia terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Suasana Villa itu menjadi keheningan yang panjang. Karena Arsya juga tidak memperdulikannya. Dia tetap membaca korannya dengan santai.
Sesaat kemudian terdengar deringan telepon. Arsya segera mengangkatnya, itu adalah Linda yang menelepon. Anna baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Saat keluar kamar, sayup sayup terdengar suara Arsya sedang berbicara, saat menoleh kebawah ia dapat melihat Arsya sedang bertelepon.
Di dalam hatinya mencibir. Tetapi ia juga berpikir secara rasional. Buat apa dia cemburu. Toh pernikahannya sudah diujung tanduk. Saat menuruni tangga, Arsya tergesa menaiki tangga.
Keduanya saling bersebrangan, berhenti ditengah tangga saling menatap. Sesaat kemudian Anna mengalihkan pandangannya dan terus berjalan.
Pada akhirnya, Arsya hanya dapat kekosongan. Jadi ia melanjutkan pergi naik ke atas dengan gontai.
Awalnya ia ingin Anna mengatakannya sendiri tentang dia pergi bersama pria lain, tetapi sepertinya harapan itu pupus karena Anna tidak mengatakan apa apa.
Selain itu Anna merasa sangat muak dengan sikap Arsya yang tidak menghargai pernikahan ini. Jadi lebih baik bersikap seolah olah sebagai orang asing.
Saat Arsya kembali menuruni tangga. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan rapi juga mengenakan parfum yang sangat wangi. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ia tak menemukan Anna sama sekali.
Jika dipikir ulang, sepertinya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Di dalam hatinya ia menertawakan dirinya sendiri. Ia sungguh bodoh, kenapa menyukai wanita yang tidak mencintainya. Bahkan berhubungan di luar sana.
Arsya melangkahkan kakinya keluar Vila dan pergi dengan roll royce phantom.
Anna melirik ke arah samping, mobil yang biasa dikendarai Arsya telah pergi meninggalkannya. Hatinya seolah kosong. Dia benar benar kecewa dengan sikap Arsya ini. Akhirnya ia membulatkan tekadnya. Bahwa ia ingin segera bercerai dengan Arsya.
Anna melirik ke bawah, ponselnya berkedip dua kali menandakan ada pesan masuk. Ia bergegas membaca isi pesan itu.
Beruntung sekali saat ini Leya yang mengirimkan pesan. Ia memberi tau Anna bahwa besok adalah minggu jadi ingin mengajaknya pergi ke mall.
Anna menyimpan kembali ponselnya dan kembali ke kamar pribadinya.
Saat tengah malam Arsya baru kembali dan menemukan Anna sudah tertidur pulas. Dia berjalan ke sisi ranjang dan seperti biasa ia akan mencium keningnya barulah ia pergi mandi.
Anna membuka matanya saat pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. Terdengar suara air yang menyala di dalam kamar mandi. Dia tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan. Diluar dia pergi bersama wanita lain. Dirumah seolah akulah istri yang baik." gumamnya pelan seraya menitikkan air mata.
"Kriek." pintu kamar mandi terbuka.
Anna kembali menutup matanya dan berpura tertidur. Terdengar pintu walk in closet terbuka dan tertutup. Anna mengusap wajahnya dan menaikkan selimut hingga menutupi wajahnya.
Arsya sudah berganti pakaian dengan piyama. Ia berjalan ke sisi ranjang dan tidur.
Pada keesokan harinya. Arsya terbangun seperti biasa saat menoleh dia sudah tak menemukan Anna disisinya. Saat melihat jam ternyata sudah pukul tujuh. Dia tak lagi memikirkannya.
Arsya terduduk di tepian ranjang seraya memijat pelipisnya yang masih terasa pusing. Akhir akhir ini dia sering bermimpi buruk. Setelah merasa baikan dia pergi ke kamar mandi.
Seusai mandi terdengar Ricky mengetuk pintu. "Masuklah!" perintah Arsya dari dalam kamar. Dia masih mengenakan handuk sepinggang. Juga air yang menetes ke bawah dan terhenti di lipatan handuk.
Ricky mendorong pintu hingga terbuka. Ricky yang melihat penampilan Arsya seperti ini saja masih tergiur padahal dia juga sama sama lelaki. Dia terbatuk sekali dan segera berkata.
"Dibawah ada tuan Adrian berkunjung."
"Hem. Sepuluh menit aku akan ke bawah." ujar Arsya.
"Baik!" Ricky berbalik keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Arsya segera berganti pakaian dan menyusul ke bawah. Terlihat Adrian sedang duduk di ruang tengah sambil meminum kopi yang disediakan pelayan.
"Kau terlalu pagi datang ke sini?" Arsya berjalan menuruni tangga dan menegurnya.
Adrian segera bangkit dan mendongak ke atas. "Aku hanya mengantarkan dokumen saja sekaligus ingin bertemu dengan kakak ipar." sahut Adrian polos.
Arsya mengerutkan kening dan ikut duduk bersebrangan. Pelayan segera menyeduhkan kopi dan meletakkannya dihadapan Arsya. Adrian juga ikut duduk bersamaan Arsya duduk.
"Antar ya antar, tak ada pertemuan." sahut Arsya dingin.
"Pelit sekali!" gumam Adrian kesal tapi dengan suara kecil. Arsya tak memperdulikan kutukan Adrian. Dengan santainya menyesap kopi.
"Kamu sudah menikah tapi foto satupun tak ada." Adrian mengalihkan topik pembicaraan juga menelisik seluruh ruangan. Sejak tiba tadi memang tidak menemukan foto pernikahan layaknya pasangan suami istri.
"Sengaja ku simpan." Jawab Arsya acuh.
"Percuma saja bicara dengan kulkas. Juga tidak menuai hasil yang baik." dalam hati mencibir dengan kesal. Dan dia mengalihkan dengan meminum kopinya lagi.
"Kau bilang dokumen. Dokumen apa?" Tanya Arsya seraya meletakkan gelas ke atas meja.
"Dokumen sola kontrak pernikahanmu sudah jadi. Sekaligus mengantar juga ingin bertemu kakak ipar. Tapi sepertinya kau tak mengijinkannya." Jawab Adrian cemberut dan mengeluarkan dokumen di dalam tas kerjanya.
Arsya segera menerimanya dan membaca ulang isi dari kontrak pernikahan itu. Ia merasa puas dan lega.
"Dan ini surat perceraian jika sewaktu waktu kau butuhkan." Adrian mengeluarkan satu lagi dokumen dan diberikan kepada Arsya.
Sebenarnya, ia tak membutuhkan surat perceraian itu tapi demi berjaga jaga, ada bagusnya juga jika sudah tersedia. Arsya menerimanya dan menumpuknya di atas perjanjian tadi.
"Sudah selesai kan, kau boleh pergi." Ujar Arsya tiba tiba.
Adrian yang melirik pelayan di dapur pun segera menatap Arsya.
"Kau datang kesini bukan aku yang minta selain kau sendiri yang berinisiatif. Aku bukan dermawan yang memberi pangan pada setiap orang." jawab Arsya.
"Astaga! Kau menganggap aku sebagai pengemis." celetuk Adrian.
"Itu kau sendiri yang bilang." Arsya tetap cuek. "Lagi pula gaji yang ku beri juga tinggi. Apakah masih kurang?"
"Hehe!" Adrian menggelengkan kepala. "Lagi pula, aku jarang jarang datang kesini. Apa salahnya mengasihani orang seperti aku ini boss."
Arsya melirik sebentar kemudian dengan cuek meninggalkan Adrian berseru di sana.
Adrian dengan segera berlutut di balik punggung Arsya. "Boss!"
Kebetulan Anna baru kembali dari joging bersama Leya, saat masuk ke dalam Villa ia tercengang. Tega sekali Arsya sampai dia harus berlutut di lantai.
"Kau apakan dia?" terdengar suara melengking dari arah pintu. Arsya membeku saat menemukan Anna berdiri di ambang pintu lalu menoleh ke belakang menatap Adrian dengan jengkel.
"Pelayan! Siapkan peralatan makan buat dia!" Arsya segera memerintah pelayan agar menyediakan set peralatan makan. Kemudian ia menatap Anna yang berjalan ke arah Pria yang sedang berlutut lalu membantunya berdiri.
Adrian tersenyum penuh arti dan melirik wajah Arsya yang terlihat muram. Kemudian Anna berjalan ke arah Arsya dengan wajah penuh amarah.
"Kau boleh membenci aku, tapi kau harus menghormati orang lain." Setelah itu ia pergi dari sana.
Arsya menaikkan alis sebelahnya lalu melirik Adrian. "Aku sungguh sungguh tidak tau." Adrian menaikkan ketiga jarinya bersumpah memang tidak tau apa apa.
__ADS_1
Arsya menarik nafas dalam dalam dan masuk ke dalam ruang makan.
Di dalam ruang makan itu terlihat mereka berdua duduk. "Makanlah cepat dan lekas pergi setelah selesai!" Arsya kembali lagi mengingatkan.
"Kakak ipar belum ada, tunggu kakak ipar dan makan sama sama. Baru mau pergi." Adrian tersenyum lebar.
Arsya sangat kesal lalu memerintahkan Ricky untuk memanggil Anna untuk segera turun.
Adrian menoleh saat Anna masuk ke dalam ruang makan. Dia sangat terpana dengan kecantikan kakak ipar. Ia segera berdiri menyambutnya.
"kakak ipar!"
Anna melirik Arsya sebentar lalu tersenyum ke arah Adrian. "Kalian apakah teman? Hai perkenalkan aku Anna." Anna segera memperkenalkan diri.
"Iya, kami memang teman. Aku Adrian, sahabat Arsya." jawab Adrian antusias.
Anna segera duduk berhadapan dengan Adrian. Itu membuat Arsya berwajah kesal. Terlihat wajahnya menggelap. Tetapi ia menutupinya dengan tenang dan dingin. Mereka bertiga berada di ruang makan yang sama.
Adrian merasa senang. Menurut pendapat Elan, Arsya tak ingin memperkenalkan istrinya ini kepada sahabat-sahabatnya. Jadi Adrian berinisiatif untuk datang melihat. Kebetulan nasib mujur berada dipihaknya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan kakak ipar secara langsung.
Dia sangat cantik, pantas saja Arsya tidak mau mengekspos wajah Istrinya ini. Terlihat wajah Adrian senyum senyum sendiri. Arsya melirik ke wajah Adrian lalu melihat Anna yang dengan santainya memakan makanannya sendiri.
Arsya menaikkan kakinya dan menginjak kaki Adrian dengan kejam. Adrian meringis lalu melirik Arsya yang menatapnya dengan aura membunuh. Lalu memberi isyarat melalui matanya agar lekas pergi.
Adrian menundukkan kepala dan segera menghabiskan sarapannya. Tepat di saat ini, ketiganya selesai sarapan. Arsya mengambil tisu dan mengelap sudut mulutnya.
"Kakak ipar, sepertinya aku sudah kenyang. Aku akan segera pergi."
"Ugh, secepat itu. Ini masih terlalu pagi. Lagi pula ini adalah akhir pekan buat apa berkerja terlalu keras." Anna melirik Arsya yang berwajah datar.
Adrian tidak berani melihat wajah Arsya yang penuh amarah, tetapi ia tersenyum saat Anna menahannya. "Benar juga!" Adrian membenarkan ucapannya.
"Tidak ada akhir pekan. Kerja ya kerja, kalau tidak. Gajimu akan kupotong dua puluh persen."
"Astaga! Kejam sekali. Berapa digit yang aku terima jika kau potong dua puluh persen." Adrian segera merespon dan segera mengomentari perkataan Arsya yang begitu tajam.
"Arsya, kau ini benar benar kejam. Dia sudah bekerja begitu keras kenapa kau masih menghukumnya. Biarkan dia menikmati hari liburnya. Lagi pula ini adalah hari pekan. Biarkan dia sedikit bersantai. Lagian aku sering lihat kamu begitu santai kenapa kau tidak membiarkan karyawanmu sedikit relaks." Seolah mendapat oase di gurun pasir, Adrian merasa mendapatkan pembelaan yang besar dari Anna.
Arsya menggaruk pelipisnya. Dia terdiam dan hanya melirik Adrian dengan tajam, Tetapi Adrian menanggapinya dengan senyuman puas.
"Terima kasih kakak ipar." Adrian bersemangat.
"Iya kakak. Ini jangan di masukkan ke dalam. Dia memang seperti ini. Kalian pergilah berdua bersenang senang. Aku harus kembali ke kamar." ucap Anna kemudian pergi dari sana.
Saat Anna sudah pergi menjauh Arsya menatap Adrian dengan tajam.
"Kali ini, aku tidak akan mengampunimu." Arsya segera menendang kaki Adrian.
"Ampun...iya....iya....aku akan pergi. Terima kasih atas sarapannya. Aku pergi. Aaaaaa.....!" Adrian berlari terbirit karena Arsya melemparkan gelas di sampingnya.
"Pyar!" terdengar gelas keramik itu pecah karena mengenai tembok. Dan Adrian berhasil menghindar. Saat di balik tembok Adrian menyembulkan kepalanya dengan senyuman lebar ia melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal!" ujar Adrian
Arsya menoleh dan kembali meraih piring dihadapannya dan melemparnya ke arah Adrian.
__ADS_1
"Aaaaa....."Adrian berteriak kencang dan segera menghindar.
Arsya ini benar benar kejam. Tetapi wajah Adrian benar benar puas bisa menjahili manusia es seperti Arsya ini, sekaligus ia bisa membuktikan rasa penasarannya terhadap kakak ipar ini. Dan dia bisa kembali dengan senyuman bangga di wajahnya.