Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Setelah kehidupan Anna menghilang dari hidup Arsya. Arsya tak lagi bersemangat seperti biasanya. Seolah separuh jiwanya menghilang. Dulu meskipun mereka tak saling menyapa, tapi ia masih bisa melihat wajahnya di malam hari. Tapi kali ini semakin terasa hampa.


Linda selalu berbuat ulah di setiap harinya, tapi tak pernah ia hiraukan. Meskipun banyak pelayan yang kehilangan pekerjaan pun ia tak perduli. Hanya tersisa Rani yang merupakan ahli dapur yang masih bertahan. Itu pun selalu mendapat amarah Linda tanpa sebab.


Rani selalu mengeluh pada Ricky. Tetapi Ricky juga tak bisa berbuat apapun. Meskipun ingin mengadu juga tak mendapatkan apa apa. Mereka hanya mengandalkan nasib apabila masih mampu bertahan.


Villa terlihat sangat sepi. Pengawal yang berjaga di luar malah dipindahkan ke tempat Herman. Sebab Linda juga dengan semena mena menunjukkan sebagai nyonya di villa itu.


Ricky merasa bingung karena Tuan nya yang sekarang tak sekeren dahulu. Yang Arsya tau adalah pergi bekerja dan tidak memperdulikan hal apapun. Bahkan makan saja ia sering melupakan. Dia seperti boneka hidup tanpa jiwa.


"Arsya, lihatlah anak kita aktif sekali." Linda duduk bersandar di atas sofa, tangan Arsya ia tarik agar menyentuh perut Linda yang terlihat besar.


Dan benar saja. Bayi yang berada di dalam perut Linda menendang dengan keras. Tapi Arsya hanya terdiam. Pikirannya entah memikirkan hal apa sampai ia tak merespon saat tangannya merasakan tendangan yang sangat kuat.


"Hei, lihatlah."


Arsya segera menengok. Lalu tersenyum kecil saat tendangan itu terasa di telapak tangannya.


"Hei, janin. Kau di sana sangat sehat sekali. Bahkan tendanganmu sangat kuat." Sahut Arsya.


"Tentu saja." sahut Linda merasa senang. Arsya menarik tangannya. "Loh mau kemana?" Tanya Linda.


"Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kau istirahatlah. Jaga baik baik janinmu." Ujar Arsya seraya beranjak pergi.


Linda tersenyum getir. Pasalnya, meskipun pria itu menerimanya tetapi tak pernah sekalipun memanggilnya dengan sebutan bayinya. Seolah itu adalah bayi miliknya sendiri. Tetapi ia harus bertahan sampai gelar nyonya muda Adiyaksa tersemat pada dirinya maka akan dengan mudah dia berkuasa di tempat itu.


… …

__ADS_1


Berbeda dengan sisi Anna. Gadis itu telah terbang menuju Bena. Ia bersama Erka yang menemaninya. Meskipun ada rasa sedikit bingung kenapa putrinya begitu datang tanpa kabar dan menemuinya. Tetapi mereka tetap merasa senang bisa bertemu dengan putri semata wayangnya.


Anna berpesan kepada Wiryo maupun Dewi, di masa depan mereka harus menjaga kesehatannya. Ia juga meninggalkan kartu hitam pemberian Herman tempo lalu, Agar mereka tak perlu mencari investor lagi sebagai penyokong perusahaan mereka. Dan juga Kemungkinan dengan segala macam permasalahan jika Anna tak lagi ada mungkin perusahaan mereka bisa tumbang kapan saja. Maka dari itu Anna sudah mempersiapkan segalanya dari sekarang.


Kelak jika perusahaannya tak ada lagi, dengan sisa kartu itu maka keduanya akan tetap bisa menikmati masa tuanya tanpa harus bekerja keras.


Sementara Anna akan pergi keluar negeri dan hidup di sana dengan damai. Hanya dengan menggunakan sisa uang tabungannya mungkin sudah cukup untuknya memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu ia akan melanjutkan studynya di sana dan menata kariernya.


Setelah itu Anna merasa lega dan bisa tenang. Ia baru bisa pergi keluar negeri dengan tanpa beban.


Sementara Erka setelah Anna pergi keluar negeri ia akan pergi ke pegunungan untuk melakukan ekspedisi.



Elan sudah lama menunggu di toko buku langganannya. Tetapi gadis yang ia tunggu ternyata tak pernah datang. Dia sudah seharian menunggu. Seharusnya ia meminta nomor teleponnya saja agar mudah mengabarinya jika saja ia sudah sampai.


Elan merasa kecewa tetapi juga bodoh. Karena ia tak pernah terpikirkan untuk meminta nomer ponselnya. Ia bahkan tak bisa menghubunginya.


Padahal karyawannya juga sudah hapal betul bentuk rupa dan wajahnya. Tetap saja ia di tahan di lobi. Saat menoleh Arsya datang melewatinya.


"Arsya." lirih Elan.


Arsya melirik sekilas. Saat tau itu adalah Elan, ia menghentikan langkahnya. Ia mengibaskan tangannya agar segera melepas Elan.


Elan tersenyum senang dan mendekati Arsya. "Sya, kenapa banyak sekali aturan di perusahaanmu. Bukankah kita dulu tidak seperti ini." ujar Elan.


Arsya menaikkan alisnya sebelah. Tatapannya rumit. "Itu aturan baruku. Lagi pula kau bukanlah temanku lagi." Ujar Arsya.

__ADS_1


"Sya, apa maksudmu?" Elan tak mengerti dengan ucapan Arsya.


"Dani, kau bawa dia keluar. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapa siapa." Ujar Arsya kepada Danni.


"Baik." Danni membungkuk sekilas kemudian membawa Elan pergi. Sementara Arsya memasuki lift dan menuju ke lantai 45.


Elan meronta saat di bawa keluar oleh Danni. "Danni, kenapa bosmu berubah. Apa yang terjadi dengannya. Kenapa memperlakukanku seperti itu?" Tanya Elan dengan menggebu.


Danni membawa Elan ke sebuah restoran di sebrang jalan. Mereka berdua saling duduk berhadapan dan tak lupa memesan kopi sebagai teman mereka mengobrol.


"Danni katakan dengan jelas, mengapa bosmu berubah sekarang?" Tanya Elan dengan tak sabar.


"Sebenarnya presdir sedang kehilangan sosok yang selama ini memberinya semangat."


"Hah! Siapa?" tanya Elan penasaran.


Danni menggelengkan kepalanya. "Tuan tidak perlu tau. Untuk sementara waktu tuan jangan temui presdir. Suatu hari nanti presdir akan menghubungi anda sendiri." ujar Danni kemudian membayarkan bill tagihan dan pergi dari restoran


Elan memandang punggung Dani dengan getir. Apa salahnya sampai tidak boleh bertemu dengannya. Bukankah masih sahabat.


Arsya memandangi ponsel Anna yang sengaja di tinggalkan. Banyak sekali pesan yang masuk dari teman bahkan sahabat sahabatnya. Mereka juga mempertanyakan keberadaannya.


Arsya merasa enggan untuk membuka pesan pesan itu yang nampak sekilas di layar. Ia menyimpan kembali ponsel itu di balik saku jas nya.


...----------------...


Anna baru saja sampai di negara tujuannya. Ia segera mencari tempat tinggal untuk sementara waktu. Sejauh ini sepertinya tidak ada pergerakan dari Arsya. Ia bisa merasa lega untuk sesaat.

__ADS_1


Dari semua negara, yang ia sukai adalah paris. Jadi ia pergi ke paris sekaligus mengambil kuliah di sana. Kebetulan cuaca sedang musim dingin. Ia mengambil mantel tebal dan menutupi dirinya agar tetap hangat. Tapi tetap saja rasa dingin ini masih bisa menembus kulit hingga ke tulangnya.


Ia hampir tak tahan dengan cuaca seperti ini. Dia akan mudah terserang flu. Saat kuliah di cuaca dingin seperti ini. Ia mengambil kuliah secara online. Maka pelajarannya tak akan pernah terputus meski tak masuk ke dalam kelas.


__ADS_2